Ranni

Ranni
Jangan Pergi terlalu Jauh


__ADS_3

Semua hari pasti berlalu, begitupun dengan kisah cinta yang terpendam atau tak terbalaskan....


Kuda yang di kenderai oleh Ranni dan Anndin terlihat mulai kelelahan. Mereka sudah melalui perjalanan yang panjang tanpa berhenti di persinggahan manapun. Anndin tidak sabar untuk memperkenalkan Ranni pada dunia impiannya. Dari jauh sudah nampak desa kecil yang sangat indah, perjalanan itu akan segera berakhir.


Matahari mulai terbit, singgasananya yang megah mulai menyilaukan. Mereka sudah sampai di gerbang desa itu, Anndin menghentikan kudanya sejenak. Dia memegang tangan Ranni yang terus melingkar di pinggangnya, dia sedang tertidur lelap pada pundak kokoh milik Anndin.


"Ran, kita sudah sampai" dia memegang tangan Ranni dengan lembut.


Ranni perlahan-lahan membuka mata dan mengamati sekelilingnya.


"Disini tempat tinggalmu?" dia berkata sambil membersihkan kotoran pada matanya.


"Iya, ini tempat yang sangat ingin ku tunjukan padamu" jawab Anndin.


"Pasti tempat ini merupakan tempat yang paling kau rindukan ketika kau meninggalkannya" dia tersenyum tulus.


"Aku tidak pernah merindukan apapun selain bersamamu" dia berlagak romantis.


"Hahahahhaha, apa? Aku tidak mendengar apa yang kau bilang tadi, ulangi sekali lagi!!" dia berteriak di telinga Anndin.


Anndin tersenyum dan memacu kudanya kembali. Dia terkejut akan reaksi Ranni. Gadis itu sudah kembali pada wujud aslinya, gadis cantik periang dengan seikat bunga.


"Kenapa kau diam saja? Ayo ulangi!!!" dia merengek pada Anndin.


Hahahahha...


Anndin hanya tertawa dan terus memacu kudanya memasuki desa itu.


Semua orang melihat kearah mereka, wajah Ranni yang masih asing menjadi pusat perhatian semua orang di desa itu.


"Kenapa semua orang melihat ke arahku?" dia berbisik di telinga Anndin.


"Mereka sedang memerhatikan aku, kau tidak begitu cantik untuk mengalahkan ketampananku" jawab Anndin mengalihkan pertanyaannya.


"Aku serius!!!" jawab Ranni sambil mencubit Anndin.


"Aku juga serius, seluruh orang di desa ini sedang patah hati karena melihat wanita cantik bersamaku" dia tersenyum dan menahan rasa sakit akibat Ranni mencubitnya.


Ranni berhenti bertanya karena Anndin terus mengalihkan semua pertanyaannya....


Anndin menghentikan kudanya tepat di sebuah rumah mewah. Sementara orang-orang disekitar situ masih memerhatikan mereka.


"Ayo masuk!" dia menarik tangan Ranni untuk masuk ke rumah itu.


"Ini rumahmu?" dia berbicara sambil berbisik.


Anndin hanya mengangguk, rupanya Ranni belum bisa menaklukannya. Suasana hatinya terus berubah-ubah. Dia sungguh sosok yang sangat dingin.


Sebelum masuk ke rumah itu Ranni berbalik ke kerumunan orang-orang yang terus melihatnya tadi. Matanya tertuju pada seorang gadis yang terus menatapnya dengan tatapan sinis. Dia hendak menanyakan itu pada Anndin tapi kemudian dia memilih untuk diam sepertinya bukan sekarang waktunya untuk menanyakan hal itu.

__ADS_1


Para pelayan langsung menyambut kedatangan mereka, mereka tertunduk dan berhati-hati.


Lalu seorang wanita datang dan menyapa mereka.


"Hai Ranni, perkenalkan Taniah kakaknya Anndin" dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


"Hai" jawab Ranni sambil menerima uluran tangan wanita itu.


Anndin langsung menarik tangan Ranni dengan kasar, dia seperti tidak senang melihatnya berinteraksi dengan kakaknya.


"Bi...., apakah kamar Ranni sudah siap?" Anndin memanggil salah satu pelayannya.


"Iya tuan" jawab wanita itu tergesah-gesah, dia datang menemui Anndin sambil berlari.


"Mari non, kamarmu disebelah sini" wanita itu mengajak Ranni dengan sopan.


"Biar saya yang mengantarnya" sanggah Anndin.


"Baik tuan" jawab wanita itu sambil tertunduk.


Ranni tidak berkomentar apapun, dia hanya menikmati suasana yang menegangkan tersebut.


Ketika mereka menaiki tangga rumah itu, Ranni bertanya pada Anndin.


"Dari mana kakakmu mengetahui namaku?" tanyanya pelan.


