
Setiap orang melindungi dirinya dan mengontrol setiap perbuatannya masing-masing. Ada beberapa orang yang menyimpan rahasia dan menyembunyikannya rapat-rapat.
Tapi....
Rahasia itu tidak bisa mati bersamamu. Rahasia yang keji akan terus berteriak pada langit untuk segera memberitahukan kedatangannya. Sekeras apapun kau mencoba untuk menyebunyikannya percayalah ada saatnya kau akan menyerah dan lengah untuk menjaga rahasia itu karena kebenaran selalu berdiri di tempatnya. Kebenaran akan terus menunggu sampai tembok rahasia yang menutupinya runtuh dan hancur secara perlahan-lahan.
Ella mengintip dari balik jendela mengamati ruangan itu.
"Aku mohon Zyin muncul lah...." dia membatin khawatir.
"Kamu ngapain disini?" Zyin datang dan menegurnya.
"Akhirnya kamu muncul juga" dia tersenyum dan mengelus dadanya.
"Aku tidak suka bertanya dua kali" dia tampak sedikit kesal.
"Oh.... Maaf kak Aku kesini hanya mau mengecek ruangan ini, sebentar aku sama Ranni dan Arsal akan latihan disini" dia tertuduk ketakutan.
"Jam berapa?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Selesai kulih jam 4 sore" dia tersenyum sambil menyipitkan matanya, Zyin sepertinya peduli pada Ranni.
"Ohhhh..." dia menjawab datar lalu pergi meninggalkan Ella.
"Yessss....! Berhasil...., sebentar pasti Zyin akan datang" dia melompat-lompat kegirangan.
Dengan ekspresi bahagia dia melewati ruangan itu untuk kembali ke kelasnya sambil bersiul merayakan keberhasilannya.
Tapi tiba-tiba dia berhenti. Mulan menghalangi jalannya.
"Ikut aku.....!" dia menarik tangan Ella dengan kasar.
"Kemana???" Ella bertanya kebingungan.
Braaaakkkk...
Mulan membanting tubuh Ella ke dinding.
"Kamu apa-apan sih" dia berusaha menampar Mulan.
"Hhhhh, kamu berani lawan senior?" dia menjambak rambut Ella.
"Senior apaan, kitakan seumuran" dia berusaha melepaskan diri.
"Aku seniormu di organisasi itu" di terus menjambak rambut Ella.
"Aaaaaa, sakit tau. Aku menganggapmu senior hanya ketika kita berada di lingkup organisasi. Kita beda jurusan dan fakultas ngapain aku harus sujud di hadapanmu" dia berusaha melawan.
"Oh..., kamu berani ya sama aku? Kamu nggak takut aku berbuat nekat dan membunuhmu?" dia berlih dan mencekik leher Ella.
"Apa maumu!!!??" dia sudah tidak punya tenaga untuk melawannya.
"Kamu bilang apa tadi sama Zyin?" dia semakin mencekiknya.
"Lepaskan! Aku tidak akan memberitahumu jika kau terus mencekikku" dia berusaha mengelabui Mulan untuk berhenti mencekiknya.
Mulan melepaskan cekikannya lalu menatapnya tajam.
"APA YANG KALIAN BAHAS!!!" dia berteriak seperti orang kesetanan.
"Hahahahahha, kamu ternyata masih terus menguntitnya? Dia sekarang sudah menjadi tunanganmu. Apa yang harus kau takutkan? Ranni?" dia mengejeknya.
"JAWAB!!!" dia berteriak semakin keras.
"Kamu pikir aku bodoh? Aku tidak sama seperti orang lain. Aku juga bisa membunuhmu, jadi jangan coba-coba mengancamku!!!" dia memegang dagu Mulan lalu menghepaskan badannya ke dinding.
"KAMU!!!!!!!!" dia beteriak lagi.
"Apa?!" Ella balas meneriakinya dan berjalan ke arahnya.
"Aku akan menghancurkanmu" dia berbicara setengah berbisik tapi suaranya sangat menyeramkan.
