
****
Gattan sejak tadi duduk sambil sibuk memperhatikan Ace. Padahal pelajaran sedang berlangsung. Menyangga dagunya sesekali melirik Raja yang sibuk memperhatikan guru.
Menurut penglihatan Gattan. Ace itu cantik, wajahnya imut, tubuhnya mungil, tapi cerewet dan juga ceria, rambutnya selalu di kuncir, kadang di gulung asal, bulu matanya lentik, bibirnya tipis berwarna merah muda, pipinya chubby, hidungnya tidak terlalu mancung, tapi dia terlihat manis. Gattan tersenyum-senyum sendiri melihat bagaimana saat Ace tersenyum atau tertawa, begitu lucu sekaligus menggemaskan.
Gattan tau. Ace itu adalah tipe gadis yang Raja sukai, Raja itu suka yang lucu dan imut. Ya seperti si Ace ini, tapi sepertinya Raja tidak mau membawa Ace dalam masalahnya.
"Gattan! Bisa kamu kerjakan soal yang di depan?" suara guru terdengar. Gattan yang masih memperhatikan Ace tak mendengar suara Guru. "Gattan!" Gattan tersentak dan menatap Guru dengan bingung. "Saya bilang kerjakan soal yang ada di papan tulis! Kenapa kamu malah melamun!" Gattan tercengir lalu berjalan menuju ke depan.
"Sorry Bu ... abisnya saya lagi mikir, kenapa ya Guru-guru cewek di sini cantik semua, 'kan saya jadi naksir!" kata Gattan. Guru itu menghembuskan nafasnya.
"Sudah, jangan banyak alasan! Kerjakan saja!" bentak sang Guru. Gattan cemberut, tapi tetap mengambil sepidol dan membaca soal yang ada di sana.
Di sisi lain. Raja sedang menatap keluar jendela, terlihat lapangan yang cukup luas berada di tengah-tengah gedung. Ada kelas yang sedang pelajaran olahraga di sana.
"Ra-ja!" panggil Ace dengan ejaannya. Raja menoleh, lalu menatap Ace yang terlihat tidak nyaman dalam duduknya, "nanti pulang sekolah, kamu harus latihan drama buat pensi, ya," pinta Ace berbisik. Raja acuh dan kembali menatap jendela.
"Raja please ...," pinta Ace lagi, "kamu mau apapun aku bakalan kasih. Tapi please, kamu latihan ya, nanti sore." Raja mengernyit. Menggeleng pelan dan berdiri.
"Kamu mau kemana, Raja?" tanya Guru.
"Cuci muka, Bu! Saya ngantuk!" Guru menggeleng pelan.
"Ya sudah sana!"
"Hhhh ...." Ace menghembuskan nafasnya lelah. Gattan sudah selesai mengerjakan soalnya, dan berjalan kembali ke tempat duduknya. Namun sebelum duduk, Gattan berkata pada Ace.
"Semangat!" katanya sambil tersenyum. Ace jadi ikut tersenyum, lalu menatap ponselnya.
"Uuugh!" Ace menelungkupkan kepalanya di atas meja. Rasanya lelah sekali menghadapi Raja. Tapi ... "Semangat!" Ace mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar, dia tidak boleh menyerah.
***
__ADS_1
"Raja please ...." Gattan dan Raja menghentikan langkah mereka, dan Rajapun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Ace, "latihan," ucap cepat Ace. Raja menghembuskan nafasnya.
"Ace, kayaknya dia nggak tertarik kayak gituan deh," ucap Gattan mewakili Raja.
"Please! Aku mohon, aku udah bilang 'kan apapun yang kamu mau, pasti aku bakalan kasih. Cuma latihan satu jam kok." Raja berbalik dan kembali berjalan.
"Raja! Raja please!" kejar Ace. Gattan menghembuskan nafasnya, dan mengikuti keduanya dari belakang.
"Raja! Sekali ini aja, kamu bisa ya latihan." Raja menghentikan langkahnya, lalu menatap Ace. Ace mengikuti Raja dan berhenti melangkah, "ya ..." kata Ace lagi. Gattan mendekat.
"Gue udah denger sih masalah pensi, tapi kenapa lo jadi maksa banget?" tanya Gattan pada Ace.
