Ranni

Ranni
Gadis Penjilat Madu


__ADS_3


Flash back on


"Siapa kamu?" tanya nona Percilia.


"Matamu ternyata lebih jeli" dia berbicara dan menatap nona Percilia.


"Siapa kamu?" dia menatap sosok itu dengan geram.


"Aku akan membuat Anndin tunduk padamu, kalian akan menggelar pernikahan ketika matahari kembali bersinar" dia tersenyum licik.


"Hahahaha, kamu pikir aku bodoh?" dia mengepalkan tangannya.


"Ketika dua anak yang saling terhubung antara dua dimensi memainkan musik secara bersamaan, mereka akan mengambil alih dan mengontrol perputaran waktu begitupun dengan pergantian siang dan malam. Itu berarti kita hanya butuh darah salah satu dari mereka" dia memberikan nona Percilia sebuah foto dan botol yang berisi kunang-kunang darah.


"Apa maksudmu?" tanyanya gelisah.


"Aku bisa menerbitkan matahari kembali" dia kemudian memberikannya sebuah foto lagi.


"Bukankah ini Ranni?" tanya nona Percilia.


"Aku hanya butuh darahnya untuk segera membuat mentari kembali bersinar" jawabnya meyakinkan.


"Kamu jangan bergurau, tidak ada yang tahu dimana dia sekarang" dia berbicara dengan nada meremehkan.


"Kabar baiknya adalah aku sudah mendapatkan darahnya" dia memberikan nona Percilia sebuah botol yang berisi kunang-kunang darah yang lain.


Dia kemudian mengambil pisau dan memotong tangannya. Darahnya yang menetes berubah menjadi kunang-kunang darah. Dia tersenyum dan menangkap salah satu kunang-kunang itu dan memasukannya ke dalam botol.


"Kau hanya perlu menanam bunga anyelir dan membiarkan kunang-kunang ini menghinggapinya" dia mendekati nona Percilia dan tersenyum licik.


"Anndin tidak akan pernah menyetujui ini" jawabnya kesal dan hendak meninggalkan sosok itu.


"Kau akan kehilangan dia selamanya!!" dia berteriak.


"Itu bukan urusanmu, meski kau sangat mirip dengannya aku tidak akan percaya padamu" dia terus melangkah meninggalkan sosok itu.


"Aku akan membuat sumpah untuk mengorbankan semua nyawa anggota klan kalian dengan begitu dia tidak akan menolak semua ini" dia berteriak menghentikan nona Percilia.


Nona Percilia menghentikan langkahnya dan mengepalkan tangannya. Dia sedang bimbang, keputusan ada di tangannya.

__ADS_1


"Tapi sebelum itu jelaskan siapa kau sebenarnya?" dia berbalik dan bertanya sambil mendekatinya.


"Aku Anndin" dia menunjukan lambang di tangannya.


"Bagaimana mungkin...? Bukankah lambang di tangan Anndin sudah menghitam, dia hanyalah bayangan tanpa raga tapi kenapa kau....?" jawabnya bingung.


"Dia bukanlah bayangan, dia hanyalah sisi burukku yang sedang diasingkan semesta disini" dia tersenyum puas.


"Hahahaha, kamu pikir aku percaya?" tanya Percilia sambil mengarahkan belati padanya.


"Kau memang dari dulu dan sekarang tidak pernah berubah, harusnya semesta menghukummu dengan kejam" dia menahan belati yang diarahkan Percilia olehnya.


"Kamu jangan sok tahu...!!" dia berteriak dan berusaha menarik belati miliknya.


"Aku dulu memberikan belati ini untukmu sebagai hadiah tapi belati ini juga yang merubahmu, gadis yang polos dan pemalu kini sudah menjadi gadis penjilat madu dan menelannya sebagai racun" dia melemparkan belati itu pada dinding.


"Kamu jangan mengoceh, kau bukan Anndin yang ku cintai" dia menatap tajam pada Anndin.


"Aku memang bukan Anndin yang kau cintai sekarang tapi aku selalu ingat gadis yang selalu memberiku seikat sun flower tiap pagi dan sepucuk surat yang kosong" dia balas menatapnya dengan tajam.


"Berhenti mengoceh...!!!!" dia menghela nafas panjang dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku dulu menganggapmu sebagai adik kesayanganku, aku ingin selalu membelaimu ketika kau tertidur. Kau sangat lemah dan begitu lembut sehingga aku selalu ingin melindungimu" mata Anndin mulai memerah.


