Ranni

Ranni
Tragic 02


__ADS_3


Ketika malam semakin larut dan matamu merengek untuk terus melihat dunia yang kejam, ikuti apa maunya. Ada sebuah rahasia yang akan ku dongengkan agar malammu tidak munafik.


Malam ini malam yang panjang. Hari esok tidak pernah ada karena malam ini aku menghabiskannya untuk menatap bulan. Berhentilah memuji bintang, sesungguhnya dia tidak pernah menemani bulan. Kalian harus tahu dongeng itu palsu. Bintang dan bulan terpaut jarak yang sangat jauh....


Mustahil jika mereka menemanimu setiap malam sambil bermesraan. Dua cahaya malam itu memiliki kisah yang sangat sedih. Aku ingin semua bintang jatuh malam ini dan tersesat di langit malam yang gelap. Satu-satunya jalan untuk bintang yang tersesat adalah pelukan bulan yang rindu.


Selamat malam Ranni...


Guuukkkk..... Guuukkkk.... Guuuukkkk....


Malam yang sunyi waktunya burung hantu bernyanyi sambil menyaksikan bulan yang terus merindu.


Malam yang panjang......


Sekarang pukul 6.30 pagi. Ranni membuka jendela kamarnya sambil tersenyum.


"Selamat pagi waktu, aku masih menepati janjiku. Kemarin hari yang sangat panjang dan melelahkan. Apakah kau sudah mulai mencintaiku?" dia merenggangkan tulang-tulangnya sambil mengamati ke luar jendela.


Setelah puas mengamati mentari pagi dan menyapa waktu seperti janjinya, dia melangkah masuk ke kamar mandi untuk mengawali aktifitasnya hari ini.


"Hari ini pasti memiliki banyak hal yang menyenangkan untuk dilalui" dia tersenyum sambil mengibaskan air ke tubuhnya.


Entah kenapa pagi itu dia sangat bahagia. Seperti sesuatu yang baik akan segera menjumpainya.


Tapi....


Sebenarnya apa yang dia rasakan kali ini merupakan kebahagian sebelum nestapa datang merenggutnya.


Mungkin dia akan menjadi Ranni sesuai takdirnya pada esok, lusa, dan beberapa hari kedepan.


Sepanjang jalan menuju kampus dia terus tersenyum. Dia bahkan sempat bersiul mengikuti burung-burung bernyanyi yang bertengger di dahan pepohonan yang megah.


Cerah di wajahnya tiba-tiba redup sekejap. Mobil ambulance dan mobil polisi yang parkir di depan kampusnya seolah mengirim berita buruk untuknya.


Siapa yang pergi?


Siapa yang terluka?


Siapa yang sekarat?


Ranni berlari menembus kerumunan wartawan yang berbaur dengan beberapa mahasiswa yang penasaran. Dia seperti merasakan keterkaitan dengan masalah itu. Bercak-bercak darah segar menodai tanah pagi yang merona.


"Darah siapa ini?" dia bertanya ke mahasiswa yang berdiri disampingnya.


"semua orang juga heran, tidak ada yang bisa menemukan jasad sumber darah ini padahal para polisi dan satpam sudah 1 jam berkeliling mencarinya" orang itu menjelaskan tanpa melihat ke arah Ranni.

__ADS_1


Ranni terdiam beberapa saat kemudian dia memutuskan untuk mengikuti tetes-tetes darah yang menodai tanah di pagi harinya. Dia terus mengitu jejak-jejak darah itu dengan teliti.


Keramik, kayu, dan aspal sudah di buatnya berdosa padahal mereka hanya sasaran tempat persinggahan terakhir darah yang segar.


Aaaaaaaaaaaaaaa.......


Ranni berteriak histeris ketika melihat mayat seorang mahasiswi yang duduk di sebuah kursi dengan mulut menganga dan matanya melotot melihat ke papan tulis. Dia tidak sanggup berdiri sehingga tubuhnya langsung ambruk ke lantai. Tidak ada pijakan karena dia satu-satunya orang yang berdiri di depan ruangan itu.


Aaaaaaaaaaaaaaaaa......


Tooooloooooong......


Dengan sisa tenaga yang ada dia berteriak berusaha memanggil semua orang untuk segera datang.


Beberapa polisi berlari ke arahnya. Mereka sangat terkejut ketika melihat mayat itu. Sebelumnya sudah berulang kali mereka memeriksa ruangan itu tapi tidak menemukan apapun dan sekarang mayat itu tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya.


"Orang yang menyebabkan masalah akan menghentikan sihir" seseorang keluar dari ruangan itu dan berbisik ke telinganya.