"Itu ..." ucapan Ace terhenti saat Raja kembali berjalan. Kali ini bukan untuk ke parkiran, tapi justru menuju ke ruang Drama. Ace langsung tersenyum lebar.
Raja, Ace dan Gattan sampai di ruang drama, semua menatap mereka. Latihan sudah di mulai.
"Oh Raja, kamu akhirnya datang," suara Bu Nadia, Guru sastra yang dengan seenak hatinya memilih Raja sebagai pemeran utama itu mendekat.
"Mana skripnya?" tanya Raja. Bu Nadia langsung memberikan apa yang Raja minta. Cowok itu membacanya sebentar lalu mengembalikannya langsung pada Bu Nadia, "Biar Gattan yang gantiin saya Bu!" tegas Raja lalu berbalik ingin pergi. Namun, Ace memegang tas ranselnya. Membuat Raja menoleh dan langsung menatap Ace yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Bagaimana, Raja?" tanya Bu Nadia.
"Ok saya mau, tapi dia yang jadi pasangannya!" tunjuk Raja pada Ace. Mata Ace membulat sempurna, menggeleng pelan dan melepaskan genggamannya pada tas ransel milik Raja.
"Tapi semua peran sudah di tentukan Raja!" kata Bu Nadia.
"Terserah. Kalo gitu Gattan aja yang gantiin saya." Raja kembali ingin pergi. Bu Nadia jadi bingung sendiri, pemeran pangeran ini selalu bergilir setiap bulan. Dan bulan ini, yang menjadi pemerannya harus Raja dan tidak bisa di gantikan oleh orang lain.
"Baiklah Raja. Ace yang akan menjadi pasangan kamu!" kata Bu Nadia.
"Loh ... tapi, Bu!" Ace menggeleng tidak setuju.
"Kok gitu sih, Bu," protes Adinda.
__ADS_1
"Semua sudah di putuskan. Yang lain dengan peran yang sama!"
"Baik Bu!"
"Ish!" Adinda menatap tajam Ace lalu pergi dari ruangan itu. Raja menatap Ace yang terlihat tidak tenang, nampak dari tangannya yang mengepal erat.
"Ok latihan kita mulai?" suara Bu Nadia lantang. Raja meletakkan tasnya di atas meja, lalu mulai membaca skrip yang akan dia tampilnya. Ace yang masih tak percaya hanya mengikuti dan mulai membaca dialognya.
Latihan pun di mulai ....
****
"Maaf Mba, tapi nggak bisa!" Ace menunduk lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Padahal pengen banget beli buku itu," sedihnya. Gadis itu saat ini sedang ada di toko buku. Setelah pulang dari latihan darma tadi, dia memang langsung mampir ke tempat itu. Dia dengar ada buku yang baru di rilis oleh penulis favorit nya kemarin. Dia tidak mau kehabisan stok, dan sayangnya, harapannya pupus. Karena stoknya sudah habis, adapun stok terakhir itu sudah di pesan seseorang.
"Nih!" Ace terkejut saat tiba-tiba sebuah paper bag terpampang di depan wajahnya. Gadis itu menoleh dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Gattan?" Ace memiringkan kepalanya, lalu tersenyum.
"Buat lo!"
"Kok, kamu bisa ada di sini?" tanya Ace bingung.
"Nggak sengaja lewat, liat toko buku. Mampir deh, gue mau beli buku masak sih, eh malah ketemu sama lo!" jelasnya.
"Buku masak?" Ace bingung. Gattan sekarang mengerti, jika Ace sedang bingung. Gadis itu akan memiringkan kepalanya, sambil mengerjapkan mata, lucu sekali.
"Iya buku masak, ini nggak mau?" Gattan kembali menyodorkan paper bag tadi. Ace mengambilnya dan membukanya.
"Hah! Kok bisa?" Ace mengambil beberapa buku yang ada di dalam tas itu.
"Bisa lah, siapa dulu dong, Gattan!" Gattan mengusap bawah hidungnya dengan ibu jari.
__ADS_1
"Makasi Gattan." Ace tersenyum. Gattan terdiam sesaat dalam hati berkata 'Ace, seandainya lo tau ....' Gattan langsung menggeleng dan mengajak Ace untuk pulang bersama.
***