
Tak.... Tak.... Tak.....
Jam yang menggantung pada dinding kamar itu menggelitik telinga Ranni. Dia membuka matanya perlahan-lahan.
Matahari sudah bersinar sangat terang, diliriknya jam itu.
"Sekarang sudah pukul 11.00, apakah aku tidur selama itu?" dia kemudian bangkit dan duduk di tepi ranjang.
Setiap detik berarti bagi semua orang tapi mereka tidak menyadari bahwa waktu itulah yang menciptakan bencana. Satu-satunya yang paling dibenci Ranni adalah waktu. Dia mencoba mencari tahu kenapa dia sangat membencinya, serangkaian tragedi yang terjadi padanya selalu mengisahkan tentang kekejaman waktu.
Kenapa waktu hanya menunjukan kekejaman pada ku?
Tok.... Tok.... Tok....
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Ranni bergegas dan lekas membuka pintu itu. Seorang pelayan yang ditugaskan untuk menjaganya berdiri di depan pintu, dia membawa semangkuk bubur dan segelas susu. Dia masuk dan meletakan makanan itu di meja. Ranni dengan sigap mengunci pintu kamarnya kemudian mendekati wanita itu.
"Aku tahu kau mengetahui sesuatu tentangku, katakan bagaimana caranya aku bisa pergi dari dunia ini?!" Dia berbicara sambil menghadap ke pelayan itu dengan ekspresi penuh harap.
Pelayan itu tidak bereaksi, dia berusaha membuka pintu tapi Ranni sudah menguncinya.
"Kau tidak bisa menyembunyikannya, matamu sedang memohon padaku untuk segera membebaskanmu dari dunia ini" tangannya memainkan kunci kamar yang sedang di cari pelayan itu.
Pelayan itu mendekati Ranni dengan sigap dan mencekik lehernya.
"Berikan itu padaku!!" keringatnya bercucuran.
"Aku tidak akan memberikan ini" dia menggenggam kunci itu sambil berusaha terus bernafas.
"BERIKAN!!!" pelayan itu berteriak dan mulai marah.
"Setidaknya beri aku petunjuk, aku akan menyebabkan bencana disini" Ranni memohon pada pelayan itu.
"Aku tidak tahu apapun tentang kehacuran yang kau ceritakan itu" dia mengambil kunci yang digenggam Ranni.
Pelayan itu hendak membuka pintu tapi kemudian Ranni menarik tangannya. Matanya tertuju pada lambang note musik yang ada di tangan pelayan itu, lambang itu berwarna kuning keemasan.
Pelayan itu marah dan menghempaskan tangan Ranni dengan kasar.
"Jangan pernah menyentuhku dan sok tahu tentangku" pelayan itu mengancam Ranni.
"AKU MOHON!!!" Ranni bersimpuh pada pelayan itu.
Pelayan itu berbalik ke arah Ranni, dalam matanya tersimpan banyak rahasia. Tebakan Ranni sepertinya benar. Dia membutuhkan pertolongan.
"Ikuti suara itu..." pelayan itu berbisik lirih dan pergi meninggalkan Ranni yang masih bersimpuh.
Ranni mengejar pelayan itu, dia berhasil menyusulnya. Untuk yang kedua kalinya dia menarik tangan pelayan itu.
"Siapa namamu?, biarkan aku mengetahuinya" tanya Ranni sambil terus mengamati lambang note musik di tangan pelayan itu.
"Aqyla" dia menghempaskan tangan Ranni sambil berlalu.
Ranni terdiam dan terpaku, pelayan itu sangat misterius.
Matanya kemudian beralih pada tiga orang pelayan yang sedang membersihkan kaca dan diam-diam mengawasi mereka. Ranni mendekati salah satu pelayang itu.
"Kamu mengenalnya?" tanya Ranni pada pelayan itu.
"Aku mengenalnya tapi....." pelayan itu berbicara gugup.
"Apa kamu pernah melihat lambang di tangannya?" tanya Ranni lagi.
"Lambang apa?" pelayan itu seperti bingung.
__ADS_1
"Oh.... lambang seperti ini?" salah satu pelayan yang lain mendekati Ranni sambil menunjukan lambang miliknya.