"Jangan pernah berbicara padanya apalagi menyentuhnya" jawabnya.


"Ini kamarmu, jangan pernah keluar tanpa seizinku" dia berkata dengan nada dingin sambil memberikan sebuah kunci kecil.


"Bagaimana aku minta izin kalau aku ingin keluar?" tanyanya.


"Kamu ingat wanita yang berlari tadi?" dia balik bertanya.


"Iya" jawab Ranni singkat.


"Bilang wanita itu kalau kau ingin keluar, dia akan terus mengawasimu disini. Jika kau butuh sesuatu minta juga padanya" jelas Anndin singkat sambil berlalu meninggalkannya.


Ranni menutup pintu kamarnya, dia mengamati sekelilingnya melihat setiap sudut kamar itu kemudian membantingkan badannya pada kasur.


"Apakah dia akan mengurungku seperti Rapunzel?" Ranni bergumam.


Dia bangkit dari ranjangnya dan menuju ke jendela, dia membuka jendela itu membiarkan angin luar masuk menemaninya.


"Sekarang aku berada di belahan dunia bagian mana? Apakah aku sudah pergi terlalu jauh?" dia bergumam lagi dan kembali ke kasurnya.


Dia memejamkan matanya, sekilas wajah Afgar, Ayahnya, dan Bundanya melintas dipikirannya. Mungkin itu perasaan rindu tapi tempat ini sangat indah dan menyenangkan. Rasa rindu itu tidak akan membawanya pulang kembali. Inilah negeri impian yang akan mewujudkan mimpi-mimpinya, kehadiran Anndin disisinya sudah cukup bagi Ranni.


Tok...tok...tok...

__ADS_1


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, Ranni bangkit dan hendak membukanya. Ketika pintu itu di buka dia melihat Taniah berdiri persis di depan pintu itu, Ranni bingung dia harus bereaksi bagaimana. Dia melirik pada wanita disebelah Taniah, wanita itu adalah pelayan yang ditugaskan Anndin untuk menjaga dan mengawasinya. Pelayan itu mengangguk pelan pada Ranni menandakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa.


"Aku membawakan hadiah untukmu" dia memberikan sebuah kado berwarna merah pada Ranni.


Ranni menerimanya tanpa berbicara apapun.


"Anndin pasti sudah melarangmu untuk berbicara atau menyentuhku, dia memang sangat hati-hati. Dasar bocah bodoh!!!" dia berkata sambil memainkan ujung rambutnya.


Ranni tetap diam dan Taniah mulai kesal.


"Kalian memang sama-sama bodoh, keberadaanmu disini hanya akan memecah dimensi dan mengacaukan waktu. Dasar bunga busuk!!" dia meludah ke lantai sambil membalikan badannya.


Tak...tak..tak..tak..


Bunyi sepatu kaca Taniah terdengar seolah menyebarkan kutukan, Ranni terdiam di depan pintu kamarnya. Taniah tiba-tiba berbalik lagi..


"Bi... Ajak dia ke bawah sebentar untuk makan malam, Ayah dan Ibuku ingin bertemu dengannya" dia berbicara dengan nada sombong.


"Tapi non...." jawab pelayang itu.


"Ohhhhh... Kau lebih menuruti Anndin dan mengabaikan perintah majikanmu?" Taniah mendekatinya dengan raut muka marah.


"Tidak non" jawab pelayan itu.


"Jadi......?" Taniah menyondongkan mukanya pada pelayan itu.


"Baik non, saya akan membawanya kesana sebentar" jawab pelayan itu sambil gemetaran.


Hahahahaha...


Taniah berbalik dan meninggalkan mereka. Bunyi sepatu kacanya terdengar menggema dan menyeramkan...


Ranni menutup kamarnya dan menyandarkan badannya pada pintu itu.


Apa maksud dari ucapan Taniah?


Dia terdiam dalam lamunannya yang panjang, dunia ini bukanlah dunianya. Mungkin dia akan membawa bencana.


Dia membuka kado yang diberikan Taniah tadi dan sangat terkejut melihat isinya, didalam kado itu terdapat sebuah foto dan itu adalah fotonya bersama Anndin.


Kapan dia bertemu dengan Anndin?


Bukankah ini pertama kalinya dia bertemu dengan Anndin selain dalam mimpi atau hayalannya?


Dia membalikan foto itu mencari jawaban dan dia menemukan sebuah kalimat yang ditulis menggunakan tinta merah.


Aku akan menemukanmu bagaimanapun caranya dan tidak akan membiarkan kalian bersama.


Dia terdiam sesaat setelah melihat tulisan itu, Taniah begitu membencinya sehingga mengancamnya dengan tulisan yang dia berikan dalam bentuk hadiah. Dia harus menghindarinya....

__ADS_1


Waktu yang kejam berani mereka tantang.


Ranni, Anndin, kalian dalam masalah.....


__ADS_2