Ranni

Ranni
Rahasia


__ADS_3

Semua orang menyimpan rahasianya masing-masing. Terkadang rahasia itu menjagamu untuk tetap bersinar jadi biarkanlah rahasia itu terus tersimpan. Hati manusia yang rapuh tidak akan bisa menanggung luka dari rahasia yang terpendam.


Ranni masih terus terjaga, dia tidak bisa menenangkan diri dalam tidur. Perjalanannya berhari-hari yang sudah dia lalui kini membawanya pada mala petaka yang bergemuruh, pengorbanannya untuk meninggalkan kehidupannya pada dunia tempat dia pertama kali dilahirkan membuahkan hasil yang menyedihkan. Sebentar lagi bulan syahdu yang dilihatnya menggantung di tengah lautan pada kala itu akan berdarah akibat percikan dirinya yang menyebar kutukan.


Negeri impian yang diceritakan Anndin itu adalah negeri untuk mereka yang terlahir sebagai bayangan, bayangan yang ada sebagai wujud pantulan cahaya yang tidak terbentuk sehingga menciptakan suatu gambaran yang mirip dengan objek yang disinari oleh cahaya. Saat itulah mereka terbentuk, mereka sebagian dari dirimu yang ada ketika cahaya menimpamu. Dalam kegelapan dia ada tapi membaur bersama kegelapan itu. Wujud yang selama ini diam dan tidak memiliki wajah itu ternyata memiliki kehidupan lain. Bagaimana mungkin dia akan hidup bersama bayangan selamanya? Ranni sudah terlalu jauh melangkah. Harusnya dia menyadari itu ketika Anndin menceritakan tentang sebuah negeri yang tidak tercantum pada peta dunia kala itu. Dia harus menanggung semua ini.


"Apakah aku sekarang hidup sebagai bayangan juga?" Ranni terisak sambil mengamati tangannya.


Hiks... Hiks.... Hiks.....


Dia sudah tidak bisa menemukan jalan untuk pulang....


Ranni menutup matanya perlahan-lahan dia berusaha memicu hormon melanosonin di otaknya untuk segera membantunya terlelap. Dia benar-benar berada di ambang kehancuran.


Kicauan burung mulai terdengar, Ranni masih menutup mata mungkin dia sedang bermimpi indah.


Anndin berdiri di depan pintu kamarnya, perasaan bersalahnya pada Ranni tidak dapat hilang sedikitpun. Dia sedang ingin memastikan sesuatu. Tiba-tiba seorang pelayan datang dan menghampirinya.


"Tuan, Nyonya sedang menunggumu" pelayan itu berbicara sambil tertunduk dan sangat hati-hati.


Anndin menoleh sedikit pada pelayan itu, dia terdiam sejenak sambil menatap pintu kamar Ranni.


"Jangan biarkan dia keluar, awasi dia terus!!" dia memerintahkan pelayan itu kemudian pergi meninggalkan kamar Ranni.


Pelayan tadi terdiam dan menunduk. Dua pelayan yang lain kemudian datang menghampirinya. Mereka sedari tadi terus memerhatikan tingkah Anndin yang aneh.


"Dia akan menggelar pertunangannya tapi membawa wanita lain" salah seorang pelayan berbicara.

__ADS_1


"Aku kasihan sama nona Percilia, dia selalu diabaikan oleh Tuan Anndin yang dingin itu" pelayan yang lain menyanggah sambil mengerutkan mulutnya.


"Bukankah dia keren? Aku ingin sekali masuk dalam dunia percintaan yang rumit seperti itu" pelayan yang lain menyanggah dengan heboh, matanya berbinar-binar sambil tersenyum tidak jelas.


Huffffttttt.....


Dua pelayan yang lain meninggalkannya sendiri dengan hayalannya.


"Hei tunggu...!" pelayan itu kemudian menyusul mereka.


"Wanita itu sangat mirip dengan gadis yang menjadi tunangan Anndin dulu, tapi wanita itu sudah meninggal karena mengindap penyakit aneh" salah seorang dari mereka mulai menerawang dan bercerita.


"Apa kau pernah melihat gadis itu? Kapan?" tanya pelayan yang lain sambil mengkerutkan keningnya.


"Aku dulu belum bekerja di rumah ini, tapi saat itu ibuku sakit sehingga aku menggantikannya. Aku sempat merawat gadis itu, dia sangat baik padaku tapi..." pelayan itu tiba-tiba menghentikan ceritanya.


"Wanita itu mengidap penyakit aneh seperti apa?" pelayan yang lain juga penasaran.


"Aku juga tidak tahu, tapi Ibuku pernah bilang kalau dia alergi sama bunga. Dia tidak bisa melihat bunga tumbuh dan bermekaran" pelayan itu melanjutkan ceritanya.


