
Setiap hari yang berlalu adalah anugerah. Ketika kau berhasil melewati hari ini maka kau adalah pemenangnya.
Aku merindukan semuanya. Apa yang sudah kurasakan dan ku alami, entah itu hanya dalam dunia mimpi ataupun benar-benar terjadi. Aku sangat menghargainya dan aku merindukan semua orang yang pernah ku temui saat itu.
Ranni mencoret-coret buku yang ada di depannya sambil memikirkan sesuatu. Satu tahun sudah berlalu sejak kejadian itu tapi setiap detiknya masih menyimpan kenangan dan terkubur di dalam ingatannya. Meski dia sudah terus mencoba dengan keras untuk melupakan hari itu bersama semua kenangan yang menyertainya tapi semua itu sia-sia.
Bagaimana mungkin cerita ini hanya sekedar mimpi buruk?
Memang tidak ada logika yang bisa menjelaskan kejadian yang begitu sangat nyata itu atau ada sebuah ilmu yang bisa memprediksinya. Semua itu begitu mustahil dan tidak masuk akal. Ranni mungkin merupakan satu-satunya orang yang mempercayai bahwa hal yang dialaminya itu adalah nyata.
"Ranni!" sesorang tiba-tiba datang dan mengejutkannya.
"Iya?" dia terkejut dan langsung melihat kearah wanita itu.
"Aku sama Arsal akan mendaftar di organisasi yang kami ceritakan kemarin, kamu beneran nggak mau ikut?" dia dudk di samping Ranni dan berusaha membujuknya.
"Aku nggak tertarik untuk berorganisasi Ell" dia menjawab malas.
"Ran, aku tuh sama Arsal kadang bingung sama kamu. Semenjak kamu bangun dari koma saat itu, bukan hanya ingatanmu yang hilang tapi semangatmu juga menghilang. Kamu jadi sering ngelamun, pendiam, dan cenderung menjauhi keramaian. Kamu tahukan kita bertiga sudah berteman sejak lama. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, kamu harus cerita sama kami. Aku akan mendengarkan semuanya" dia tersenyum dan merangkul Ranni.
"Andai aku bisa mengingat semua yang pernah aku lakukan bersama kalian. Pasti akan menyenangkan" dia tersenyum pahit.
"Kamu belum juga mengingat apa-apa?" dia bertanya dan menatapnya iba.
Ranni hanya menggeleng dengan ekspresi kecewa.
"Satu tahun sudah berlalu tapi ingatanmu belum juga kembali, kepribadianmu berubah dratis. Kamu yakin nggak ada yang bermasalah sama otakmu?" dia menyentuhkan ujung jarinya pada dahi Ranni berusaha menghiburnya.
Ranni tertegun dan terdiam. Dia tiba-tiba teringat pada Afgar yang sering melakukan hal itu padanya ketika dia sedang melamun.
Afgar aku rindu padamu....
"Ran? Kamu nangis? Apa aku menyinggung perasaanmu? Maaf yah!!" dia menatap Ranni lalu mengangkat kedua tangannya memohon maaf.
"Aku nggak apa-apa kok" dia menghapus air matanya dan tersenyum.
"Kalian membahasnya lagi?" Arsal datang dan menempelkan segelas kopi pada pipi Elli.
"Aaaaaa, panas tau...!!" dia menatap tajam pada Arsal.
Arsal mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Ranni dengan tatapan khawatir.
"Nih..." dia memberikan segelas kopi yang dia bawa pada Ranni.
"Thanks" dia tersenyum.
"Kamu tahu nggak berapa lama waktu yang ku habiskan di depan cermin untuk berdandan seperti ini? Asdar...!!!" dia berteriak dan memukul bahunya.
"Aaaaaa, kamu masih cantik kok" dia berusaha menghindari pukulan Elli.
"Tapi bedaknya udah nggak seimbang" dia terus berusaha memukul Asdar yang bersembunyi disamping Ranni dengan cermin kecil miliknya.
Ranni tertawa melihat tingkah konyol mereka.
Asdar menatap Ranni diam-diam dan menghela nafas panjang lalu tertawa bersama mereka.
"Ell sudah, tuh dosen udah masuk" Ranni menghentikannya lalu menunjuk ke depan kelas.
Sejenak ruangan itu menjadi diam. Mereka semua menyimak presentasi dari dosen itu.
Mungkin kalian bertanya-tanya siapa itu Asdar dan Elli.
