
Kicauan burung di pagi hari adalah berkah untuk semua makhluk di seluruh dunia ini. Pagi hari yang cerah menjadi momen berharga menyaksikan mentari yang baru meresmikan tahtanya.
Aqyla terus mengarahkan pandangannya ke arah mentari itu sambil berharap tahtanya akan abadi sepanjang masa. Sinar mentari yang menerpanya memancarkan kecantikannya ke setiap sudut ruangan itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia bisa berdiri di samping jendela pada pagi hari sambil menikmati aroma kopi yang menyengat.
"Apa yang terjadi padaku semalam?" Afgar tiba-tiba bertanya padanya.
"Kau semalam pingsan karena mendengarkan aku bermain musik" jawabnya sambil menghirup aroma segelas kopi yang dia pegang.
Afgar berusaha mengingat kembali apa yang terjadi padanya semalam. Sekilas Ranni muncul dalam ingatannya, tapi dia merasa baik-baik saja. Dia kemudian bangkit dan mendekati Aqya sambil tersenyum.
Melihat reaksi Afgar, Aqyla juga tersenyum sambil terus mengarahkan pandangannya keluar jendela.
"Af... Kau akan menjadi milikku" dia bergumam dalam hati.
Tok...Tok...Tok...
"Non, Ayah dan Ibumu sudah menunggu dibawah" pelayan datang dan memberi tahu mereka.
"Baik bi" jawabnya singkat.
Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Ayo...!!!" dia menarik tangan Afgar yang masih diam sambil melihat ke luar jendela.
Afgar mengangguk dan mengikuti langkah Aqyla meninggalkan ruangan itu. Namun saat akan menuruni tangga dia tiba-tiba mengingat sesuatu. Dengan cepat dia masukan tangannya ke dalam saku jaketnya, dia terlihat menarik nafas lega. Album kecil itu masih aman dan dia masih memilikinya.
"Ada apa?" tanya Aqyla bingung.
"Aku hanya memeriksa sesuatu" dia tersenyum pada Aqyla dan memasukan album kecil itu kembali ke sakunya.
"Kamu kenapa terus membawa album itu?" tanya Aqyla memastikan sesuatu.
"Kamu sudah melihatnya?" tanya Afgar sambil menarik tangan Aqyla.
"Aku melihatnya sekilas, tadi malam ketika kau pingsan tanganmu terus memeluk album itu" jawabnya acuh tak acuh.
"Apa yang kau lihat?" tanya Afgar cemas.
"Aku tidak melihat apapun, aku sempat heran ketika melihat isi album itu. Kenapa kau terus membawa album kosong dan sangat melindungunya?" jawab Aqyla sambil terus melanjutkan langkahnya.
Afgar tertegun sesaat dengan sigap dia mengambil kembali album itu dan melihat foto-foto yang tersimpan di dalamnya. Dia sangat lega ketika melihat foto-foto itu masih ada, album itu tidak tertukar.
"Kamu tidak bisa melihat isi album ini? Disini ada foto seorang wanita yang tersenyum bahagia?" dia mengarahkan album itu ke wajah Aqyla.
"Aku tidak melihat apapun" jawab Aqyla sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi disini......" Afgar tidak melanjutkan kalimatnya, foto yang dia amati itu menyihirnya sejenak.
"Oh ya...., aku hanya bisa melihat satu foto disitu" jawab Aqyla sambil menatap Afgar.
"Foto yang mana?" dia bertanya dengan ekspresi was-was.
Dia mengambil album kecil yang dipegang Afgar itu dan mencari foto yang bisa dia lihat.
"Foto bayi kecil yang imut ini..." dia menunjuk salah satu foto lalu mengembalikan album itu pada Afgar.
Afgar tertegun, dia heran kenapa Aqyla tidak bisa melihat foto-foto lain yang ada dalam album itu.
"Kamu kenapa bingun nak?" dr. John tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.
"Aku baik-baik saja om.." dia terkejut dan lansung memasukan album kecil itu ke sakunya.
dr. John melirik pada album itu dan pura-pura tidak melihat apapun.
__ADS_1
Afgar terus terlihat bingung, makanan yang ada di depannya tidak bisa mengalihkan pikirannya.
