
Diantara hujan mereka melangsungkan janji yang suci.
Sinar rembulan yang semakin terang memancarkan kemegahan dan harapan.
Hahahahahahhahaha...
"Seseorang telah menemukan namanya!!!" seorang nenek-nenek tertawa diantara kerumunan orang itu sambil menengadahkan kepalanya ke langit.
Dia berhasil memecah kesunyian yang suci.
Semua orang melihat ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Tangkap orang gila itu!!! Berani sekali dia merusak pesta yang sakral ini" Ayah nona Percilia memerintahkan pengawal.
Mereka menyeret tubuh nenek itu dan membawanya ke depan Ayah nona Percilia.
"Dia telah membangunkan dewi kedamaian, lihatlah perbuatanmu ini gadis penjilat madu. Berkat kebodohanmu kami menemukannya, dia bersama kami!!! Dia bersama kami!!! DIA BERSAMA KAMI!!!" nenek itu berteriak sambil menatap nona Percilia lalu berdiri dan melakukan gerak tarian pemanggil rembulan.
Nona Percilia mengepalkan tangannya lalu perlahan mendekati nenek itu. Dengan lincah dia mengikuti gerakan tariannya yang indah.
Semua orang melihat ke arah mereka dengan seksama.
Nenek itu terus menari tanpa henti lalu dengan sigap nona Percilia menarik pedang pengawal yang berdiri di dekat nenek yang malang itu dan menebaskan pedang itu ketubuhnya yang renta.
Aaaaaaaa....
Semua orang sontak berteriak histeris. Mereka terkejut dengan tingkah nona Percilia.
"Akulah dewi kedamaian, AKULAH YANG AKAN MENYELAMATKAN KALIAN SEMUA!!!" dia berteriak dengan nafas terengah-engah.
Diam-diam dibelakangnya Anndin tersenyum puas melihat kejadian itu.
Kebuasan iblis yang akan dinikahinya kini terbongkar secara perlahan-lahan.
"Nak apa yang kau lakukan?" Ibu nona Percilia mendekatinya dan memeluknya.
"Ranni sudah kembali...!!!, Ranni telah tiba!!!" dengan sisa tenaga yang ada nenek itu berteriak diakhir nafasnya.
Dengan emosi nona Percilia hendak menikamnya dengan pedang di tangannya kembali tapi Anndin memegang tangannya itu.
"Gadis lembut yang polos, semua orang sedang menatapmu sebagai iblis jahanam. Hentikan....!! Aku sebagai tunanganmu yang baik sangat mengasihanimu dan menyayangkan tingkahmu ini. Bukankah kau harus berpura-pura sekarang?" dia berbisik ditelinga nona Percilia sambil tersenyum licik.
Dia berbalik dan menatap tajam pada Anndin.
"Aku bisa membunuhmu juga sekarang!!" dia mengarahkan pedangnya pada Anndin dan menghempaskan tubuh Ibunya yang memeluknya sedari tadi.
Anndin mengangkat tangannya dan menatap sinis pada nona Percilia.
Lagu-laguan masa sedang terhenti...
Kisah dua sejoli yang saling mencintai berubah haluan. Mereka kini akan saling membunuh, mereka saling saling menatap tajam, cinta mereka tidak diridhoi semesta...
Hujan yang menghantam atap-atap rumah dan menimbulkan bunyi yang senada perlahan berhenti.
"Ibu kenapa titik-titik air hujan melayang di udara?" seorang anak berlari pada Ibunya dan memeluknya ketakutan.
Semua orang disitu terlihat khawatir.
Baju indah yang dipakai nona Percilia berlumuran darah.
Dari kejauhan diantar titik-titik hujan itu terlihat Ranni berjalan mendekati nona Percilia. Semua orang sangat terkejut.
__ADS_1
Siapa wanita itu?
Siapa dia?
Kenapa wajahnya tidak asing?
Bukankah dia Ranni?
Wajahnya sangat mirip dengan Ranni!
Semua orang yang menghadiri pesta itu berbisik-bisik dan berusaha menebak siapa wanita yang berjalan diantara titik-titik hujan itu.
Semua ketua suku sontak berdiri, mereka sedari tadi tidak bergeming atau mencoba menghentikan tingkah nona Percilia. Mereka seperti menantikan pertumpahan darah di hari yang sakral.
Ranni semakin mendekat...
"Gaunmu terlalu cantik untuk dipakai membunuh" dia tersenyum melihat nona Percilia.
Hahahahahha...
"Aku menantikan pertemuan ini gadis anyelir, aku sepertinya harus membunuhmu dua kali" dia membalas senyuman Ranni yang ramah.
"Apakah yang ada dipikiranmu hanya membunuh? Hari ini harusnya menjadi hari yang indah dan bersejarah" dia berusaha menghentikannya.
