
****
"Tta, aku merasa bersalah banget deh, sama Raja." Ace duduk di salah satu kursi taman. Gattan menemani gadis itu di sampingnya.
"Lo 'kan nggak salah Ace."
"Tapi kalo bukan karena Raja! Aku pasti bakal minum air itu, dan kamu juga pasti tau 'kan akibatnya!" ucap Ace sambil menunduk, "kenapa dia harus minum air itu sih? Kenapa dia nggak buang aja!" Ace sesekali menyeka matanya yang di linangi air mata. Gattan terdiam sambil berfikir lalu dia mengingat sesuatu.
"Dia nggak mau lo marah!" kata Gattan.
"Maksud kamu?"
"Lo inget, waktu Raja ngelarang lo makan kue yang di kasih sama orang nggak di kenal?" tanya Gattan. Ace mengangguk, "dia nggak mau lo marah kayak waktu itu. Dia itu sayang banget sama lo. Tanpa lo tau!"
"Tapi sekarang, dia udah lupa sama kita!" Ace semakin menangis. Mengingat ucapan Raja saat mereka ingin pulang. Raja bilang, lebih baik Ace ataupun Gattan tidak perlu lagi datang. Raja tidak pernah punya teman jadi ingatan mengenai pertemanannya dengan Gattan ataupun kedekatannya dengan Ace hilang begitu saja.
"Lo 'kan denger sendiri, itu efek racun yang Raja minum waktu itu!" jelas Gattan.
"Tapi sampe kapan, dia lupa sama kita?" Ace menutup wajahnya dengan kedua tangan. Seandainya dia mendengarkan Raja pasti hal ini tidak akan pernah terjadi.
****
Raja terbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya. Melihat Ace tadi dia begitu ingin bertanya, apa dia baik-baik saja, atau bagaimana dengan kakinya, apa sudah sembuh? Ingin sekali Raja bertanya seperti itu. Tapi dia ingat, dia sudah merelakan Ace bersama Gattan. Maka dari itu, dia memilih pura-pura tidak mengenal mereka, itu mungkin jauh lebih baik.
"Kamu nggak tidur?" Garvin datang bersama Levin. Raja menatap keduanya, "Om kamu bilang , sekolah baru yang kamu mau udah siap!" jelas Garvin. Raja menghembuskan nafasnya, besok semuanya berakhir. Teror yang di buat Adinda, dan juga kenangannya bersama King akan hilang di sekolah itu, dan rasa yang ada di hatinya kepada Ace harus di hilangkan juga. Semuanya harus berakhir besok.
"Makasih Om!" kata Raja pelan. Levin menatap Raja bingung, dulu Raja itu anak yang lucu, periang dan menggemaskan. Tapi, sekarang Raja terlihat sangat berbeda dari yang dulu
"Gue mau ngomong sama Nuca berdua!" ucap Levin. Garvin menatap adiknya bingung.
"Jangan ajarin yang aneh-aneh! Awas lo!" tunjuk Garvin. Levin hanya terkekeh sambil mengangguk, Garvin berjalan keluar.
"Ada masalah apa?" tanya Levin. Cowok manja itu tumbuh menjadi pria yang cukup berani, dia itu sangat nge-fans dengan Stella. Maka dari itu pergaulan SMA dan kuliahnya hampir sama persis dengan Stella, mulai dari balapan liar hingga nongkrong sampai larut malam. "Gue juga pernah muda, Ka. Lo tau sendiri, Kak Stella itu idola gue!" ucap Levin. Raja mendudukan tubuhnya.
"Kapan gue bisa masuk sekolah Om?" tanya Raja
"Mau lo kapan?" tanya balik Levin.
__ADS_1
"Secepatnya," jawab Raja cepat.
"Terserah lo! Sekolah lo kali ini, gue yang kelola. Walaupun gue baru beli setaun yang lalu. Tapi gue jamin, fasilitasnya udah lengkap." Bukan itu yang membuat Raja resah. Yang dia fikirkan adalah, apa akan ada gadis sepolos dan semenyebalkan Ace, atau apa ada cowok secerewet Gattan. Jika tidak ada, apa kehidupan Raja kedepannya akan terus sepeti ini, tanpa tujuan dan juga selalu sendiri.
***
2 years letter ...
"Raja!" seorang cowok menoleh. Saat merasa namanya terpanggil. Cowok itu menatap seorang gadis yang berlari ke arahnya, "nih tugas dari Miss Universitas!" ucap gadis itu sambil menyerahkan setumpuk kertas pada Raja, cowok itu menerimanya dengan alis terangkat. Ya, cowok itu adalah Raja. Muhammad Raja Hardinuca Pratama. Putra sulung keluarga Knowles yang kini sudah masuk ke salah satu Universitas terkenal di Jakarta.
"Miss Universitas?" Raja tidak mengerti.
