Ranni

Ranni
Hujan & Rain


__ADS_3


Jalan panjang dan berliku, diantara semua jalan yang ada. Jalanku untuk pulang sudah menghilang beberapa waktu yang lalu.


Swuushh...


Brrrrr...


Angin malam yang dingin.....


Aqyla memegang dadanya yang terasa sesak. Dia hilang kendali dan kesadarannya.


"AQYLA....!!!" Ranni berteriak memanggil namanya.


Aqyla terjatuh dari burung yang ditumpanginya. Tubuhnya yang rapuh melayang-layang di udara malam yang mencekam.


"Aku dan dia merasakan luka yang sama.


Untuk aku yang sedang terluka, kita sedang berbagi luka" Aqyla menutup matanya dan memegang dadanya yang sesak.


Lepaskan....


Aaaaaaaa....


Toloooong.....


Suara itu begitu nyata, aku tidak bisa menutup telinga untuk menghindarinya.


Apa yang harus ku lakukan untuk menolongnya?


Dia menangis di udara yang hampa itu. Kegelapan selalu mencari celah untuk menelan tubuh-tubuh yang selalu rapuh.


Frenc mengarahkan burung yang di tungganginya untuk menangkap tubuh Aqyla yang melayang-layang di udara.


"Aqyla? Kamu baik-baik saja?" dengan wajah cemas Ranni berusaha menyadarkannya.


Tidak ada jawaban apapun, Aqyla terus menutup mata.


"Apa yang terjadi?" Frenc mengangkat tangan Aqyla dan melihat lambang di tangannya yang perlahan berubah warna.


"Kamu tahu sesuatu?" tanya Ranni khawatir.


"Sepertinya raga Aqyla datang ke dunia ini" dia menjawab pelan.


"Tapi kenapa Aqyla sampai tidak sadarkan diri?" tanyanya lagi.


Frenc hanya terdiam dan mengepalkan tangannya. Dia menutupi kenyataannya pada Ranni.


"Ran.., kamu harus pergi sendiri untuk mencegah pertunanganan itu" dia menatap Ranni.


Ranni terdiam sesaat kemudian mengangguk pelan.


"Aku akan membawa pulang Aqyla untuk mengobatinya" dia memapah tubuh Aqyla dan menaiki burung itu.


"Kamu hati-hati ya..." Ranni melirik ke arah Frenc.


"Maaf hanya sampai disini aku bisa menemanimu" dia berbicara lirih.


"Aku baik-baik saja kok" dia tersenyum.


Para penyebab bencana harus menyerahkan dirinya kepada takdir untuk memperbaiki jalan pulang yang telah berlumut. Setiap darah yang menetes adalah kisah untuk dipertanggung jawabkan.


Ranni mengepalkan tangannya dan melihat lurus ke depan. Sepanjang jalan yang jauh itu dia hanya terdiam membiarkan kesunyian membujuknya. Kutukan yang ada pada dirinnya sudah mematikan api semangatnya.


Wanita yang memeluk bumi yang bergetar dan menghijaukan bumi yang porak-poranda mungkin sudah lama menghilang.


"Aku ingin memiliki kehidupan seperti manusia biasa" dia berbisik di tengah malam itu.

__ADS_1


Hujan semakin deras, rasa dingin tidak membuatnya merasa lelah untuk terus melangkah.


"Aku tidak akan pernah bertunangan dengan iblis itu!!!" Anndin berteriak di ruang itu.


"Nak.., nyawa semua orang berada di tanganmu" Ibunya berbicara lirih.


"Apa yang dia rencanakan?" suaranya terdengar sangat putus asa.


"Kamu harus melanjutkan ini nak, kita tunggu apakah dia bisa menerbitkan mentari setelah ini" dia berusaha menenangkan Anndin.


"Dia tidak mungkin berbuat senekat ini, pasti dia sudah memiliki solusi bu!!"


"Kalau begitu ikuti saja rencananya" sambil tertunduk dia melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Pernikahan dua insan, kehancuran dua insan, perpisahan dua insan, dan cinta diantar dua insan.


Siapakah yang akan dipilih waktu untuk berduel kali ini?


Tooooot... Toooot... Toooot.


Bunyi terompet terdengar meraung-raung di udara. Semua mata tertuju pada nona Percilia. Wajahnya yang cantik memancar pesona dan harapan untuk semua orang disitu. Anndin berdiri disampingnya dengan wajah yang dipaksakan untuk bahagia.


Waktu kini sudah tidak pasti lagi, siapa yang tahu sekarang atau menebaknya?


Sekarang siang atau malam yang berlarut?


Ranni berdiri diantara kerumunan orang itu, dia menatap tajam pada nona Percilia yang tersenyum bahagia.


"Aku akan membunuhmu!!" dia menggenggam belati di tangannya dan berjalan cepat menerobos kerumunan orang itu.


Seseorang tiba-tiba menarik tangannya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


Ranni terkejut dan melihat orang itu.


"Kamu?"


"Dimana Tyna?" tanyanya khawatir.


"Aku sudah membawanya di tempat aman" jawabnya pelan.


"Apakah dia baik-baik saja?"


Sosok itu mengangguk pelan.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang Ran? Nona Percilia akan segera menerbitkan mentari, kamu tahu apa yang akan terjadi setelahnya? Dua dunia akan segera hancur" dia tertunduk putus asa.


