Ranni

Ranni
Oleh Waktu


__ADS_3


Estetika cinta menjadikan setiap sudut harapan adalah sebuah kepastian. Andai cinta tak pernah diciptakan, maka sekarang ini aku tidak perlu terjebak dalam teka-teki waktu yang rumit. Aku sangat berharap semua yang sudah kurasakan lenyap begitu saja seperti kilat yang menyambar duniaku. Andai semua kenangan buruk bisa dihapuskan dan masalalu yang kelam bisa ditinggalkan.


Aku butuh seorang saja...


Seseorang yang datang dan berteriak di depanku hingga aku terdiam dan memikirkan kembali bahwa aku salah. Aku ingin dia berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan bahwa cinta itu mesti ada seperti halnya dia ada untukku. Dia menatapku dengan iba kemudian datang dan memelukku setelah itu dia membisikan kalimat yang bisa membuatku menangis.


"Aku akan membantumu mengenal cinta"


Kisah yang mengharukan, itulah kenapa hayalan lebih indah dari kenyataan.


"Ran.., kamu ngapain disini? Aku udah cari kamu kemana-kemana tau" Ella datang dan memukul pundak Ranni.


"Aku tadi bosan nungguin kamu makanya aku kesini" dia menghela nafas panjang.


Ranni melihat kearah Ella dan mengamati formulir di tangannya.


Aku ingin sekali melihat Afgar, aku sangat rindu padanya. Andai aku dan dia bisa jadi teman tapi sepertinya dia orang yang sangat dingin.


Ranni terlihat melamun dan menatap kosong ke tanah.


"Kamu kenapa sih?" dia memegang bahu Ranni.


"Kenapa?" Ella bingung melihat Ranni yang menatap ke arah lain bukan padanya.


"Kamu tahu dia siapa?" Ranni menunjuk orang yang sangat mirip dengan Afgar yang dijumpainya tadi, dia sedang berjalan bersama seorang wanita.


"Ohhhh...., dia itu ketua umum dari organisasi BEMU dan wanita yang berjalan disampingnya adalah tunangannya. Mereka terlihat sangat serasikan?" Ella memonyongkan mulutnya.


"BEMU maksudmu organisasi Beautiful Music?" Ranni bertanya sambil mengkerutkan keningnya.


"Ummmmm" Ella mengangguk heran.


"Berarti dia ketua umum dari organisasi yang akan kau ikuti ini?" dia bertanya sambil memegang bahu Ella dengan dua tangannya dan menatapnya penuh harap.


"Kamu kenapa sih Ran?" dia memegang dahi Ranni mengecek kewarasannya.


"Kapan penutupan pendaftaran organisasi itu?" dia bertanya sambil membesarkan matanya pada Ella.


"Kamu Ranni kan?" dia bertanya sambil mengamatinya dengan seksama.


"Kapaaaan?" Ranni menggoyangkan-goyangkan tubuh Ella.


"Penutupan pendaftarannya hari ini jam 12.40" dia melihat ke jam tangannya.


"Sekarang jam berapa?" tanya Ranni masih dengan ekspresi yang sama.


"Sekarang jam 12.25" dia menjawab sambil mengkerutkan keningnya.


"Apa?" Ranni terlihat khawatir dan langsung berlari seperti sedang di kejar monster.


"Ranni kamu mau kemana?!" dia berteriak dan ikut berlari mengejarnya.


Semua orang yang memutuskan akan menjadia seperti apa dia kelak. Saat inilah kesempatan bagi Ranni untuk memulai kehidupan baru.


Braaaakkk!!!


Ranni membuka pintu dengan sangat kasar dan tergesah-gesah.


Semua orang melihat kearahnya dengan terkejut. Di dalam ruangan itu Afgar terlihat duduk di atas meja, dia melihat ke arah Ranni kemudian mengalihkan pandangannya. Wanita yang berjalan bersamanya tadi terlihat berdiri disampingnya, dia seperti tidak memedulikan kedatangan Ranni.


