
Apa benar pelangi itu akan hadir setelah badai berlalu? Atau dia hadir hanya untuk megundang badai yang lebih besar.
"Aku pasti bisa" Ranni menutup matanya sambil berusaha memainkan biola yang dia pegang.
Aqyla yang sudah menjadi kepribadian lainnya mengambil alih perannya. Dia membantu Ranni untuk melantunkan nada-nada indah dari biola itu. Senyum manis dengan profesionalismenya mampu menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Dunia yang hampir mati perlahan dibuatnya bergoyang dengan nada-nada itu. Seisi ruangan kos yang sempit dan kusam tersihir menjadi dunia megah impian para jutawan.
Sambil memeluk adiknya, Eka menangis terharu sekaligus bahagia. Kini dibalik tatapan deritanya memancar sedikit harapan pada takdir untuk melangkah pada dunia yang diberkahi.
"Kakak sangat cantik dan baik hati, ketika aku sembuh nanti.... Aku akan menjadi orang seperti kakak yang bisa memberikan harapan dan ketenangan. Kakak mau menandatangani mimpiku ini?" anak itu memberikannya sebuah buku sambil tersenyum bahagia.
*Aku menemukan mimpiku dan harapanku. Tidak peduli seberapa panjang umurku. Aku mengerti Tuhan sedang membuatku menjadi anak yang kuat agar bisa berlari menembus ombak tanpa gentar. Ranni yang membuatku mengerti akan itu, ketika aku memainkan biola maka aku akan bersinar seperti bintang.
Aku akan menjadi violinis hebat.
6 Juli 2020*.
"Semoga kamu lekas sembuh dan memetikkan bintang itu untukku" Ranni memegang tangan anak itu sambil tersenyum.
Aku tidak punya harapan tapi semua orang berharap padaku. Mungkinkah?
"Aku sangat berterimakasih padamu Ran..." Eka tersenyum lalu memeluknya.
Ranni mengangguk pelan.
Pemirsa hari ini telah terjadi kejadian tragis di universitas A, kejadian itu menewaskan seorang mahasiswi dan seorang polisi. Mereka terjatuh dari gedung. Kejadian itu diduga karena seorang mahasiswi diklaim sebagai pelaku pembunuhan kekasihnya, dia tidak menerima tuduhan itu sehingga melompat dari gedung dan menarik tangan salah satu anggota polisi yang berusaha mencegahnya. Sebelum kejadian itu ditemukan juga mayat seorang mahasiswi....... Bla.. Bla... Bla...
"Bukah kah itu kampus kita?" Eka menatap ke arah Ranni.
"Sepertinya begitu....." dia berbicara sambil melihat ke siaran itu.
Biiiiippppp..... Biiiiiiiipppp...... Biiiiiiippp....
Hp Ranni tiba-tiba bergetar.
"Hallo?"
"Kamu sudah lihat berita?" dari seberang terdengar suara Ella yang ketakutan.
"Iyyyyyaaa...."
"Kita harus ketemu sekarang Ran, ada yang harus kamu ketahui" dia berbicara dengan nada khawatir.
"Tapi...."
"Kamu dimana sekarang? Aku akan menemuimu"
__ADS_1
"Mari bertemu di taman kampus, aku sedang dalam perjalanan"
"Baiklah..." Ella menutup teleponnya.
"Aku ada urusan mendesak, aku pergi dulu ya?" dia melihat ke arah Eka lalu buru-buru keluar.
Hatinya berdegup kencang sepanjang perjalanannya ke kampus. Entah itu menandakan apa, terlalu gawat untuk berpikir serius sekarang. Kematian 4 orang dalam sehari dan terjadi di kampus tempat orang mencari ilmu.
Ranni berlari mendekati Ella yang duduk termenung.
"Ella...." Ranni memanggilnya sambil berlari.
"Ran..." dia menoleh kearahnya.
"Ada apa?" tanya Ranni dengan nafas tergesah-gesah.
"Duduk dulu Ran..." dia menatapnya.
Ranni duduk dengan ekspresi cemas.
"Ran...., aku nggak tahu mau jelaskan dari mana. Aku bingung" dia tertunduk.
"Jelaskan aja pelan-pelan, tatap aku" dia memegan tangan Ella sambil menatapnya.
"Kematian ini......, kematian mereka...., semua karena kamu. Mereka mati karena sudah menyaksikan kejadian itu" dia menatap Ranni serius.
"Waktu itu..., kamu berubah menjadi orang lain. Matamu merah dan kamu mencekik Mulan. Saat itu Mulan juga seperti berubah menjadi orang lain. Dia tidak terima kau perlakukan dia seperti itu, sehingga membalas dengan menggigit lehermu seperti vampire. Kalian beradu pertengkaran hebat, saat itu aku juga baru melihat sisi lain dari Arsal. Dia juga seperti orang lain dan berbahasa aneh......, aku nggak tahu pasti Ran, tapi Zyin bilang kalau semua orang yang menyaksikan kejadian itu akan mati secara tragis" dia menjelaskan dengan seksama.
"Sudah kuduga...." Ranni tertunduk dan menangis.
Ella juga ikut tertunduk, dia tidak tahu harus berekasi seperti apa. Batinnya serasa menggap Ranni orang lain. Mereka tidak sedekat sebelumnya.
"Ran..., kita harus mencari tahu siapa-siapa saja yang menyaksikan itu. Kita harus melindungi mereka dan mencegah pembunuh brutal itu" Ella menggenggam tangannya.
