
Siapa yang akan menyerah hari ini?
Janganlah menyerah....
Cukup menangis dan serahkan dirimu pada takdir. Cinta yang sudah terlanjur tumbuh harus dijaga dengan baik. Kau hanya butuh waktu untuk terus memendamnya sampai saat ketika kau menemukan tempat lain untuk memindahkan benih-benih cinta yang tumbuh pada tempat yang salah itu....
Aqyla membuka matanya perlahan-lahan tepat disampingnya terlihat Afgar yang duduk mematung.
"Aku baik-baik saja Af...." dia berbicara lembut sambil berusaha merubah posisinya.
"Kamu lebih baik berbaring saja" dia tersenyum lembut pada Aqyla dan membantunya untuk duduk.
"Aku lebih suka dengan posisi ini" Aqyla tersenyum girang pada Afgar.
"Maafkan aku ya...." dia mengusap kepala Aqyla.
"Jangan pernah pergi" dia berkata lembut dengan nada manja.
"Sudah kamu tidur lagi ya...!" dia membantu Aqyla untuk membaringkan tubuhnya.
"Kamu mau kemana?" tanyanya khawatir.
"Aku mau pergi melihat kondisi Ibu sama adikku" jawabnya sambil tersenyum lembut.
"Aku ikut!!!" dia menari lengan baju Afgar.
"Kamu kan masih sakit" dia berusaha melarangnya.
"Aku udah baikan kok, aku takut sendiri disini" jawab Aqyla berusaha meyakinkan Afgar.
Afgar terdiam sesaat, dia tiba-tiba teringat pada kejadian saat Aqyla berlari diantara bunga-bunga ketika mereka ke sekolah tadi pagi. Dia sudah lama tidak pernah ke luar rumah.
"Tapi kamu yakin baik-baik saja?" tanya Afgar kemudian.
"Iya..." dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum bahagia.
Dia membantu Aqyla untuk bangun kemudian mereka melawati lorong-lorong rumah sakit itu dengan tenang. Aqyla memeluk tangan Afgar seolah tidak ingin melepaskannya. Afgar adalah alasannya untuk terus hidup.
******
Flash back on
"Aku tidak sanggup bu.....!!!" dia berteriak dan mengarahkan pisau kepada Ibunya
"Sayang..., Ibu akan mencari obatnya. Ayah tadi bilang sudah menemukan cara agar kau bisa kembali ke sekolah" dia berbicara sambil terisak.
"Aaaaaaaaaa........., IBU TERUSLAH BERPURA-PURA" dia berteriak histeris.
"Sayang, Ibu tidak bohong Ayahmu sekarang sedang di perjalan dia akan segera pulang dan memberikan obatnya padamu" dia berusaha menenangkan Aqyla.
"Hahahahahaha....., Ibu selalu mengatakan itu tapi Ayah tidak pernah pulang!!" dia seperti kesurupan dan terus menjerit seperti orang gila.
Hiks.... Hiks.... Hiks...
Ibu Aqyla duduk ke lantai perlahan-lahan lalu menangis meratapi nasibnya yang begitu sial.
"Matilah bersamaku nak, jangan tinggalkan Ibu sendiri" dia berbicara sambil terisak.
Aqyla yang melihat itu merasa bersalah, dia mendekati Ibunya dan memeluknya. Dia membuang pisau yang ada di tangannya jauh-jauh.
"Ibu akan menemukan obatnya kan? Aku percaya sekarang Ayah sedang dalam perjalanan pulang, aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu" dia memeluk Ibunya dengan erat.
Hiks... Hiks.... Hiks...
Semua orang menyimpan lukanya masing-masing. Setegar dan sebahagia apapun orang itu pasti sedang menyembunyikan luka yang sama.
Tiba-tiba terdengar suara seorang sedang berlarih tergesah-gesah dari kejauhan.
__ADS_1
"Sayang, Aku menemukan obatnya" dia menghampiri anak dan istrinya.
"Ayah?" Aqyla menghapus air matanya.
"Mana obatnya mas?" tanya Ibu Aqyla sambil berusaha bangkit dari duduknya.
"Bagaimana perasaanmu ketika melihat foto ini nak?" dia memberikan Aqyla sebuah foto kecil.
Tampak dari foto itu dua orang anak yang sedang tersenyum bahagia.
"Siapa laki-laki ini Ayah?" dia bertanya sambil mengusap wajah Afgar pada foto itu.
