
Mohon maaf, terdapat beberapa adegan kekerasan dalam bab ini. Pembaca mohon bijak. 🙏🙏
Bangunlah anak yang manis. Di luar sedang hujan, bunga-bunga bermekaran sedang berpesta di bawah sinar mentari yang basah. Jangan menghindari hujan di siang hari karena dia datang untuk membawa hadiah. Just wait...
Sebentar lagi pelangi akan datang.
Ranni terlihat duduk di sebuah kursi sambil menatap Ella yang duduk jauh di seberang kursinya.
"Andai aku Ranni sahabatmu" dia menggerak-gerakan tangannya seolah sedang membelai rambut Ella dari jauh.
Hari itu dia menjadi seorang Ranni bersama kutukannya. Tanpa sahabat, tanpa mimpi, dan yang lebih menyakitkan adalah tanpa Afgar disampingnya. Meski dia tahu dalam tubuh Zyin ada jiwa Afgar yang terus hidup. Meski mungkin dia benar-benar menjadi Afgar yang pernah merampas Ayah dari sosok hidupnya dulu.
Meski saja......
Tapi....
Tatapannya sudah berubah, suda ada orang yang lebih istimewa di hati Afgar. Orang itu begitu spesial sehingga haknya untuk melindungi Ranni kembali sudah hampir mustahil. Bukan waktunya untuk mengikatnya kembali dan memaksanya untuk terus menjadi kumbang di kembang yang abadi.
Dia sudah terlalu lama tersiksa dalam pelukan takdir yang suram. Sudah waktunya dia mengepakan sayapnya dan terbang jauh ke langit yang cerah.
Ella berbalik dan melihat ke arah Ranni yang melamun.
"Dasar bodoh, berhentilah melamun" dia menatap Ranni sambil berusaha menahan air matanya.
Di depan kelas tempat mereka saling menjauhkan diri, berdiri seorang dosen yang sedang menjelaskan dengan masa bodoh. Hidupnya sangat normal. Dia hanya perlu menerangkan materi tanpa harus melihat dan melibatkan diri pada kondisi psikologis mahasiswanya. Itulah kenapa ruangan itu merupakan neraka di dunia nyata. Beberapa orang berusaha menjauhi ruangan itu tapi tuntutan hidup begitu kejam sehingga memaksakan kehendak dan membuat anak-anak polos dan ceria menjadi robot tanpa perasaan.
Tempat seperti apa yang sangat kau benci?
Satu persatu mahasiswa dalam ruangan itu merapikam mejanya kemudian keluar. Ranni mahasiswi tanpa harapan juga melakukan hal yang sama seperti mereka. Dia melangkah perlahan-lahan tanpa tujuan yang pasti.
"Kenapa Arsal seperti menghilang?" dia menarik nafas panjang sambil terus melangkah.
"Kamu tahu? Mahasiswi yang di temukan mayatnya hari ini merupakan mahasiswi dari jurusan Seni Musik" beberapa mahasiswi melewatinya sambil membahas kejadian tadi pagi.
Ranni menghentikan langkahnya dan mengamati mereka dengan seksama.
"Seni Musik? Kematian itu pasti berhubungan dengan kejadian kemarin, sudah kuduga!!" dia berlari dan menghampiri mereka.
Para mahasiswi itu cukup terkejut melihat Ranni yang bertanya pada mereka secara tiba-tiba.
"Kalian tadi membahas tentang kematian mahasiswi itu kan?" dia bertanya tanpa basa-basi.
"Iyyyaaa" seorang dari mereka menjawab dengan keheranan.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" mahasiswi lain menatapnya curiga.
"Aku orang pertama yang menemukan mayatnya, apa kalian tahu siapa namanya?" dia menatap mereka penuh harap.
"Bukannya sekarang harusnya kamu menjadi saksi? Kok masih disini?" dia berbicara sambil menarik kedua tangan temannya untuk meninggalkan Ranni disitu.
Dia terdiam mematung melihat reaksi mereka.
__ADS_1
Aku akan menggantikanmu untuk menjadi saksi, jadi tidak perlu khawatir.
Dia tiba-tiba teringat percakapan terakhirnya dengan Zyin.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku!!" dia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya agar semua orang tidak melihat air matanya.
"Ranni..?" seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
Dengan cepat Ranni menghapus air matanya lalu menoleh ke orang yang memanggilnya itu.
"Kamu Ranni kan?" dia tersenyum pada Ranni.
"Ummmm..." Ranni mengangguk pelan.
"Syukurlah aku bisa bertemu denganmu disini" dia masih tersenyum ramah pada Ranni.