"Aku berharap aku bisa tapi...." dia menghentikan kalimatnya dan tidak sanggup melanjutkannya.


"Aku sedang menikmati waktu sekarang, malam yang tidak berganti dan esok yang mustahil. Aku rindu pada kedamaian dan harapan yang diceritakan ramalan itu. Seorang wanita tangguh yang akan datang dan memeluk bumi yang bergetar, menghijaukannya, dan memberi jalan kepada semua orang yang sedang hilang arah. Kami semua kini sudah kehilangan harapan itu" dia berbicara sambil menengadahkan tangannya pada air hujan yang terus terjatuh.


"Maafkan aku..." Ranni berbisik dalam diamnya.


"Ran.., apakah kau benar-benar tidak bisa memberi kami harapan?" dia menatap Ranni dengan penuh harap.


"Kenapa kalian percaya padaku? Aku selalu hidup tanpa harapan untuk waktu yang lama, bisakah aku memegang harapan semua orang? Aku hanya akan membuat kalian semakin putus asa" dia tertunduk.


"Kami mengharapkanmu, bisakah kau sedikit tegar?" sosok itu berbalik dan meninggalkan Ranni sendiri diantara deras hujan.


Dia berjalan menembus hujan dengan harapan yang sudah hilang.


Harapan....


Kehampaan....


Kegagalan...

__ADS_1


Semua kata itu memiliki huruf terakhir yang sama.


'An..'


Wajar semua orang akan bingung memilih kata yang mana karena mereka terjebak dan selalu memikirkan akhir yang sama tanpa memulainya.


Bangkitlah...


"Aku percaya padamu Ran.." hujan berbisik padanya.


Ranni mengamati sekitarnya dengan wajah bingung.


"Aku percaya padamu Ran.., kami tunduk padamu. Izinkan kami membantumu" hujan berbisik dengan nada pelan.


"Siapa kamu?" dia mengarahkan belatinya dengan ekspresi khawatir.


Butiran-butiran hujan yang terjatuh membentuk bayangan sosok wanita secara ajaib.


"Jangan takut" dia membelai Ranni.


"Bagaimana mungkin?" dia sangat terkejut.


"Sejak lama aku bersamamu Ran, kau selalu memanggilku untuk menangis bersama. Aku akan menangis bersamamu jika kau gagal tapi aku akan berjuang bersamamu untuk mencegah kegagalan itu. Ikuti kata hatimu" sosok itu menyentuh kalung Ranni.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ranni menatap sosok itu.


"Kau kesini bukannya ingin menghentikan sesuatu? Kembalilah pada tujuan awalmu Ran.., semua orang akan membantumu" dia membelai rambut Ranni lalu menghilang.


Lihatlah ke awal, bagaimana semangatmu kala itu?


Bagaimana tekadmu kala itu?


Masih terlalu cepat untuk menyerah sekarang, kau tidak sedang berjuang tapi membiarkan putus asa memelukmu dalam dekapannya.


Ranni berlari menembus hujan itu....


"Hei...., aku akan memberimu harapan" dia berteriak ditengah hujan memanggil sosok yang semakin menjauh.


Sosok itu berbalik dan mendekati Ranni dengan ekspresi bahagia.


"Aku mendukungmu dan akan selalu membantumu" sosok itu tersenyum melihat Ranni.


"Tapi...., sepertinya kita melewatkan satu hal" Ranni tersenyum malu.


Sosok itu mengerutkan keningnya.


"Apakah kau tidak punya nama?" Ranni bertanya kemudian.


Hahahahahahaha...


Sosok itu tertawa terbahak-bahak.


"Aku memang tidak memiliki nama tapi Tyna selalu memanggilku dengan bersiul hal itu seolah menjadi nama untukku, semua orang memanggilku seperti itu" sosok itu tersenyum seolah menahan kesedihannya.


"Bisa kah aku memanggilmu Rain?" tanya Ranni hati-hati.


"Aku akan menemukan namaku ditengah hujan dan nama itu memiliki arti bahwa itulah asalku, itulah sukuku, itulah kekuatanku. Ibuku dulu selalu mengatakan itu padaku, aku sempat tidak memercayainya dan menganggap itu adalah lelucon tapi hari itu...., hari ketika aku menyaksikan Ibu tiada dia menatapku dan menyuruhku untuk melindungi orang yang akan memberiku nama" dia berbicara pelan.


Ranni terdiam di tengah hujan itu. Ternyata semua orang menyembunyikan luka.


"Tidak ada orang yang berani memberiku nama, mereka percaya pada ramalan itu dan menaruh harapan disetiap kehampaan" dia berusaha tersenyum.


"Namamu Rain" Ranni menarik tangannya dan mengelus telapak tangan sosok itu.


Kalung yang dipakai Ranni menyala, bulan yang perlahan redup di langit tiba-tiba memancarkan sinar yang amat terang. Sinarnya tidak kalah terang seperti sinar mentari yang terik.


Perlahan-lahan muncul lambang setetes air di tangan sosok itu dan sinar rembulan memperjelasnya.

__ADS_1


Harapan itu masih ada...


"Semua berjalan sesuai rencana, Ranni belajarlah menemukan arti dirimu" Anndin berbalik dan menatap bulan di tengah hujan itu.


__ADS_2