Ranni

Ranni
Kekuatan Misteri


__ADS_3


Piiiiiipppppp..... Piiiiiippppppp.... Piiiiiiippppp..


Cahaya yang menyilaukan datang entah dari mana asalnya dengan kecepat yang tinggi dan diringi dengan bunyi dentuman yang sangat besar. Ranni berusaha menghindari cahaya itu karena sepertinya cahaya itu akan membunuhnya.


Boom......... Braaaaaakkkk..... Ciiiiiittttttt......


Sejenak keheningan memeluk Ranni bersama seseorang dalam sebuah mobil dengan kondisi yang sudah terbalik. Mereka baru saja mengalam kecelakaan yang dahsyat. Tidak jauh dari mobil yang ditumpangi Ranni ada sebuah truk dan bus yang kondisinya sangat hancur.


Perlahan-lahan suara tangisan sayup-sayup membangunkan malam yang sepi.


Ranni berusaha meraba sekitarnya, pendengaran, dan penglihatannya tidak normal saat itu.


"Kaaakkkk.... Kaaakkk...." dia berusaha membangunkan seseorang dalam mobil itu dengan suara serak yang terdengar seperti sedang berusaha menahan sakit.


Tidak ada respon dari orang itu tapi dia terus berusaha membangunkannya. Ketika Ranni sudah sangat putus asa sosok itu tiba-tiba memegang tangannya.


"Jangan takut..., Aku disini....." sosok itu membelai rambut Ranni kemudian menggenggam tangannya.


Ranni juga ikut menggenggam tangan sosok itu dan berusaha tetap bernafas.


"Ran..., saat ini sudah waktunya aku meninggalkanmu tapi aku tidak akan membiarkanmu mati. Kamu harus melupakan semua kejadian ini. Aku akan membawa pulang kembali jiwamu bagaimanapun caranya. Tidurlah untuk waktu lama..." sosok itu berbicara seperti sedang sekarat.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Kaaakkkk... Kaaakkkk...., jangan tinggalkan Ranni. Jangan tinggalkan Ranni...." dia berusaha memegang tangan sosok itu yang mulai mendingin sambil terisak.


Suara orang berlari, suara tangisan, suara mobil ambulance, dan suara mobil polisi berhasil membuatnya tertidur.


"Kak, jangan tinggalkan aku...."


Sekujur tubuh Ranni di penuhi dengan keringat. Dia terus menggigil dan berbicara dengan bahasa yang tidak jelas. Mimpinya kali ini sangat buruk tapi seperti bukan hanya sekedar mimpi.


Ingatannya perlahan kembali....


"AKU AKAN MEMBUNUHMU RANNI...!!!"


"Semua akan baik-baik saja" seseorang datang dan memeluknya...


"RANNI.........!"


AAAAAAAAAAA.......


Ranni membuka matanya dengan cepat dan ketakutan.


"Apa itu? Kenapa mimpi terlihat begitu jelas?" dia bangkit dari tidurnya dan memeluk lututnya sambil mengingat kembali mimpi itu.


Dia memegang dadanya, tubuhnya memberi respon setiap mengingat kejadian dalam mimpinya itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi padaku?" dia berusaha mengontrol nafasnya.


Untuk waktu yang terus berputar. Aku tahu ada rahasia yang ingin kau berikan padaku. Kau pasti ingin agar aku bisa memecahkan suatu kejadian yang tidak pernah terselesaikan. Tapi kenapa harus terus merahasiakannya dan memberi tahuku secara acak? Kenapa tidak memperjelasnya?


Aku tiba-tiba terbangun pada dunia ini dalam wujud yang sama. Sebelum itu aku merasakan dua kehidupan yang lain. Aku bertemu dengan banyak orang. Dan menjumpai beberapa dari mereka pada setiap kehidupan yang aku lalui.


Apa sebenarnya yang ingin kau tunjukan?


Jika aku membunuh diriku yang sekarang, apakah kau akan membangunkanku lagi pada kehidupan yang lain?


Seperti apa wujudmu waktu?


