Ranni

Ranni
Malam yang Panjang


__ADS_3


Mentari kini sudah terbenam tapi mentari belum juga terbit pada negeri yang sedang kacau itu, hujan juga sepertinya enggan membuat cakrawala berhenti menangis.


Aqyla tidak memedulikan tangannya yang terus mengeluarkan darah. Entah bagaimana caranya setiap daun yang dia tiup mengeluarkan alunan-alunan nada yang indah mengiring tarian penari misterius itu.


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar alunan nada yang berlawanan dengan alunan nada yang diciptakan Aqyla. Nada itu sangat menyedihkan membuat siapapun yang mendengarkannya akan semakin putus asa.


Nada-nada itu adalah nada dari lagu yang dimainkan Aqyla dari dimensi lain. Mereka pada saat yang sama memainkan musik dan itu akan memperparah bencana ini, dua dunia yang berbeda itu akan ditelan kegelapan untuk beberapa hari.


"Siapa kalian?" Ranni memberontak dan berusaha melepaskan diri


"Kami akan membantumu" jawab salah seorang dari mereka.


Orang-orang misterius itu membawa Ranni dan hilang dalam kegelapan malam.


"Kami sudah menemukannya tuan" salah seorang pengawal memberi laporan.


"Dimana wanita itu sekarang?" tanya sosok itu.


"Dia pingsan dalam perjalanan sepertinya dia sedang demam" jawab pengawal itu.


"Kalian sudah mengobatinya?" dia bertanya lagi.


"Dokter sedang memeriksanya sekarang" jawab pengawal itu lagi.


"Apakah wanita itu hanya sendiri ketika kalian menemukannya?" dia bertanya sambil memperbaiki kaca matanya.


"Dia bersama seseorang dan sepertinya orang itu berasal dari suku kita" jawab pengawal itu.


"Dimana sekarang dia?" tanyanya lagi.


"Dia masih di hutan tuan" jawab pengawal itu.


"Terus awasi dia jika terjadi sesuatu padanya segera bawa dia kesini" sosok itu berbicara sambil menerawang ke luar jendela.


"Baik tuan" dia berbalik dan meninggalkan sosok itu.


"Sepertinya anak itu tumbuh dengan baik, Anndin akan ku balas semua perbuatanmu!!" dia bergumam geram.


Langit yang terus menangis tanpa henti membuat semua orang hanya bisa melihat kekacauan ini dari balik jendela.


Siapakah yang akan menghentikan bencana ini?


Aqyla berhenti meniup dedaunan itu dan mengamati darah yang mengalir dari tangannya yang tiba-tiba berhenti. Darahnya kemudian membentuk kunang-kunang merah dan menghiasi langit malam yang kelam. Kunang-kunang darah itu mampu mengepakan sayapnya di tengah hujan yang semakin deras.


"Sepertinya semua akan sia-sia" dia bangkit dan hendak menemui Ranni.


Kunang-kunang darah itu menyebar keseluruh pelosok negeri dan memberi kabar pada orang-orang serakah kalau mereka sudah gagal. Dua insan yang saling terhubung masih ada di negeri itu. Mereka yang memiliki simbol menyala di kegelapan akan menguak kekejaman yang sudah mereka lakukan selama ini.


"Apa yang terjadi?" Anndin bangun dan mengamati sekelilingnya.


"Aku yang harusnya menanyakan itu" jawab Taniah dengan ekspresi datar.


"Dimana Ibu?" tanyanya lagi.


"Ibu sedang siap-siap untuk menghadiri rapat darurat" jawabnya singkat.


"Apakah semua ketua klan akan menghadirinya?" dia terus bertanya.


"Itu belum pasti karena mereka berpikir kalau kamulah penyebab bencana ini" jawabnya lagi dengan ekspresi kecut.


"Aku tidak melakukan sesuatu yang salah" dia berusaha membela diri.


"Kalau itu memang yang kau pikirkan, katakan itu di depan semua orang dan jelaskan bagaimana wanita itu bisa ada bersamamu!!" jawab Taniah emosi.

__ADS_1


"Aku melakukan itu untuk menyelamatkannya" Anndin terus membuat pembelaan diri.


"Kau menyelamatkannya? Lalu dimana dia sekarang?" Taniah semakin emosi.


"Aku akan menemukannya" dia bangkit dan hendak mencari Ranni.


"Bukan saatnya untuk bertindak sebagai jagoan sekarang, kamu harus berada disamping nona Percilia sekarang" jawab Taniah yang berusaha menghentikannya.


