
****
"Maaf ... Om!"
"Om nggak butuh permintaan maaf Nuca."
Raja menunduk, menghela nafasnya pelan. "Sebenernya Nuca juga pengen punya temen," jelas Raja.
"Terus?"
"Nuca!" Garvin duduk di samping Raja. Memberikan sebuah Iped padanya.
"Ini apa Pa?" tanya Raja bingung.
"Foto itu Om Dava yang ambil waktu kamu pertama kali ketemu sama kakek!" jelas Garvin. Raja menatap sebuah Iped yang muncul holgram bergambar dirinya, Radith dan juga Stella yang sangat lucu, di mana Raja sedang bercanda dengan Radith dan Stella sedang tertawa melihat mereka berdua.
"Dulu Mama kamu nggak pernah ketawa. Senyum aja nggak pernah! Dan itu pertama kalinya, Om liat Mama kamu ketawa, dan itu karena Kakek kamu!" jelas Dava. Raja menggeser layar dan gambar pun ikut berubah. "Itu kamu, waktu pertama kali pergi ke mall sama Garvin!" jelas Dava lagi.
"Kok Mama ngga mau ketawa?" tanya Raja. Dia belum mendengar cerita itu secara detile. Karena setahunya Stella itu sejak Raja kecil selalu tertawa dan tersenyum di depannya.
"Mama kamu itu suka bikin masalah kalo di sekolah!" kata Garvin, "tebak pertama kali Papa sama Mama ketemu di mana?"
"Di kelas, Papa jadi murid pindahan baru, iya kan!" tebak Raja.
"Salah!" jawab Garvin.
"Tapi ada benernya sih," sambung Dava. Garvin menatapnya bingung, "lo 'kan waktu itu murid baru!" Garvin menerawang saat pertemuan pertamanya dengan Stella.
"Oh iya-iya." Garvin mengangguk-angguk.
"Terus salahnya? Berarti kalo nggak di kelas, di gerbang depan, Mama terlambat iya 'kan?" tebak Raja lagi.
"Mmm sedikit bener! Tapi bukan terlambat. Mama kamu sengaja keluar sekolah pas lagi jam pelajaran," jawab Dava sedikit sewot.
"Sengaja? Mama tukang bolos," tanya Raja.
"Nggak usah di bahas. Itu tidak patut di tiru," kata Garvin cepat, "jadi waktu itu Mama kamu mau bunuh diri!"
"Hah!" Raja tidak pernah tau itu.
"Aduh?" Garvin memegang kepalanya, karena mendapat lemparan bantal dari Stella, ternyata sejak tadi dia mendengar percakapan mereka.
"Jangan dengerin! Papa kamu itu ngarang!" protes Stella berjalan mendekat sambil menggendong Bita.
"Jangan di gendong Na. Sini biar sama aku!" walaupun Stella itu kasar, tapi entah kenapa Garvin tetap menyayanginya. Sangat bahkan. "Bita sama Papa ya" ajak Garvin. Bita menggeleng kuat.
"Cama Mama!" tolak Bita sambil mengeratkan pelukannya pada Stella.
"Udah nggak papa Vin," kata Stella, dan duduk di sofa tunggal.
"Tapi Bita udah berat Na!" Garvin mendekat dan bersedeku di samping Stella. Terus mencoba membujuk Bita. Garvin sejak pacaran dengan stella memang memanggilnya dengan sebutan Anna.
"Duduk kok Vin," balas Stella.
"jadi Mama kenapa Pa?" tanya Raja yang masih penasaran dengan cerita Garvin. Garvin sendiri berdiri dari sedekunya lalu kembali duduk.
"Mama kamu hampir aja ke tabrak sama truk, untung aja Papa tolongin. Eh' Mama malah marah-marah," jelas Garvin sedikit menggerutu.
__ADS_1
"Hampir ketabrak?" Raja menatap foto yang lain. Kali ini sebuah foto yang dulu pernah Garvin curi, saat Stella sedang berada di Club mobil Sport nya, "ini rame banget?" tanya Raja.
"Itu di club mobil sport!" jelas Dava.
"Mama ikutan?" tanya Raja.
"Iya, gara-gara Mama, Papa juga jadi ikutan, Om Dava, Om Rakha sama Starlla juga!" kali ini Garvin yang menjelaskan.
"Kok Aku nggak pernah tau. Yang aku tau Mama itu pembalap! Suka balapan, dulu juga aku pengen jadi pembalap,"jelas Raja,
"terus pas kelas lima, kemana cita-cita kamu itu pergi?" tanya Stella sedikit ketus. Raja terdiam sesaat lalu menatap Stella.
"Nuca pengen jadi pembalap dulu, tapi inget Mama kecelakaan aku nggak pengen jadi pembalap. Padahal waktu Mama di bilang meninggal aku 'kan lagi ulang tahun!" semuanya diam, Garvin saja tidak ingat.
"Itu ...." Stella bingung harus berkata apa.
"Terus pas mikir mau jadi Polisi. Waktu Mama kecelakaan kenapa Polisi nggak mau ngusut kasusnya sampe selesai? Aku inget banget waktu itu Polisi nyerah sama kasus Mama!" Stella masih diam. Waktu itu Ferry yang meminta para Polisi berhenti mengusut kasusnya.