"Itulah obatmu nak, kamu akan aman ketika bersamanya" Ayahnya menjawab dengan suara gemetar.
"Tapi siapa wanita ini?" dia menunjuk wajah Ranni pada foto itu dengan ekspresi tidak suka.
"Wanita itu bukan siapa-siapa. Kamu akan kembali melihat mentari pagi nak" jawab dr. John sambil mengusap kepalanya.
"Kapan Ayah akan membawa dia kesini?" tanya Aqyla lagi.
"Ayah akan membawanya secepatnya" dia berkata sambil berusaha menahan air matanya.
"Ayah sudah menemukannya bu!" dia memeluk Ibunya yang sedang mengamati dengan ekspresi bingung.
Ibu Aqyla membalas memeluknya laku dr. John juga ikut memeluk mereka.
"Aku akan menyingkirkan wanita ini" Aqyla menggunting foto Ranni lalu membakarnya di lilin.
*****
Afgar melirik ke arah Aqyla, dia tersenyum pahit. Sepertinya dr. John menyembunyikan fakta dari Aqyla bahwa mereka adalah saudara tiri.
"Aku akan menatapmu sebagai kekasihku sekarang tapi ketika kita mencapai ujung lorong ini, kau hanyalah saudariku. Kau dan dewi kecilku adalah dua orang yang akan selalu ku lindungi" dia bergumam dalam hati sambil memperlambat langkahnya.
Langkah ini adalah langkah yang panjang, langkah ini adalah sebuah isyarat bahwa kau dan aku hanya menjadi sepasang kekasih sampai lorong ini berlalu. Aku tidak tahu kenapa lorong-lorong rumah sakit selalu menghiasi jalanan takdirku. Kau dan aku hanyalah dua insan yang bertemu disaat yang salah. Lorong ini akan segera berakhir dan aku akan menjadi kakak yang selalu berada disampingmu Aqyla....
"Itu Ibumu?" tanya Aqyla sambil mengamati wajah Afgar yang terlihat sedih.
"Ibumu pasti akan bangun" Aqyla berusaha menenangkannya.
"Dia harus bangun dan menjelaskan semuanya padaku" jawab Afgar lagi masih dengan tatapan kosong.
"Kamu sakit?" Aqyla menempelkan tangannya pada dahi Afgar.
Afgar mendekatkan wajahnya pada Aqyla dan mengamati wajah itu dengan seksama lalu dia tersenyum pahit dan mengalihkan pandangannya.
"Aku punya kejutan untukmu" dia menarik tangan Aqyla.
Saat itu Aqyla sangat terkejut atas apa yang dilakukan Afgar olehnya, untuk pertama kalinya Afgar menatapnya sedalam itu. Dia hanya bisa mengikuti Afgar yang menarik tangannya sambil tersenyum malu-malu.
"Kamu punya kejutan apa?" tanya Aqyla sambil tersipu malu.
Afgar hanya tersenyum dan terus menarik tangannya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Aqyla bingung.
"Kejutannya ada disini" dia menjawab sambik terus tersenyum pada Aqyla.
"Apa kejutannya sangat spesial?" tanya Aqyla yang terlihat semakin kebingungan.
Dia terus menarik tangan Aqyla sambil berusaha terus tersenyum.
"Dia kejutannya" Afgar memegang bahu Aqyla sambil menunjuk seorang bayi yang tertidur dalam tabung.
"Af....? Maksudmu ap?" tanya Aqyla kecewa.
"Mulai hari ini, kau akan menjadi dewi kecilku juga" dia berusaha tegar dihadapan Aqyla dan menyembunyikan rasa sakit di dadanya.
"Af....?" Aqyla semakin kebingungan.
__ADS_1
"Kamu harus memanggilku kakak" dia berbicara sambil mengusap kepalanya.
"AF....!!!!" dia sedikit meninggikan suaranya.
"Ka... Kak..." dia berusaha mengeja kata itu dan berusaha tegar.
"Kamu bicara apa sih Af...?" dia bertanya lagi dengan nada kecewa.
Afgar menggelengkan kepalanya lalu berkata,
"dr. John adalah Ayah biologisku, dr. John juga Ayahmu kan? Jadi kita adalah saudara" dia mengucapkan itu tanpa gentar.
Aqyla mengerutkan keningnya.
"Apa semua ini karena perempuan itu? Aku sudah berusaha membuatmu lupa padanya, kenapa kau masih mencari alasan lain untuk kembali pada pelukannya" suaranya terdengar gemetaran.
