Ranni

Ranni
Perjalanan menembus waktu


__ADS_3

Langit masih terus menangis membanjiri bumiku...


Semua orang sedang terluka, Ranni selama ini selalu kekurangan cinta dan kasih sayang. Tapi ketika dia menyerah untuk mencari itu dan pergi untuk menghentikan semua luka untuk mengobatinya sendiri. Semua orang merasa bersalah dan kehilangan harapan.


Kenapa tidak memberikan cinta dan kasih sayang itu lebih awal?


Penyesalan memang selalu menabur benih dan subur ketika waktu sudah berlalu....


Semua orang sedang merasa bersalah...


Apakah yang terjadi pada Ranni?


Udara sejuk perlahan-lahan mendatangkan kabar baik. Dari kejauhan terlihat dua orang remaja yang sedang berlayar menggunakan sampan kecil. Lautan itu sangat damai, angin terlalu lemah untuk membentuk gelombang. Di seberang lautan terlihat pulau-pulau kecil yang tanpa nama, pulau-pulau itu sangat asri dan masih banyak pepohonan disana. Pulau yang sunyi tempat para bidadari membentuk pelangi.


"Indahkan?" Anndin menyapa Ranni yang masih terkejut.


"Dimana ini?" Ranni bertanya dengan gelisah.


"Tempat ini dikenal dengan keindahannya, para bidadari akan menyambut kita" dia berkata sambil tersenyum manis.


"DIMANA INI?" Ranni meninggikan suaranya.


"Inilah dunia impianmu, dunia yang hanya menyisahkan air mata bahagia untuk bersuka" jawab Anndin masih dengan senyuman yang manis.


Ranni hanya terdiam, dia sedang terpukau akan keindahan alam disana. Dunia itu begitu berbeda dengan dunia tempat Ranni berasal. Dunia yang penuh dengan cinta, bahkan burung-burung bisa berbagi cinta pada siapapun. Begitu damainya...


"Kita sekarang berada di negara mana?" Ranni mulai bertanya lagi.


"hahahhaha, negara ini tidak terdaftar pada atlas atau peta dunia manapun. Kita sedang mengembara menembus waktu" jawab Anndin dengan suka cita.


Ranni terdiam lagi, dia merasa ada sesuatu yang terlewatkan. Kemudian sekilas dia mengingat sesuatu, saat Anndin membunuhnya dengan sebuah pisau. Dia berbalik ke arah Anndin,...


kenapa mereka begitu berbeda?


Dia terus menatap Anndin sambil mengamati tiap gerakannya.


"Ada apa Ran?" Anndin bertanya mengejutkan Ranni.


"Siapa kau sebenarnya?" jawab Ranni ketus.


"Aku Anndin, kita sudah berkenalan sejak lama" Anndi menjawab sambil menahan tawanya.


Ranni memasang ekspresi cemberut dan ketus.


"Kau sedang mengejekku?" Ranni menjawab sambil menahan amarah.


Anndin acuh melihat hal itu, dia kemudian mensentakan dayung yang dipeganya sontak air laut terciprat di muka Ranni yang cantik.


"Air bahkan menyambutmu disini, kenapa kau terus memasang ekspresi menyeramkan?" dia membalasnya dengan tawa kecil.


Rannipun tersenyum, kemudian dia membalas apa yang sudah dilakukan Anndin padanya. Dia menyiram Anndin kembali dengan menggunakan tangan kecilnya itu.


Mereka kemudian saling menyiram satu sama lain sambil tertawa bahagia....


Kini mereka sudah basah kuyup, Ranni terlihat menggigil.


"Masih jauh kah?" dia bertanya pada Anndin sambil menahan dingin.


"Kita sudah sampai kok" dia terus tersenyum.


"Apa? Kapan kita akan berlabuh?" Ranni kembali cemberut.


Hahahahhahahah...

__ADS_1


Anndin hanya tertawa melihat itu.


"HEI, kamu mau lihat aku mati kedinginan disini?" dia berteriak dengan nada kesal.


"Kamu tau tidak hukuman paling berat disini?" tanya Anndin dengan nada jahil.


"Apa?" jawab Ranni ketus.


"Memandang bulan sambil cemberut" dia mendekati Ranni dan membalikan badannya.


"Lihat itu, cantikkan?" dia masih terus tersenyum.


Ranni terpukau melihat bulan itu, Indah dan membuat siapapun yang melihatnya terpana.


"Kenapa bulan disini sangat indah? Kau masih mau merahasiakan nama negeri yang indah ini?" Ranni membalikan badannya. Kini mereka saling menatap.


"Sebut saja negeri ini adalah negeri harapan" jawab Anndin dengan tatapan sendu seperti rembulan yang baru saja dia lihat.


Dia mengangkat tangannya dan menutup mata Ranni. Ranni kehilangan kesadaran lagi.


Aroma-aroma harum menyadarkannya, dia membuka matanya perlahan-lahan.


Dimanakah dia sekarang?


Dia melihat sekelilingnya, terlihat hamparan bunga anyelir yang jauh. Bunga-bunga itu mengeluarkan aroma harum yang aneh, aroma yang tidak pernah diciumnya.


Sejak kapan anyelir memiliki aroma seperti itu?