"Ranni kamu ngapai disini" Arsal mendekatinya sambil terlihat bingung.


"Hei...." dia menyentuh bahu Ranni berusaha menyadarkannya, dia terlihat melamun sambil menatap ke arah wanita yang ada disamping sosok yang mirip Afgar.


"Aqyla? Kamu baik-baik saja?" dia berlari dan langsung memeluk wanita yang berdiri disamping Afgar.


Wanita itu sangat terkejut dan langsung mendorong tubuh Ranni dengan keras sehingga dia jatuh tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Kamu gila ya?" dia terlihat marah bercampur kaget.


"Ranni!!" Arsal datang mendekatinya dan membantunya berdiri.


"Aku....." dia menahan sesak di dadanya sambil menghapus air matanya.


Semua orang melihatnya dengan bingung.


"Ran..." Arsal menatapnya khawatir dan memegang tangannya.


Aku bertemu kalian di tempat yang sama. Kalian pasangan yang sangat serasi, syukurlah pada dunia ini kamu tidak bertemu denganku sehingga kita tidak berbagi kutukan.


Ranni terlihat mematung dan menatap dalam pada Afgar.


Ella tiba dengan tergesah-gesah, dia memberi isyarat pada Arsal yang berdiri disamping Ranni untuk membawanya pergi dari ruangan itu.


"Ran.., sepertinya penyakitmu kambuh" dia menarik tangan Ranni untuk pergi.


Ella menundukan badannya seperti memberi isyarat permohonan maaf dan dia memberi kode pada semua orang di ruangan itu kalau Ranni sedang tidak waras dan kondisi jiwanya terganggu.


Semenjak Ranni bangun dari komanya dan menceritakan kepada semua orang tentang apa yang dia alami sebelum itu. Tidak ada yang mempercayainya dan mereka menganggapnya gila.


Orang tua Ranni terus berusaha untuk mengobatinya. Mungkin semua psikolog yang ada di dunia ini sudah dia temui baik dalam negeri maupun luar negeri. Orang tua Ranni berasumsi sama seperti orang lain bahwa kondisi koma anaknya telah membuat jiwanya terganggu. Ranni sering mendengar Ibunya menangis sendiri dalam kamar. Orang tuanya sepertinya sangat terpukul. Saat itulah dia menyerah untuk memberi tahu semua orang tentang apa yang dia alami itu. Mungkin cukup dia membuat semua orang yang menyayanginya menderita. Dia ingin alur ceritanya yang berbeda kali ini. Julukannya bukan lagi gadis terkutuk dengan seikat bunga tapi gadis anyelir yang mempesona.


"Kalian pikir aku gila?" dia menarik tangannya dan menatap tajam pada Ella, dia sangat tersinggung dengan sikap dua sahabatnya itu.


"Ran..., bukan itu maksudku. Kamu sepertinya kurang sehat jadi kami membawamu untuk istrahat dulu" Ella tersenyum dan mendekatinya dengan hati-hati.


"Aku ingin hidup normal seperti kalian Ell, aku berusaha sebisa mungkin. Kadang aku membenarkan semua perkataan orang bahwa aku ini gila, aku gangguan jiwa. Tapi bagaimana misalnya kamu di posisiku dan merasakan apa sudah aku rasakan, apa yang sudah aku alami? Aku tersiksa Ell.... Bagaimana mungkin aku harus berpura-pura tidak mengenal orang yang pernah aku lihat pada kejadian itu? Aku berusaha menganggapnya sebagai mimpi indah tapi aku sangat merindukan mereka. Kalau aku bisa kembali, aku ingin tertidur dan tidak pernah bangun dari mimpi indahku itu. Meski aku sangat menderita disana tapi aku benci melihat diriku yang sekarang. Aku merindukan mereka Ell, bantu aku melupakannya...." dia memukul dadanya lalu duduk dan menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan aku Ran, iyah aku salah... Aku tidak pernah mengerti kamu padahal aku selalu menyuruhmu untuk bercerita padaku. Maafkan aku..." dia memeluk Ranni dan ikut menangis.