"Aku bahkan menutupi fakta bahwa kau yang sudah menanam bunga anyelir di lahan itu dan membohongi Gara untuk membantumu. Saat aku tahu kaulah penyebab Ranni wafat, aku sangat hancur. Adik kesayanganku menusukku dari belakang tapi aku masih percaya padamu saat itu. Aku rela menerima hukuman ini dan ikut menanggung hukumanmu, aku pikir kau akan berubah" dia terdengar sangat emosi.


Hiks... Hiks... Hiks...


Nona Percilia hanya menangis, suara itulah yang sangat dirindukannya. Sisi yang selama ini hilang dari tubuh Anndin yang dikenalnya kini datang menemuinya dalam wujud yang sama.


"Kamu harus membantuku kali ini, berhentilah jadi gadis penjilat madu" dia memeluk nona Percilia yang menangis.


"Dari mana saja kau selama ini? Kamu harusnya datang menemuiku sejak dulu dan menghentikanku untuk melakukan semua kejahatan ini, semua sudah terlalu kacau untuk diperbaiki" dia terisak di pelukan Anndin.


"Kamu harus percaya padaku, aku akan membantumu memperbaiki semuanya" dia mengeratkan pelukannya.


"Aku......, takut...." dia terus menangis di pelukannya hingga air matanya membasahi baju Anndin.


"Aku sudah pulang, jangan takut aku akan melindungimu" dia membelai rambut nona Percilia.


Hiks... Hiks... Hiks...

__ADS_1


Nona Percilia terus menangis, dia sedang melepas beban yang selama ini dia pikul.


"Kamu masih menanam sun flower untukku atau memberiku sepucuk surat kosong?" dia berusaha menghibur nona Percilia yang terus menangis.


"Aku sudah lama tidak menanam bunga itu. Aku bukan gadis yang suci seperti dulu" dia berbicara sambil terisak.


"Kamu tahu, aku sangat merindukanmu. Gadis mentari....." dia terus mengusap kepalanya berusaha menenangkannya.


"Itu bukan julukan untukku lagi, aku hanyalah gadis penjilat madu seperti yang kau katakan" dia terus menangis.


"Maafkan aku, aku terbawa emosi tadi" dia merasa bersalah.


"Julukan itu bukan pertama kali aku mendengarnya darimu, semua orang di dunia ini mengutukku seperti itu. Mereka tunduk dan selalu memujaku tapi mereka mencibirku di belakang" dia masih berbicara sambil terisak.


"Kamu masilah menjadi adik kesayanganku, gadis mentari yang selalu memberiku surat kosong" dia berbisik lembut padanya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" nona Percilia bertanya sambil mengusap air matanya.


"Kita akan menghadiri rapat darurat, kamu hanya perlu diam dan mengikuti semua rencanaku" dia mengusap sisa air mata yang membasahi pipi nona Percilia.


"Tapi..., bagaimana kau bisa kesini?" tanya Percilia.


"Aku akan menceritakannya nanti, kita harus selesaikan ini dulu" jawab Anndin singkat.


*****


Jangan pernah menyalahkan rasa cinta yang kau miliki sekarang. Rasa itu sangat murni dan sakral, kaulah yang mengendalikannya jadi jangan mengkambing hitamkannya karena dia ada bukan untuk disalahkan melainkan untuk dijaga....


"Kak..., kamu mau kemana?" dia menarik tangan Anndin yang hendak meninggalkannya.


"Aku sudah menyelesaikan tugasku, aku serahkan semuanya padamu" dia membelai rambut nona Percilia.


"Jangan pergi....!!!" matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa terlalu lama disini" dia melihat jam tangan yang dikenakannya.


"Sampai besok pagi tetaplah disini, aku rindu sosok kakak yang membelaiku ketika tidur" dia menatap Anndin dengan tatapan sendu.


"Maafkan aku, tetaplah Menanam sun flower untukku tapi aku mau jangan memberikannya dengan surat kosong isilah surat itu dengan apa yang kau rasakan tiap harinya. Aku akan datang menemuimu lagi" dia melepaskan tangannya lalu pergi ditelan derasnya hujan yang terus terjatuh tanpa henti.


Nona Percilia hanya bisa menangis sambil terus menatap ke arah Anndin yang berlalu....

__ADS_1


Hiks... Hiks... Hiks...


__ADS_2