Ranni

Ranni
Kodratmu & Kodratku


__ADS_3

Mahligai cinta yang nyata, waktu takan bisa menembus masa dan melukainya.


Ranni perlahan-lahan menuruni tangga, perasaannya campur aduk. Belum cukup sehari dia datang ke rumah Anndin tapi kejadian-kejadian tidak mengenakan terus terjadi padanya.


"Bi..., apa Anndin akan baik-baik saja jika aku pergi menemui kedua orang tuanya dan makan bersama mereka?" tanya Ranni pada pelayan yang berjalan di sampingnya.


"Iya nggak apa-apa non" jawab pelayan itu singkat.


"Anndin setuju? Kenapa dia tidak mencegah ide gila Taniah ini? Pasti dia sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakaiku" tanya Ranni lagi dengan sedikit geram.


Pelayan itu hanya tertunduk, dia seperti membangun pembatas dengan Ranni secara tidak langsung. Ada hal yang sangat dia takuti dari Ranni tapi dia tidak bisa mengungkapkannya.


Melihat itu Ranni berhenti berkomentar, dia mengerti apa yang dirasakan pelayan itu. Mereka terus berjalan dalam diam dan kesenyapan. Semua orang di dunia ini seperti membencinya dan tidak menginginkannya.


Ranni duduk di kursi tepat di samping Anndin, dia tidak melirik ke arahnya sedikitpun seolah dia juga tidak menginginkannya untuk datang ke dunia itu. Ranni sangat kecewa dengan sikapnya, bagaimana mungkin perasaannya bisa terus berubah. Di sepanjang perjalanannya menuju ke desa itu dia seperti sangat mencintainya dan memperlakukannya begitu baik. Lantas kenapa sekarang dia tidak memberinya ruang untuk menenangkan rasa gundah di hatinya.


Betapa dingin sikapmu Ann....


Suasana tegang pada ruang makan itu begitu terasa hanya suara gesekan piring dan sendok yang terdengar. Ranni melirik ke arah orang tua Anndin kemudian ke Taniah dan setelah itu ke Anndin.


Kenapa tidak ada seorangpun yang berusaha mencairkan suasana?


Situasi seperti itu sangat menakutkan. Ranni berusaha mencari cara untuk mencairkan suasana tersebut dan dia menemukan sebuah ide, Dia akan menanyakan kabar orang tua Anndin tapi ketika dia akan memulai obrolan Anndin menginjak kakinya. Ranni terkejut, dia berpaling dan melihat ke arahnya. Anndin terlihat menggeleng, dia seperti tahu apa yang akan dilakukan Ranni. Ranni pun mengurungkan niatnya untuk itu, dia kembali fokus pada makanannya.


"Bu... Ranni sekarang sedang bersama kita, apa Ibu tidak ingin menanyakan sesuatu padanya?" Taniah membuka percakapan dengan muka sombong dan seperti mengejek Ranni.


Ibu Anndin tidak merespon, dia hanya terus menatap makanannya bahkan tidak sedikitpun melihat ke arah Ranni. Begitupun dengan Ayah Anndin, mereka seperti tidak memedulikan Ranni dan menganggapnya tidak ada.


Taniah tersenyum puas, dia melihat ke arah Ranni dengan tatapan mengejek.


Ranni berusaha berpikir positif, dia takut mengacaukan keadaan. Dia sudah sering mendapatkan perlakuan seperti ini bahkan ada yang lebih menyakitkan lagi. Dia harus bisa melewati situasi itu.


Kedua orang tua Anndin meninggalkan ruangan itu, tidak ada satu katapun yang mereka ucapkan pada Ranni. Ibu Anndin hanya meliriknya sesaat ketika dia hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Ranni menarik nafas panjang, situasi menegangkan itu sudah berlalu.


"Kau salah membawanya kesini, dasar ceroboh!!" Taniah mulai berulah lagi dengan ucapan-ucapan congkaknya.


Anndin tidak merespon seperti biasa.


"Kau tahu betapa Ayah sangat kecewa padamu? Kau hanya akan mengulang bencana yang sama, dasar anak manja!!" dia terus menyerang Anndin.

__ADS_1


Ranni hanya terdiam melihat itu, tidak ada gunanya menggubris orang seperti Taniah yang sombong dan membencinya.


"Dia hanya mirip dengan wanita itu, kalaupun memang dia orang yang sama kau hanya akan membuang-buang waktu melakukan hal ini. Kita hanya diciptakan sebagai bayangan dan sebentar lagi wujud aslimu akan merebutnya dari pelukanmu" Taniah masih belum menyerah menyerang Anndin, dia seperti tidak melewatkan kesempatan untuk mengungkap alasan keberadaan Ranni.