"Aku tidak mau!!!" jawabnya dengan setengah berteriak.


"Kalau kau masih keras kepala silahkan pergi dan cari Rannimu itu" dia mendekati Anndin dan menatapnya serius.


"Aku akan menemukannya!!!" dia membalas menatap tajam pada Taniah.


"Lalu lihatlah klan kita akan dibantai untuk menebus kesalahanmu, kamu harus bersikap dewasa!!! Aku menyesal tidak langsung membunuh wanita itu ketika pertama kali menemukannya!!!" Taniah terus menatapnya.


Anndin hanya terdiam kemudian melangkah meninggalkan Taniah. Semua keputusan ada di tangannya. Seharusnya memang dia tidak membawa Ranni pada dimensi itu.


"Ranni... Ranni..., kamu dimana?" Aqyla berbisik sambil memanggil nama Ranni.


Dia tidak mendengar Ranni menjawab panggilanya lalu dengan sangat khawatir dia meraba-raba sekitarnya berharap Ranni masih ada disitu. Dia terus mencari sampai pada saat dia merasakan seseorang membenturkan benda keras pada kepalanya. Sekejap kegelapan yang yang dilihatnya bertambah gelap.


"Nona, Anndin datang untuk menemuimu" seorang pelayan datang memberitahunya sambil terbungkuk.


"Anndin?" nona percilia bangkit dari lamunannya dan segera menemui Anndin.


"Apa yang terjadi padamu?" nona Percilia langsung memeluk tubuh Anndin.


Anndin dengan terpaksa membalas pelukan nona Percilia itu.


"Maaf sudah membuatmu khawatir" dia berbisik lembut.


"Aku baik-baik saja" jawabnya sambil menatap mata Anndin.


"Ketika mentari terbit lagi kita akan melangsungkan pernikahan" Anndin menatapnya dalam.


"Para tetuah sedang mengadakan rapat sekarang, aku akan mengumumkan pertunangan kita untuk tidak dibatalkan dan harus digelar besok" jawabnya sambil tersenyum.


"Kamu?" Percilia semakin kebingungan.


Anndin menarik tangan nona Percilia untuk segera pergi ke ruang rapat yang sedang digelar oleh para ketua suku di situ.


"Kami bahkan tidak punya kekuasaan untuk mengontrol bulan dan bintang!!!" ketua dari klan sky berteriak sambil memukulkan tangannya pada meja.


"Bukan hanya kau yang kehilangan kemampuan untuk itu, hujan bahkan terus turun meski kami sudah membentuk batu perisai untuk menghentikannya" ketua dari klan berteriak lain ikut memanaskan suasana.


Suasanya di ruangan itu sangat kacau. Mereka saling beradu argumen tanpa henti. Ibu dan Ayah Anndin hanya bisa terdiam, tidak ada yang perlu diperdebatkan semua hanya akan memperparah keadaan.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Anndin dan nona Percilia berdiri tepat di depan pintu itu. Semua orang terkejut dan melihat kearah mereka. Ibu dan Ayah Anndin sangat terkejut begitupun dengan orang tua nona Percilia.


Anndin dan nona Percilia berjalan dan berdiri di depan mereka. Ibu Anndin berusaha menghentikan anaknya dengan menggelengkan kepalanya tapi Anndin tidak memedulikannya.


"Kami tetap akan menggelar pertunanganan besok!!" dia mengumumkan dengan tegas.


"Apa kamu sudah gila? Dalam situasi seperti ini menggelar pertunanganan?" seorang tetuah meneriakinya.


"Kami akan menggelar pertunanganan besok setelah itu mentari akan kembali terbit dan kami akan melanjutkannya dengan menggelar acara pernikahan setelah itu" dia berbicara dengan sangat percaya diri.


Nona Percilia bingung dan menatap Anndin. Dia habis pikir sejak kapan Anndin melakukan itu dan berani berbicara omong kosong di depan semua ketua klan.


"Siapa yang menjamin itu? Bagaimana mungkin matahari akan kembali muncul ketika kalian menggelar pertunanganan besok!!" seorang ketua klan kembali meneriakinya.


"Aku akan menjaminnya dengan seluruh nyawa dari anggota klan waktu dan dari klan blossom" dia kembali berbicara sambil tersenyum licik.


Sontak seluruh orang dalam ruangan itu kaget dan mulai ribut akan hal itu.

