
Daun-daun musim semi yang berguguran merupakan hal yang indah.....
Angin semilir berputar-putar pada aksara yang menyejukan....
Afgar tiba-tiba terbangun, dia melihat sekelilingnya tetapi tidak ada seorang pun disana. Dia merasa saperti diawasi oleh seseorang yang entah dari mana tapi orang itu enggan untuk menampakan dirinya.
Dia merasa sangat lapar, perutnya keroncongan. Seharian belum ada sesuap nasi dan setetes air yang masuk ke lambungnya sungguh hari yang nista. Jam pada dinding kamarnya menunjukan pukul 01.00 dini hari. Dengan sisa tenaga yang ada dia berjalan keluar dari kamar itu untuk mencari makanan.
"Rumah ini sangat luas, bagaimana aku bisa menemukan dapur?" Afgar bergumam putus asa sambil memegang perutnya.
Dia terus menyusuri setiap ruangan rumah itu, rumah yang sangat mewah.....
Perutnya semakin keroncongan, mungkin hari itu dia akan mati kelaparan.
Dia terus menyusuri sampai pada akhirnya dia bertemu dengan salah seorang pelayan di rumah itu. Pelayan itu membungkuk dan terkejut ketika melihat Afgar. Dengan seksama Afgar memerhatikan tingkah aneh perawat itu, seperti ada yang mencurigakan.
Ketika pelayan hendak pergi Afgar memanggilnya dan bertanya..
"Dimana dapur"? Tanya Afgar.
Pelayan itu tertunduk tidak berani menatap Afgar.
"Mari saya antar" jawabnya gugup.
Ketika sampai di dapur perawat itu memberi tahu Afgar bahwa dia bisa memakan beberapa makanan yang ada di dalam kulkas. Afgar mengangguk dan pelayan itu pergi.
Setelah selesai makan Afgar hendak kembali ke kamarnya tapi lagi-lagi dia merasa seperti ada seseorang yang terus mengawasinya. Dia mengamati seluruh ruangan itu sejenak dan dia melihat seseorang sedang mengintipnya dibalik pintu.
Afgar dengan sigap mengejar orang itu tapi dia tidak berhasil menemukannya. Orang misterius itu begitu cepat menghilang.
Saat sedang menyusuri tempat itu untuk mencari orang yang mengawasinya tadi, tiba-tiba dia mendengar alunan-alunan nada yang indah dan menghanyutkan. Tanpa sadar kakinya melangkah mengikuti alunan-alunan nada yang indah itu, Afgar seperti terikat olah nada-nada itu. Tubuhnya seperti terhipnotis....
Untuk pertama kalinya dia mendengar seorang bermain biola sehebat itu.
Siapakah dia?
Terlihat seorang wanita dengan rambut terurai panjang memaikan biola di samping jendela yang terbuka, rambulan yang menggantung di langit sedang menyaksikannya. Dia seperti penggemar sejati yang sedang terpukau, angin malam yang lembut mengibaskan rambut dan gaun yang dikenakannya memperlengkap syahdunya keadaan saat itu.....
Afgar terpaku melihat wanita itu, dia seperti mendapati malam terindah dalam hidupnya...
Wanita itu membalikan kepalanya pada Afgar, sontak ia terkejut. Afgar kelihatan salah tinggkah, wanita itu tersenyum melihat Afgar yang gelagapan.
"Mari masuk" ajak wanita itu sambil tersenyum.
Afgar melangkah masuk menuruti wanita itu, dia berusaha bersikap tenang sedang hatinya bergejolak.
__ADS_1
"Ini ruanganmu berlatih?" tanya Afgar sambil menggaruk hidungnya.
"Iyah, ruangan ini adalah satu-satunya tempat yang tidak membosankan" jawabnya.
Afgar hanya tersenyum, dia kehabisan kata-kata untuk berbicara.
"Namaku Aqyla" sambil tersenyum dia mengulurkan tangannya pada Afgar.
"Afgar" jawabnya singkat, dia terlihat sangat gugup.
"Selamat datang" Aqyla bergumam lembut.
Afgar tersipu, pipinya mulai merona...
"Hmmmmm...?" dia mengankat alisnya, ucapan Aqyla sangat ambigu.
"Hihihihi, itu judul lagu yang kumainkan tadi" Aqyla menutup mulutnya sambil tertawa kecil.
Afgar ikut tersenyum, wanita itu seperti mengontrol jiwanya.
"Kenapa nadanya sangat menyayat hati,seperti mengisyaratkan seseorang yang sedang melepaskan kekasihnya?" tanya Afgar.
"Kau mengerti arti dari alunan-alunan nada ini?" Aqyla tersenyum dan mulai memainkan kembali biolanya.
Afgar menutup mata dan telinganya.
Ranni.... Ranni.... Ranni....
Kejadian-kejadian yang pernah dia lalui bersama Ranni seolah seperti terulang kembali dalam waktu yang cepat.
Kemudian waktu itu terputar mundur dan berhenti pada satu memori yang paling tidak ingin dilupakannya....
*****
Hari itu sekolah Ranni mengadakan suatu kegiatan, kegiatan itu diikuti seluruh kelas tak terkecuali kelas Ranni.
Mereka melakukan kemping bersama dan mengunjungi suatu pulau yang berada di tengah lautan. Pulau itu tak berpenghuni sehingga pemandangannya masih sangat alami dan indah.
Pulau kecil itu seperti terbentuk dari bebatuan yang di berkahi alam semesta. Semua pijakannya adalah bebatuan tapi tanaman tumbuh subur disana. Pulau itu memiliki banyak rahasia, meski konon katanya tidak memiliki penghuni tapi keadaan disana begitu terawat seperti menandakan ada kehidupan.
