
Flas back on
Aqyla terlihat khawatir dan mundar-mandir di dalam kamarnya sambil mengamati sekelilingnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" dia terlihat sangat cemas.
Dia terus berbolak-balik dari satu tempat ke tempat yang lain.
Bulan yang menggantung di langit mengamatinya seperti sedang memohon ampun.
"Kamu belum memutuskannya?" Afgar tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Kenapa kamu tega melakukan ini pada dia?" Aqyla bertanya sambil menatap tajam pada Afgar.
"Aku lakukan ini untuk menolong mereka" dia mendekati Aqyla.
"Kamu?" dia mundur dan mencoba menghindar dari Afgar.
"Mereka saling mencintai, tidak harus selalu menahannya kan?" dia semakin mendekati Aqyla.
"Kamu tidak seharusnya melakukan itu, kamu tidak seharusnya merusak hidupnya. Jika tubuh itu yang kau inginkan, kenapa harus menghancurkan kehormatannya?" dia berteriak sambil melototi Afgar.
"Kamu memiliki sedikit perbedaan dengan dia. Matamu terlihat lebih cantik" dia memegang dagu Aqyla dan mendekatkan wajahnya.
"Menjauh dariku!!" Aqyla membalikan kepalanya secara kasar.
"Aku bisa mekakukan hal sama pada dua wanita yang mirip. Aku sangat bergairah untuk itu" dia berbisik pelan pada telinga Aqyla.
"Tidak semudah itu!!!" keringatnya mulai bercucuran.
"Apa yang bisa kau lakukan sekarang?" dia semakin mendekatkan tubuhnya pada Aqyla.
Aqyla tidak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya sudah menempel pada dinding.
"Tolong!!!!" dia berteriak histeris.
"Berteriaklah sekeras mungkin, apa kamu berharap patung-patung itu akan bergerak?" dia menunjuk salah satu pelayan yang berdiri mematung.
"Pergi kamu!!!" dia berusaha memukul tubuh Afgar.
"Hmmmmmm, kamu sangat keras kepala" dia menarik nafas panjang lalu mengeluarkan pisau dari sakunya.
"Sudahlah...., dia tidak akan memberikan kalung itu" nona Percilia muncul dari balik pintu sambil menyeret tubuh Anndin yang penuh dengan darah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?!" dia berteriak ketakutan.
"Aku melihat dua Aqyla dalam ruang sama, satunya terbaring tidak sadarkan diri dan satunya lagi sedang berusaha menyelamatkan diri, bukankah itu lucu?" dia melempar tubuh Anndin ke depan mereka.
"Percilia, kamu tega melakukan itu pada orang yang kau cintai?" dia menatap tajam padanya.
"Dia baru saja menghembuskan nafas terakhirnya sepuluh detik yang lalu, apa aku terlalu kejam? Aku berharap tubuhku sedang di rasuki iblis seperti tubuh anak ini" dia menunjuk tubuh Afgar lalu sedikit menyumbingkan mulutnya.
"Hahahahahaha....., kamu berutang pada nyawa anak ini. Aku tidak akan datang menolongmu jika tidak menemukannya" dia mendorong tubuh Aqyla ke lantai lalu mendekati nona Percilia.
"Dimana kau sembunyikan kalung itu?" Percilia berkata lembut sambil tersenyum licik.
------------------------------------------------------------------
Lima jam sebelum itu....
Percilia terlihat menatap kosong wajahnya di depan cermin. Dia terus memikirkan Anndin yang baru-baru ini menemuinya. Setelah sekian lama dia akhirnya bertemu dan bisa menatap matanya yang menenangkan.
"Lihatlah wanita cantik ini, dia akan segera menikah. Apakah yang mengganggu pikirannya?" Afgar menyandarkan wajahnya pada pada bahu Aqyla lalu menatap cermin sambil tersenyum.
"Siapa kamu?" Aqyla kaget dan langsung berdiri.
"Sepertinya tubuh ini tidak terlalu ganteng untuk menjelaskan siapa aku" dia berbicara sambil melihat ke tubuhnya.
"Jawab sebelum aku berteriak" dia menarik tusuk sanggul yang menghiasi rambutnya lalu mengarahkan pada sosok itu.
"Siapa kamu??!" dia memukul tangan Afgar yang menyentuhnya dengan kasar.
"Gadis kecil bermata cantik yang lemah telah tumbuh menjadi iblis lembah seperti prediksiku" dia berjalan mendekati jendala lalu menatap bulan yang menggantung di langit.
"SIAPA KAMU!!!" dia berteriak keras.
"Kamu masih sama seperti dulu, selalu bimbang dan terombang-ambing oleh Perasaanmu" dia berbalik ke arah nona Percilia dan melemparkan sebuah liontin kecil.
"Liontin ini......?" dia menatap sosok itu.
"Dulu ada seorang gadis kecil yang memberikan liontin itu sebelum aku dibuang. Gadis itu merasa sangat bersalah karena perbuatannya terhadapku. Dia memohon dan meminta saran kepada seorang penyihir demi cintanya tapi siapa sangka dia gagal melaksanakan saran itu dan akhinya membuat semua penyihir disalahkan atas perbuatannya. Mereka dibunuh, disiksa, diusir, dan dibantai secara tragis. Lalu bagaimana aku haru membalas gadis itu?" dia mengarahkan pedangnya pada nona Percilia.