Siapa yang menciptakanmu?


Kenapa kau selalu menyisaku?


Segera temui aku dengan cepat, aku memiliki banyak pertanyaan padamu....


Ranni duduk mematung disamping ranjangnya sambil mengamati jam di dinding yang jarumnya terus berputar dan mengeluarkan bunyi yang menggelitik.


"Aku akan terjaga sampai esok..." dia tersenyum pahit lalu mengambil hpnya.


Dia mengecek sosial medianya dan melihat info-info terkini pada dunia maya.

__ADS_1


Ding..... Dong....


Chat dari Ella masuk.


Kamu belum tidur?


Aku nggak bisa tidur...


Pikir apa ayo....


Ella menggodanya.


Aku nggak pikir apa-apa..


Balasnya singkat.


Trus kenapa nggak tidur?


Aku udah tidur cuman udah bangunπŸ˜’


Ihhhh, ngambek. Tidur lagi sana...


Lah, kamu juga belum tidur..


Aku baru mau tidur, hehehe...


Good night 😚😚


Ranni mengamati pesan dari Ella tersebut tanpa membalasnya.


Andai saja dia bisa terlahir sebagai orang lain dan hidup seperti orang lain tanpa bayang-bayang masa lalu yang kejam. Juga ingatan-ingatan aneh yang masih menjadi misteri.


"Maaf aku iri padamu Ell..., hidupmu begitu sempurna dan bahagia. Kenapa Tuhan sangat tidak adil ketika membagi kebahagiaan?" dia mengamati foto Elli lalu melempar hpnya ke dinding.


Sudah sejauh mana waktu mengarang dongengnya?


Kali ini judulnya sangat aneh dan bisa membuat semua orang merinding.


Judulnya adalah kulit kayu yang membusuk.


Matahari kembali muncul. Ranni bangkit dari tempat duduknya dan membuka jendela kamarnya.


"Selamat pagi waktu...., Mulai dari hari ini aku akan selalu menyapamu di pagi hari dan menceritkan semua kejadian yang ku alami padamu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku agar kau tidak terus menyiksaku dan segera memberitahuku tentang rahasiamu" dia bergumam dalam hati sambil tersenyum.


"Ranni....! Kamu sudah bangun?" Ibu Ranni mengetuk pintu kamarnya.


"Iya bunda..." jawabnya pelan sambil berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


"Bunda sama Ayah mau keluar mungkin kami akan menginap beberapa hari" dia menjelaskan sambil mengusap rambut Ranni.


"Nggak apa-apa kok Bu, nanti aku ajak Arsal sama Elli untuk nginap" dia tersenyum manja.


"Kamu hati-hati ya?" Ibunya menatapnya lembut.


"Siap Bunda" dia mengangkat tangannya seperti sedang menghormati bendera.


"Bunda sudah siapin sarapan nanti kamu sarapan sendiri ya?" dia tersenyum dan mengelus kepala Ranni.


"Bunda aku boleh tanya?" dia melihat ke arah Ibunya serius.


"Tanya Apa sayang?" jawab Ibunya.


"Apa dulu aku pernah kecelakaan?" dia menatap dalam pada Ibunya.


"Kejadian itu sudah berlalu nak, kamu lupakan saja..." dia menjawab dengan ekspresi khawatir.


"Oh... Iya Bu" Ranni berhenti bertanya dan langsung menuruti Ibunya, dia tidak mau membuat Ibunya khawatir lagi.


Mimpi yang dialaminya semalam adalah sebuah ingatannya yang hilang dan itu benar-benar terjadi. Dia harus mencari tahu sendiri kejadian itu agar tidak membuat orang tunya khawatir.


Ranni mengamati keluar jendela mobil sepanjang perjalanannya ke kampus. Hari ini pasti memiliki banyak kejutan.


"Ran..., kamu sudah punya ide?" Ella menghampirinya.

__ADS_1


"Ide apa?" dia balik bertanya.


"Masa kamu lupa, kita harus buat alunan musik untuk Mulan" Ella mencubit pipinya.