"Taktik seperti apa yang akan kau lakukan kali ini? Seperti apa kau akan membunuhku? Aku sangat penasaran!! Kamu lupa ya? Aku masih menyimpan rekaman itu dan menunda pengirimannya!!" dia meludah di depan Mulan kemudian pergi meninggalkannya.
"ELLLLLLAAAAAAA!!!!" dia berteriak memanggilnya dengan muka yang memerah.
__ADS_1
"DASAR IBLIS" dia bergumam sambil terus melangkah tidak memedulikan Mulan.
Pohon yang kesepian mengajak angin untuk bercengkrama.
Tapi....
Mereka memiliki bahasa yang berbeda. Mereka terus berbicara tanpa tahu maksud dan artinya. Sungguh lelucon yang kejam.
"Ella...! Kamu dari mana saja?" Ranni datang menghampiri Ella yang duduk melamun di kantin.
"Ell, kamu kenapa nggak masuk kuliah?" Arsal bertanya khawatir.
"Aku malas aja" dia tersenyum kemudian tertunduk.
"Ell..., kamu kok aneh" Ranni memeluknya.
"Aku nggak apa-apa kok" dia tersenyum pada mereka.
"Hmmmmm..., Ell kamu itu sumber kekuatanku. Kalau kamu sedih atau ada masalah pasti aku bisa rasain juga" dia memeluk Ella semakin erat.
"Aku nggak apa-apa" dia membalas pelukan Ranni.
"Beneran?" dia bertanya sambil mengamati mukanya.
"Iya....." dia mencubit pipi Ranni.
"Ell...," Arsal memegang bahunya.
"Ada apa?" Ella berbalik ke arahnya sambil memonyongkan mulutnya.
Arsal menatapnya dalam lalu menarik hidungnya dan tersenyum jahil.
"Arsaaaallll!! Awas saja aku akan membalasmu!!!" dia berteriak pada Arsal sambil mengepalkan tinjunya.
"Hahahahhahaha...., ayo ke ruangan musik. Katanya mau latihan" dia berbicara sambil terus melangkah meninggalkan dua sahabatnya itu.
Ella terlihat kesal dan membanting-banting kakinya ke tanah seperti anak kecil yang merengek meminta permen.
"Ell..., sepertinya Arsal menyukaimu" dia tersenyum dan membujuk Ella.
"Apa? Kok aku nggak tau?" Ranni melototinya.
"Ran.., kamu sepertinya tidak mengingatnya" dia berbicara hati-hati.
"Maaf yah, aku nggak ingat semua kenangan bersama kalian" dia mengkerutkan mulutnya.
"Udah jangan dipikirin" dia menarik tangan Ranni untuk menyusul Afgar.
"Kenapa hanya kenangan buruk yang bisa ku ingat. Aku ingin ingatanku kembali dan semua tentang mereka" Ranni bergumam sedih dalam hatinya.
Ada tujuan atas apa yang sudah terjadi dan menimpamu. Meskipun kau menolaknya pasti ada alasan dibalik semua itu.
"Kamu dengar suara itu?" Ella bertanya sambil melebarkan kupingnya.
"Ummmm..." dia mengangguk sambil mendengar suara itu.
"Pasti Zyin yang memainkan piano itu" dia berbicara sambil tersenyum dan menggelitik Ranni.
"Ayo cepat... " Ranni berbicara sambil berlari.
Hahahahahaha....
Ella mengamatinya sambil tertawa.
Sesampainya di depan pintu itu Ranni terdiam dan tercengang. Dia tidak berani memasuki ruangan itu sendiri.
"Zyin kerenkan..?" dia menghampiri Ranni yang terpaku.
"Itu Arsal bukan Zyin" dia ternganga melihat Arsal.
"Wah....," Ella juga ikut terngaga.
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti nyesal nolak laki-laki seperti dia" dia tersenyum melihat ke arah Ella yang menatap Arsal dengan mata berbinar-binar.
