Ranni

Ranni
Awal dari Kehancuran 2


__ADS_3

Caaakk.... Caaaak... Caaaaaakkkk.....


Ting...Tong...Ting..... Tong...


Suara gamelan dan api yang berkobar, Terlihat sekelompok orang mengeliling api itu. Dua orang perempuan memakai gaun cantik yang bermotif Bulan membungkus bunga anyelir memandu mereka melakukan tarian itu, tarian pemanggil bulan.


Ranni mendengar suara-suara itu, dia berusaha menyadarkan dirinya. Di intipnya keluar dari balik daun kelapa yang dibentuk seperti rumah dan menutupinya. Rumah itu sangat unik. Mereka seperti hidup bersama alam berbanding terbalik dengan kehidupan di desa Anndin.


Siapakah mereka?


Hihihihihi....


Dia tiba-tiba mendengar suara tawa gadis periang. Dengan tergesah-gesah dia keluar dari rumah itu, semua mata langsung tertuju padanya. Dua wanita yang berdiri dalam kobaran apa tadi datang dan menghampirinya. Mereka melewati kobaran api itu tanpa terluka.


"Kami sudah lama menunggumu" Tyna menarik tangannya dengan lembut.


"Tyna...? Apa kau lakukan padaku? Dimana ini?" dia bertanya dengan wajah kebingungan.


"Aku menyelamatkan mu" jawab Tyna singkat.


"Kenapa kau bawa aku kesini?" tanya Ranni lagi.


Tyna tidak menjawab lalu seorang penari yang menari bersamanya tadi mendekatinya dan membisikannya sesuatu. Terdengar seperti mantra-mantra yang aneh.


Ranni tidak bereaksi ketika wanita itu selesai membisikan itu. Dia mengkerutkan keningnya menatap seluruh orang disitu.


Tyna terkejut melihat Ranni yang tidak bereaksi.


"Ssinnnggggingg... Ringggiiingggg..... Heeeellllppppp.... Usssssss......" Tyna mencoaba membisikan ulang mantra itu pada telinga Ranni dengan nada yang lembut tapi menyeramkan.


"Apa yang baru saja kau bisikan padaku? Kau ingin menyihirku menjadi apa?" tanya Ranni sambil berusaha menahan tawanya.


"Kamu tidak merasakan apapun?" tanya Tyna khawatir.


"Tidak.." jawab Ranni hampir tertawa.


Semua orang disitu menatapnya.


"Siapa kau sebenarnya?" seorang pemuda mendekatinya.

__ADS_1


"Hahahahahha, aku Ranni. Aku bukan penyihir, aku berasal dari negeri yang jauh" dia menjawab sambil tertawa terbahak-bahak.


Semua orang terdiam dan menatapnya, Ranni menghentikan tawanya. Sepertinya orang-orang itu sedang tidak bercanda.


"Siapa wanita ini?" pemuda tadi mencekik Tyna.


"Dia wanita itu, wanita yang memiliki setengah lambang itu" jawab Tyna sambil berusaha melepaskan diri.


"Kenapa dia tidak bereaksi mendengar mantra itu?" pemuda itu terus mencekik Tyna.


Suasana disitu sangat menegangkan lalu seorang anak kecil datang mendekati Ranni.


"Kak ajari kami melanjutkan tarian ini" anak itu menari dengan lincah.


"Aku tidak tahu tarian apa yang sedang kau tarikan itu" Ranni duduk dan membelai rambut anak itu.


Semua orang terdiam, menunggu kejadian berikutnya.


"Dia memang wanita yang kita cari, sepertinya ramalan itu salah" seorang kakek datang, dia berbicara sambil menatap rembulan di langit.


"Bagaiman mungkin ramalan itu salah? Kita sudah menunggunya sejak lama. Dia satu-satunya harapan kita kek" Tyna melepaskan diri dari cekikan pemuda tadi dan mendekati kakek itu.


Kakek itu hanya terdiam terus mengamati rembulan.


"Buku yang menuliskan ramalan itu telah hilang bertahun-tahun, saat itulah suku kita sangat putus asa. Tapi gadis kecil datang membawanya kembali entah itu buku yang sama atau hanya sekedar mirip. Kami memeriksa buku itu, semua ramalannya mirip hanya ada satu kejanggalan dari buku itu...." dia tiba-tiba menghentikan pembicaraannya sambil terbatuk-batuk.


"Apa kejanggalannya?" tanya pemuda yang mencekik Tyna tadi.


