
Hari ini adalah hari yang indah. Bukalah jendela kamarmu dan saksikan bunga-bunga yang bermekaran mematahkan mahkotanya satu persatu. Banyak orang yang bilang bunga-bunga itu sedang menyihir dunia dan menghapus kenangan buruk di hari kemarin. Ada juga yang bilang ketika dua manusia seinsan bertemu di bawah kelopak yang berjatuhan maka mereka akan menjadi pasangan yang serasi.
Tapi.....
Aku memikirkan hal yang berbeda, ketika bunga-bunga bermekaran sesungguhnya mereka mencintai kecantikan dirinya, hingga saat mereka akan meninggalkan kecantikan itu dan menjadi debu di udara yang hampa. Mereka akan menjadi kenangan dan ditinggalkan semua orang.
Hari berlalu.....
Kisah tentang bunga yang bermekaran itu akan terus berlanjut.....
Aku akan memberitahukan sebuah rahasia tapi sebelum itu pejamkan matamu...
Aku sedang memberitahumu rahasia jadi jangan ribut, kau harus mendengarkan kalimat yang ku bisikan berikut.
"Ketika bunga bermekaran kemudian berkeriput di tangkainya dan sebentar lagi mereka akan menjadi debu yang dilupakan. Mereka tumbuh sebagai kutukan. Menjauhlah ketika mereka berguguran karena saat itulah mereka akan mengucapkan mantra-mantra yang ajaib. Kau akan tersihir..., kau akan terkutuk..., kau akan..... " aku berbisik di telingamu.
Sekarang ini kau masih menutup mata dan mendengarkanku tapi bulu kudukmu mulai berdiri.
Kau penakut tapi tetap mendengarkan karena penasaran.
Aku hanya berbicara secara lembut dan sedikit berbisik jadi jangan takut, aku bukan penyihir.
Aku akan melanjutkan kalimatku sekarang jadi dengarkan dengan seksama.
"Dua sejoli yang bertemu di bawah bunga-bunga yang bermekaran akan hidup bersama dalam bayang-bayang kenistaan. Mereka perlahan-lahan akan saling membenci dan saling mengutuk. Kamu harus tahu wanita itu telah tersihir oleh bunga yang mempesona. Kisahnya akan sangat tragis jika dia hidup sebagai wanita yang bahagia. Dia hanya akan mempesona ketika pada masanya, sama halnya seperti bunga yang sedang bermekaran. Kau akan merasa jijik ketika melihat mahkotanya mulai hancur di tanah yang gembur. Kau akan berlalu begitu saja tidak memedulikan bunga yang malang itu. Seperti itulah perjalanan hidup wanita jika ia menyerahkan hidupnya pada orang salah" Aku terus bercerita sampai akhirnya kau tertidur.
Ranni_20
--------------------------------------------------
Tiiiiittttt..... Tiiiittttt... Tiiiittt......
Bunyi yang memekakan telinga terdengar dari dalam kamar tempat Ranni dirawat.
Semua petugas medis berlarian tergesah-gesah menuju kamar Ranni diringi oleh massa yang masih menyanyi dan berusaha membuat Ranni terus terdiam kaku dalam tidur dan mimpinya yang panjang.
Angin diluar bertiup, berlari, dan berayun menghindari kesialan.
"Bagaimana keadaan Ranni dok?"
Dialog antara Bunda dan dokter sayup-sayup terdengar semakin jelas.
Sinar mentari yang menyilaukan membuat Ranni sangat kesakitan ketika membuka matanya.
"Ranni apa yang kamu rasakan sekarang?" dia mengusap kepala anaknya.
"Bunda sejak kapan matahari mulai terbit?" dia bertanya dengan suara yang lemah.
"Matahari selalu terbit setiap hari nak" Ibu Ranni terlihat bingung melihat tingkah anaknya.
"Siapa yang menerbitkannya bu?" tanyanya lagi.
"Tuhan yang menerbitkannya Ran" dengan sabar dia menjawab sambil mengusap kepalanya.
"Afgar mana Bu?" dia bertanya lagi dan mengamati sekelilingnya.
__ADS_1
"Afgar? Siapa Afgar nak?" tanya Ibunya sambil mengkerutkan keningnya.
"Afgar bu, masa Bunda lupa" dia mengamati Ibunya dengan tatapan penuh tanya.
"Apa dia teman baru kamu?" Ibu Ranni bertanya dengan ekspresi khawatir.
"Afgar bu, dia anak dari wanita yang ayah nikahi. Dia saudara tiriku!!!" Ranni meninggikan nada suaranya yang lemah.
"Sayang, Ayah sedang dalam perjalanan kesini. Dia sangat khawatir sama kamu. Ayah tidak pernah menikahi wanita lain, dia satu-satunya Ayah yang sangat menyayangimu" Ibu Ranni mengelusnya dan berusaha tersenyum.
"Apa? Bu..... Afgar nggak bersalah, Ibu juga sudah mengikhlaskan Ayah untuk wanita itu. Panggilkan Afgar bu, aku ingin bertanya padanya. Apakah dia yang berjalan bersama wanita iblis itu?? Cepat panggil Afgar bu!!! Dia tidak boleh bertemu wanita itu!!!!" Ranni berteriak dan mulai menangis.
Hiks... Hiks... Hiks....
Ibu Ranni sangat terkejut, dia terdiam sesaat sambil menutup mulutnya.