"Kamu harus nurut sama kakakmu" dia mengusap kepala Aqyla berusaha menenangkannya.
"Ranni!!!! Kenapa nama itu selalu spesial di hatimu Af...? Kamu ingat kejadian malam itu dan pura-pura lupa dengan bertanya padaku pada pagi hari itu kan? Aku menghargai usahamu untuk tidak membuatku khawatir tapi Af..., aku tidak suka kau bersikap seperti ini!!!" dia melepaskan tangan Afgar yang mengusap kepalanya lalu berlari meninggalkan Afgar sambil terisak.
Afgar menghela nafas panjang dan mengepalkan tangannya.
"Aku memang ingat malam itu, setiap detiknya aku ingat dengan jelas. Aku ingat bagaimana nada-nada yang kau ciptakan itu membolak balikkan ingatanku tentang Ranni tapi nada-nada itu juga membuatku sadar bahwa selama ini aku bersamanya hanya sekedar mengisi posisi Anndin yang sedang kosong di hatinya. Kita merasakan hal yang sama" dia bergumam dalam hati dan mengamati Aqyla yang berlari meninggalkannya.
Maaf aku melukaimu tapi aku harus melukaimu karena jika aku terus menyembunyikan fakta ini kau akan merasakan sakit yang lebih parah dari yang kau rasakan saat ini kelak.
Dia perlahan mengikuti Aqyla yang semakin menjauh, dia tidak boleh membiarkan jarak memisahkan mereka. Aqyla akan berada dalam masalah jika mereka terpaut jarak yang jauh.
Aqyla yang putus asa terlihat duduk di sebuah kursi taman, langit yang tampak jingga sedang memberi kabar perpisahan. Hatinya sangat hancur seperti yang dirasakan cakrawala saat ini. Mereka harus sama-sama melepaskan mentari yang sudah membuat mereka indah.
Hiks... Hiks... Hiks...
"Kamu harus kembali ke kamarmu" Afgar menegurnya dari belakang.
"Aku butuh biola" dia berbicara sambil terisak.
"Aku akan mengambilkannya untukmu" Afgar hendak meninggalkannya.
"Aku akan menghapus setiap kenangan bahagiamu bersama wanita itu" dia menarik tangan Afgar.
Afgar hanya tersenyum pada Aqyla lalu melepaskan tangannya dengan pelan.
Siapa yang tahu takdir begitu sangat kejam. Takdir bahkan mengizinkan cinta tumbuh di hati mereka tanpa menimbang dahulu siapa mereka dan bagaimana hubungan darah mereka.
"Ini..." Afgar memberikannya biola.
"Kamu tidak melarangku memainkannya? Aku akan menghapus setiap kenangan bahagia untuk semua orang yang mendengarkan nada-nada yang ku ciptakan ini tak terkecuali kau" dia berkata sambil menatap Afgar.
"Tidak ada seorangpun yang melarang violinis hebat menciptakan alunan nada yang indah lewat biolanya, pendengar yang baik akan bertepuk tangan ketika kau selesai memainkan biola itu" Afgar berkata sambil mengamati sekelilingnya, dia tidak berani menatap mata Aqyla yang basah oleh air mata.
"Judul lagu yang ku mainkan kali ini adalah selamat terbenam mentariku" dia berkata pada Afgar sambil mengusap air matanya.
Alunan-alunan nada indah yang diciptakan Aqyla memenuhi seluruh ruang taman itu. Semua orang yang ada di taman itu menyaksikannya dengan decak kagum. Mereka seperti larut pada alunan-alunan yang merdu berkat bakat Aqyla.
Afgar terlihat mematung, nada-nada yang diciptakan Aqyla saat ini adalah lagu yang paling menyayat sepanjang masa...
Seluruh dedaunan di taman itu menyaksikan bagaimana mentari Aqyla akan segera terbenam.
Apakah Aqyla mampu melupakan Afgar?
Apakah dia mampu merubah cinta di hatinya menjadi rasa sayang terhadap saudaranya?
Seberapa tegarkah Afgar menyembunyikan perasaannya?
Terus membaca ya...
Jangan lupa tinggalkan jejak dan like biar aku terus semangat Up 😘😘😘
Info:
__ADS_1
-Violinis adalah pemai biola. Berbeda dengan violis karena violis merupakan pemai viola.
Jangan ditukar ya...😉😉😉