__ADS_1


"Kami setuju dengan keputusan nekat yang dibuat Anndin" Ayah Gara tiba-tiba muncul dan menghentikan keributan dalam ruangan itu.


Semua orang tampak kebingungan.


Ibu Anndin mengamati anaknya dan sangat terkejut ketika mengetahui bahwa yang berdiri dan merangkul nona Percilia itu bukanlah anaknya, itu bukan Anndin anaknya.


"SIAPA KAU!!!" dia berteriak dan menujuk Anndin.


"Bunda, aku anakmu" dia tersenyum licik.


"Dimana kau sembunyikan anakku!!!" dia berteriak dengan geram.


Ayah Anndin berusaha menghentikannya, semua orang dalam ruangan itu heran melihat tingkah Ibu Anndin.


"Baiklah,.. semua setujukan dengan keputusan yang sudah aku buat? Aku sangat berterimakasih" dia tersenyum dan menatap nona Percilia lalu mencium keningnya.


"TIDAAAAKKKKK!!!" Ibu Anndin berteriak histeris.


Anndin melepaskan nona Percilia dengan lembut lalu mendekati Ibunya.


"Semua orang sedang melihat Ibu, aku bertindak berani kali ini dan akan mengorbankan semua nyawa yang selama ini kau lindungi" dia berbisik pada telinga Ibunya dengan nada mengejek.


"Dimana anakku?!!" dia memukul tubuh Anndin dan berteriak histeris.


"Ibuku sepertinya masih terpengaruh akibat dari tarian anak itu" dia berbicara pada semua orang dalam ruangan itu.


"Kamu bertemu dan melihat tarian itu?" Ayah Gara keget dan bertanya padanya.


Semua orang dalam ruangan itu tampak kebingungan dan tidak bisa berkomentar apapun.


"Aku dan Ibu menyaksikannya lalu pingsan dan tidak sadarkan diri" dia mendekati ayah gara dan memberikan kertas putih.


"Bagaimana bisa dia ada di rumahmu?" dia bertanya keheranan dan menerima kertas itu.


"Aku juga tidak tahu dan akan mencari tahu semuanya tapi sebelum itu beri permintaan persetujuan tentang pertunanganku dengan nona Percilia yang akan digelar besok" dia duduk dan memberi hormat pada Ayah Gara.


"Baiklah aku menyetujuinya" dia mengangguk


Ayah gara kemudian mendekati nona Percilia lalu mengambil tangannya dan membuat sayatan pada tangannya itu sehingga mengeluarkan darah dan menodai kertas putih itu. Nona Percilia mengerutkan keningnya menahan nyeri tapi Anndin menggenggam tangannya dan ikut meneteskan darahnya pada kertas itu.


Sumpah sudah mereka buat, orang tua nona Percilia tampak tidak khawatir. Sementara ayah Anndin terus berusaha menyadarkan istrinya yang pingsan. Semua orang tampak menyetujui apa yang diucapkan Anndin.


Taniah tiba-tiba muncul dan langsung berlari mendekati Anndin.


"Siapa kamu?!" dia berteriak padanya sambil menarik tangan nona Percilia.


"Aku Anndin" jawabnya singkat.


"KAMU!!!!" dia berteriak dan berusaha memeluk nona Percilia.


"Dia Anndin kak" nona Percilia berusaha membela Anndin.


"Kamu jangan tertipu olehnya, dia bukan Anndin!!" jawabnya sambil terus berteriak.


"Dimana kau sembunyikan Ibu?" Anndin mendekatinya dan menatapnya tajam.


"Apa?" dia kaget.


"Tangkap dan kurung dia, dialah yang membiarkan anak itu hidup dan bersembunyi di rumah kami. Dia bahkan memberi Ibu obat untuk menjadi gila" dia berteriak dan melemparkan sebuah botol yang berisi obat pada Taniah.


"Kalian harus percaya padaku, dia bukan Anndin!!!" Taniah berusaha membela diri.


Semua orang seolah terhipnotis oleh Anndin, mereka bahkan tidak memercayai Taniah. Mereka seperti tunduk dan patuh padanya. Nona Percilia sebenarnya sadar kalau yang berdiri disampingnya bukanlah Anndin yang sesungguhnya tapi cinta telah membutakannya. Dia mudah dibodohi..


Gadis yang malang, gadis yang bodoh, gadis yang serakah. Dia akan membuat bencana yang lebih besar lagi kali ini.

__ADS_1


Dua bencana yang bermula dari cintanya yang serakah.


__ADS_2