"Lembaran terakhir buku itu hilang, sepertinya lembaran itulah kunci dari semua ini. Mungkin saja lembaran itu menjawab samua ramalan ini dan menyuruh kita berhenti karena semuanya sia-sia" jawab kakek itu putus asa.


"Lalu kenapa selama ini kakek terus menyuruh kita untuk tidak menyerah? Aku bahkan pergi menjadi budak pada rumah orang yang telah membunuh kedua orang tuaku. Aku mengikuti ramalan itu dan aku sudah menemukan dia sesuai ramalan" Tyna membantah kakeknya dengan emosi.


Kakek itu tidak memedulikannya, bulan yang menggantung di langit semakin meninggi. Malam semakin larut. Dia masuk ke dalam kobaran api itu lalu mulai menari seperti yang dilakukan Tyna, Tarian pemanggil rembulan. Semua orang yang menyasikan itu menari bersamaan mengikutinya, mereka menari sambil menangis.


Tyna terpaku dalam diam, ketika dia menangis hujan akan turun dan rembulan akan memerah seperti berlumuran darah.


Ranni yang menyaksikan itu terdiam, dia bingung harus melakukan apa. Mereka terus menyebut tentang ramalan dan mengaitkannya pada lambang yang dia miliki. Dia sangat bingung dan kehilangan akal.


Pemuda yang mencekik Ranni tadi datang dan mendekati Ranni.

__ADS_1


"Setidaknya kau pura-pura tahu dan beri kami harapan, lihatlah kami sangat putus asa" dia berbisik ke telinga Ranni kemudian mendorongnya lalu pergi menghilang ke dalam semak-semak.


Tyna mengambil tusuk konde yang menghiasi rambutnya, lalu menusukkan tusuk konde itu ke telapak tangannya.


"TUNJUKAN PADA KAMI, KAMI SUDAH LAMA MEMUJAMU. INIKAH JAWABAN YANG KAU BERIKAN!!!" Tyna berteriak sambil menangis, darah akibat tusukan itu menetes bersama air matanya.


Tyna menatap tajam pada rembulan itu.


"Apa kau lakukan Tyna!!!" semua orang berhenti menari dan berusaha menghentikannya.


"AKU MENGAJAK SEMUA SUKU UNTUK BERPERANG, KITA AKAN MENGULANG TRAGEDI MASA LALU" dia menunjuk bulan yang mulai memerah.


Kakek yang merupakan pemimpin itu terus menari, tariannya semakin cepat.


Hujan sudah turun dari cakrawala yang cerah, Tyna memanggil bencana. Dia berteriak dan menangis. Bulan masih menggantung di atas langit. Darah Tyna yang menetes berpindah ke bulan itu. Dia benar-benar menciptakan gerhana bersamaan dengan turunnya hujan.


Ranni yang tersungkur di tanah bangkit perlahan dia berjalan mendekati Tyna dan memeluk untuk menenangkannya. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Ranni.


"Pergi kau!! Pergi yang jauh!!! Pulanglah ke dunimu, kau akan melihat pertumpahan darah dimana-mana!!!" dia berteriak pada Ranni.


"Tidak kau harus tenang, aku tidak mengerti apapun tentang dunia ini tapi aku bisa rasakan apa yang kau lakukan itu salah" Ranni berusaha terus memeluknya.


"PERGIII!!!" dia berteriak dan matanya mulai memerah.


Semua orang dari suku itu saling berpelukan dan menangis.


Tyna bangkit dan mulai menari di tengah hujan itu, bulan semakin menunjukan sinarnya yang memerah.


Pemuda yang mendorong Ranni tadi datang dan berlari dari semak-semak, dia melihat kekacauan itu. Dia mencoba menghentikan Tyna tapi dia sudah tidak terkendali kemudian dia berlari ke arah Ketua suku mereka yang juga sedang menari dalam kobaran api yang tidak terpadamkan oleh hujan yang diciptakan Tyna.


Tapi semua itu sia-sia. Dengan putus asa dia mengajak semua orang disitu untuk meninggalkan mereka.


Ranni bangkit dia berusaha pergi menyadarkan Tyna tapi kemudian seseorang menarik tangannya.


"Kita harus pergi dari sini" Aqyla mengajak Ranni dan menarik tangannya.


"Kita harus menghentikan Tyna" jawabnya pelan.


Hujan semakin deras dan bulan semakin memerah.

__ADS_1


Aqyla menarik tangan Ranni, dia berusaha menarik tangannya kembali tapi Aqyla tidak membiarkannya. Mereka berlari menembus semak-semak di tengah hujan yang terus berjatuhan.


Bulan sudah memancarkan sinarnya yang memerah seperti darah segar.


__ADS_2