Ranni

Ranni
Awal dari Kehancuran 3


__ADS_3

Masih pada hari yang sama, hari dimana hujan tanpa awan hitam di langit. Bulan masih tegar di atas semesta yang yang kelam.


"Ada apa ini?" Ayah Anndin kebingungan sambil terus mengamati bulan itu.


Semua orang terlihat panik, begitupun dengan Taniah yang tampak kebingungan.


"Aku akan pulang dan mencari tahu apa yang terjadi pada Ibu dan Anndin" dia berbicara dengan nada cemas.


"Jangaan..!! Di luar sangat berbahaya. Bulan itu memanggil semua bencana" Nona percilia menarik tangan Taniah.


"Aku yang akan pergi mencari tahu apa yang terjadi pada mereka" seseorang tiba-tiba menyanggahi pembicaraan itu.


"Gara?? Sejak kapan kau datang?" tanya Ibu Percilia.


"Kemarin semua orang terlihat sibuk, aku takut mengganggu jadi tidak memberi tahu siapapun" jawabnya sambil tersenyum.


"Apa ada kabar dari Ayahmu?" tanya Ayah Anndin sambil mendekatinya.


"Ayahku menyuruhku untuk menjadi perwakilan dari suku kami" jawabnya mantap.


"Dia tidak akan datang?" tanya Ibu Percilia sambil mengerutkan wajahnya.


"Ayah dan Ibuku akan datang pada hari digelarnya pertunanganan nona percilia" dia tersenyum sinis sambil sedikit berbalik pada nona Percilia yang terlihat kesal.


Nona Percilia membalas menatapnya tajam, perasaan mereka saling terpaut satu sama lain.


"Aku pergi dulu" dia memalingkan pandangannya dan hendak melangkah.


"Kamu mau kemana?" Ibu Percilia menarik tangannya.


"Aku akan ke rumah Anndin dan mencari tahu apa yang terjadi disana" jawabnya pelan sambil mengamati tangan Ibu Percilia yang menyentuhnya.


"Di luar sangat berbahaya, bulan dan hujan ini pasti di panggil oleh anak keturunan dari dua suku itu" Ibu Percilia terlihat sangat khawatir.


"Sebagian darah anak itu mirip dengan darahku, aku pasti akan baik-baik saja" jawabnya lirih.


"Kau akan menambahkan guntur dan kilat di langit itu, itu akan mendatangkan bencana yang lebih besar" Ibu Percilia menggeleng kepalanya.


"Aku akan baik-baik saja" dia melepaskan tangan Ibu Percilia dengan pelan dan keluar meninggalkan mereka.


Nona Percilia mengepalkan tangannya sambil menatap tajam punggung pemuda itu yang akan segera menghilang dari ruangan itu.


*******


Flas back on


"Aku akan menyelamatkanmu" dia berbisik pada telinganya.


"Kamu bisa apa?" tanya nona Percilia geram.


"Bunga-bunga ini akan tumbuh jika disirami" dia bericara sambil tersenyum tulus.


"Hujan bahkan tidak akan memberkahiku, langit yang cerah itu tidak mendukungku!!!" dia berteriak sambil terus menggali lahan yang gersang itu.


Pemuda itu berdiri dan mulai menari diantara benih-benih itu. Perlahan-lahan hujan turun di langit yang cerah.


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Nona Percilia sambil tersenyum bersama hujan itu.


"Aku mencintaimu" dia berbicara pelan.


Nona Percilia terpaku....

__ADS_1


"Gara.... Aku mencintai orang lain" senyumnya mulai memudar.


...........


"KAU MEMBAWA BENCANA BAGI SUKU KITA!!!" seorang wanita berteriak padanya sambil terisak.


Aaaaaaaa.....


SEMUA LARIIIII.....


Api berkobar dimana-mana,....


Suara tangisan dan gencarnya tanah yang bergemuruh...


Benih-benih bunga anyelir yang mereka tanam mulai tumbuh tanpa gentar.....


Cinta itu menciptakan bencana dan mereka terus menguburnya.


*********


Gara menggenggamkan tangannya di tengah hujan itu. Hujan bersama bulir-bulir airnya masih menyimpan kenangan yang sudah lama berlalu. Lalu kilat dan guntur mulai menyambar di langit yang cerah tanpa terkendali. Suaranya begitu keras membuat siapapun yang mendengarnya akan takut dan gemetaran terutama pada orang-orang yang pernah mengalami trauma akan itu.


Nona Percilia terjatuh ke lantai sambil berusaha menutup telinganya.


*********


Flash back on


"Kita menutup kisah ini dan membiarkan klan pisces yang menyebabkan bencana ini, mereka telah menemukan seorang anak yang membawa kembali buku terlarang itu" Ayah Percilia mengangkat tangannya untuk berjabatangan dengan Ayah Gara.


"Aku akan segera menyebarkan desas-desus itu" jawab Ayah Gara sambil menerima uluran tangan Ayah Percilia.


"Tapi ketua klan pisces memiliki anak keturunan dari darah ratu Sanyir" dia kelihatan khawatir.


"Kau tega membunuh kakakmu?" tanya Ayah nona Percilia kaget.


"Aku akan membunuh mereka semua demi anakku, Gara....." dia berbicara dengan tangan yang gemetar.