Beberapa orang percaya bahwa pulau itu dihuni oleh makhluk tak kasat mata tapi mereka bukan jin atau sejenisnya. Mereka manusia yang memiliki dimensi berbeda. Tubuh mereka akan terlihat ketika mereka wafat ditandai dengan salah satu kuburan keramat disana. Pernah ada seorang peneliti yang mencoba menggali kuburan itu dan dia menemukan satu jasad wanita yang seperti baru dikuburkan. Peneliti itu terkejut dan mengunggahnya disalah satu akun media sosialnya. Konon katanya dia akan membawa jasad itu untuk diberikan pada tim forensik dan meneliti makhluk seperti apa jasad itu. Vidio itu sempat viral dan menghebohkan dunia maya, banyak orang yang percaya pada peneliti itu tetapi ada juga yang tidak memercayainya mereka berpendapat bahwa jasad itu adalah korban pembunuhan yang dikuburkan disitu agar tidak meninggalkan jejak. Kemudian banyak propaganda dan presepsi yang lahir.
Sampai pada akhirnya perusahaan tempat peniliti itu bekerja memberikan klarifikasi bahwa semua itu benar dan mereka sedang menunggu kepulangannya. Mereka akan sukses dengan penemuan penelitian itu tapi beberapa hari mereka menunggu, peneliti itu tidak pernah muncul. Sampai mereka memutuskan untuk pergi mencarinya. Semua anggota keamanan dan polisi dikerahkan saat itu.
Mereka sudah menyusuri pulau itu tapi tidak menemukan apapun disana dia seperti tiba-tiba menghilang, dia tidak pernah muncul lagi setelah kejadian itu. Perusahaan yang menaungi peneliti itu tiba-tiba bangkrut. Akun yang mengunggah vidio itu juga telah terhapus entah siapa yang menghapusnya. Kabar ini simpang siur dan menjadi bualan masa. Siapapun yang memercayai itu dan pergi mencari kebenarannya dia akan menghilang tanpa jejak, tempat itu di juluki sebagai tempat keramat tapi untuk keperluan pendidikan tempat itu tetap terbuka asal tidak mengganggu dan mencari tahu lebih dalam asal-usul pulau itu.
__ADS_1
Tempat itu menjadi salah satu objek wisata yang memiliki banyak pengujung tapi pengunjung yang datang ke pulau itu dibatasi. Orang dari negara lain atau warga negara asing dilarang memasuki kawasan itu. Entah apa yang disembunyikan pemerintah daerah dari pulau itu. Tapi banyak orang yang bilang pulau itu kaya akan kekayaan tambangnya, disana juga terdapat gua yang memiliki sumber air yang sangat jernih dan tidak pernah habis. Air itu di jadikan salah satu produk air kemasan yang sangat terkenal.
Perpaduan lautan yang luas dan hijaunya tebing-tebing yang menjulang dapat menenangkan siapapun yang melihatnya. Pulau itu benar-benar suatu keajaiban....
Ranni terlihat duduk di ujung tebing pulau itu sambil memandang lautan yang luas. Di tempat itu dia merasa bebannya hilang, dia terus mengamati lautan sambil tersenyum.
Afgar terus memerhatikannya senyuman itu membuatnya sangat cantik. Andai Ranni tersenyum seperti itu setiap harinya....
"Aku akan membangun istana disini untukmu" Afgar datang mendekatinya sambil tersenyum.
"pulau ini milik pemerintah, kau jangan membual deh" jawab Ranni sambil terus memandang lautan.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap tersenyum seperti ini" jawab Afgar dengan tatapan yang serius.
"Kalau begitu, mari menikah dan membangun rumah disini" Ranni berkata sambil tertawa kecil.
Afgar melewatkan adegan itu karena Ranni tertawa membelakanginya, dia sangat ingin melihatnya terus tertawa seperti itu...
"Aku menganggap itu bukan sebagai lelucon, kita akan benar-benar menikah di pulau ini" Afgar berkata seperti sedang berjanji.
Hahahhahahahha,
Ranni tertawa riang untuk pertama kalinya.
"Apakah itu sebuah lamaran? Kau seharusnya menyiapkan cincin sambil mengatakan itu, seikat bunga juga boleh" dia terus tertawa kali ini tawahnya begitu heboh.
Aku berjanji Ran....
Inilah janjiku....
******
Memori itu seperti berubah....
Afgar bukanlah orang yang saat itu bergurau bersama Ranni dan membuatnya tersenyum sambil tertawa bahagia tapi orang itu adalah Anndin....
Sedangkan dia mengamati mereka sambil mengepalkan tangannya.
Bagaimana bisa alunan nada mengubah memori yang sudah terjadi....?
"Kau harus melupakannya karena judul lagu yang kumainkan ini adalah selamat datang" Aqyla mendekatinya sambil mengusap keringat Afgar yang bercucuran.
"Kita sama-sama melepaskan orang yang kita cintai, orang yang kau cintai itu bukanlah milikmu. Sama halnya seperti aku, bulan itu merupakan hal yang ku cintai tapi dia bukan milik ku. Begitulah kisah dari lagu ini, sekarang kau milik ku dan aku milikmu" Aqyla membisikkan cerita itu pada telinga Afgar kemudian melihat ke arah rembulan dan menatapnya seperti sedang mengucapkan perpisahan.
Bulan di langit masih bersinar, dia pasti sedang berusaha meredupkan sinarnya....
__ADS_1