"Apa ada orang di luar? TOLONG!!!" dia berteriak ketakutan.
"Penyihir kecil yang malang, dia dibunuh dan arwahnya diasingkan di dunia lain. Arwah penyihir itu berusaha mencari jalan untuk pulang dan membalaskan dendam leluhurnya tapi dia tidak pernah menemukan jalan itu. Gadis bodoh kini mengulang kesalahannya sehingga membuka jalan untuk ku pulang. Bagaimana caraku untuk berterimakasih padanya?" dia menatap tajam pada Aqyla.
"Siapapun tolong aku!!!" Percilia terus berteriak dengan tangan yang gemetaran.
"Kamu meremehkan kekuatan seorang penyihir? Coba bayangkan kira-kira apa yang sudah aku lakukan pada orang-orangmu?" dia tersenyum licik sambil mengamati wajah Percilia yang ketakutan.
__ADS_1
"Apa mau mu?" tanya nona Percilia dan terus mengamatinya.
"Kamu bertanya tanpa menjawab pertanyaanku? Baiklah..., aku akan menjawab. Aku kesini untuk bernegosiasi" jawabnya sambil menyentuhkan ujung pedangnya pada rambut Percilia yang terurai panjang.
"Cepat katakan apa yang kau inginkan" dia berusaha mengatur nafasnya.
"Aku ingin kau membunuh semua orang yang hadir di pertunanganmu sebentar kecuali Ibumu. Dia akan berguna kelak" dia tersenyum seperti rubah.
"Kamu pikir aku gila? Para ketua suku akan hadir sebentar, hanya orang gila yang akan melakukan itu" dia menatap tajam pada Afgar seperti akan segera menelannya bulat-bulat.
"Ohh....., aku menganggapmu lebih gila dari siapapun. Aku tadi sedikit mengintip pikiranmu, kau sedang memikirkan seseorang. Dia itu Anndin tapi bukan Anndin yang akan kau nikahi. Aku sangat terkejut ketika mengetahui fakta bahwa dia membiarkanmu menikah bersama sisi buruknya. Bukankah itu penghinaan?" dia berbicara sambil berjalan mengintari Percilia yang ketakutan.
"Dia punya alasan untuk itu!" Percilia berusaha mengontrol nafasnya sambil mengepalkan tangannya.
"Kamu tahu? Semua orang pasti akan berusaha mengacaukan pertunanganmu besok, mereka tidak akan membiarkanmu menerbitkan matahari. Dia juga membohongimu, kunang-kunang itu tidak berguna" dia membelai rambut Percilia dari belakang.
"Kamu hanya penyihir sialan yang sok tahu!!" dia berbicara sambil menarik nafasnya yang tersenggal.
"Baiklah sepertinya negosiasi ini gagal. Aku hanya ingin memberi kabar, besok Ranni akan datang menemuimu dan mengumumkan kebangkitannya di depan semua orang. Lalu mereka yang menyaksikan itu akan bersorak dan berteriak suka cita bahwa dewi kedamaian sudah datang, dia diberkahi semesta. Saat itulah kau akan dilupakan dan disingkirkan. Hal yang lebih parah adalah Anndin akan kembali dan membunuh Anndin palsu lalu dia menikahi Ranni dan bahagia. Sungguh cerita yang mengharukan" dia berbisik pada Percilia lalu melangkah perlahan untuk keluar dari ruangan itu.
Nona Percilia terdiam sesaat, cerita itu sangat mengganggu dan membuatnya lebih ketakutan.
"Aku belum memutuskan apapun!!" dia berteriak pada Afgar yang hendak pergi.
"Aku harus menunggu berapa lama untuk mendengar keputusanmu?" dia mengabaikan Percilia dan terus melangkah.
"Aku setuju tapi kau harus membantuku" dia berbicara tegas tanpa pikir panjang.
Hahahahahha....
Afgar tertawa mendengarnya kemudian berbalik dan menatap nona Percilia.
-----------------------------------------------------
"Kalian tidak akan pernah menemukan kalung itu, Ranni sudah memiliki salah satunya dan kalung yang lainnya hanya Aku yang tahu keberadaannya" Aqyla yang tidak sadarkan diri tiba-tiba bangun dan menusuk Afgar dengan sebuah pedang dari belakang.
Afgar sangat terkejut dan memegang pundaknya yang berdarah. Percilia mendekati Afgar dengan khawatir.
Dengan cepat dia menarik tangan Aqyla untuk keluar dari ruangan itu.
Bulan yang bersinar terang tanpa henti memperjelas beta miripnya wajah mereka.
"Kamu?" dia berbalik dan menatapnya.
"Aku mendengarkan semua yang kalian bicarakan" dia tersenyum sambil terus berlari
__ADS_1
Kisah tentang kelinci kecil perlahan hilang dilupakan waktu. Tempat itu mulai membeku dalam diamnya yang tidak terjangkau.