"Pak..., sepertinya orang itu mencurigakan" Ranni menarik tangan salah satu polisi dan menunjuk ke arah orang itu sambil berusaha menenangkan dirinya.


"Orang yang mana?" polisi itu mengamatinya dengan bingung.


Ketika Ranni hendak membantah polisi itu. Seseorang memanggilnya sehingga dia menoleh ke orang itu.


"Ranni.....!!" dia mendekat dengan ekspresi khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" dia langsung memeluk Ranni dengan erat.


Hiks.... Hiks... Hiks....


Ranni meluapkan semua emosi dan kesedihannya di pelukan Zyin.


"Lihat aku!!" dia memegan wajah Ranni.


Ranni terus menangis dan tidak memedulikan perkataan Zyin.


"Tatap aku!!!!!" dia sedikit berteriak ke Ranni.


"Apa yang ingin kau tunjukan" dia menatapnya sambil menangis.


"Lihat aku baik-baik, apa yang kau lihat?" dia menghapus air mata Ranni di pipinya.


"Aku...... Aku...., kenapa kau memiliki dua wajah?" dia menjawab dan semakin menangis.


Dia memeluk Ranni.


"Kamu harus mengerti ini Ran..., ini aku Afgar tapi tubuh ini bukan milikku. Hanya kau yang bisa melihat bayanganku di tubuh ini. Kamu tahu kan maksudku?" dia berbisik di telinga Ranni sambil membelai rambutnya.

__ADS_1


Ranni seperti hilang akal ketika mendengar ucapan Zyin. Matanya semakin berat, dia kemudian pingsan di pelukan Zyin.


Zyin berlari sambil menggendong Ranni. Dia langsung membawanya ke UKS.


Af.....


Af.....


Af.....


Ranni terus mengigau sambil memanggil namanya. Zyin menggenggam tangannya dengan erat berusaha menenangkannya.


"Zyin....!!!" Ella berlari sambil memanggil namanya


"Ell, aku disini" dia menjawab dengan suara pelan.


Dia langsung menemuinya dengan nafas terengah-engah.


"Ranni yang menemukan mayat itu?" dia langsung bertanya.


Zyin mengangguk pelan.


"Apa yang harus kita lakukan? Semuanya sudah terjadi" dia duduk ke lantai dan mulai menangis.


Zyin hanya terdiam, dia tidak tahu harus berbuat apa. Semua ke khawatiran mereka sudah terjadi.


Salah satu orang yang menyaksikan kejadian itu sudah tewas secara tragis. Setelah itu pasti akan ada kejadian yang sama. Bagaimana mencegah hal mengerikan seperti ini untuk tidak terjadi?


Selamat datang bencana....


"Kemana Arsal?" dia bertanya dengan hati-hati pada Ella yang sedang menghapus air matanya.


"Aku juga belum melihatnya sejak kejadian kemarin?" dia menjawab dengan suara serak.


"Ada yang aneh pada Arsal" dia bergumam pelan.


"Apa maksudmu? Kamu curiga kalau dia menyebabkan semua ini?" dia bertanya dengan emosi.


"Bukan itu maksudku Ell, hanya saja...." dia berusaha menenangkannya.


"Hanya saja apa? Kamu harusnya mencegah Ranni untuk tidak datang ke dunia ini sehingga menyebabkan bencana ini. Aku tahu ada yang aneh pada kecelakaan itu. Kamu dan Ranni selamat secara ajaib. Kamu membatalkan pertunanganmu dengannya ketika kau sadar dan kemudian memilih Mulan untuk menjadi calon istrimu. Apa kamu pikir aku tidak bisa membaca kejanggalannya? Harusnya kamu tanya ke dirimu siapa yang paling cocok menjadi penjahat untuk disalahkan!!!!" dia berteriak lalu meninggalkannya.


Zyin hendak mengejarnya untuk menjelaskan semua itu tapi Ranni menarik tangannya. Zyin menoleh ke arah Ranni, dia terlihat menggelengkan kepalanya sambil menangis.


"Ella benar, aku harusnya tidak datang ke kehidupan ini" dia berbicara sambil menahan air matanya.


"Ran..., semua ini bukan salahmu. Kamu tidak pernah meminta siapapun untuk membawamu ke sini. Pasti ada alasan dan penyebabnya. Kamu harus kuat, kita harus mencari tahu siapa pembunuh brutal yang melakukan semua ini" dia menatap Ranni dan memegang bahunya untuk menguatkannya.

__ADS_1


Pada akhirnya aku kembali menjadi diriku....


__ADS_2