
Beberapa hari telah berlalu.
Ranni masih tertidur mungkin ia tidak akan pernah terbangun lagi.
Terlihat sosok wanita paruh bayah sedang duduk disampingnya dan dia terus menatap lekat pada wajah anaknya itu. Penyesalan yang membingkai matanya sangat jelas untuk dideskripsikan. Dia hanya bisa pasrah menunggu keajaiban dan terus menanti sampai Ranni membuka mata dan tersenyum padanya lagi.
"Bunda akan mencoba tegar, kau adalah anak bunda yang paling kuat" dia membelai Rambut Ranni.
"Kau dulu pernah bermimpi, Bunda membelaimu sambil tersenyum sekarang bunda mewujudkan mimpi itu nak" dia terus membelai Ranni, senyum yang dipaksakan itu tidaklah berarti lagi.....
Dari luar ruangan, seseorang terus mengawasi mereka. Ada sebuah pisau di tangannya. Dia terlihat sangat putus asa, cekung di matanya menggambarkan bahwa dia tidak pernah tidur untuk beberapa hari. Badannya begitu usang.
Pemuda yang malang.....
Beberapa saat kemudian Ibu Ranni meninggalkannya. Dia pergi untuk mengurus beberapa keperluannya. Setelah ia pergi, pemuda malang tadi masuk ke ruangan itu.
Dia masih memegang pisau di tangannya.
Untuk beberapa saat dia terdiam dan terus mengamati Ranni, kemudian dia tersenyum sambil mengiris-iris tangannya. Muka Ranni kini penuh dengan darah pemuda malang itu.
Darahnya terus menetes di muka Ranni hingga membuatnya terlihat sangat menyeramkan...
Sosok itu kemudian membuka secara paksa membuka mulut Ranni, dia hendak memasukan darah-darah itu pada mulutnya.
Untung saja Afgar cepat datang dan mencegah perbuatan gila pemuda malang itu.
"ANNDIN!!! Apa yang kau lakukan?" dia marah dan menghempaskan tubuh Anndi ke dinding.
"Aku sedang menolongnya" jawabnya pelan.
"Apa kau bilang? Menolongnya dengan meminumkan secara paksa darahmu yang kotor itu?" jawab Afgar penuh amarah.
Anndin hanya tersenyum, dia perlahan-lahan keluar dari ruangan itu. Sebelum menutup pintu dan pergi. Dia berkata...
"Kelak kau akan membutuhkanku, Ranni tidaklah koma. Dia sedang disandra oleh aku yang lain pada dimensi yang tidak pernah di izinkan semesta untuk ada, jika dia tidak sadar dalam kurun waktu yang lama jangan berharap untuk melihatnya kembali. Darahku yang kotor ini akan kau cari kelak" dia menutup pintu dan pergi meninggalkan Afgar yang kebingungan.
Anndin kemudian menghilang tanpa jejak.....
Afgar masih bingung dengan apa yang diucapkan Anndin tadi. Amarah mulai tumbuh dihatinya.
Kenapa semua orang merahasiakan sesuatu darinya?
Tapi kemudain....
"Anndin aku juga merindukanmu" Ranni yang terbaring kaku dan sudah lama tidak berbicara, tiba-tiba mengeluarkan suaranya bahkan dia sempat tersenyum juga.
Melihat hal itu Afgar terkejut dan yang membuatnya semakin terkejut adalah ketika melihat darah yang memenuhi muka Ranni, perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang kecil berwana merah. Kunang-kunang itu kemudian membentuk formasi aneh. Formasi yang memperlihatkan dua sejoli yang sedang saling melepaskan rindu di atas kuda yang berlari, mereka terlihat sangat bahagia. Kunang-kunang itu kemudian merubah formasi membentuk seorang wanita cantik yang akan menikam tubuhnya menggunakan batang bunga anyelir yang layu. Sekejab kunang-kunang itu menghilang....
Afgar yang masih terkejut melangkah keluar, dia hendak mengejar Anndin dan menanyakan semua hal-hal aneh itu. Tapi Anndin sudah pergi menghilang entah kemana. Tanpa pikir panjang dia berlari ke ruang kontrol rumah sakit untuk mengecek CCTV agar mengetahui keberadaan Anndin.
Semua rekaman sudah dia periksa tapi kejadian-kejadian aneh yang dilihatnya tidak terekam oleh kamera CCTV manapun, baik itu Anndin ataupun kejadian di kamar inap Ranni.
__ADS_1
Semuanya begitu misterius dan memusingkan, Afgar jalan sempoyongan pada lorong-lorong rumah sakit itu. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Semua orang pasti tidak memercayainya ketika dia menjelaskan tiap kejadian yang baru dilihatnya.
Braaakkkk....
Afgar ambruk dan terbaring di lantai rumah sakit yang dingin....
Sementara itu, kisah antara Anndin dan Ranni pada dimensi waktu yang lain terus berjalan sesuai kisah yang direncanakan Anndin....
"Anndin aku juga rindu padamu" dia berbisik dan menempelkan kepalanya pada bahu Anndin.
