Ranni

Ranni
Cintaku, Hasratku


__ADS_3


*Selamat pagi pemirsa,


Seputar Info kembali hadir di sela-sela aktivitas Anda, bersama saya Pertiwi Harun yang akan memberikan berita-berita terbaru dan teraktual, 19 Juni 2020.


Pemirsa, sekarang sudah pukul 08.29 WIB. Tapi seperti yang kita saksikan bersama bahwa matahari belum juga terbit. Hal ini menjadi perbincangan hangat dan membuat semua orang khawatir.


Beberapa Ahli dari USA sedang bingung memprediksi fenomena ini. Benda-benda angkasa seperti sedang berhenti berputar pada porosnya. Waktu di katulistiwa seperti sedang berhenti dan jika ini terus berlangsung maka akan terjadi ledakan besar. Bumi merupakan salah satu planet yang masih berputar, hal ini dapat membahayan kita semua.


Beberapa orang yang mengira bahwa kita sedang dalam masa-masa kehancuran bumi atau disebut kiamat*.....


"BERHENTI MENONTON!!!" Aqyla mematikan siarang itu.


"Nak..." Ibunya mendekatinya dan memeluknya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Afgar bertanya kebingungan entah ditujukan untuk siapa.


"Kalian harus segera ke sekolah" Ayah Aqyla tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan ekspresi khawatir.


"Ayah, ini salahku. Kemarin....." dia mendekati jendela dan melihat ke luar.


"Semua ini bukan salahmu nak.." dia mendekati Aqyla.


"Aku melihatnya Ayah...!!" dia berteriak.


"Itu hanya hayalan nak" dia berusaha menenangkan Aqyla.


"Kami memainkan musik di waktu yang bersamaan" dia terlihat khawatir.


"Siapa yang kau lihat?" tanya Afgar menyeka pembicaraan mereka.


"Aku melihat diriku" dia tertunduk.


"Sudah..., kalian harus ke sekolah sekarang!!" dia berusaha mentralkan suasana.


"Ayah..., aku harus pergi menemui dia" Aqyla terus menerawang.


"Ayah tidak mau dengar hayalanmu itu!! Kamu harus melupakannya!!" dia berbicara sambil mengepalkan tangannya.


"Ayah itu bukan hayalan, aku benar-benar melihatnya. Lihatlah apa yang sudah terjadi, bulan itu bahkan enggan untuk berbagi tahtanya" dia menunjuk bulan yang masih bersinar di luar.


"AYAH TIDAK MAU DENGAR ITU AQYLA!!!" dia berteriak memarahi anaknya.


"Ayah meneriakiku!!!" dia menatap tajam pada Ayahnya.


"Sudahlah nak..., kau harus ke sekolah sekarang" Ibunya menarik tangannya yang sedang emosi.


Kelinci kecil kini sudah tidak peduli dengan dirinya, hutan yang gelap semakin gelap. Malam yang panjang dan sedang dipertaruhkan. Dialah satu-satunya makhluk yang tidak peduli dengan kegelapan ini.


"Kamu baik-baik saja?" dia menatap Aqyla.


Dia mengangguk pelan.


Mobil yang mereka tumpangi terus melaju melawan angin yang bertiup mengarah pada mereka.


Perasaan mereka belum sembuh total setelah tragedi kemarin. Cinta kini sudah tercampur aduk dengan kesedihan. Cinta seharusnya suci, cinta seharusnya tidak bisa di nodai. Cinta seperti apa yang ditempa oleh manusia serakah?


Mereka akan segera tersesat di dalamnya. Satu hal yang perlu kita tahu bersama kalau tak akan ada yang bisa mengalahkan hukum alam. Alam adalah kekuatan sejati.


"Af, aku ingin mengakhiri ini" dia tertunduk sambil memainkan hpnya.


"Aku juga ingin mengakhiri ini" Afgar membalasnya pelan.

__ADS_1


"Af, aku tahu bagaimana cara mengakhiri ini" dia memegang tangan Afgar.


Afgar menghentikan mobil itu lalu melihat kearah Aqyla.


"Beri tahu aku bagaimana caranya?" dia menatap Aqyla dalam.


"Kita harus menemukan kalung itu" jawabnya pelan.


"Kalung apa?" tanya Afgar bingung.


"Kalung yang memiliki simbol setengah bulan yang membungkus bunga anyelir" jawabnya.


"Tapi dimana kita harus menemukannya?"


"Aku pernah melihat Ayah membawanya" dia berbicara pelan.


"Pasti dr. John tidak akan membiarkan kita memiliki itu" dia terdengar putus asa.


"Kalung yang ada pada Ayah itu palsu, aku melihatnya membuangnya beberapa waktu yang lalu" dia mengeluarkan kalung itu dari sakunya.


"Bagaimana caranya kau tahu itu palsu?" tanyanya sambil mengerutkan keningnya.


"Kalung yang asli selalu memancarkan sinar ketika ditiup" dia meniup kalung itu.


Afgar mengamatinya dengan seksama.


"Kalung ini tidak memancarkan sinarkan?" dia berbalik melihat kearah Afgar.


Afgar menatapnya sangat dalam, wanita yang sedang diamatinya itu adalah wanita yang sangat dia kasihi. Siapa sangka kehidupan tragis kini sudah melahapnya juga dan tidak memberi celah untuk melepaskannya.