"Ohhhh... Kalian ingat dulu pernah ada peraturan kalau kita tidak boleh menanam bunga? Tapi nona Percilia menentang itu dia kemudian membentuk sebuah lahan kosong di dekat laut sangia menjadikannya sebuah lahan yang penuh dengan bunga-bunga dan dia juga hanya menanam satu jenis bunga yaitu bunga anyelir. Mungkinkah itu ada kaitannya dengan ini?" dia berbicara sambil menggaruk kepalanya.


"Nona Percilia sangat mencintai bunga, sentuhannya yang ajaib bahkan bisa menumbuhkan bunga yang layu. Bagaimana mungkin dia tidak menentang peraturan itu?" salah satu pelayan menyanggahinya


"Nona Percilia sudah lama menyimpan cintanya untuk Anndin, dia tidak akan membiarkannya untuk direbut oleh orang lain" pelayan itu membantah temannya.


"Nona Percilia yang cantik itu mewarisi turunan suci keluarganya untuk tetap menjaga bunga bermekaran, peraturan itu jelas-jelas bertolak belakang dengan prinsip hidup keluarganya" pelayan itu tidak mau kalah, mereka saling beradu argumen.

__ADS_1


"Tapi yang mengeluarkan peraturan itu adalah Ayah nona Percilia, kamu jangan tertipu oleh wajah polosnya. Gadis itu pasti meninggal akibat ulah nona Percilia, dari dulu memang aku sangat membencinya" pelayan itu berbicara seperti sedang mengumpat nona Percilia.


"Sudah-sudah, jika kita ketahuan sedang membicarakan ini kita akan dipecat dan dikenai hukuman gantung" pelayan yang lain menenangkan mereka sambil mengambil sapu dan pel untuk kembali bekerja.


Para pelayan yang lain mulai berhenti, mereka kini sibuk bersih-bersih.


Anndin menatap wanita yang tersenyum padanya, wanita itu terlihat sangat kegirangan melihat kedatangan keluarga Anndin.


"Nak, kamu tidak boleh tersenyum seperti itu pada calon suamimu apalagi lancang menyambut mereka seperti ini. Kamu harus bisa menjaga sikapmu, Maafkan ketidak sopanan Percilia ya..." dia mengelus kepala Percilia sambil tersenyum pada rombongan keluarga Anndin.


"Nggak apa-apa Bu, namanya juga anak-anak pasti dia sangat rindu pada Anndin" Ibu Anndin berkata sambil tersenyum pada percilia.


"Hahahahahhaha.... sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, kelakuan Percilia seperti ini tidak akan menyalahi adat" Ayah Anndin juga ikut berkomentar sambil mengelus kepala nona Percilia.


Anndin diam-diam mengepalkan tangannya, dia sangat ingin berlari dari ruangan itu dan kembali untuk memeluk Ranni yang sedang menahan sakit. Waktu yang dia ciptakan untuk membuka dimensi dan membawa Ranni pada dunia itu merupakan kegagalan terbesar dalam hidupnya tapi dia terpaksa melakukan itu, dia hanyalah bayangan. Wujud aslinya sudah berhasil menemukan Ranni meski dia tidak tahu apapun tentang masa lalu tapi mereka akan dipersatukan kembali seperti cerita yang sudah di dongengkan masa. Dia tidak akan membiarkan itu meski dia hanyalah sebatas bayangan tapi dalam darahnya mengalir darah suci langsung dari leluhurnya yang menciptakan dimensi waktu dan dia merupakan anak yang mewarisi langsung kemampuan untuk mengendalikan waktu itu.


"Kak kita akan menjadi keluarga besar yang akan menjaga dimensi ini bersama" Percilia memegang tangan Anndin sambil tersenyum tulus.


Anndin hanya terdiam seperti biasa, dia melepaskan tangan Percilia secara lembut. Semua mata sedang tertuju pada mereka, harusnya Anndin berpura-pura mencintai Percilia di depan mereka tapi sikapnya yang dingin itu berhasil menciptakan ketegangan.


"Senyum manis dan polosmu berhasil membuat semua orang terpana, pasti tadi Anndin terkejut. Dia belum pernah disentuh oleh wanita secantik kamu" Taniah mengambil tangan Nona Percilia sambil mengelusnya. Dia berusaha mencairkan ketegangan yang diciptakan adiknya.


Nona Percilia hanya tertunduk, dia sedang menahan malu dan rasa sakit. Sementara orang-orang dalam ruangan itu berusaha memaklumi sikap dingin Anndin.


Kisah antara bulan, bintang, bunga-bunga yang bermekaran dan kisah cinta yang menembus dimensi semua ini diakhiri dengan kisah cakrawala yang sedang menangis.


Siapa yang berperan menjadi tokoh utama?

__ADS_1


dia akan mengambil keputusan untuk mengacungkan pedangnya yang berkarat pada waktu....


__ADS_2