HUAAAAAA.....


Ella menangis dengan kencang dan membuat semua orang dalam ruangan itu bertambah bingung. Kenapa dia menangis seperti itu sedang Ranni yang sedang sedih disini.


"Dia masih sempat berlaku kekanak-kanakan disaat seperti ini, Ell kapan kamu dewasa?" Arsal bergumam dalam hati dan menepuk-nepuk pundak mereka berdua.


HUUUUUUAAAAAAA...


HUUUAAAAAAAAAA.....


Tangisan Ella semakin menjadi-jadi.


Laki-laki yang sangat mirip dengan Afgar itu menggela nafas panjang kemudian mengambil tisu dan mendekati mereka.


"Apa sebenarnya tujuan kalian kesini? Ruangan ini bukan tempat untuk berdrama. Aku paling benci melihat wanita nangis. Apa tidak ada pertunjukan lain selain ini? Aku hampir tidak sabar melihat tingkah aneh kalian!!" dia melemparkan tisu di tangannya pada mereka.


Ella mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sosok itu dengan tajam.


"Dasar psikopat!!! Kamu tidak lihat Ranni lagi sedih?? Kenapa kalimatmu begitu kejam?? Jika kau benci melihat wanita menangis harusnya kamu menghibur dan menghentikannya!!!!!!!!" dia berteriak dan langsung melompat menarik rambut sosok itu.


"Aaaaaaaaaa...." dia berteriak kesakitan.


Semua orang tercengang dan bingung termasuk Ranni. Pertunjukan itu benar-benar sangat konyol. Ella selalu bisa memosisikan dirinya dan menghangatkan suasana yang memanas.


"Maafkan Aku!" Ella bersujud di depan sosok itu memohon ampun.


"Kamu lebih cocok masuk ke organisasi belah diri" dia menghapus darah yang keluar dari hidungnya, sosok itu terlihat berantakan dan babak belur.


"Maafkan kami" Ranni juga ikut bersujud di depan mereka dan menarik tubuh Arsal untuk ikut bersujud juga.


Dia mencubit perut Arsal yang hanya diam.


Kesalahan apa yang sudah ku perbuat? Hmmmmm...


"Maafkan kami" dia menghela nafas panjang sambil mengumpat dalam hati.


"Kalian bertiga tidak boleh masuk ke dalam organisasi ini!!!" seorang pengurus berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah mereka seperti sedang mengutuk.

__ADS_1


"Kak kami minta maaf yang sebesar-besarnya? Kami salah..." dia mengangkat tangannya seperti menyembah dan mohon ampun.


"Keluar kalian, aku tidak akan membiarkan sampah seperti kalian masuk ke organisasi ini" dia menghardik mereka.


"Kaaakkkk..." Ella terus memohon.


"Sudahlah..., aku cukup terharu dengan pertunjukan kalian tadi. Aku akan menerima kalian dengan satu syarat" wanita yang mirip dengan Aqyla tiba-tiba berbicara sambil tersenyum.


"Apa syaratnya?" Ella bertanya sambil melihat ke arahnya.


"Kalian tahukan tidak sembarang orang yang bisa masuk ke organisasi ini? Sampai saat ini jumlah mahasiswa yang mendaftar ada 378 orang dan kami hanya menerima 50 orang untuk bergabung. Ada tiga tahap seleksi yang harus kalian lalui tapi karena kalian sudah membuatku terharu, aku akan langsung menerima kalian dengan syarat kalian harus bisa membuatku menangis ketika mendengarkan alunan musik yang kalian ciptakan sendiri. Aku tidak membatasi alat musik yang ingin kalian gunakan dan waktunya satu minggu" dia berkata sambil menatap ke arah mereka dengan ekspresi mengejek.


"Tapi....., waktunya...." Ella berusaha meminta keringanan


"Aku bisa, kami akan menerimanya" Ranni membalas tatapan wanita itu.