"Kita melakukan ini demi keturunan kita, kita akan berjuang bersama" Ayah nona Percilia memegang bahunya meyakinkannya.


Gara terlihat mengintip dari balik pintu menyimak pembicaraan mereka. Dia berkorban demi cinta tapi cinta itu membawa bencana.


"Aku akan membalas semua kebohonganmu ini Percilia...." dia mengepalkan tangannya dibalik pintu itu....


********


"Kamu baik-baik saja nak?" Ibunya mendekatinya sambil memeluknya.


"Ibu bilang tidak akan terjadi apa-apa, kita harusnya membunuh wanita itu sebelum menerima mereka masuk ke rumah ini" nona Percilia terlihat marah.


"Apa yang kau bicarakan nak?" tanya Ibu Percilia sambil berpura-pura tidak tahu.


"Kalian membiarkan anak kalian menyembunyikan wanita terkutuk itu, kalian pikir aku tidak tahu!!!!!" dia berteriak dan menunjuk Ayah Anndin.


Semua orang dalam ruangan itu terkejut, nona Percilia tampak berbeda.


"Apa maksudmu nak?" dia berusaha menenangkannya.


"Aku cape Bu.....!!! Aku lelah memakai topeng ini!!" dia berusaha berdiri kemudian pingsan di pelukan Ibunya.


Semua orang hanya terdiam, bencana yang berusaha mereka kubur mulai merangkak perlahan ke atas permukaan dan memberitahu semua orang siapa yang serakah.

__ADS_1


Taniah berlari keluar, dia hendak menyusul Gara diantara hujan itu.


Disetiap rumah warga yang dia lewati terdengar orang sedang berbisik-bisik, lampu pada rumah mereka belum dipadamkan. Mereka pasti sedang siap-siap dan terus terjaga agar tidak kehilangan nyawa ketika bencana itu terulang. Mereka sedang merasakan rasa takut yang sama.


"Kita akan kemana?" Ranni terlihat kelelahan.


"Kita harus segera ke lembah itu" jawab Aqyla sambil mengontrol nafasnya yang tidak karuan.


"Kamu sudah gila? Lembah itu sangat jauh!" dia berhenti berlari dan berusaha menarik tangannya.


"Kita harus menemukan wanita itu!!!!" Aqyla berteriak padanya.


"Siapa?!!" Ranni juga ikut berteriak.


Aqyla tertunduk dan menghentikan langkahnya, dia melepaskan tangan Ranni dan duduk ke tanah yang basah. Badanya basah kuyup.


"Aku bahkan tidak bisa mengakhiri tragedi ini" dia mulai terisak.


"Apa maksudmu?" tanya Ranni bingung.


"Kau harusnya tidak datang kesini" jawabnya lagi sambil terisak.


"Aku......" Ranni tiba-tiba melihat ke arah semak-semak.


Seseorang terlihat menari dari balik semak-semak itu sambil memancarkan cahaya.


Aqyla yang melihat cahaya itu langsung berlari mendekatinya sambil berusaha melindungi Ranni. Mereka mengintip dari balik semak-semak dan berusaha memastikan siapa wanita itu.


"Siapa dia?" tanya Ranni dengan berbisik.


"Aku juga tidak tahu" jawab Aqyla sambil melap air matanya yang bercampur dengan air hujan.


"Kenapa dia juga menari? Apa hanya aku yang tidak bisa menari di negeri ini? Aku harusnya dulu tidak membolos pada kelas dance di sekolahku" dia terus berbisik pada telinga Aqyla.


"Sssstttt...."Aqyla berusaha membuatnya berhenti bicara.


Mereka terus mengamati setiap gerakan yang dilakukan wanita itu, wanita itu terus menari tanpa henti.


"Wanita itu..........." Aqyla mundur dan terlihat khawatir.


"Siapa dia?" tanya Ranni penasaran.


Aqyla menarik tangan Ranni dan menutup mulutnya.


Suasana disitu berubah menjadi sangat dingin dan semakin dingin tak terkendali.


"Mereka bangkit karena dipanggil oleh Tyna" jawabnya sambil berbisik di telinga Ranni.


Ranni berusaha melepaskan tangan Aqyla yang menutup mulutnya. Tapi Aqyla terus mencengkramnya dengan kuat.


"Kamu tidak boleh kemana-mana tetap disini" Aqyla seperti akan melakukan sesuatu.


Dia melepaskan Ranni dan memetik dedaunan di sekitar situ.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Ranni bingung.


Aqyla kemudian meniup daun-daun yang dia petik tadi sehingga menciptakan nada-nada yang indah. Dia pergi menghampiri wanita yang sedang menari itu dan mengiringi tarian wanita itu. Tanpa dia sadari tiba-tiba darah keluar dari lambang di tangannya itu, dia terlihat sangat kesakitan.


"Aku tidak akan membiarkan malam ini terus berlajut" dia terus meniup dedaunan itu tidak memedulikan tangannya yang terus berdarah.


Ranni mengamati Aqyla dari semak-semak dengan wajah khawatir, dia tampak kebingungan, lalu seseorang datang dan menutup mulutnya. Ranni berusaha melepaskan diri dan berteriak tapi sepertinya dia menghirup racun yang membuatnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ketika seorang menari diiringi musik yang indah maka tarian itu akan mengakhiri malam yang berdarah.....


__ADS_2