"Ada apa ya?" Ranni merasa tidak nyaman.
"Aku boleh minta bantuan sama kamu?" dia bertanya tanpa ragu.
Ranni menatapnya curiga dan kebingungan.
"Oh ya.., namaku Eka. Aku jurusan Pend. Sastra Prancis" dia menyodorkan tangannya pada Ranni.
"Maaf aku nggak bisa bantu kamu" Ranni berbalik meninggalkannya.
"Aku mohon..., aku akan lakukan apa saja untuk kamu" dia menarik tangan Ranni.
"Maaf....." Ranni menjawab tanpa melihat wajah Eka.
Ranni berbalik dan menatapnya.
Wanita itu memiliki mata yang sendu. Di balik mata indahnya, dia menyembunyikan luka dan beban yang sangat berat. Mata itu memohon belas kasihan pada dunia yang kejam.
"Aku akan mencari orang lain jika kau tidak bisa. Maaf mengganggu waktumu" dia tertunduk pada Ranni dan berbalik hendak meninggalkannya.
"Aku bisa..." Ranni berusaha menghentikannya.
"Aku tahu kamu orang baik" dia berbalik dan tersenyum tulus pada Ranni.
Ranni membalas senyumnya.
"Kapan aku bisa menemui adikmu?" dia menatap mata indah Ekka.
"Kamu kosong jam berapa?" dia menjawab dengan sangat bahagia.
"Aku bisa sekarang"
"Kamu nggak kuliah?" dia melihat heran pada Ranni.
"Iya..." Ranni mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah...." dia menarik tangan Ranni untuk pergi dari situ.
__ADS_1
Mereka semakin menjauh....
Apakah Ranni bisa membantunya?
Kutukan yang melekat pada dirinya bisa saja membawa malapetaka untuk kakak beradik itu.
Pohon kesepian dan burung kecil kini sudah menjadi teman akrab. Suara burung kecil yang nyaring selalu menentramkan pohon itu. Mereka akan menjadi dua sahabat yang hebat.
Sepasang mahasiswa terlihat bermesraan berdua di sebuah kelas yang kosong. Mereka saling menatap penuh gairah dan melakukan kegiatan tidak senonoh di siang yang megah. Sungguh perbuatan yang tidak patut dicontoh dan ditiru.
Tiba-tiba muncul seseorang yang berpakaian serba hitam dengan linggis di tangannya masuk tanpa permisi. Dia mengamati mereka dengan sangat geram?
Dia mendekati mereka yang tidak sadar akan kehadirannya.
"Harus aku bagaimanakan mayatmu kelak? Sementara kegiatan terakhirmu seperti ini. Haruskah aku membunuh juga wanitamu? Tapi aku hanya membawa satu linggis" dia berbisik pada mereka yang sedang sibuk dengan kegiatannya.
"Siapa kamu?" mahasiswa itu kaget dan langsung melindungi pacarnya.
"Aku malaikat maut yang kurang kerjaan" dia tersenyum dan membuat wajahnya yang menyeramkan tambah menyeramkan.
"Pergi kamu!!" dia mengusirnya dengan suara gemetaran.
Tanpa aba-aba sosok itu langsung melemparkan linggis di tangannya dan tepat mengenai kepala mahasiswa itu.
"Apa salah kami....!!" pacar mahasiswa itu berteriak ketakutan.
Dia mendekati wanita itu perlahan-lahan dengan tatapan penuh amarah
"Kau telah membunuh kekasihmu" sosok itu meniup dahinya.
Wanita malang itu seperti tersihir, dia bangkit dari tempat duduknya dan mengangkat mayat pacarnya lalu melemparkannya ke luar jendela.
Aaaaaaaaaaaaa......
Dari luar ruangan beberapa mahasiswa berteriak ketakutan ketika melihat jasad itu. Mereka sangat terkejut karena mayat itu jatuh tepat di depan mereka bahkan salah seorang dari mereka pingsan di tempat. Beberapa mahasiswa yang lain berlari ke arah mereka untuk membantu.
"Panggil ambulance!!!!!"
Dua orang tewas di hari yang sama dengan kondisi yang sama juga dibunuh oleh orang yang sama.
Siapapun itu.....
Nyanyikan bumiku lagu yang lucu atau lagu anak-anak tapi harus terdengar menyayat...
*Kupu-kupu yang lucu......
Kemana engkau terbang....
Hilir mudik mencari....
..........................
Hai para readers budiman nantikan terus kisah Ranni.
__ADS_1
Jangan lupa Like & Vote...
😘😘*