"Ranni...." Ella berusaha menghentikannya.


Ranni mengangguk padanya memberikan isyarat bahwa dia bisa.


"Aku akhirnya ikut masuk dalam kekacauan yang mereka buat" Arsal membatin sambil menghela nafas panjang dan menggaruk kepalanya pasrah.


Ranni apa yang kamu lakukan?


"Aku setuju sama Ranni, kami akan menerimanya" Ella berbicara percaya diri lalu mencubit Arsal.


"Iya, kami akan menerimanya" dia berbicara sambil berusaha menahan sakit.


"Baiklah perkenalkan namaku Mulan dan ini tunanganku Zyin, ini namanya......" dia memperkenalkan semua nama orang yang ada di ruangan itu satu-persatu lalu memberi mereka formulir.


Mereka mengambil formulir dari Mulan kemudian berterimakasih dan pergi dari ruangan itu.


"Ranni apa yang kamu pikirkan?" Ella berbisik pada Ranni khawatir.


"Aku tidak suka mereka memperlakukan kita seperti itu, aku hanya mencoba mempertahankan harga diriku. Hanya itu yang bisa ku lakukan agar mereka tidak mengejekku. Aku sangat malu...." dia mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Tamatlah kita Ran..., aku tidak tahu apa-apa tentang musik" dia terdengar sangat putus asa.


"Kalian tenang saja, aku ahli memainkan biola. Kita setim" Arsal merangkul mereka lalu tersenyum.


Mereka kemudian tertawa kecil dan terus berjalan menjauhi ruangan itu.


"Rannnniii...!!" seseorang memanggilnya dari belakang.


Mereka bertiga berbalik untuk melihat orang itu.


Terlihat Mulan berlari mendekati mereka.


"Maaf yah.., sudah mendorongmu tadi" dia langsung memeluk Ranni.


"Oh.., nggak apa-apa kok" dia menjawab dengan terkejut.


"Aku sangat penasaran sama kamu. Kamu suka menarik perhatian semua orang. Aku hanya ingin memperingati kamu, jangan coba-coba menggoda Zyin, dia itu tunanganku. Meski kamu telah kehilangan samua ingatanmu tapi entah kenapa aku tidak mempercayai itu. Bagiku kamu adalah ancaman" dia berbisik di telinga Ranni kemudian melepaskan pelukannya dan berlari mendekati Zyin yang mengamati mereka dari tadi.


Ranni mengepalkan tangannya, entah kenapa dia begitu ingin melihat Mulan dicampakan oleh Zyin. Ada dendam yang perlahan tumbuh dihatinya setelah mati untuk waktu yang lama.


"Ran..., kamu baik-baik saja?" Ella menggenggam tangannya.


Ranni menangguk pelan....


"Wanita itu seperti lintah kelaparan. Aku bisa melihat jiwa iblisnya meski dia tersenyum ramah" Ella mencibirnya.


"Sudah..., sudah..., kita sudah tidak punya urusan disini. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan" dia mencubit pipi mereka lalu tertawa.


"ARSAAALLL" Kegalakan Ella kumat, dia berteriak dan mengejar Arsal yang melarikan diri.


Ranni berbalik dan melihat sesaat ke arah Mulan dan Zyin.


"Zyin..., aku tidak akan membantumu mengingatku tapi aku berharap kita bisa berbagi kisah. Aku bisa melihat tatapan Afgar dalam matamu meski kau mencoba menyembunyikannya. Jiwa kita pasti tersesat ke dunia ini" dia membantin dan berlari menyusul Ella dan Arsal.

__ADS_1


Ketika dongeng tentang kelinci kecil sudah dilupakan semua orang maka waktu akan mulai mengarang dongeng baru. Tidak ada yang tahu apakah dongeng yang akan dibuat kali ini akan memiliki akhir yang tragis juga. Cerita seperti apakah yang menyertai dongeng itu?


Oleh waktu......


__ADS_2