Mereka adalah teman baik Ranni sejak dia duduk di bangku SMP. Mereka sangat baik pada Ranni. Di dunia ini Ranni memiliki banyak orang yang mendukung dan menyayanginya sepenuh hati, kehidupan seperti ini sudah sangat dia inginkan sejak lama. Memiliki orang tua yang lengkap dan menyayanginya, memiliki sahabat yang baik, dan juga kehidupan yang normal.
Tapi kenapa Ranni terus gundah?
Mungkin dia masih belum terbiasa dengan kehidupan seperti itu...
Ranni pada dunia ini sepertinya sangat bahagia.
__ADS_1
Aku akan menganggap itu mimpi yang indah dan ingin berpetualang kembali ke dalam dunia mimpi itu.
"Aku duluan ya?" Arsal melihat ke arah mereka.
"Kamu mau kemana?" tanya Elli.
"Aku ada kelas lain hari ini" dia melihat jam tangannya.
"Kamu nggak mau mendaftar di organnisasi itu?" dia menarik tangan Arsal yang hendak pergi.
"Aku udah daftar" dia tersenyum jahil dan melepaskan tangan Elli.
"ARSAL...!!!" dia meneriakinya dengan ekspresi marah.
Arsal tersenyum bahagia dan mengangkat tangannya seperti memohon ampun lalu berlari meninggalkan mereka.
"Hahahahahha, apa kalian selalu seperti ini?" Ranni menutup mulutnya dan berbicara sambil tertawa.
"Dia selalu seperti ini Ran.., dia itu satu-satunya makhluk yang nggak bisa buat aku tenang" dia menatap tajam pada Arsal yang berlari.
Ranni hanya tersenyum mendengarkan Elli sambil merapikan buku-bukunya dan memasukannya dalam tasnya.
"Kamu kosong setelah ini?" Elli bertanya padanya.
Ranni mengangguk pelan.
"Ranni...., kamu beneran nggak mau daftar di organisasi itu?" dia membujuk Ranni dengan tatapan menggemaskan seperti anak anjing yang sedang memohon sesuatu.
Ranni menggeleng kepalanya pelan.
"Kamu serius?" dia menatap Ranni dengan ekspresi polos sambil membesarkan matanya yang cantik
"Aku nggak akan terbujuk Ell" dia mengelus pipinya yang tembem.
"Kali ini aja? Ummmmmm, please...!!" dia terus berusaha membujuk Ranni dengan mengandalkan tatapan manisnya.
"Nggakk....!!" Ranni terus menggeleng dan berusaha tidak menatapnya.
"Ranniii...." dia menggelitiknya.
"Ran.., orang yang bergabung ke organisasi itu semuanya keren-keren loh" dia menatap Ranni.
"Ell, aku nggak bisa. Aku nggak tertarik sama sekali dengan musik" dia membalas menatapnya.
"Kalau begitu temani aku mendaftar, siapa tahu tiba-tiba kamu merasa tertarik" dia terus memasang ekspresi menggemaskan.
"Baiklah, tapi temenin aja kan?" dia bertanya dengan sabar.
"Ummmm...," dia mengangguk bahagia.
"Cepatlah dewasa Ell, ekspresimu itu sangat menggoda" dia tersenyum dan mengacak-acak rambut Elli.
"Makasih Ran, cintaku" dia memeluk Ranni dengan erat.
"Ell, lepaskan semua orang menatap kita dengan aneh" dia berusaha melepaskan tangan Elli yang memeluknya erat.
"Bodoh amat" dia tertawa dan terus memeluknya.
"Kamu tahukan sekarang ini homoseksual menjadi bahan terhangat yang sering diperbincangkan?" Ranni berusaha membujuknya untuk melepaskan pelukannya.
"Hahahaha, kalau begitu aku membiarkan mereka mengganggap kita seperti itu. Kamu adalah istriku yang paling ku cintai" dia memonyongkan mulutnya hendak mencium Ranni.
"Ihhhh..., kamu apa-apan sih.." dia menempelkan tangannya pada mulut Ellis dan melepaskan diri lalu berlari menjauhinya.
"Ranni...., sayangku..., kamu menghianatiku? Jangan tinggalkan aku!" dia berteriak dan berlari mengejar Ranni.
Semua orang yang melihat mereka terlihat menggelengkan kepala.
"Elli sang primadona, dia suka sekali membuat kekacauan" seseorang bergumam dan terus mengamati mereka.
Dia sedari tadi memperhatikan tingkah mereka diam-diam.
