
Malam yang panjang bersamaan dengan turunnya hujan tanpa henti.
Langitku yang menghitam, cakrawalaku yang sedang memberontak, dan bumiku yang sedang di penuhi kabut.
Malam yang panjang ini membuat semua orang lupa kapan waktu untuk tertidur.
"Dimana ini?" Ranni mengamati sekelilingnya.
"Kau akhirnya bangun juga, aku pikir kau sudah menjelma menjadi peri tidur selamanya" dia berbicara dengan lembut.
"Siapa kamu?" tanya Ranni khawatir.
"Aku tidak bisa selalu melindungimu, kamu harus segera menemukan dirimu yang terjebak dalam kehampaan" dia mendekati Ranni.
Sosok itu memancarkan sinar yang begitu menyilaukan, cahayanya mampu menenggelamkan seluruh kegelapan disekitar situ.
"Tunjukan siapa kau!!" Ranni berteriak ketakutan.
"Aku rasa kau harus dibebaskan, semesta harusnya tidak membangunkanmu. Kau hanya wujud bunga dengar aroma khas tapi kecantikanmu membuat semua orang berjuang untuk memetikmu. Ranni, kau harus menghentikan semua ini. Dua dunia kini sudah sangat kacau, kau bukanlah hadiah dari semesta tapi kau adalah awal dari kehancuran ini" sosok itu mendekati Ranni dan memberikannya sebuah kalung yang memiliki lambang setengah bulan yang membungkus bunga anyelir.
"Siapa kau!!!" Ranni terus berteriak, cahaya yang begitu menyilaukan membuatnya ketakutan.
"Akulah yang membangunkanmu dan terus menyiksamu selama ini. Kau yang telah menciptakan kedamaian untuk berjuta-juta tahun yang lalu. Kau menghijaukan bumi yang ketakutan....." sosok itu kemudian perlahan-lahan meredupkan cahaya yang menyelimutinya.
"Ayah...!!!" dia berteriak.
"Aku sudah mengurungmu selama ini tapi sekarang adalah waktumu untuk melindungi dirimu sendiri. Peluklah kembali bumi yang sedang gemetaran, buatlah kembali pepohonan bernyanyi dan berbisik pada semilir angin. Kau hanya punya alam sebagai kekuatan yang sangat tangguh. Mentari yang tunduk padamu sedang tertidur dan membangunkan para peri yang sedang bermimpi. Temukan aku diantara mereka...."
Dia perlahan menjauh bersama cahayanya.
"Ayah jangan pergi!!! AYAH!!!!!" dia berteriak histeris.
"Temukan aku diantara peri yang sedang tertidur. Dedaunan akan bernyanyi, angin akan menuntun langkahmu...." sosok itu menghilang dalam sekejap.
"AYAAAHHH!!!" dia berteriak sekuat mungkin.
"Ranni, kau baik-baik saja?" Aqyla memegang tangannya yang basah oleh keringat.
"Dimana ini?" dia perlahan-lahan membuka matanya.
"Kamu aman Ran..." dia berusaha menenangkan Ranni.
Ranni hanya terdiam dan sedang mengingat apa yang baru saja dia mimpikan.
Aqyla yang melihatnya merasa khawatir, dia berdiri dan hendak meninggalkannya. Ranni sepertinya butuh waktu untuk sendiri.
"Kamu mau kemana?" dia berusaha menghentikan Aqyla.
"Sepertinya kau butuh waktu untuk sendiri" dia tersenyum lalu pergi meninggalkan Ranni.
Sssssssss.....
Temukan aku diantara peri yang tertidur....
Bangunkan kami dari mimpi yang panjang....
Mentari akan segera diterbitkan....
Kau tidak punya waktu yang lama....
Hentikan dia....
Hentikan dia...!!
HENTIKAN DIA.....!
Gadis penjilat madu.....
__ADS_1
Aaaaaa....
Ranni memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Apa itu? Apa yang beru saja aku dengar?" dia menutup telinganya ketakutan.
"Dengarkan saja Ran...., dengarkan secara perlahan. Ikuti hatimu..." seseorang muncul dan mendekatinya.
"Siapa kamu" tanya Ranni.
"Aku pemimpin ketua klan ini" dia duduk di samping ranjang tempat Ranni tertidur.
"Apakah kau mengenalku?" tanyanya lagi.
"Aku pernah bertemu denganmu dulu sekali tapi aku tidak pernah berbicara denganmu secara langsung" matanya menerawang.
"Seperti apa aku dulu?"
"Dulu...., kau adalah gadis yang bercahaya. Kau gadis yang sangat baik dan ramah. Semua orang mengagumimu" dia berbicara sambil mengusap rambut Ranni.
"Bagaimana kalau aku bukan orang yang sama?" tanyanya lagi.
"Aku percaya wanita itu kau" dia tersenyum.
"Aku bukan orang yang sama!!!" dia menggelengkan kepalanya.
"Kalung itu adalah buktinya" dia menunjuk kalung di leher Ranni.
"Kalung? Aku tidak memiliki kalung" dia tunduk dan melihat ke arah kehernya.
"Sudah saatnya kau melakukan tugasmu.." dia menatap Ranni.