"Mau jadi Dokter, Aku Nggak suka sama Dokter. Kenapa juga jadi Dokter kalo nggak bisa selametin Mama!" Garvin dan Dava saling berpandangan, "dulu aku mikir gitu."
"Sekarang?" tanya Dava
"Sekarang aku punya cita-cita!" mata Stella berbinar.
"Apa?"
"Aku pengen bahagian Mama!" jawab Raja tegas. Stella tersenyum, itu cita-cita yang bagus, tapi ....
"Kamu juga harus bikin diri kamu seneng Nuca!" peringat Stella.
****
"Hadiah?" Raja menatap aneh orang-orang di sekitarnya. Ace sudah berdiri di sampingnya, Stella yang memintanya.
"Ini Papa yang kasih!" kekeh Garvin. Raja keluar dari rumah dan mendapati sebuah box besar di sana.
"Ini apaan gede banget?" tanya Raja.
"Buka aja?" Garvin memberikan remot dengan satu tombol merah di tengahnya. Raja menerima remot itu dan menatapnya sebentar.
"Kayak remot bom!" katanya. Orang-orang terkekeh, begitupun Ace yang lucu melihat tingkah Raja. Cowok itu menekan tombolnya dan ....
"Gimana?" Raja menatap Garvin. Lalu segera memeluknya, "kamu suka?" Raja melepas pelukannya.
"Suka Pah! Dari dulu Nuca pengen ini, tapi Mama sama Papa nggak bolehin!" kata Raja sambil mendekat ke arah mobil sport incarannya sejak beberapa bulan lalu.
"Keren!" komentar Ace menatap takjub mobil berwarna hitam di depannya.
"Kado Mama ada di dalemnya!" kata Stella masih menggendong Bita. Karena bocah kecil itu sedang mode manja.
"Apa sih ma? Bikin penasaran!" Raja membuka pintu kemudi.
"Hampir mati gue! Lo kelamaan bukanya!" Raja terdiam menatap seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Gattan!" Raja langsung memeluk sahabatnya itu saat cowok yang di sebut bernama Gattan itu keluar dari mobil.
"Woi! Gue masih normal lepas!" protes Gattan sambil pura-pura jijik, "sorry ya Mas, saya masih perawan!" Gattan mengibaskan rambut gondrongnya.
__ADS_1
"Lo beneran Gattan kan?" mata Raja berkaca-kaca.
"Lo pikir gue fotokopian Hah!"
"Ma ...." Raja menoleh menatap Stella yang tersenyum kearahnya.
"Kado Mama belum selesai tuh!" kata Stella. Raja mengernyit
"Nih!" Gattan memberikan kotak yang dia ambil dari dalam mobil kepada Raja.
"Apaan nih?" Raja membuka kotak itu, dan menatap bingung Mamanya.
"Tiket makan ke Singapur? Buat apaan?"
"Buat temen-temen sekelas kamu!" jelas Dava.
"Hah!"
"Bonus sama Ahjussi rasa Oppa, kata Ace!" promo Kian. Ansell hanya menarik Kian lalu merangkulnya dari samping.
"Rese!" katanya pelan, Kian malah tertawa.
"Nggak mau ah!" tolak Raja.
"Kalo lo terima, gue bakal pindah ke sekolah lo, kalo enggak, jangan harap ketemu gue lagi!" ancam Gattan. Raja langsung gelagapan.
"Iya-iya. Nuca mau, ah elah curang banget pake ngancem segala!" kesal Raja. Gattan terkekeh saja.
"Kado dari Mama belum kelar loh!" Kata Garvin.
"Ada lagi?" Raja meneliti isi mobil.
"Nggak ada?"
"Di dalem!" Stella menginteruksi semuanya masuk. Raja meminta Gattan untuk ikut masuk, dan entah fikiran dari mana, Raja juga menarik Ace masuk.
"Hah sejak kapan?" Raja bingung menatap puluhan kado yang menumpuk di ruang tengah.
"Ini dari temen-temen kamu!" jelas Stella. Seketika ruang itu di penuhi teman-teman sekelas Raja.
"Nisa!" Ace melepaskan diri dari Raja dan langsung berlari ke arah Nisa.
"Ace, cieee yang special banget!" goda Nisa.
"Apaan sih, engga!" protes Ace.
"Mama panggil mereka semua kesini?" tanya Raja. Stella memberikan Bita pada Garvin, lalu mendekat ke arah Raja.
"Udah saatnya kamu berubah Nuca!" bisik Stella, "suatu saat kamu bakalan butuh temen!" Raja terdiam. Dan bukannya senang dia malah pergi begitu saja, meninggalkan ruangan. Seketika ruangan menjadi hening. Dava mencegah Garvin yang terlihat marah ingin mengejar Raja.
"Jangan pake emosi!" katanya.
"Lo tau nggak Anna udah susah-susah bikin ini buat dia. Dan respon dia cuma gini aja? Anna udah nyari Gattan sampe akhirnya Gattan ketemu di Negara asing! Lo pikir itu gampang!" kesal Garvin. Dava menggeleng.
"Biar gue yang ngomong sama dia!"
****
__ADS_1