"Kamu kenapa Af..?" Aqyla memegang tangan Afgar untuk menyadarkannya.
"Aku nggak apa-apa" dia tersenyum pada Aqyla lalu mengambil sendok untuk segera makan.
Sejenak ruangan itu kembali sunyi, mereka menikmati makanan yang dihidangkan dengan pikiran masing-masing, entah itu pikiran tentang kegundahan atau sekedar hayalan belaka.
"Af.... Kemarin seorang guru datang menjenguk Ibumu" dr John membuka percakapan di tengah keheningan itu.
"Kenapa dia menjenguk Ibu?" jawabnya kaget.
"Dia hendak memberikan surat pada Ibumu" dr John menghela nafas panjang.
"Surat apa?" jawab Afgar bingung.
dr. John hanya tertunduk dan kembali menikmati makanannya dengan ekspresi kecewa.
"Aku dikeluarkan dari sekolah ya?" tanya Afgar dengan ekspresi tabah.
"Kau tidak perlu khawatir, ayah sudah mendaftarkanmu di sekolah Aqyla" jawab dr. John sambil tersenyum.
"Ibu sudah mempersiapkan seragammu Af.., kalian cepat makan nanti terlambat ke sekolah" Ibu Aqyla tersenyum pada Afgar.
"Tapi...., bukannya Aqyla sekolah di sekolah musik? Aku tidak tahu apapun tentang musik" Afgar menggaruk kepalanya.
"Tenang Af... Aku akan mengajarkanmu, aku akan menjadi gurumu cilik untukmu" dia tersenyum pada Afgar dengan sangat bahagia.
Afgar tidak punya pilihan lain mungkin takdirnya harus berubah. Tidak ada alasan untuk kembali ke sekolah yang penuh dengan kenangan akan Ranni gadis pelamun.
Selesai makan mereka langsung bersiap-siap untuk ke sekolah, hari pertama Afgar sekolah dan hari pertama untuk bangkit kembali. Dia tidak memiliki gadis pelamun disampingnya tapi Aqyla yang lembut membuatnya cukup untuk menjadi kekuatan baru yang bisa membantunya melukis harinya kembali. Dia masih pantas untuk keluar dari badai yang sudah menelannya beberapa hari terakhir ini.
"Af... Kamu punya SIM ?" Ibu Aqyla tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Kamu bisa mengendarai mobil?" dengan lembut dia bertanya lagi.
"Iya, aku bisa" jawab Afgar dengan wajah datar.
"Ini..." dia memberikan Afgar SIM dan sebuah kunci mobil.
Afgar terkejut dan mengamati Ibu Aqyla dengan seksama.
"Aku minta maaf padamu, aku akan menjaga dewi kecilmu dan Ibumu dengan baik tapi sebagai balasannya jaga Aqyla dengan baik juga. Pastikan selalu disampingnya dan perlakukan dia dengan baik" dia menatap Afgar dengan tulus lalu berbalik dan meninggalkan Afgar sendiri.
Afgar mengamatinya, sepertinya Ibu Aqyla mengucapkannya dengan tulus. Dia tersenyum lalu mengamati SIM dan kunci mobil di tangannya.
"Kamu tidak ingin terlambat di hari pertama sekolahmu kan? Ayo cepat jangan hanya melamun!!" Aqyla muncul di depan pintu dan memanggil Afgar kemudian berlari buru-buru.
Afgar menyusulnya sambil tersenyum.
Sesampainya di sekolah, dia tercengang. Dia baru tahu kalau di negerinya ada sekolah seperti itu. Sekolah yang asri dan sangat menenangkan. Pepohonan berjejer rapi dimana-mana, sejauh mata memandang terlihat bunga-bunga yang sedang bermekaran. Bunga-bunga yang berwarna biru itu seperti menciptakan lautan yang tenang di daratan.
"Aku sangat rindu tempat ini..." Aqyla bergumam sambil menyentuh bunga-bunga itu.
"Kamu tiap hari kesini tapi masih merindukannya? Tempat ini sudah seperti kekasihmu" Afgar menunjuk dahi Aqyla sambil tersenyum.