"Aku hanya akan memperparah keadaan Ell" dia melepas tangan Ella lalu berdiri dan pergi dari situ.
Apa takdirku untuk menjadi seorang pembunuh? Mereka wafat dengan tragis tanpa tahu sebabnya. Dewi kedamaian....? Omong kosong!!!
Bunga-bunga yang bermekaran pada taman itu tampak indah dan cantik. Ketika Ranni melewati bunga-bunga itu, mereka langsung layu seketika tanpa sebab. Kutukannya ikut tertabur pada semua bunga yang bermekaran. Mereka layu tanpa sebab...
Hiks.... Hiks.... Hiks....
Aku pikir hidupku sudah normal. Kenapa waktu berjalan terlalu cepat?
Ranni berjalan sambil menangis dan mengingat-ingat kembali bagaimana kehidupan normalnya sebelum semua ini terjadi.
"Ell" Arsal tiba-tiba muncul di depannya.
__ADS_1
"Arsal? Kamu dari mana saja? Kamu tahu keadaannya sangat kacau sekarang!!" dia langsung berdiri dan memarahinya.
Arsal diam dan menatapnya dengan segudang kerinduan yang disembunyikan, dia tersenyum pahit lalu tertunduk.
"Kamu masih bisa tersenyum!!!!" dia memukul bahunya sambil menangis.
Arsal menarik nafas panjang lalu memeluknya. Dia berusaha menenangkan Ella yang emosinya sedang memuncak.
"Kamu dari mana saja? Dia bukan Ranni....., bagaimana aku harus bersikap? Aku pikir semua orang sudah meninggalkanku..." dia terus menangis sejadi-jadinya.
"Hei....., dengarkan aku....., dia itu Ranni sahabatmu. Tidak peduli seberapa bencimu padanya tapi dia Ranni sahabatmu. Begitulah takdirnya. Dia terus hidup dan menanggung siksaan. Kamu harus tetap disisinya, kita harus membantunya begitulah alasan kita dilahirkan" dia melepaskan pelukannya dan memegang bahu Ella.
"Aku tidak mengenalnya Ar...." dia menatapnya.
"Tanya hatimu...., bagaimana perasaanmu melihat kondisinya sekarang? Dia sangat butuh bantuanmu Ell...." dia mengangkat salah satu tangan Ella.
"Kita harus membantunya bersama...., kamu tidak akan menghilang lagi kan?" dia menahan air matanya.
"Aku punya tugas yang lain Ell..., aku mohon tetap disamping Ranni...." dia memasukkan cincin di jari manis Ella lalu tersenyum.
"Apa maksudnya ini Ar...." dia menarik tangannya.
"Aku harus mengenalmu...." dia menarik nafas panjang.
"Apa maksudmu!!?" dia berteriak sambil terisak.
"Maaf, aku tidak bisa melamarmu seperti kebanyakan pria yang dilakukan pada wanita yang dia cintainya. Aku tidak punya waktu untuk menciptakan romansa bahagia tapi setelah semua ini selesai, aku akan mencobanya sebaik mungkin. Tidak peduli berapa kali kau akan menolakuku" dia mendekati Ella lalu mencium keningnya.
"Kenapa kamu tidak pernah menjawabku? Kamu dari mana saja? Apa yang kau lakukan? Apakah kamu tidur dengan nyenyak? Apakah kamu makan dengan baik? Apakah kabarmu baik-baik saja?" Ella berteriak merintih dan berusaha memukulnya.
"Aku harus mengenalmu...." dia menahan tangan Ella dan menggenggamnya dengan erat.
"Kali ini saja, aku mohon...., jawab aku" Ella mentapnya dengan penuh kesedihan yang bercampur rindu.
"Aku harus mengenalmu....." dia melepaskan tangan Ella lalu berbalik dan meninggalkannya.
"Kamu pergi lagi? Kamu pergi? ARSAAALLLLL.....!!! Kenapa kau menyiksaku dibalik sikap dinginmu? PERGIIII DAN JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI DIHADAPANKU.....!!!!" dia berteriak berusaha menghentikannya tapi Arsal terus berjalan tanpa berbalik.
Hujan turun setetes demi setetes, mereka seperti ikut berduka atas kekacauan bumi dan hati orang-orang yang berduka. Hujan turun semakin keras tanpa kompromi. Hari ini sepertinya banyak orang yang sedang menangis atas kesedihannya.
Arsal berjalan tanpa henti di tengah-tengah hujan yang menderu. Lalu dia mengeluarkan secarik kertas dan sebuah foto dari sakunya.
Eka, jurusan Pend. Sastra Prancis...
Alamat rumah jln. xxxxxxx
Duka harusnya ditanggung bersama agar tidak terlalu sakit.
__ADS_1
Kisah kelinci kecil dan kayu dengan kulit yang membusuk berakhir tragis. Hari ini sepertinya tidak ada lagi orang yang akan membaca dongeng dengan akhir yang sedih. Siapa yang akan terima hidup dengan takdir tragis akan berakhir dengan tragis juga? Semua orang butuh vitamin kebahagiaan maka kenyataan bahwa tawa seseorang lebih nyaring setelah menangis berjam-jam adalah kebenaran. Siapapun yang menanggung kesedihan maka harus menangis sambil tertawa nyaring agar dukamu bisa ditoleransi waktu yang kejam.