"Aku lagi malas mikirin itu" dia menundukan kepalanya ke meja.


"Ran......." dia berteriak manja sambil menggelitik Ranni.


"Kamu jangan tanya sama Aku tanya Arsal sana!" Dia berusaha menghindari Ella.


"Sepertinya semangatnya yang kemarin sudah redup" dia berbicara dalam hati sambil memperhatikan Ranni yang menutup kepalanya menggunakan tasnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ella berusaha memikirkan sesuatu untuk membuat Ranni kembali semangat.


Oh... Iya....


"Ran...., selesai kuliah kita pergi ke ruang musik yuk..." dia berbisik di teling Ranni.


"Ngapain?" dia menjawab malas.


"Yah... Latihan lah...., kata temanku Zyin sering mengunjungi ruangan itu untuk memainkan piano" dia tersenyum menunggu reaksi Ranni.


"Oke...., sekalian kita ajak Arsal" dia langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ella dengan mata berbinar-binar.


"Oke...." dia tersenyum puas.


"Ran..., kamu suka sama Zyin ya? Sepertinya kamu benar-benar Ranni sahabatku yang dulu, meski ingatanmu sudah hilang tapi hatimu masih mengingatnya" dia berbicara dalam hati sambil menatap Rani dengan tatapan sedih.


"Eh..., kamu ngapain natap aku kaya gitu?" dia memukul kepala Ella menggunakan pulpennya.


"Heheheheh..., nggak kok" dia mengalihkan pandangannya sambil tertawa kecil.


"Ell..., aku boleh tanya sesuatu nggak?" dia bertanya dengan nada serius.


"Apa?" Ella mengamatinya.


"Apa aku koma setelah mengalami kecelakaan mobil?" wajahnya terlihat penasaran.


"Itu......, Ran..., maaf yah. Bunda..." dia menjawab dengan ragu.


"Kamu hanya perlu menjawab Ya atau Tidak, aku nggak minta kamu jelasin kejadiannya kok" dia berusaha tersenyum.


Ella mengangguk pelan sambil tertunduk. Dia sepertinya takut memberitahu Ranni tentang kejadian itu.


"Kalian bahas apa kok serius amat?" Arsal datang dan mencairkan suasana yang tegang diantar mereka.


"Nggak kok, kami hanya membahas tentang rencana yang ditugaskan Mulan ke kita. Ya kan Ran?" dia tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.


"Ummmm..." Ranni mengangguk pelan dengan tatapan kosong.


Arsal mengamati mereka dan menyipitkan matanya. Dia tahu mereka pasti membahas hal yang sensitif hanya saja dia tidak menanyakan hal itu karena takut membuat mereka merasa tidak enak.


"Oke baiklah, mengenai rencana tentang rancangan musik itu aku sudah menemukan solusi yang bagus" Arsal berbicara pada mereka dengan semangat.


"Apa?" Ella bertanya dengan antusias.


Ranni hanya terdiam dengan tatapan kosong, dia tidak merespon Arsal.


Arsal menghela nafas panjang.


"Kita akan memainkan alat musik biola, gimana kalian setuju?" tanya Arsal.


"Kok biola? Aku nggak bisa memainkannya. Idemu nggak asik" Ella membantahnya.


"Aku setuju, Biola memiliki bunyi yang bagus dan bisa menyampaikan dengan baik perasaan pemainnya. Aku pernah menangis mendengarkan seorang memainkan biola" dia melihat ke arah mereka.


"Tapi Ran..., aku sama sekali belum pernah menyentuh biola apalagi memainkannya. Memangnya kamu tahu?" dia berbicara sambil menggaruk kepalanya.


"Belum....," dia tersenyum jahil.


"Akhirnya senyum juga" Arsal membatin.


"Aku memang nggak bisa memainkan biola tapi aku akan berusaha" dia bicara dengan percaya diri.

__ADS_1


"Baiklah...., aku mengikuti suara terbanyak. Kita pasti bisa meluluhkan hati Mulan" Ella merangkul dua sahabatnya itu.


__ADS_2