Anndin hanya terdiam, mukanya terlihat memerah dan melepuh. Untung Ranni tidak melihatnya, dia pasti akan ketakutan dan panik jika melihat itu....
Kunang-kunang merah tiba-tiba datang dan mengikuti perjalanan mereka, Anndin yang melihat itu sangat kesal.
"Dia ingin mengancamku?" Anndin terdengar marah
"Siapa yang mengancammu?" tanya Ranni.
"Tidak Ran" jawabnya pelan
Dia menghentikan kuda yang ditungganginya kemudian turun dan disusul oleh Ranni. muka Anndin sudah kembali pada sedia kala.
Kuda itu berhenti pada gubuk kecil yang terbuat dari sulaman bunga anyelir.
Kunang-kunang merah tadi masih terus mengikuti mereka.
Ranni mengamati gubuk kecil itu sambil tersenyum.
Anndin tidak menjawab pertanyaannya, dia mendekati Ranni dan menutup matanya. Semua yang dilihatnya menjadi gelap...
Ranni kembali tidak sadarkan diri....
Anndin mengikuti jejeran kumbang-kumbang merah yang mengikutinya tadi. Dia terlihat khawatir.
"Si bodoh itu sudah menyadari dirinya, ini terlalu cepat dari dugaanku" dia bergumam sambil terus malangkah cepat mengikut kunang-kunang merah itu.
Dia terus mengikuti dan jejeran kunang-kunang merah itu berhenti di tepi jurang. Anndin tersenyum puas melihat itu.
Hahahahahahaha.....
Dia tertawa merayakan kemenangannya...
Tiba-tiba muncul seorang gadis dari balik semak-semak pada tepi jurang itu.
"Dimana Ranni kau sembunyikan?" tanya gadis itu.
"Kau jangan coba-coba mengambilnya dariku" jawab Anndin dengan nada mengancam.
"Dia itu saudariku, batin kami saling terhubung. Kenapa kau begitu kejam dan terus memisahkan kami?" dia terdengar berusaha mengontrol amarahnya.
Hahahahhahaha, Anndin hanya tertawa girang mendengar itu.
__ADS_1
Dia kemudian pergi meninggalkannya.
Hahahahahhahahahahaha.....
Tawanya terus menggema sepanjang perjalananya kembali ke gubuk kecil tempat dia menyembunyikan Ranni. Semua yang disekitarnya merasa marah dan geram mendengar itu namun mereka hanyalah sekumpulan pohon dan rerumputan yang tidak bisa melakukan apapun.
Anndi telah membawa mala petaka ke negeri yang damai itu, namun semuanya hanya terdiam dan terus menunggu kehancuran. Mereka tidak memiliki kendali untuk menghentikannya....
Dengan hati-hati, dia memasuki gubuk kecil itu. Dia menatap Ranni yang sedang tertidur. Rembulan di matanya kini sudah kembali...
"Semua ini bukan salahmu Ran, aku sedang menuntut pada takdir yang terus memisahkan kita dengan cara yang sangat kejam" dia bergumam kemudian mencium kening Ranni.
Malam ini akan berlalu, mentari sedang bersiap untuk merebut tahtanya kembali....
Ranni membuka matanya, aroma bunga anyelir yang aneh menyadarkannya bahwa sekarang dia masih bersama pujaan hatinya.
Dia tersenyum melihat Anndin yang tidur dengan posisi duduk. Anndin menjaganya semalaman....
Hihihihihihihihi...
Dia mendengar suara tawa yang sama...
Suara gadis periang yang selalu menghiburnya.....
Dia hendak keluar dan mengikuti suara itu, tapi Anndin tiba-tiba menarik tangannya.
"Sudah ku peringatkan untuk tidak mengikuti suara itu" raut wajahnya menunjukan kekesalan.
Ranni agak terkejut, dia hanya terdiam dan berusaha melihat keluar lewat lubang-lubang gubuk itu. Harapannya adalah dia bisa melihat pemilik suara tawa yang nyaring itu.
"Suara itu berbahaya untukmu Ran, jangan pernah mengikutinya" ancam Anndin.
"Suara siapa itu?" jawab Ranni penasaran.
Anndin tidak menjawab, dia menarik tangan Ranni untuk keluar dari gubuk itu.
Ranni hanya mengikutinya, dia tahu Anndin tidak akan pernah menjawab pertanyaan seperti itu. Dia masih sosok misterius yang harus segera ditaklukan olehnya...
Ranni terus mengamati sekelilingnya tanpa memedulikan uluran tangan Anndin yang mengajaknya untuk naik ke punggung kuda. Dia masih terus mencari.
Gadis periang itu mungkin masih ada disana dan sedang bersembunyi...
"Ayo, Ran" ajak Anndin.
Dengan wajah putus asa dia menerima uluran tangan Anndin....
Mereka kini melanjutkan perjalanan yang jauh itu...
Gadis periang yang di cari Ranni tadi terlihat keluar dari semak-semak. Dia memerhatikan mereka dari belakang. Dia terus melihat ke arah Ranni hingga mereka tidak terlihat lagi.
Insting yang dimiliki sepasang saudara kembar memang sangat kuat.....
__ADS_1