Ranjang Panas Tuan Duda

Ranjang Panas Tuan Duda
65 - Ingin Sendiri


__ADS_3

Emely membawa Alyssa ke kamar.


"Emely, aku sedang ingin sendiri, tidak apa-apa kan?." Tanya Alyssa.


Emely sejenak menatap mata sang kakak yang sayup, melihat kesedihan yang sangat dalam yang pernah Emely lihat dari mata sang kakak, itu saat Kematian kedua orang tua nya. ia begitu sedih ketika melihat sang kakak disakiti.


Meski tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi ia tahu ini pasti sangat menyakitkan bagi sang kakak.


"Gak apa apa kakak aku tinggal?." Tanya Emely lagi.


"Iya, gak apa-apa, kakak hanya ingin istirahat saja." Balas Alyssa.


Emely tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya, setuju untuk membiarkan sang kakak sendirian.


"Kak, Apa pun yang terjadi, Kakak harus kuat ya." Ucap Emely.


Alyssa menatap sang adik lalu menganggukkan kepala nya dengan senyuman yang terlihat sangat sedih.

__ADS_1


Setelah Emely keluar dari kamar, Alyssa pun mulai menangis Kembali, hanya tangisan yang kini tempat ia melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Bahkan tak satu pun dari mereka menghubungi nya untuk bertanya bagaimana kondisi nya saat ini.


Emely di luar pintu mendengar tangisan sang kakak, meski sebisanya Alyssa menangis dengan suara kecil, namun masih terdengar oleh sang adik di luar. Emely pun ikut menangis mendengar tangisan pecah sang kakak.


Bluk


Terdengar suara sesuatu yang di lempar. Emely pun terkejut dan ingin masuk, namun Nando datang menghentikan nya. Alyssa membanting dengan keras ponsel nya hingga hancur berkeping. sejak tadi ia menunggu dan berharap seseorang akan menghubungi nya menanyakan keadaan nya, namun ternyata, Tak ada yang menghubungi nya, begitu pun Jasson, padahal kini jam sudah menjelang subuh.


"Kak, Kak Alyssa." Lirih Emely menangis.


"Biarkan saja dia istirahat Emely, dia pasti ingin sendiri."Ucap Azka yang juga datang menghampiri.


"Iya Emely, tidur lah, Aku akan menjaga Kakak." sambung Nando.


Emely pun dengan enggan mengiyakan nya.


•••

__ADS_1


Jasson tampak terbaring di ruang ICU, belum sadar hingga pagi hari menjelang, bernafas pun Jasson terbantu oleh alat-alat yang menopang nya untuk tetap hidup, Nyonya Anas pun tak berhenti menangis melihat kondisi sang putra yang terbaring seperti orang mati dengan banyak nya Alat yang menempel pada tubuh putra nya.


"Bibi ini sudah hampir pagi, sebaik ya Bibi dan Paman istirahat, Pulang lah dulu, Jika kondisi Jasson ada perubahan, Aku akan mengabari kalian."Ucap Alvin.


"Bagaimana mungkin kondisi Jasson begini kamu meminta kami untuk pulang."Ucap Alexa enggan pulang.


"Aku tidak bicara dengan mu Alexa, aku bicara dengan Bibi Anas dan Paman Albert. jika kau masih ingin disini aku tidak masalah."Ucap Alvin terdengar sinis di telinga Alexa yang lansung saja menatap Alvin dengan kesal.


"Betul kata Alvin ma, percuma kita disini tidak akan merubah apa pun, Sebaik ya kita pulang dan berdoa yang terbaik untuk Jasson." Ucap Tuan Albert.


Dengan perasaan yang sedih, Nyonya Anas pun menyetujuinya.


"Ayo Alexa, kamu harus pulang juga, Tidak baik untuk kehamilan mu terus berada disini."Ucap Nyonya Anas.


Alvin kesal saat mendengar kata kehamilan Alexa. namun ia hanya menatap Alexa dengan sinis dan malas.


Alexa dengan sedih mengangguk kan kepala dan berjalan bersama Nyonya Anas untuk pulang.

__ADS_1


"Titip Jasson Alvin." Tuan Albert menepuk pundak Alvin. Alvin menganggukkan kepala nya.


__ADS_2