"Iya lambang seperti itu, tapi kenapa lambang miliknya berbeda dengan lambang milikmu?" tanya Ranni yang sedikit terkejut.
"Ini...." pelayan itu hendak menjelaskan.
Ranni menarik tangan pelayan itu dan membawanya ke kamar.
Sementara dua pelayan yang lain terlihat khawatir.
"Ayo ceritakan...!" suruh Ranni dengan penuh harap.
"Lambang ini merupakan simbol yang menunjukan kalau kamu berasal dari keluarga mana, lihat lambang milikku ini!" pelayan itu mengamati dan mengusap lambang miliknya.
"Leluhurmu dulu seorang putri duyung?" tanya Ranni dengan terkejut.
"Hahahaha, lambang Ikan bukan berati aku berasal dari keturunan duyung" pelayan itu tertawa sambil memukul Ranni.
Ranni terkejut melihat perlakuan pelayan itu, pelayan itu begitu ramah dan konyol.
"Maaf non" dia menyadari perlakuannya pada Ranni dan tertunduk.
"Nggak apa-apa kok, aku suka orang sepertimu. Kamu memberikan energi positif pada semua orang" Ranni tersenyum sambil memegang tangan pelayan itu.
"Aku berasal dari keluarga nelayan, lambang ikan ini berarti itu" pelayan itu kembali mengusap lambangnya sambil membalas senyum Ranni.
"Aku sangat berterimakasih padamu tapi kenapa lambang milikmu berwarna hitam? lambang milik Aqyla berwarna kuning keemasan" tanya Ranni sambil mengkerutkan keningnya.
"Aku juga tidak tahu tapi aku pernah membaca buku dari leluhurku sebelum buku-buku itu kemudian di musnahkan" pelayan itu mulai mengingat-ingat.
"Apa yang kau baca?" tanya Ranni penasaran.
"Aku mengingat betul pepatah itu tapi kami dilarang untuk memberi tahu siapapun" jawab pelayan itu.
"Aku akan menyimpan rahasimu jika kau memberi tahuku, aku akan memberi tahumu juga Rahasiaku" Ranni berusaha meyakinkan pelayan itu.
"Jangan menyalakan lilin di malam hari, lambang-lambang itu akan menyala bersama lilin. Bulan akan menuntumu menemui rohmu bersamaan dengan bunga-bunga anyelir yang mengeluarkan aromanya yang khas. Tetapi para penguasa waktu yang berkhianat akan membentuk dinding dengan bantuan roh suci dari leluhur para pembuat petir dan guntur yang tertipu......" pelayan itu berbisik di telinga Ranni dengan nada yang menyeramkan.
Ketika dia akan melanjutkan lirik-lirik itu tiba-tiba mata pelayan itu tertuju pada lambang di telinga Ranni. Dia reflek mendorong tubuh Ranni.
"Ada apa?" tanya Ranni terkejut.
"Kamu.......!!!" Pelayan itu terlihat ketakutan.
"Apa yang salah?" tanya Ranni kebingungan.
"Kamu siapa?" tanya pelayan itu kemudian.
"Aku Ranni, mungkin kamu sudah merasakannya. Aku berasal dari dimensi lain dan akan membawa bencana untuk kalian semua, itulah rahasiaku" jawabnya lirih.
"Bukan itu, tapi lambang di telingamu" jawab pelayan itu sambil menunjuk ke arah telinga Ranni.
"Aku tidak memiliki lambang apapun" dia tampak kebingungan.
Pelayan itu mendekati Ranni kemudian menarik tangannya dan membawanya ke depan cermin. Dia membuka beberapa helaian rambut Ranni yang menutupi lambang itu dan menunjukan lambang itu.
"Sejak kapan aku memilikinya?" tanya Ranni kebingungan.
"Ramalan itu sepertinya benar, aku menemukanmu" pelayan itu memeluk Ranni.
"Maaf aku tidak mengerti maksudmu" Ranni melepaskan pelukan pelayan itu.
"Perkenalkan namaku Tyna, aku turunan terakhir dari leluhurku yang siap melayanimu dan akan terus melindungimu" Pelayan itu bersujud di depan Ranni.
__ADS_1
"Aku sungguh tidak mengerti maksudmu" dia semakin bingung.