"Af..?" dia menyadarkan Afgar yang terlihat bingung.


"Lalu dimana kita akan menemukan kalung yang asli?" dia mengalihkan pandangannya melihat keluar jendela mobil, dia berusaha menghilangkan nafsu yang akan segera menjadi teman karibnya.


"Aku pernah mendengar Ayah membahas tentang album kecil itu, pasti album itu bisa memberikan kita petunjuk" dia berbicara pelan.


Afgar bergegas mengambil album itu dan melihat isinya.


"Tapi disini tidak ada petunjuk apapun" dia mengamati foto-foto dalam album itu secara seksama.


"Hanya kamu yang bisa melihat isi album itu Af, Ayah pernah mengambilnya dari kamu tapi dia mengembalikannya karena tidak bisa menemukan apapun disitu" dia memegang pundak Afgar.


"Aku tidak tahu tentang itu" dia menjawab pelan.


Aqyla terdiam sejenak memikirkan dari mana mereka harus memulai ini.


"Kamu tahu dimana Ranni sekarang?"tanyanya kemudian.


"Iya, dia sekarang di rumah sakit" jawab Afgar.


"Ayo kita kesana!" ajak Aqyla.


"baiklah.." Afgar menurutinya.


Perasaan yang terluka lekaslah sembuh, siapa yang akan tahu setelahnya?


Tentang dua insan yang dipisahkan cintanya. Merekalah orang yang patut dikasihani, biarkanlah mereka yang menentukan takdirnya itu.


Berkahilah mereka.


"Setelah aku melihatnya ternyata dia menanggung beban yang lebih berat" dia membelai rambut Ranni.


Afgar hanya terdiam, dia terus mendengar suara-suara yang membujuknya dan terus menggelitik hatinya.

__ADS_1


Ondo.... Ondo.... Ondo....


Ondoe ulum....


Ndo ratoe langi no kalaaaaa so noratoe kasananga...


Nafoooo hintu panambalia..


Cinta ini soooo hintu....


Swushhhh..


"Ketika kita mengkhiri ini, aku ingin menanam bunga bersama Ranni di pekarangan yang jauh" Aqyla tersenyum dan mengamati Ranni.


"Sebelum aku bertemu denganmu dialah satu-satunya wanita yang ingin ku lindungi" Afgar mendekati Aqyla lalu memeluknya dari belakang.


"Af.., kamu tahu ini salahkan?" dia berusaha melepaskan tangan Afgar.


"Aku sedang menuntut keadilan, setelah aku membebaskan diri darinya dan menemukan orang yang sangat aku inginkan tapi aku dipisahkan dengan cara yang menyakitkan" dia terus memeluk Aqyla.


"Af.., kamu sudah di kontrol jangan dengarkan bisikan itu" dia berusaha menyadarkan Afgar.


Hahahahahaha,...


Mata Afgar memerah, dia seperti hilang kendali.


Aqyla berusaha melepaskan diri, dia terus berteriak menyadarkan Afgar.


"Kau akan menjadi milikku selamanya..." jawabnya sambil mendorong tubuh Aqyla ke dinding.


"Af, sadarlah..." dia berteriak dan berusaha melepaskan diri.


Afgar membelai rambutnya perlahan, dia kemudian mendekatkan kepalanya pada wajah Aqyla. Lalu membelainya dengan lembut. Itu bukan mata Afgar, iblis sudah mencuri bayangannya.


Hati yang hancur dan dendam yang dalam adalah pemimpin kegelapan yang sesungguhnya.


Dia bersembunyi di belakangmu, dia bersembunyi di sampingmu, dia terus mengikutimu, dia bahkan menjagamu, dan akan terus mengikutimu. Kau yang harus memilih menuntunnya atau mengikutinya. Dialah nafsu.


Afgar seperti hampir kehilangan dirinya.


"Kamu milikku.....!!!" dia berbisik dan tersenyum seperti iblis.


Afgar telah menghancurkan permata yang suci itu pada malam itu, pada siang itu, tidak ada yang bisa memprediksi waktu.


Aaaa....


Aqyla berteriak kesakitan.


"Tolooonggg" dia berteriak sekeras mungkin.


"Af sadarlah aku mohon" dia merintih dan meminta belas kasih.


"Aku akan menggunakanmu untuk pergi ke dunia itu" dia seperti serigala kelaparan.


Setelah melepaskan semua hasratnya, dia mencekik leher Aqyla yang sudah tidak sadarkan diri.


Putih yang kelabu, putih yang abu-abu, anak yang baik telah melangkah jauh ke hutan yang rimba. Malam yang tak ingin di kalahkan membuat seluruh manusia memberontak entah dalam diam, entah dalam suka. Manusia hanya bisa merayakan kebahagiaan.


Mereka menolak kesedihan sedang kesedihan yang meluruskan jalan mereka.


Cinta suci dua insan sudah hancur di malam yang panjang, di siang yang gelap.


Ranni gadis malang sedang menutup mata, dia tidaklah menyaksikan kejadian naas itu. Sahabatnya telah menghancurkan harapan yang sudah terlalu lama menjadi janji. Mereka akan segera tersesat.

__ADS_1


Tunggulah kehancuran itu.....


__ADS_2