
Hari itu jam menunjukan pukul 18.00 WITA, kegelapan tidak bisa membentuk warna biru yang cerah pada cakrawala yang hitam kelabu.
Bintang-bintang kelihatan berhamburan dengan kilauannya yang terpatri dan cocok pada gelapnya langit kala itu.
Semua orang bersiap-siap untuk menyambut malam dengan istrahat atau bercanda gurau bersama keluarga. Nikmatnya malam yang indah....
Afgar biasa menyambut malam seperti mereka, bercanda gurau bersama keluarga apalagi dewi kecilnya akan memperlengkap kebahagiaan keluaga mereka tapi kini rumah yang bahagia itu terlihat gelap. Listrik tidak padam tapi rumah mereka seperti tidak berpenghuni.
Sinar rembulan malam berhasil menemukan Afgar, dia duduk di pojok kamar Ayah dan Ibunya sambil memeluk lututnya yang kelelahan. Kamar itu terlihat sangat kacau, dia telah mengobrak-abrik barang-barang pribadi Ayah dan Ibunya. Dia menemukan suatu kotak yang sangat mencurigakan namun dia tidak berani membukanya, dia begitu takut mengetahui semua kebenaran yang selalu disembunyikan oleh orang tuanya. Di atas kotak itu terdapat satu buah almbun foto yang terlihat rapi, sepertinya barang-barang itu sangat dijaga oleh orang tuanya.
Dengan tangan yang gemetaran dia mengambil album foto itu dan membukanya pelan-pelan. Gambar pertama dari album itu menunjukan foto wanita cantik yang mengenakan gaun pengantin putih tapi di padukan dengan topi yang menjadi karakteristik wanita Belanda di zaman dahulu. Wanita itu terlihat sangat mirip dengan wajah Ranni, andai Ranni pernah tersenyum padanya seperti itu mungkin dia akan mengira foto itu adalah Ranni. Setelah melihatnya dengan seksama. Dia membalikkan lembar album itu, terlihat foto wajah Ayahnya tapi itu tidak berbeda dengan wajah Ayahnya yang sekarang. Tidak ada tanda-tanda penuaan yang membuatnya tidak yakin adalah ketika dia melihat tanggal pada pojok foto itu menunjukan Mei 1968. Lalu dia berbalik melihat foto di sebelahnya berharap menemukan kesalahan dari foto itu, dia begitu terpana melihat foto yang berada tepat di samping foto Ayahnya. Wanita itu adalah Ibunya. Wanita itu terdiam, lipstik merah di bibirnya menambah nuansa kengerian, wajah Ibunya tidak berbeda sama sekali dengan wajahnya yang sekarang. Tertera tanggal pada pojok foto itu Maret 1958.
Afgar tertegun sesaat, apa yang baru saja dilihatnya? Dengan cepat dia membuka lembar berikutnya terlihat dua foto anak kecil yang mirip, mereka terlihat seperti sepasang saudara kembar. Dia langsung mengalihkan pandangannya pada pojok foto itu ada tulisan tetapi terlihat seperti berupa lambang-lambang yang tidak dia mengerti, pasti ada maksud dari lambang-lambang itu. Dengan cepat dia membalikan ke lembar berikutnya tetapi dia hanya menjumpai foto-foto bangunan tua, dia terus membuka tapi dia tidak menemukan apapun hanya foto-foto bangunan tua yang mirip tetapi diambil dari sudut-sudut bagian yang berbeda. Dia terus membuka sampai pada akhir lembar foto itu, terlihat foto bayi kecil yang memiliki lambang di dahinya seperti salah satu lambang yang tertera pada foto dua anak kembar tadi, dia hendak memastikan foto itu tapi tiba-tiba smartphone miliknya berdering, dia kemudian mengeluarkan smartphone itu dari sakunya dan menjawab panggilan yang masuk. Ternyata itu panggilan dari rumah sakit.
Dengan tergesah-gesah dia mengambil kotak yang di temukannya tadi dan menyimpannya pada lemari kamarnya sedang album foto itu dia masukan ke saku jaketnya. Dia berlari keluar rumah dan mengambil motornya untuk segera pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dia terus berdoa semoga Ibunya baik-baik saja begitupun dengan dewi kecilnya.