"Leluhurku percaya akan ramalan bahwa bulan akan mengembalikan kami pada roh kami yang sudah lama dipisahkan. Disini bukanlah tempat kami, aku bersama keluarga dan leluhurku dulu tinggal di seberang laut sangia" dia menceritakan asal-usulnya.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Ranni.
"Dulu waktu aku berumur enam tahun, para tetuah dari suku kami menemukan seorang gadis kecil di tengah laut sangia. Mereka percaya bahwa anak itu merupakan kiriman dari bulan, dia memiliki setengah dari lambang yang kamu miliki itu" jelas Tyna.
"Lalu dimana sekarang anak itu?" tanya Ranni.
"Ketika kabar tentang anak itu menyebar ke seluruh negeri ini, banyak orang-orang yang mengecam kami untuk membunuh anak itu. Banyak dari mereka yang tidak sependapat dengan kami. Mereka memiliki prinsip yang berbeda dengan kami. Kembali pada roh merupakan suatu penghinaan bagi mereka" Tyna terus menjelaskan pada Ranni.
"Kemana perginya anak itu?" rasa penasarannya tidak terbendung lagi.
"Semenjak kehadiran anak itu suku kami dihancurkan. Mereka membakar tempat tinggal kami, membunuh, dan membantai semua orang yang memiliki lambang sepertiku. Meskipun begitu mereka tetap tidak menemukan anak itu, aku tidak tahu siapa yang menyembunyikannya. Kami semua yakin kalau anak itu masih hidup" Tyna melanjutkan ceritanya.
Ranni terdiam, mungkinkah anak itu adalah dia?
Tapi ini untuk pertama kalinya dia datang ke dunia ini.
"Aku bukan anak itu" jelas Ranni.
"Aku tahu anak itu bukan kamu, dia memiliki lambang itu di belakang lehernya dan kamu memilikinya di belakang telingamu. kalian saling berbagi lambang itu. Kamu memiliki setengahnya dan diapun begitu, pasti kamu memiliki hubungan dengan anak itu" dia berbicara pelan.
"Apa maksud dari lambang ini?" tanya Ranni pada Tyna sambil memerhatikan lambang itu di depan cermin.
"Simbol bulan yang membungkus bunga anyelir menandakan kelemahan waktu. Kamu akan menghancurkan dimensi ini dan mengembalikan kami pada roh kami masing-masing" Tyna menerawang dan melihat keluar jendela.
"Aku masih belum mengerti" dia sangat kebingungan.
Pelayan itu membuka jendela, langit yang kosong tanpa bintang, tanpa bulan terlihat sangat jelas sinar mentari yang terik.
Jangan menyalakan lilin di malam hari.... lambang-lambang itu akan menyala bersama lilin.....
Bulan akan menuntunmu menemui rohmu.... bersamaan dengan bunga-bunga anyelir yang mengeluarkan aromanya yang khas.....
Tetapi para penguasa waktu yang berkhianat akan membentuk dinding dengan bantuan roh suci dari leluhur para pembuat petir dan guntur yang tertipu.......
Mereka tertipu tapi kami tidak....
Kami pasrah dan akan membantu bulan....
Langit akan dipenuhi bintang-bintang....
Dan semua orang mulai meramal....
Rasi-Rasi bintang yang memberi kami petunjuk...
Kami suku yang meninggalkan darah kami di lautan.....
Tyna mulai bernyanyi dengan lirik-lirik yang dibisikan pada Ranni tadi. Dia bernyanyi sambil menari dengan tarian yang indah, tarian yang penuh dengan penjiwaan.
Kami suku yang menyebrangi lautan....
Kami suku yang mengetahui semua rahasia kalian....
Salah satu dari kami akan menemukan simbol itu....
Dan menyelamatkan waktu yang bodoh....
Tyna mengakhiri tariannya dengan membentuk gerakan seperti sedang menggenggam bulan.
Ranni yang melihatnya tersenyum dan terkesima.
__ADS_1
"Tarianmu indah sekali, nyanyianmu itu....." Ranni tiba-tiba linglung dia terjatuh ke lantai dan kehilangan kesadaran.
"Aku menemukannya, tunggulah sebentar lagi" Tyna mengambil kunci dari saku Ranni dan mengunci pintu kamar itu.