"Jangan pura-pura **** deh, lo tau kan Miss Erina! Yang suka ngatur sana-sini!" Raja hanya diam. Memilih melanjutkan berjalan bersisian dengan Jane teman sekampus, teman satu komplek, teman satu jurusan bahkan teman satu angkatan di kampusnya.
Raja bertemu Jane pertama kali saat ospek, Jane yang mengenalkan dirinya, lalu keduanya kembali bertemu saat Raja sedang lari pagi bersama Ben. Cowok itu kembali di pertemukan dengan Jane, keduanya mulai akrab dan berteman. Ya, walaupun Jane itu bukan seperti perempuan pada umumnya. Maksudnya, gaya Jane itu seperti laki-laki alias tomboy.
"Udah denger belom?" tanya Jane. Raja menggeleng saja, sesekali membenarkan letak kacamatanya yang sejak 2 tahun lalu di pakai nya. Tangannya sibuk membuka-buka kertas yang di berikan Jane tadi, "ada transferan mahasiswa di jurusan kita, gue denger sih sampe 15 orang, dan itu semua pilihan dari universitas-universitas yang ngirim mahasiswa atau mahasiswinya buat belajar di sini." Raja mengangguk.
"Udah makan?" tanya Raja melenceng jauh dari pembicaraan.
"Ck! Kebiasaan, gue lagi ngomong apa! Lo malah ngomong apa!" decak Jane sebal, "belom sih, lo mau traktir gue?" Jane tersenyum penuh arti.
"Besok jangan lupa ya tugas Pak Doni. Pusing gue sama dosen yang satu itu, ngasih tugas nggak ada abisnya!" cerocos Jane. Raja yang sudah terbiasa dengan itu hanya diam saja, sesekali menanggapi tapi lebih banyak diam. Dan Jane sudah tau itu.
****
"Udah pulang?" Raja menoleh mendekat ke arah Stella, lalu menyalami wanita itu.
"Mama lagi ngapain?" tanya Raja.
"Ini loh Ka, Mama lagi siapin keberangkatan Bita ke Singapura."
"Loh, pergi lagi? Tapi, kayaknya aku nggak ikut, soalnya banyak tugas!" tutur Raja.
"Akhir-akhir ini kesehatan Bita lagi nggak baik. Mama jadi bingung harus apa." Stella menghembuskan nafasnya. Meletakkan beberapa lembar kertas ke atas pangkuannya, wanita itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Ma ... Mama jangan nyerah, pasti Bita bisa sembuh!" Raja mencoba menenangkan Stella. Memang akhir-akhir ini, Bita sering sakit, bahkan gadis kecil berusia 5 tahun itu sampai kejang. Dokter bilang Bita alergi dengan debu. Bita tidak bisa berada di tempat kotor atau berdebu sedikitpun, jika Bita menghirup atau kulitnya kotor terkena debu, maka Bita akan demam. Di usianya yang kecil itu, Bita juga sudah bolak-balik ke rumah Sakit, dan memasang uap di rumahnya.
__ADS_1
"Tapi Mama takut." Stella memejamkan matanya. Sambil menghapus air mata yang sempat mengalir di kedua pipinya.
"Nuca bakalan bantu Mama, jagain Bita!" Stella tersenyum sambil menatap Raja, Stella beruntung ada Raja di sampingnya, walaupun Raja bukan anak kandungnya, tapi Raja sangat baik.
***
Malam ini Raja baru saja pulang setelah membeli obat milik Bita yang habis. Tadinya Stella meminta Azmi untuk membeli obat itu. Tapi, Raja memaksa ingin membelinya sendiri, dan Stella tidak bisa menolak permintaan Raja.
"Ma, aku mau keluar." Stella tersenyum.
"Pergi sama Jane lagi?" tanya Stella. Raja mengangguk.
Stella dan Garvin memang memutuskan pindah rumah entah untuk yang keberapa kalinya, setalah rencana pembunuhan yang Adinda lakukan dua tahun lalu. Dia tak ingin masalalunya membuat keluarganya kembali dalam bahaya.
"Mau kerjain tugas!"
"Ya udah kamu ati-ati, jangan pulang malem-malem ya."
"Iya."
***
"Raja, lama banget sih lo! Tau nggak, gue udah nungguin dari kapan!" cerocos Jane kesal. Raja menghembuskan nafasnya.
"Mau kemana?" tanya Raja.
"Gara-gara nungguin lo kelamaan. Gue jadi laper, sekarang lo anterin gue makan!" Jane menyeret Raja agar mengikutinya. Gadis itu mendudukkan Raja di kursi, yang mana ada tukang nasi goreng yang sedang mangkal.
"Pak dua ya!" pesan Jane. Raja menggeleng.
"Gue ngga makan!"
"Kenapa? Di sini nasi gorengnya enak banget loh!"
"Gue udah makan!" Jane mendengus lalu berteriak.
"Pak! Satu aja nasi goreng nya, jangan pedes-pedes!" Raja hanya menggeleng pelan. Mengambil ponselnya dari saku jaket saat itu sebuah pesan masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Unknown number :
'Hai'