Setelah tiba di rumah sakit dia langsung berlari menuju ruangan persalinan dimana tempat Ibunya sekarang. Dia menghampiri beberapa perawat yang berdiri di dekat ruangan itu dan menanyakan perihal keadaan Ibunya. Lalu salah satu dari perawat itu bertanya.
"Itu Ibumu?" Tanya perawat itu.
"Iya itu Ibuku" jawab Afgar mantap.
Para perawat itu kemudian memerhatikan Afgar dengan seksama. Afgar terlihat kebingungan.
"Apa yang terjadi pada Ibuku?" tanya Afgar dengan penuh kebingungan.
"Apa Ibumu sering memeriksakan kandungannya?" salah satu perawat itu mulai bertanya lagi, mereka seperti ingin memastikan sesuaatu.
"IYA!!" jawab Afgar dengan nada marah.
__ADS_1
"Mereka memang keluarga yang aneh, dia mirip seperti orang tadi. Tapi sepertinya dia tidak mengetahui apa-apa" para perawat itu berbisik sambil berlalu meninggalkan Afgar.
Dengan marah Afgar hendak mengejar para perawat itu, tapi suara seorang dokter yang memanggilnya menghentikan niatnya.
"Kamu Afgar kan?" jawab dokter itu dengan nada pelan.
"Iya dok" jawab Afgar dengan lembut pula.
"Ayo, kita diskusikan kondisi Ibumu di ruanganku" ajak dokter itu dengan hati-hati memastikan Afgar tidak tersinggung.
"Lalu bagaimana kondisi Ibuku dok?" tanya Afgar putus asa.
"Dia belum melewati masa kritisnya, tapi dia baik-baik saja. Adikmu juga baik-baik saja dia sekarang sedang menjalani perawatan karena lahir sebelum waktunya" jawab dokter itu terdengar berusaha menenangkan Afgar.
Afgar hanya pasrah dan mengikuti langkah dokter itu. Sesampainya di ruangan dokter itu...
"Ayo, duduk nak" ajak dokter itu.
Dokter itu terlihat menatap wajah Afgar dalam-dalam, matanya mengisyaratkan kerinduan.
"Tadi Ayahmu datang" dokter itu membuka dialog dengan hati-hati.
"Ayah? Dimana dia sekarang dok?" tanya Afgar dengan nada khawatir dan sedikit marah.
"Dia sudah di jemput oleh polisi" jawabnya dengan nada yang lembut.
Afgar hanya terdiam, mukanya memerah. Dia seperti marah tapi dia juga sangat mencintai ayahnya.
Dokter yang melihat itu berdiri dan terlihat membuatkan secangkir teh untuknya.
__ADS_1
"Minum ini nak, Ini bisa menenangkan jiwamu" sambil tersenyum dia memberikan teh hangat itu pada Afgar.
Matanya tidak bisa berbohong, cinta dan kerinduan sedang bersembunyi disana....
"Terimakasih dok" jawab Afgar pelan.
"Kamu sudah tumbuh dengan baik nak" suaranya terdengar parau seperti sedang berusaha menahan air mata.
Afgar tertegun dan bingung melihat tingkah dokter itu.
"Ada apa dok?" tanya Afgar penasaran.
"Bisakah kau memanggilku seperti orang yang dijemput polisi tadi?" dia sudah tidak bisa menyembunyikan kerinduannya.
Afgar terdiam sesaat...
"Ayah?" jawab Afgar memastikan.
Dokter itu tersenyum kemudian melangkah dan memeluk Afgar erat-erat. Pelukan yang sangat hangat.
Afgar dengan sigap mendorong tubuh dokter itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa kau meminta hal yang aneh seperti itu?" jawab Afgar emosi.
Doker itu hanya terdiam, dia terlihat menghapus air matanya.
"Aku sudah menduga ini reaksimu nak, dia tidak akan pernah membiarkanmu tahu semuanya" jawab dokteri itu.
Afgar hendak bertanya lagi, tapi kemudian dokter itu mendapat panggilan sepertinya ada pasien darurat yang harus ditangani. Sebelum meninggalkan Afgar, dokter itu menepuk pundak Afgar sambil berkata
__ADS_1
"Kamu yang kuat nak" sambil tersenyum dia pergi meninggalkan Afgar sendirian di ruangan itu.
Afgar lagi-lagi merasa kesal, semua orang terus merahasiakan sesuatu darinya......