Arsal berbalik dan melihat ke arah mereka. Wajah Arsal tiba-tiba memancarkan cahaya. Dia seperti malaikat yang datang ke bumi untuk mencari cinta sejatinya. Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung terpanah oleh ketampanannya. Dia berjalan mendekati Ranni dan Ella yang diam dan bengong sambil melihat ke arahnya.
"Kalian kenapa?" dia melambaikan tangannya ke depan Ella dan Ranni.
__ADS_1
"Aku baru sadar ternyata temanku yang satu ini sangat ganteng bak malaikat" dia menatap Arsal dengan mulut ternganga.
Arsal menarik telinga mereka agar berhenti menatapnya seperti itu.
Aaaaaaa...
Mereka berteriak bersamaan lalu Arsal tertawa terbahak-bahak.
Ranni dan Ella masuk ke dalam ruangan itu sambil cemberut.
"Aku beneran loh Ar..., kalau aku jadi Ella pasti nyesal nolak kamu" dia menggelitik Ella dan berlari mendekati Arsal.
"Aku memang nyesel" Ella menatap Arsal.
"Ciieeee...., jadi kalian saling jujur sekarang" Ranni bertepuk tangan memeriahkan suasana.
"Sudah..., sudah..., kalian ambil biola sana. Udah sore nih.. Kalian mau latihan atau nggak" Arsal mengalihkan pembicaraan dengan muka yang mulai merah merona.
Hahahahaha...
Ranni tertawa dan mendekati tempat biola-biola itu disimpan dengan rapi.
Tiba-tiba dia merasa seseorang mendekatinya sambil berbisik menggunakan bahasa aneh...
luister naar mij (dengarkan aku)....
Volg mij (ikuti aku)...
Ik bel je (Aku memanggilmu)...
Maak ons โโwakker (bangunkan kami)....
Wij helpen u (kami melayanimu)...
Suara-suara itu terdengar melayang-layang di udara dan seperti memenuhi ruangan itu kemudian terpantul-pantul sehingga terdengar sangat menyeramkan.
Ranni reflek langsung menutup telinganya dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Pergiiiiii......!!" dia berteriak histeris.
Arsal dan Ella khawatir dan berlari ke arahnya.
"Ranni kamu kenapa?" dia memegang tangan Ranni yang penuh dengan keringat.
"PERGIIIII" Ranni terus berteriak.
"Ran.....," Ella menangis sambil memeluknya.
"Jangan ganggu aku. Aaaaaaaaaaa........." dia berteriak semakin keras.
"Arsal, lakukan sasuatu...." Ella menarik tangan Arsal sambil menangis.
"Apa yang harus aku lakukan?" dia terlihat mondar-mandir dan kebingungan.
"Aku mohon, lakukan apa saja agar dia tenang" Ella terus memeluk Ranni sambil menangis.
"Aaaaakkkkuuuuu...... Aaaaakkkkuuuuuu.... BANGKIIIIIIIIIIIITTTTTT!!!!!" dia berteriak di telinga Ella.
Ella merasa pusing seperti ada seseorang yang menghantamkan benda tumpul ke kepalanya. Dia memegang hidungnya dan mengamati tangannya yang terdapat bercak darah. Hidungnya mengeluarkan darah.
Tiiiiiiiiiiiiittttt....
Dia kemudian mendengarkan bunyi yang sangat memekakan. Lalu cahaya putih menelannya.
Ranni bangkit dan berjalan mendekati tempat biola disimpan. Dia mengambil salah satu biola itu dan memainkannya dengan lincah. Dia seperti kerasukan.
Arsal berusaha menghalanginya tapi saat itu Ranni begitu ganas dan tidak terkendali.
"Ar...., apa yang terjadi pada Ranni?" Ella membuka matanya perlahan-lahan dan menatap ke wajah Arsal yang menggendongnya.
"Dia bukan Ranni" Arsal menjawab pelan sambil tertunduk.
"Aku harus bertemu dengannya, turunkan aku Ar..." dia menggoyang-goyangkan kakinya untuk segera turun.
"Ell....," Arsal memanggil Ella yang berlari ke ruangan itu.
Senja membawa kabar buruk lagi....
__ADS_1