"Aku tidak pengecut seperti kau, wanita yang menjual cintanya untuk memperthankan martabatnya" Anndin membalas serangan Taniah, kali ini dia benar-benar marah.


"Hahahaha....., laki-laki itu memang pantas mendapatkannya. Dia sama bodohnya seperti kau, lihatlah wanita di sampingmu itu dia akan memilih jalan yang sama sepertiku" Taniah berbicara sambil tersenyum puas.


"Jangan campuri urusanku!!!" Anndin mengepalkan tangannya pada Taniah.


Sementara Ranni berusaha menenangkannya. Dia memegang erat tengan Anndin berharap dia tidak terpancing oleh Taniah yang licik.


"Apa ini urusanmu saja? Bagaimana mungkin aku akan membiarkan perbuatanmu yang kelak akan menghancurkan kita semua? Kamu lupa dengan bencana yang sudah kau buat? Aku kehilangan orang yang sangat ku cintai karena perbuatan gilamu itu dan sekarang aku tidak akan membiarkannya!!!" suaranya terdengar parau, dia seperti sedang menahan air mata.


"Ohhhh.... sekarang kau menyalahkanku??!" Anndin berteriak pada Taniah.


"Ann... sudahlah kita hanya hidup sebatas bayangan jangan melawan kodrat itu, kau disini punya segalanya. Hari pertunanganmu sudah dekat, jangan buat Ibu menangis lagi" Taniah mulai merendahkan nada suranya, air matanya tidak terbendung lagi.


Hiks.... Hiks.... Hiks....


Praaang....!


Ranni terkejut melihat kejadian itu.


Siapa yang harus dia bela?


Anndin menyembunyikan semua itu darinya. Dia sebentar lagi akan tunangan. Harusnya mereka tahu, harusnya semua orang tahu, dia hanya butuh tempat untuk melepas lelah....


Dialah yang merasa tersakiti disini...


Para pelayan datang sambil berlari, mereka langsung membersihkan pecahan piring itu. Sementara Taniah pergi meninggalkan mereka sambil melap air matanya.


Ranni menatap Anndin tajam...


"Kenapa kau tega melakukan ini?" matanya mulai berkaca-kaca.


Anndin memegang kedua tangannya tapi Ranni melepasnya dengan kasar...


"Aku berharap dunia impian yang kau janjikan itu benar-benar ada, siapa kau sebenarnya?" dia berusaha menahan air matanya.

__ADS_1


Anndin menarik tangan Ranni untuk meninggalkan ruangan itu, dia berusaha melepaskannya tapi Anndin tidak membiarkan itu. Para pelayan yang melihat kejadian itu seperti mengumpat Ranni dalam hati dan menatapnya dengan tatapan sinis. Ranni tidak memedulikannya, dia sedang berusaha melepaskan tangan Anndin yang terus mencengkramnya. Tapi semua itu percuma....


Anndin melepaskan tangan Ranni, dia membukakan pintu kamarnya dengan hati-hati.


"Hahahahhaha.... aku baru tahu seperti ini wujud sosok yang sangat ku rindukan sejak lama" dia tertawa bersamaan dengan air matanya yang jatuh.


Anndin hanya menatapnya dengan tatapan sendu.


"Kau bahkan tidak mengucapkan kata maaf? Kenapa kau tega sekali....?" dia menangis sambil memukul-mukul tubuh Anndin.


Hiks.... Hiks... Hiks....


Anndin hanya terdiam, dia seharusnya memeluk Ranni untuk menenangkannya atau sekedar mengelus kepalanya dan mengucapkan kata maaf. Tapi.....


Dia hanya mematung di depan Ranni yang terus menangis....


Dia sedang menerima hukuman, satu-satunya hal yang bisa melukainya adalah dengan melihat Ranni menangis tepat dihadapannya.


Ranni melangkah dengan lunglai masuk ke kamar itu, dia berbalik ke arah Anndin yang sedang menutup pintu kamarnya perlahan-lahan. Air matanya masih terus mengalir, dua dunia yang berbeda bekerja sama untuk terus mengutuknya.


Dunia seperti yang masih mau menerimanya dengan berkah?


Izinkan aku melepas lelah....


Dia berbaring dan memeluk bantal gulingnya erat-erat.


Ayah.... Bunda.... Afgar.....


Bagaimana kabar kalian sekarang?


Dia menutup matanya berusaha menenangkan diri.


Esok hari masih ada dan akan terus melukiskan kisah......


***Tetap ikuti cerita ini....


Masih banyak adegan-adegang yang membuatmu penasaran...


Jangan lupa di Like dan tinggalkan jejak pada kolom komentar, Author sangat butuh kritik dan saran dari kalianπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…***

__ADS_1


~ZLM~


__ADS_2