"Aku menyiapkan hadiah untuk mu dan kalian semua" dia tersenyum penuh teka-teki.
Pffuuuiiitt....
Nona Percilia bersiul dan memanggil sesuatu.
Dari jauh terdengar bunyi aneh lalu muncul sekelompok nyamuk dengan mata merah menyala.
"Kamu pikir aku akan tertipu? Ranni pulanglah ini bukan duniamu"
"Nak...., Ibu tidak pernah mengajarkan kekejaman seperti ini padamu!!" Ibu nona Percilia merangkak dan memeluk kakinya lalu menangis.
Dengan sangat kasar dia menghempaskan tubuh Ibunya lalu berjalan mendekati para ketua setiap klan yang hadir disitu.
Mereka terlihat sangat ketakutan dan berusaha menghindarinya.
"Apa yang sudah meracuni pikiran nona Percilia yang lembut sehingga berani memegang pedang? Kenapa tatapannya sangat bengis?" Ayah Gara berusaha menghentikannya.
Tanpa pikir panjang, dia langsung menancapkan pedangnya ke perut Ayah Gara.
"Percilia......!!!" Ayahnya berteriak dan memegang tangannya berusaha menghentikan kegilaannya.
Dia mencabut pedang itu dari perut Ayah Gara lalu menikamkannya ke Ayahnya.
Aaaaaaaaa.....
"PERCILIA!!!!" Ibunya merintih dan berteriak histeris.
Dia seperti haus darah, para ketua klan disitu dibunuhnya tanpa belas kasihan sedikitpun. Dia lebih memilih menjadi gadis penjilat madu dan mengacunkan pedangnya kedepan. Ketimbang memperbaiki semuanya dan percaya pada harapan.
Anndin meninggalkan tempat itu diam-diam. Dia sangat pengecut dan takut terbunuh.
"Ranni!! Kita harus segera pergi dari sini" Rain menarik tangannya.
"Kita harus selamatkan mereka" Ranni berusaha menarik tangannya kembali.
"Ran..., kamu harus selamatkan dirimu" dia berusaha membujuk Ranni.
"Sudah banyak orang yang tidak bersalah mengakhiri hidupnya karena aku" dia berlari mendekati nona Percilia.
__ADS_1
Hujan bantu aku....
Hujan bantu aku...
Hujan bantu aku....
Tetes-tetes air hujan yang berhenti kembali terjatuh. Kali ini mereka jatuh bukan dalam bentuk air tapi berupa kristal yang tajam dan mengarah kearah nyamuk-nyamuk itu.
"Rain.., bantu mereka melarikan diri bawa mereka ketempat yang aman" Ranni berteriak sambil mengeluarkan belati lalu mendekati nona Percilia.
"Tapi....."
"Aku akan baik-baik saja" dia tersenyum.
Rain hanya menuruti perkataan Ranni dan menolong orang disekitar situ.
"Cukup Persilia!!!" dia mengarahkan belatinya ke arah nona Percilia.
"Kamu belum menyerah?" dia tersenyum licik.
"Aku mohon hentikan ini, kamu tidak seharusnya selalu menyebabkan pertumpahan darah" Ranni berbicara pelan sambil menatap nona Percilia.
"Aku akan membunuhmu berapa kali? Coba tebak???" dia menusukkan pedang di tangannya ke perut Ranni tanpa ragu lalu tersenyum puas.
"Ranni.....!!!!!" Rain berteriak histeris lalu berlari ke arahnya.
Nona Percilia mencabut pedang itu dengan bangga.
Darah Ranni terlihat menetes pada ujung pedang itu.
"Darahmu terlalu suci untuk menetes di pedang seperti ini" dia memegang dagu Ranni lalu menatapnya tajam.
"Ranni.....!!!" Rain terus berlari mendekatinya.
Ranni memegang perutnya yang mengeluarkan darah.
Kenapa rasanya begitu sakit?
Dia melihat sekelilingnya dan tidak sengaja melihat Afgar berjakan mendekati nona Percilia.
Afgar tersenyum pada nona Percilia lalu mereka pergi bersama dan saling bergandengan. Mereka seperti merayakan kehancuran.
Apa yang baru saja aku lihat?
Af.... itu bukan kau kan?
Hari ini aku bermimpi buruk, hari ini aku menyaksikan darah berjatuhan dari langit, hari ini aku melihat bumi terbalik, hari ini aku menyaksikan kematianku yang tragis lagi, dan hari ini adalah hari berkhianat.
Kupu-kupu yang lucu...
Kemana engkau terbang......
Hilir mudik mencari....
bunga-bunga yang kembang....
Berayun-ayun.....
Ranni.....
Waktu perlahan terhentikan, dunia diselimuti kesenyapan.
Anndin menggendong tubuhnya yang penuh darah dan melewati semua orang yang tiba-tiba mematung.
__ADS_1
Bertahanlah.......