Ranni

Ranni
Awal dari Kehancuran 1


__ADS_3

Braaaakkkk....!!!!


Anndin berusaha mendobrak pintu kamar Ranni.


Ranni....!! Ranni...!!


Dia berteriak seperti orang gila. Semua pelayan berjejer di depan pintu kamar Ranni.


"KEMANA DIA PERGI!!!" Anndin meneriaki semua pelayan itu.


"Maaf tuan kami tidak tahu" mereka menjawab serentak sambil tertunduk.


"DIMANA AQYLA!!!" dia berteriak lagi dengan kasar.


Semua pelayan hanya terdiam dan tertunduk.


Anndin tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia sudah lengah untuk menyembunyikan Ranni.


"Ada apa ini?" Ibu Anndin tiba-tiba datang.


"Semua ini karena ulah Ibu, aku akan membatalkan pertunanganan itu!!!" Anndin meneriaki Ibunya.


"Apa maksudmu nak?" dia berusaha tenang.


"Ranni sudah menghilang, Aqyla juga tidak jelas keberadaannya" dia mulai menurunkan nada bicaranya.


Mendengar itu Ibu Anndin terkejut. Dia terlihat khawatir.


"Dimana pelayan itu?" tanya Ibu Anndin.


"Aqyla juga menghilang bu!!!" jawab Anndin emosi.


"Bukan Aqyla tapi pelayan itu!!!" Ibu Anndin membalas meneriakinya.


Anndin terkejut, itu kali pertama Ibunya bersikap begitu.


"Pelayan yang mana bu?" tanya Anndin dengan muka cemas.


"Pelayan yang memiliki simbol ikan di tangannya, DIMANA DIA!!" dia berteriak seperti kesetanan.


Semua pelayan terdiam dan tertunduk, mereka sangat ketakutan.


"Dia terakhir kali bersama mereka" tiba-tiba seorang pelayan menunjuk dua pelayan yang merupakan teman akrab Tyna.


Dengan sangat kasar Ibu Anndin menarik tangan mereka.


"DIMANA DIA?" tanyanya dengan penuh amarah.


Mereka hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Ibu Anndin.


"Jawab!!" dia memegang dagu salah satu pelayan itu.


"Kami akan melindunginya!!" jawab pelayan itu geram.


Ibu Anndin sangat marah mendengar itu, dia kemudian memeriksa lambang yang dimiliki pelayan itu. Dia sangat terkejut ketika melihat simbol yang tertulis pada tangan pelayan itu.


"Kamu.....!!!" dia menatap pelayan itu tajam.


Pelayan itu mendorong tubuh Ibu Anndin. Kemudiam dia melakukan tarian yang sama seperti yang dilakukan Tyna sebelumnya. Tarian-tariannya sangat indah, semua orang melihat kearahnya.


"Tidaaaakkkk...." Ibu Anndin berteriak.


Pelayan itu terus menari dengan menyanyikan lirik-lirik lagu seperti yang dilakukan Tyna.


Jangan menyalakan lilin di malam hari.... lambang-lambang itu akan menyala bersama lilin.....


Bulan akan menuntumu menemui rohmu.... bersamaan dengan bunga-bunga anyelir yang mengeluarkan aromanya yang khas..... Tetapi para penguasa waktu yang berkhianat akan membentuk dinding dengan bantuan roh suci dari leluhur para pembuat petir dan guntur yang tertipu.......


Gerakan-gerkan tariannya yang indah membuat semua orang terpana.


"HENTIKAN DIA!!!!" Ibu Anndin berteriak kemudian pingsan tidak sadarkan diri.


Anndin berusaha menghentikan pelayan itu tapi kemudian dia ambruk dan terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri. Begitu juga dengan pelayan yang lain. Mereka semua pingsan tidak sadarkan diri.


Pelayan itu mengakhiri tariannya, dia melihat ke sekelilingnya kemudian mencoba membangunkan temannya yang ikut pingsan.


"Susan ayo bangun!!" dia berbisik ke telinga temannya itu.

__ADS_1


"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Susan kemudian.


"Kita harus pergi dari sini!!" dia membantu Susan untuk berdiri.