Dia bangkit dari pembaringannya, betapa terkejutnya dia. Tempat dia terbaring adalah kumpulan bunga-bunga yang dirajut menjadi tempat tidur yang indah.


"Tempat ini sangat indah" Ranni bergumam


Hihihihihihi...


Apakah gadis periang berasal dari negeri ini?


Ranni berusaha mencari sumber suara itu, dia berlari pada jejeran bunga-bunga yang terus mengeluarkan aroma yang sangat wangi.


Tapi tiba-tiba seseorang menarik tangannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Anndin.


"Kamu dengar suara itu?" jawabnya.


"Suara apa?" jawab Anndin tak acuh.


"Itu suara gadis periang yang biasa ku dengar" jelas Ranni


Seketika ekspresi Anndin berubah, sejuk rembulan hilang seketika dari matanya.


"Jangan pernah ikuti suara itu Ran, kamu harusnya tidak mendengar suara-suara seperti itu di hari pertamamu disini" jawab Anndin dengan nada dingin.


Apakah aku sudah berbuat salah?


Kenapa Anndin begitu kesal ketika aku menanyakannya?


"Sebenarnya apa tujuanmu membawaku kesini?" tanya Ranni dengan nada hati-hati.


Anndin terlihat tidak peduli, dia sedang sibuk pada urusannya sendiri. Dia terus mengusap-usap kuda yang dihadapannya.


"Kenapa kau menodongkan pisau padaku? Tadi kau berlagak seperti laki-laki yang begitu peduli padaku, kau berlagak manis, dan melindungiku dengan hati-hati. Aku bahkan hampir lupa atas apa yang sudah kau lakukan padaku, aku pikir kau orang yang berbeda" dia membentaknya.


Anndin tidak memedulikan apa yang dikatakan Ranni, dia menaiki kuda itu dan mengulurkan tangannya pada Ranni.

__ADS_1


Ranni marah dan menghempaskan uluran tangan itu.


"ORANG SEPERTI APA KAU" Ranni benar-benar marah, dia meninggikan suaranya.


Anndin dengan hati-hati turun dari kuda itu, dia memeluk Ranni tanpa memedulikan betapa kesalnya Ranni. Ranni berusaha menolak dan mendorong tubuh Anndin tapi kekuatannya tidak bisa mengalahkan kehangatan yang sedang menyelimutinya...


"Aku merindukan mu" dia berbisik di telinga Ranni.


Ranni sudah lama tidak merasakan pelukan dari siapapun. Mungkin terakhir kali dia merasakan pelukan hangat adalah di persidangan perceraian orang tuanya.


Ranni yang mendengar itu ikut terbawa suasana, dia begitu merindukan pelukan dari orang-orang yang dicintainya.


"Aku tidak tau siapa kau, tapi kau selalu muncul dalam hayalanku dan membuatku selalu merindukanmu" Dia berusaha menahan tangisannya.


Anndin melepaskan pelukannya, ditatapnya Ranni dalam-dalam.


"Kita harus menyambung kisah yang belum selesai" rembulan kembali terlihat 1menghangatkan matanya.


Anndin mengangkat tubuh Ranni ke pundak kuda itu.


"Ayo, kita lanjutkan perjalanan yang panjang ini" dia tersenyuman begitu manis.


Dunia yang dirasakan Ranni kini pernah menjadi salah satu impiannya, dia tidak akan kembali pada negara tempat dia dilahirkan.


Anndin mengarahkan kuda itu dengan hati-hati. Dia sedang menikmati hari yang indah dan melanjutkan kisah yang belum selesai.


"Kenapa tidak membuat kuda ini berlari? tanya Ranni memcah kesunyian.


"Kamu mau?" balas Anndin.


"Iya, menaiki kuda yang berlari pernah menjadi salah satu keinginanku" jawab Ranni dengan nada ceria, dia terus tersenyum sepanjang jalan itu.


Anndin terdiam sejenak, pikirannya sedang melalang buana. Dia mengingat sesuatu...


****


Arom bunga anyelir menghiasi jalan mereka. Seorang perempuan paruh baya, menyanyi bersama malam kala itu.


"Kenapa tidak membuat kuda ini berlari?" tanya wanita paruh baya yang memeluknya dengan erat.


*******


"Kok kamu hanya diam? Kamu memiliki gangguan sindrome ya? Suasana hatimu terus berubah-rubah"


Hahahahhaha


Sambil tertawa Anndin memacu kuda itu untuk terus berlari melewati bunga anyelir yang tidak pernah layu.


"Kalau kamu jatuh aku nggak tanggung jawab ya..." dia memperingati Ranni sambil terkekeh.


Ranni terkejut mendengar apa yang baru diucapkan Anndin, sambil tersenyum dia melingkarkan tangannya pada tubuh Anndin. Perjalanan yang jauh itu akan sangat menyenangkan. Dia mulai menyandarkan kepalanya pada pundak Anndin sambil menyanyikan lirik-lirik lagu yang sangat disukainya.


Kupu-kupu yang lucu....


Kemana engakau terbang...


Hilir mudik mencari...


Bunga-bunga yang kembang...


Bergoyang-goyang.....


Rembulan menjadi saksi kisah yang manis ini.....

__ADS_1


__ADS_2