"Kalung ini..., Ayah yang memberikannya" dia menerawang sambil berusaha mengingat mimpinya kembali.
"Sudah saatnya Ran.." dia memegang pundaknya
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya kemudian.
Ranni menutup matanya berharap hatinya memberi petunjuk.
"Ranni.....!!" seseorang memanggilnya.
Ranni mengamati sekelilingnya dengan bingung.
"Show.... Show... Show... Me....!!!" dia seperti tersihir dan mengucapkan kalimat itu dengan nada menyeramkan
Hi...hi...hi...hi...
"Mentari tidak harus terbit Ran..., pulanglah dan hentikan itu" dia berbisik di telinga Ranni.
"Gadis periang? Izinkan aku melihat wajahmu" dia berusaha melihat di antara cahaya yang menyilaukan itu.
Hihihihi....
Semua yang dilihatnya kembali normal.
"Aku menunggu perintahmu Ran..." dia tunduk pada Ranni.
"Siapa yang harus aku hentikan?" dia bertanya dalam hati.
"Ran...." wanita itu memegang bahunya.
"Apakah mentari akan terbit?" dia bertanya pada wanita itu.
"Aku tidak tahu pasti tapi kemarin nona Percilia dan Anndin mengikrarkan sumpah mereka kalau mentari akan segera terbit ketika mereka selesai melangsungkan pertunanganan" dia berkata pelan.
"Kita harus menghentikan mereka, kapan acaranya akan digelar?" dia bertanya sambil menggenggam kalungnya.
"Acaranya akan segera digelar" dia terlihat khawatir.
__ADS_1
"Kita harus segera kesana" dia menatap keluar jendela.
"Aku akan mempersiapkan perjalananmu" dia bergegas pergi.
"Apakah perjalannya akan membutuhkan waktu yang lama?" dia menarik tangan wanita itu.
"Perjalanannya tidak akan lama" dia tersenyum pada Ranni.
Anndin..., kenapa jalan yang kau tempuh berbeda dengannya?
Apa sebenarnya rencanamu?
Bulan, bintang, langit yang kelam, kalian pasti sangat lelah...
Bumiku sedang bergetar.
"Perkenalkan namaku Frenc, aku akan melindungi perjalananmu" dia berlutut di depan Ranni sambil memperbaiki posisi kaca matanya.
"Aku akan pergi sendiri, sudah banyak darah yang dikorbankan. Tetaplah disini...!!" Ranni seperti mencegahnya.
"Perjalanan ini berbahaya Ran..., kau harus memikirkan keselamatanmu" Aqyla memegang bahunya.
"Ran..., kau akan membutuhkannya. Aqyla dan Frenc akan ikut bersama mu" dia mendekati Ranni dan meyakinkannya.
"Baiklah..." dia menghela nafas panjang.
Pfffuiittt.....
Frenc bersiul memanggil sesuatu. Lalu dari angkasa yang megah muncul dua ekor burung bertubuh besar. Mereka mendarat di dapan Ranni dan yang lainnya.
"Siapa namamu?" Ranni mendekati salah satu burung dan mengelusnya.
Burung itu menatap Ranni lalu tertunduk.
"Kita harus segera pergi..." Frenc naik kepundak burung itu lalu mengukurkan tangannya pada Ranni.
Sebelum menaiki punggung burung itu, ketua klan menarik tangan Ranni dan memberikannya segenggam garam.
"Lemparkan garam-garam ini ditengah hutan" dia berbisik ke telinga Ranni.
"Tapi...." Ranni mengerutkan keningnya.
"Kau akan mengerti" dia menganggukan kepalanya.
"Ayo Ran..." Aqyla mengajaknya.
Burung-burung itu menjauhi desa yang kecil, mereka semakin tinggi dan ditelan gelapnya malam.
"Hutan mana yang dia maksud?" dia bergumam.
"Tengah hutan selalu memancarkan sinar. Dulu klan kami sudah sangat putus asa tapi berkat hutan yang megah itu kami berhasil menanam kembali harapan yang hilang" dia berbicara pelan.
"Kamu tahu dimana itu?" dia bertanya sambil mengamati sekelilingnya.
"Lihatlah kebawah jika kau melihat tempat yang paling bersinar disitulah kau harus melemparkan garam-garam itu" dia menjawab pelan.
Brrrrrrr.....
Swushhhh......
Angin malam yang dingin.
"Terimakasi Franc" dia berbisik pelan.
Franc hanya tersenyum lalu menambah kecepatan burung yang sedang dikendarainya.
Diam-diam Aqyla memperhatikan mereka dengan raut muka yang sedikit kesal...
Bunga yang indah tumbuh ditengah hutan. Para pemburu berlalu begitu saja tidak memedulikan bunga itu tapi siapa sangka kelinci kecil menemukan bunga itu.
__ADS_1
Kelinci kecil yang malang, dia diburu oleh kawanan serigala buas. Sang pangeran bersama pengawalnya berhasil menyelamatkan kelinci kecil itu dari serigala-serigala kelaparan. Karena sangat terharu pada kebaikan sang pangeran, kelinci kecil memberikan bunga yang indah itu sebagai hadiah.
..........