"Apa yang terjadi?" dia menggaruk kepalanya.


"Nanti aku ceritakan, kita tidak punya waktu sekarang" dia menarik tangan Susan untuk pergi meninggalkan ruangan itu


Mereka menuruni tangga rumah Anndin secara perlahan-lahan, rumah itu terlihat sangat sepi. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan acara pertunanganan Anndin.


*****


Flas back on


"Apa yang kau lakukan?" Aqyla menghalangi Tyna yang yang sedang menggendong Ranni.


"Jangan campuri urusanku" jawab Tyna sambil berusaha menghindari Aqyla yang terus menghalanginya.


"Aku tidak akan membiarkanmu membawanya" Aqyla menarik tangan Tyna.


Tyna berusaha memberontak tapi Aqyla tidak mau melepaskannya.


"Lepaskan!!!" Tyna berteriak geram.


"Tiiidaakk!!!" dia berusaha menarik tubuh Ranni dari punggung Tyna.


Lalu tiba-tiba...


Braaakkkk....


Aqyla jatuh tersungkur ke tanah, seseorang memukulnya dari belakang.


"Aku datang untuk membantu, kami sudah menerima pesanmu" jawab orang itu.


"Terimakasih" jawab Tyna.


"Apakah dia wanita itu?" tanya orang itu.


Tyna mengangguk sambil berusaha mengontrol nafasnya.


"Kita harus segera pergi....!" perintah Tyna.


Aqyla yang tidak sadar ikut mereka bawa juga.


******


"Susan kamu baik-baik saja?" tanya pelayan itu.


"Aku baik-baik saja tapi kenapa kita terus berlari?" tanya Susan kemudian.


"Kamu masih belum mengerti ya? Kita akan dibunuh kalau tetap tinggal di rumah itu" jawab pelayan itu.


"Tadi kamu melakukan tarian apa?" tanya Susan lagi.


"Itu tarian yang di ajarkan leluhurku" jawab pelayan itu sambil menarik tangan Susan untuk segera melanjutkan perjalanan mereka.


"Lalu kita sekarang akan kemana?" tanya Susan lagi sambil menarik tangannya dari genggaman pelayan itu.


"Kita akan pergi ke persembunyian...." tiba-tiba dia menghentikan bicaranya.


"Aku bukan dari sukumu" Susan menghentikan langkahnya.


"Kami menerima siapapun untuk bergabung ke suku kami" pelayan itu menenangkan Susan.


"Aku tidak sependapat dengan tujuan kalian" dia berbicara lirih.


"Susan...! Bukannya kamu juga ingin bebas?" pelayan itu menggenggam pundak Susan.


"Aku memang ingin bebas tapi menjadi diriku yang seutuhnya bukan hidup dalam kegelapan. Aku lebih baik hidup seperti sekarang dari pada hidup menjadi bayangan" dia berbicara sambil menangis.


"Itu takdir kita San!" pelayan itu terus menenangkannya.


"Aku tidak bisa!!!" jawab Susan lirih.


"Kamu tidak boleh begini jika kau kembali maka kau akan dibunuh" jawab pelayan itu.


"Aku tidak akan dibunuh!!!" Susan berteriak sambil menunjukan lambang di bahunya.

__ADS_1


"Apa? Lambang itu....!" dia terkejut.


"Aku selama ini ditugaskan oleh Taniah untuk mengawasi kalian" jelas Susan.


"Apa?" pelayan itu masih terkejut.


"Zulan..., aku sudah menganggapmu sebagai kakakku begitupun dengan Tyna, aku akan membiarkanmu kali ini tapi aku mohon jangan pernah bertemu lagi. Mari kita saling melupakan dan menjadi musuh untuk pertemuan berikutnya" dia berusaha menahan air matanya.


Zulan hanya terdiam, dia berbalik dan berlari menjauhi Susan.


Hiks.... Hiks.... Hiks.....


Setiap pertemuan akan meninggalkan luka yang amat dalam itulah janji dari perpisahan.


Zulan, Tyna, dan Susan adalah tiga orang pelayan di rumah Anndin, mereka sudah bersama sejak lama. Mereka mampu menjadi sahabat tanpa mengetahui dari suku mana mereka berasal.


