
Afgar keluar dari ruangan dokter itu, dia terlihat sangat putus asa. Dia tahu apa yang dimaksudkan dokter tersebut, Ayah yang paling dicintainya bukanlah Ayah biologisnya. Dokter itu bisa saja Ayah yang selama ini disembunyikan kebenaranya oleh Ibunya. Dia terus bertanya pada dirinya, kenapa Ibunya selalu menyuruhnya untuk membenci Ayah biologisnya. Dia sangat menyayangiku terlihat dari perlakuannya tadi. Aroma teh yang diseduhkan dokter itu seperti membuatnya mengingat aroma rumahnya sebelum mereka pindah.
"Dia pasti Ayah biologisku" dia bergumam lirih sambil terus berjalan.
Afgar terlihat memandangi adiknya dari balik jendela, dewi kecil itu sedang tertidur dalam tabung. dia terus mengamati ada yang aneh pada wajahnya. Wajah itu seperti pernah dilihatnya, di mengkerutkan keningnya berusaha mengingat dimana dia pernah melihatnya.
Matanya tiba-tiba tertuju pada dua orang perawat yang terlihat sedang mengumpat adiknya, itu perawat yang mencibirnya tadi.
Apa yang salah pada keluarganya?
Dengan geram dia melangkah cepat memasuki ruangan tempat adiknya disimpan, semua orang terlihat berusaha mencegahnya tapi amarahnya terlanjur membara. Dia mencekram kerah baju suster itu, suster itu berusaha melawan sekuat tenaga. Tapi cenkraman Afgar tetap melekat pada kerah bajunya.
"Kenapa kau terus mengusik anggota keluargaku? Dewi kecilku itu tidak berdosa, bicaralah padaku kalau kau membenci kami, aku akan memindahkan keluargaku ke rumah sakit lain!!!" Afgar terdengar berusaha mengontrol nada suaranya, ruangan itu penuh dengan bayi-bayi tidak bersalah. Dia masih punya hati untuk tidak membuat mereka terkejut.
Dari luar ruangan semua orang berteriak, mereka masuk dan menyelamatkan bayi mereka masing-masing.
Dengan tampak muka yang begitu sombong, suster itu berkata,..
"Mungkin karena kau juga tidak lahir dari rahim wanita makanya sifatmu juga begini?" dokter itu berkata sambil tersenyum licik.
"Apa maksudmu?" Jawab Afgar sambil terus memperkuat cengkramannya pada suster itu.
"Hahahaha, Ibumu tidak memiliki rahim tapi dia masih bisa mengandung dan melahirkan bayi aneh itu, bahkan bayi itu memiliki tanda aneh di dahinya" suster itu menjawab dan berusaha melepaskan cenkramannya.
Mendengar itu Afgar terkejut, dia menghempaskan tubuh suster itu ke dinding. Dengan langkah cepat dia pergi mendekati tabung tempat adiknya tertidur, wajah itu persis sama seperti yang dilihatnya di album misterius yang dia temukan di kamar orang tuanya. Dia ingin memastikan lambang di dahinya apakah sama persis dengan lambang di foto bayi kecil pada album itu.
Tapi petugas datang dan memegang tangannya mereka memaksa Afgar untuk keluar dari ruangan itu, Afgar menjerit dan berusaha melepaskan diri dari petugas itu. Semua itu percuma karena tenaga Afgar sudah sangat lemah. Dia hanya bisa terus melihat dewi kecilnya berusaha mengingat lambang yang ada di dahinya. Suster itu terlihat mendekati adiknya sambil tersenyum licik.
Dengan sekuat tenaga Afgar berteriak....
"MENJAUH DARI DEWI KECILKU!!!" suaranya menggema dan terdengar saperti raungan amarah.
Semua orang disitu terlihat memandang Afgar seperti orang gila...
"ohh... dia anak dari pasien yang melahirkan tanpa rahim itu?" salah seorang Ibu berbisik pada Ibu yang disebelahnya.
"Sepertinya begitu" jawab Ibu yang lain.
"Mungkin Ibunya tergabung dalam golongan penyembah setan" sanggah Ibu yang lain.
__ADS_1
Mereka terus mencibir Afgar,...
Afgar memandang sinis ke arah mereka.
"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN" Afgar berteriak sambil menunjuk-nunjuk mereka.
Tapi mereka hanya tertawa kecil seperti sedang mengejek Afgar.
Para petugas menghempaskan tubuh Afgar ke tanah, dia berusaha bangun dan berlari ingin masuk ke rumah sakit itu kembali. Para petugas itu dengan sigap menahan Afgar sebisa mungkin karena Afgar terus memberontak mereka akhirnya menelepon polisi. Anak yang malang....
Para polisi datang dan memborgol tangan Afgar, dia dibawa ke dalam salah satu sel dan dikurung. Dia hanya pasrah....