Afgar masih belum lupa, dia selalu melakukan itu pada Ranni ketika dia sedang melamun. Sekarang yang di depannya bukanlah Ranni tapi gadis lain. Sepertinya semua gadis di dunia ini akan menjadi Ranni di matanya.
"Hari ini juga hari pertamaku.." dia tersenyum pada Afgar lalu berlari menyusuri bunga-bunga itu.
Afgar hanya menggaruk kepalanya lalu menyusul Aqyla.
Semua orang menyambut Aqyla ketika dia masuk kelas. Dia sangat populer dan tegar memainkan perannya. Dia tidak seperti Ranni yang selalu membenci dirinya. Bagaimanapun mereka orang yang berbeda.
Setelah kelas selesai, Afgar tampak murung dan berdiri disamping jendela menikmati alunan musik yang terdengar dari mana-mana.
__ADS_1
"Aku ternyata sangat payah" dia bergumam lalu menatap keluar jendela.
"Kamu kenapa?" Aqyla mengejutkannya.
"Aku tidak cocok dengan sekolah ini" dia berbicara dengan nada sangat kecewa.
Aqyla tidak membiarkan Afgar putus asa. Dia mengambil biola yang sering dibanya lalu memainkan biola itu.
Semua mata tertuju padanya, dia pemain biola yang hebat. Afgar mendengarkan alunan itu sambil mengamati keluar jendela.
Dia sangat putus asa, melihat itu Aqyla berhenti bermain biola lalu menarik tangan Afgar.
"Kamu harus mulai dari sini" dia menunjuk sebuah piano.
"Aku pasti hanya akan merusak alunan piano yang malang itu" dia terus merasa putus asa.
"Aku sudah bilang akan menjadi guru cilikmu" dia tersenyum lalu menarik tangan Afgar untuk bermain biola itu.
Mereka sangat serasi memainkan biola itu, alunan nada yang akan dirusak tangan Afgar perlahan terdengar merdu. Semua alat musik yang disentuh Aqyla pasti akan meraung dengan alunan yang merdu.
Ding.. Dong..
Hp Afgar tiba-tiba bergetar mengacaukan suasanya yang syahdu itu.
Dia mengambil hpnya dan melihat pesan yang baru saja masuk.
Sepertinya kau memiliki banyak pertanyaan padaku, temui aku di kantin sekolah kita.
From: Anndin
Melihat pesan itu Afgar terkejut, dia langsung bergegas meninggalkan ruangan itu. Aqyla terkejut dan mengejar Afgar.
"Kau mau kemana?" dia bertanya khawatir.
"Aku ada urusan sebentar" dia menjawab singkat.
"Aku ikut" dia menarik tangan Afgar yang akan meninggalkannya.
"Kamu tunggu disini, aku tidak akan lama" dia melepas tangan Aqyla dan berlari meninggalkannya.
"Aku....." Aqyla melihat keluar jendela.
Matahari bersinar sangat terang, sinarnya begitu menyilaukan. Aqyla menghindari sinar itu, dia berlari ke dalam kelas dan bersembunyi di bawah meja. Badannya menggigil.
"Di sini sangat panas, Af.. jangan tinggalkan aku" dia jatuh tersunkur kelantai.
Sesampainya Afgar di sekolah itu, dia langsung berlari ke kantin. Semua siswa yang melihat Afgar heran. Dia memakai seragam berbeda dan berani masuk ke kingkungan sekolah itu. Mereka berusaha mencegahnya tapi dia memberontak.
Sesampainya di kantin dia berteriak-teriak memanggil nama Anndin.
"Anndin sudah pindah beberapa hari yang lalu, kamu jangan buat kekacauan disini" seorang siswa menegurnya.
Ding... Dong...
Hpnya kembali bergetar.
Dengan cepat dia memeriksa pesan yang masuk pada Hpnya itu.
Guru cilikmu sepertinya dalam bahaya, aku hanya ingin mengungkap siapa dia.
From: Anndin.
Afgar terlihat sangat marah, dia menggenggam Hpnya lalu berlari untuk menemui Aqyla.
Matahari terus bersinar denga terik, tidak mengizinkan Aqyla bernafas. Dia hampir kehilangan dirinya...
__ADS_1