Rahasia yang mereka simpan masing-masing pada akhirnya menjadi pemisah diantara mereka...


Zulan terus berlari bersamaan dengan air matanya yang jatuh, Susan sangat rapuh selama ini. Hal itu mengingatkannya pada adiknya yang menghilang ketika pertempuran suku mereka. Dia sangat ingin melindungi Susan sebagaimana dia melindungi adiknya tapi kali ini dia gagal lagi.


Hari itu semakin petang....


Sebentar lagi mentari akan meninggalkan tahtanya.


Semua masyarakat di desa itu keluar dan berkumpul di depan rumah mereka masing-masing.


"Ada apa ini?" tanya salah satu ketua di desa itu.


Semua orang memandang ke langit, Bulan bersinar terang diatas kepala mereka.


"Apakah ini pertanda bencana?" salah seorang Ibu bertanya sambik memeluk anaknya.


Bulan sudah lama tidak muncul menerangi cakrawala di desa itu sejak mereka menghancurkan suku yang bisa menarikan tarian pemanggil rembulan.


"Seseorang pasti telah memanggil bulan itu!!!" teriak salah satu pemuda memprovokasi.


"Iya betul!!!! pasti semua ini ada kaitannya dengan wanita yang dibawa Anndin" pemuda yang lain ikut memanaskan suasana.


"Wanita itu pasti memanggil suku moon dan suku pisces!!!" para pemuda desa itu terus bersahutan sampai pada akhirnya menciptakan keributan.


Betuuuullll... Betuullll.. Betuullll...


"Tenaaaanggg!! Kami akan mencari tahu kejanggalan ini, kembali ke rumah kalian masing-masing!!!!" Ketua desa itu berusaha menghentikan huru-hara itu.


Masyarakat yang resah kemudian pulang ke rumah mereka masing-masing. Mereka sangat menghargai ucapan ketua mereka.


Taniah terlihat menatap keluar jendela, tatapan begitu sangat khawatir.


"Kak apa yang sudah terjadi?" nona Percilia tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Taniah terkejut dan melihat ke arah nona Percilia.


"Semua akan baik-baik saja" dia mendekati Percilia dan memeluknya.


"Anndin dan Ibu belum kembali dan bulan tiba-tiba muncul di langit itu" Percilia berbisik sambil menunjuk bulan yang mempesona di langi malam itu.


"Aku akan mencari tahu apa yang terjadi, kamu tenang ya..!" Taniah melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Percilia di ruangan itu.


Percilia mengalihkan pandanganny dan menatap bulan itu dengan penuh amarah.


"AKU AKAN MEMBIARKANMU MUNCUL TAPI MUNCULAH SETELAH PERNIKAHANKU BERSAMA ANNDIN SELESAI!!!!" dia berteriak penuh amarah sambil mengangkat pot bunga dan meleparnya ke arah bulan itu.


"Nona...!" seorang pemuda muncul dan menghampirinya.


"Mau apa kamu kesini?" dia berusaha mengontrol emosinya.


"Hahahahahha, aku baru saja melihat nona percilia yang terkenal lemah-lembut dan penyabar meluapkan emosinya pada bulan yang cantik dan tidak berdosa" pemuda itu mengejek Percilia.


"Kau hanya datang untuk mengej


ekku? Kau bahagiakan?" dia mengepalkan tangannya.


"Aku sedang mengamati kekacauan ini, Anndin yang tiba-tiba menghilang ketika acara pertunangannya akan segera di gelar dan kemudian pulang membawa wanita lain. Pertunjukan itu merupakan pertunjukan yang sangat konyol, kamu tidak bisa menilai dan menebak tingkah calon suamimu sendiri. Bukankah ini lucu?" dia berbicara dengan nada mengejek.


Nona Percilia sudah terbakar emosi tapi dia berusaha menenangkan diri.


"Aku akan menunjukan pertunjukan yang lebih konyol, tunggu saja!!" dia mendekati pemuda itu dan berbisik ke telinganya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum melihat reaksi nona Percilia, sinar rembulan yang terang menambah nuansa ketampanan wajahnya.


__ADS_2