__ADS_1
Seperti inilah mungkin dunia normal yang diceritakan semua orang. Tidak ada dongeng yang panjang, tidak ada kisah yang tragis, dan tidak ada hari yang penuh penyesalan.
Tapi...
Bagaimana kabar dunia itu?
Bagaimana keadaan mereka sekarang?
Apakah mentari sudah terbit disana?
"Hai.., perkenalkan namaku Ellis Pertiwi. Aku merupakan mahasiswa aktif dari fakultas kedokteran angkatan 2021. Aku ingin masuk ke organisasi ini" Ellis memperkenalkan dirinya di depan pengurus organisasi itu dengan sedikit gugup.
"Alat musik apa yang bisa kau mainkan?" tanya seorang pegurus organisasi.
"Aku bisa memainkan sebuah gitar tapi masih belum lancar" dia menelan liurnya sambil tertunduk.
"Apa mahasiswa kedokteran punya banyak waktu luang ya..? Kamu satu-satunya mahasiswi kedokteran yang mendaftar organisasi ini" dia memberikannya sebuah formulir pendaftaran lalu tersenyum.
"Apa?" dia bertanya dengan ekspresi terkejut.
"Hmmmm?" pengurus itu bingung dan menatapnya.
"Tapi kata temanku dia sudah mendaftar ke organisasi ini. Dia salah satu mahasiswa kedokteran" Elli membalas menatapnya.
"Sepertinya kamu dibohongi karena kamu satu-satunya mahasiswi kedokteran di organisasi ini" dia tersenyum lalu mengedipkan salah satu matanya.
Elli mengerutkan mulutnya merasa jijik lalu dengan cepat dia mengambil formulir dari tangan pengurus itu dan langsung keluar ruangan.
"ARSALL....!!!!" dia berteriak dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
Dia menggaruk kepalanya sambil menghentakan kakinya ke lantai.
"Bukannya Ranni tadi mau nunggu aku disini?" dia melihat sekeliling dan mencari Ranni.
Kelinci kecil mungkin sedang tersesat dan kelaparan, dunia yang beku itu terus mengubur kehidupan.
Ranni terlihat berjalan menyusuri lorong-lorong kampus itu mengikuti sebuah suara piano yang menenangkan.
Dia mengintip ke dalam ruangan dan melihat orang yang sedang bermain piano itu.
"Afgar?" dia sangat terkejut ketik melihat sosok itu.
Dengan cepat dia berlari masuk ke dalam ruangan itu dan menghampirinya.
"Afgar? Kamu kemana saja selama ini?" dia bertanya sambil berusaha menahan tangisnya.
"Apa kamu mengenalku? Maaf aku tidak mengenalmu" sosok itu berbicara tidak memedulikannya dan terus memainkan piano di depannya.
"Ini aku!!!" dia menarik tangan lelaki itu agar berhenti bermain dan melihat ke arahnya.
Sosok itu kemudian berdiri dan menarik tangannya dengan kasar lalu melangkah hendak meninggalkan ruangan itu.
"Afgar...!!" dia berteriak berusaha menghentikannya.
Afgar berbalik dan menghampirinya dengan ekspresi datar.
"Maaf, namaku bukan Afgar. Apa tidak ada cara lain untuk menggodaku? Aku sudah sering melihat orang sepertimu yang mendatangiku dan berpura-pura mengenalku. Kamu pikir aku akan tertipu? Dasar cewe tidak tahu malu!!" dia berbicara dengan ekspresi dingin lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.
Ranni terdiam dan terpaku melihatnya. Orang yang baru saja dia lihat bukanlah Afgar.
Dunia ini begitu mengerikan dan kejam. Aku meminta dan memohon untuk segera menghapus semua ingatanku tentang mimpi itu.
Kehidupan ini sangat menyenangkan tapi aku mohon jangan pertemukan aku dengan orang yang mirip seperti mereka.
Aku sangat tersiksa....
Semua orang tidak percaya padaku ketika aku menceritakan tentang mimpiku itu. Mereka bahkan menyarankanku untuk menemui psikolog. Kamu tahu itu sangat menyakitkan.
Aku tidak sanggup memecahkan teka teki ini. Aku bukan orang genius.
Izinkan aku untuk melupakan semua kenangan itu...
__ADS_1
Ranni duduk ke lantai dan memeluk lututnya.
"Aku akan berhenti menangis untuk semua kejadian yang berhubungan dengan mimpi ataupun dunia itu. Aku pasti akan melupakannya" dia bangkit dari duduk dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan itu.