Dilihatnya sekeliling ruang tahanan itu berharap dia menemukan sosok Ayahnya disana namun semuanya sia-sia, Ayahnya tidak ada disana. Dia kemudian mengeluarkan album kecil dari kantungnya. Foto bayi kecil dalam album itu terus diamatinya.
"Kenapa muka dan lambang ini sama seperti dewi kecilku?" Dia mengelap air diwajahnya, entah itu keringat atau air mata atau keringat yang bercampur dengan air mata....
Dia memeluk album itu dan menutup matanya. Rasa kantuk berhasil membuatnya tenang. Semua orang yang dicintainya sudah pergi meninggalkannya, satu-satunya orang yang dia cintai adalah dewi kecilnya itulah yang membuatnya terus bertahan.
"Tragedi ini terus mengikat kita Af..." Ranni menatap Afgar sambil menangis.
"Aku akan mengakhiri ini Ran, bertahanlah" jawab Afgar sambil menghapus air mata Ranni.
"Tidak Ran, aku akan menemukan jawabannya" dia berusaha menenangkan Ranni yang terus menangis.
Ranni memasukan tangannya ke dalam mulutnya dan menarik setangkai bunga Anyelir dari mulut itu. Dia hendak menusukkan bunga itu ke perutnya, Afgar berusaha mencegahnya. Tapi badannya serasa kaku, dia tidak bisa bergerak. Ranni nekat ingin membunuh dirinya menggunakan batang bunga Anyelir yang runcing itu.
"Tidaaaakkkkk!!!" Afgar berteriak sekeras mungkin, Ranni sudah berlumuran darah...
Seorang polisi berusaha membangunkan Afgar. Itu hanya mimpi, di dunianya sangat kacau bahkan dunia mimpinya juga tidak membantunya.....
"Kau dibebaskan" petugas itu berbicara dengan nada tegas.
Dengan tertatih dia keluar dari sel itu, album kecil itu dimasukan ke dalam kantung sakunya lagi. Dia tidak ingin semua orang tahu dan melihat foto-foto pada album itu.
Seseorang menunggunya di luar, itu adalah Ayah biologisnya. Sambil menghela nafas dia mendekati sosok itu.
"Aku tahu ini berat nak, tanggung jawab ini mari kita pikul bersama" dia memegang pundak Afgar sambil tersenyum dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
Afgar hanya menurut, setidaknya ada yang memberinya jalan untuk pulang....
__ADS_1
"Panggil saja dr Jon, aku tahu kau masih terkejut" dia memancing Afgar untuk berbicara yang terlihat terus melamun dari tadi.
Afgar tidak menggubrisnya, pandangnnya mengambang jauh ke luar jendela....
"Ibumu itu orang baik Af" dia terus mencoba agar Afgar berhenti melamun.
"Kenapa kalian bercerai?" Afgar terpancing dan mengalihkan tatapannya.
"Kami hanya tidak cocok" jawab dr. John singkat.
"Kau tahu semuanya kan?" dia balik bertanya lagi.
"Aku tahu semuanya, dulu aku sangat mencintainya tapi aku terlalu pengecut untuk ikut terjerat pada masalah ini" jawabnya pelan.
"Ayah meninggalkan Ibu waktu dia mengandungku?" dia terus menyerang dr. John dengan beribu pertanyaan.
"Aku dulu tidak tahu kalau Ibumu mengandung, jika aku mengetahui itu mungkin aku akan bertahan disampingnya dan membantunya keluar dari masalah ini" jawabnya masih dengan nada yang pelan.
"Sejak kapan Ibu kehilangan rahimnya?"
"Ibumu dulu mengidap penyakit kista, dia dulu tidak ingin operasi karena dia tahu operasi itu akan mengakibatkannya tidak bisa mengandung tapi akulah yang meyakinkannya" dia berkata pelan sambil menghela nafas.
"Bagaimana Ayah tahu kalau Ibu mengandung setelah itu?" dia masih terus bertanya.
"Setelah bercerai dengan Ibumu, dia kemudian menikah lagi tapi pernikahannya tidak cukup satu hari. Dia membunuh Suaminya tepat di malam pernikahannya" jawabnya lagi.
"Kenapa Ibu bisa membunuhnya?"
"Ibumu bebas dari tuduhan itu, kamera CCTV di lokasi kejadian merekam kalau suaminya itu membunuh dirinya sendiri" dia terus menjawab pertanyaan Afgar tanpa menyembunyikan satu hal pun.
"Kenapa kau yakin kalau itu Ibu yang membunuhnya?"
"Entah kenapa rekaman itu menunjukan kejadian yang berbeda ketika aku yang melihatnya, aku memberi tahu semua orang akan hal itu tapi mereka menganggapku gila"
"Ayah sudah terjalin dalam kutukan ini..." Afgar berbicara sambil menerawang keluar jendela.....
Siapa dalang di balik semua ini?
Siapa yang mengawali tragedi ini?
__ADS_1