"Sayang, udah Bunda panggilkan Afgar dulu ya? Kamu berhenti menangis" dia mengelus kepala Ranni dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan ekspresi terkejut.
Perjalanan waktu yang panjang, kisah rumit tanpa penyelesaian.
Ranni menatap langit-langit kamarnya sambil berusaha mengingat apa yang baru saja dia alami.
Sementara di luar ruangan Ibu Ranni terlihat menangis dan kebingungan.
"Ada apa sayang? Kenapa tidak masuk menemani Ranni?" Ayah Ranni tiba-tiba muncul.
"Mas...!" Ibu Ranni berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Ada apa sayang?" dia mengelus kepala istrinya berusaha menenangkannya.
"Ranni berbicara aneh, dia sangat aneh mas" dia menatap suaminya sambil menangis.
Mereka masuk bersamaan ke dalam kamar tempat Ranni di rawat.
"Bunda mana Afgar?" tanya Ranni kebingungan.
"Sayang..." dia mendekati Ranni dan menahan tangannya.
"Siapa dia Bunda?" dia menunjuk pria yang masuk bersama Ibunya dengan ekspresi benci.
"Anak Ayah sudah bangun yah?" dengan sabar sosok itu mendekati Ranni lalu mengelus kepalanya.
"Siapa kamu?!" dengan kasar dia melepaskan tangan itu dari kepalanya.
"Dia Ayahmu Ran.." Ibunya berusaha menenangkannya.
"BUNDA!!!!" Ranni berteriak histeris.
"Ada apa sayang??" dia mengelus anaknya dengan sabar sambil berusaha menahan air matanya.
"Bunda bukannya hanya cinta pada Ayah? Aku tidak pernah mengizinkan Bunda untuk menikah lagi. Kenapa Bunda lakukan ini?" dia menangis dan mengalihkan pandangannya.
Ibu Ranni hanya terdiam dan ikut menangis. Anaknya tiba-tiba berubah menjadi orang lain. Ranni mengenalnya tapi tidak dengan Ayah yang sangat dicintainya sebelum itu.
Waktu kembali membuat teka-teki dan membagikan bagian-bagian puzzle pada orang dengan kepribadian yang berbeda-beda.
"Dok apa yang terjadi pada Ranni? Kenapa dia berbicara aneh? Kenapa dia tidak mengingat Ayahnya?" dia menangis di pelukan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, sabar ya...? Biarkan dokter yang menjekaskan" dia mengelus kepalanya dan berusaha tenang.
"Otak Ranni baik-baik saja tidak mengalami kerusakan. Kami juga sudah memeriksa sistem saraf dan tulang belakangnya dan tidak ada kerusakan atau sejenisnya yang kami temukan, mungkin dia mengalami halusinasi setelah koma" dokter itu menjelaskan dengan tenang.
"Apa yang harus kami lakukan dok?" Ibu Ranni menghapus air matanya dan berusaha tegar.
"Ibu bisa menunjukannya foto-foto keluarga atau masa kecilnya agar dia bisa mengingat dan bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan" dokter itu memberikan saran sambil tersenyum.
"Dia akan baik-baik saja" Ayah Ranni memeluk istrinya dan menatap kosong kesegala arah.
Kelinci kecil telah menghilang dari hutan rimba. Hutan telah dipenuhi dengan tumpukan salju. Semua kegiatan di hutan itu kembali membeku.
Tidak ada pemburu, tidak ada pangeran, dan tidak ada rembulan.
Ranni menatap keluar jendela.
Apa yang baru saja terjadi?
Apakah dia mati dan hidup kembali?
Kekejaman seperti apa lagi yang akan dia hadapi.
Seorang suster tiba-tiba masuk dan mengecek keadaannya.
"Kamu tidak merasa mual atau pusingkan?" suster itu tersenyum ramah padanya.
Ranni tidak menjawab, dia teringat dengan suster yang dia bunuh.
"Kamu istrahat ya..." suster itu menghela nafas panjang lalu pergi.
Dia mengamati suster itu keluar dan berusaha menghilangakan apa yang ada dipikirannya.
Matanya tiba-tiba tertuju pada orang yang berdiri di balik pintu, sosok itu menatapnya lembut dan sedikit tersenyum.
Ranni mengerutkan keningnya dan berusaha mengingat wajah itu.
"Anndin??" dengan cepat dia bangkit dari tempat tidurnya dan mencabut semua jarum yang melengket pada tangannya.
ANNDIN!!
Dia memanggil nama itu sambil berlari.
Sosok itu melangkah pergi meinggalkannya. Ranni terus mengejarnya dan berteriak memanggil namanya tapi Anndin menghilang begitu cepat...
ANNDIN!!!!
Dia terus berteriak dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Ada apa sayang?" Ibunya datang dan memeluknya.
"Anndin bu, Anndin bu, Anndin bu!!!" dia memanggil nama itu sambil terisak.
"Kenapa Anndin nak?" tanya Ibunya sambil menahan sesak di dadanya.
"Dia meninggalkanku lagi" Ranni memeluk Ibunya dengan erat dan menangis tanpa henti.
Ibu Ranni hanya bisa menatap wajah suaminya dengan ekspresi yang sangat memilukan sedang suaminya hanya bisa tertunduk sedih.
__ADS_1
Kupu-kupu yang lucu kini sedang berkelana jauh.
"Dunia itu akan menjagamu dan membuatmu bahagia" Anndin berbisik sambil terus melangkah diantara orang-orang yang mematung dan bulan yang terus bersinar.