
Hari yang masih terus berlanjut. Hari ini sudah berlalu, biarkan dia bercerita sendirian dalam mimpinya.
"Ell..., ini dimana?" Ranni menoleh pada Ella yang duduk di samping ranjangnya.
"Kamu di rumah sakit Ran...." dia menjawab sambil tertunduk.
"Kok bisa?" dia mengalihkan pandangannya pada jam dinding.
Ella tidak menjawab, tatapannya terus kosong. Ada sesuatu mengganggu pikirannya.
"Ell.....?" Ranni menarik tangannya.
"Iya? Ran maaf yah.., aku nggak enak badan. Aku duluan ya...? Kamu nggak apa-apa sendiri kan?" dia terlihat sangat buru-buru dan langsung keluar meninggalkannya.
Ranni mengangguk dan melihatnya kebingungan.
Dia merasa badannya terasa sakit semua. Tulang-tulangnya serasa remuk. Dia menarik nafas panjang sambil mengangkat tangannya dan tanpa sengaja dia memegang lehernya.
"Sejak kapan aku memiliki luka ini? Kenapa rasanya sakit sekali?" dia mengkerutkan keningnya sambil mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi padanya.
Biiippp.... Biiipppp... Biippp...
Hpnya tiba-tiba berdering. Dia segera mengambil hpnya itu dari tasnya yang terletak diatas meja. Di layar hpnya tertulis panggilan masuk dari Bunda.
"Hallo Bunda?" dia menjawab dengan riang.
"Sayang apa yang terjadi di kampus? Katanya kamu dilarikan ke rumah sakit?" dia terdengar sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja Bu, aku tadi terluka saat belajar memainkan biola. Heheheh...
Maaf yah udah buat bunda khawatir"
"Kamu yakin nggak apa-apa?" dia seperti tidak mempercayai Ranni.
Tiiiiit... Tiiit.....
Sambungan teleponnya tiba-tiba terputus.
Ranni menatap layar hpnya yang mati dengan kecewa. Hpnya kehabisan baterai. Dia kemudian bangkit dari tempat tidur itu dan mencabut semua jarum yang tertancap di tangannya. Dia tidak bisa terlalu lama tinggal disitu.
"Aku harus mencari tahu apa yang baru saja terjadi" dia bergumam sambil berlari meninggalkan ruangan itu.
Pohon yang kesepian kini memiliki teman baru. Seekor burung yang hinggap ke dahannya membuatnya sangat bahagia. Kini dia bisa berbagi cerita dengan burung kecil nan manis.
Ranni keluar dari rumah sakit itu dengan terburu-buru. Ketika dia hendak memanggil taksi matanya tiba-tiba tertuju pada Ella yang sedang bercakap-cakap dengan Zyin. Mereka terlihat sangat serius. Dengan cepat dia menghampiri mereka dan membatalkan niatnya untuk segera pulang.
"Ella!" Ranni memanggilnya sambil melambaikan tangannya.
Ella terlihat sangat terkejut, dia berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Sebelum Ranni datang dan menghampiri mereka, dia membisikan sesuatu pada Zyin. Mereka sepertinya berusaha merahasiakan sesuatu darinya.
"Kamu udah baikan?" dia bertanya dengan ekspresi gugup.
__ADS_1
"Iya..., kamu bukannya nggak enak badan?" dia mengamati Ella dengan tatapan sinis.
"Aku tadi yang mencegahnya untuk pulang" Zyin menjelaskan agar Ranni tidak curiga.
Ranni melihat ke arah mereka dengan heran. Mereka tidak bisa membohonginya seperti itu. Ella bukanlah orang yang jago berbohong.
"Ummm.... Zyin kami duluan ya?" dengan cepat Ella menarik tangan Ranni untuk pergi dari situ agar dia tidak semakin curiga.
Zyin mengangguk dan menatap Ranni dengan seksama.
Ella memanggil taksi yang lewat dan terus menarik tangan Ranni. Dia memaksa Ranni masuk ke taksi itu dengan cepat. Di dalam taksi itu mereka hanya terdiam. Ella seperti tidak ingin membahas sesuatu dengannya. Ranni berusaha bersikap normal meski hatinya merasa sangat curiga. Mereka menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ell, kok aku bisa luka dan dilarikan ke rumah sakit?" dia melihat ke arah Ella.
"Oh itu...., tadi kamu terjatuh" dia terkejut dan menjawab dengan spontan.
"Kamu kok aneh? Aku nggak bodoh Ell. Mana ada orang jatuh trus lukanya di leher" dia terdengar sangat kesal.
Ella hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Ranni. Dengan cepat dia meminta pada supir taksi itu untuk berhenti.
"Pak..., aku turun disini saja. Antar temanku pada alamat yang kusebutkan tadi" dia tersenyum pada supir itu.
Ranni menatapanya dengan tajam dan sangat kesal tapi dia tidak mencegah Ella untuk pergi.
"Aku akan mencari tahu sendiri apa yang terjadi" dia melipatkan tangannya ke perutnya sambil menatap benci pada Ella yang berlalu.
Ella berjalan dengan cepat seperti di kejar oleh seseorang. Dia berjalan sambil menoleh kebelakang dan kesamping kiri kananya.
Perkataan Zyin padanya terus terlintas dalam ingatannya.
Semua orang yang melihat kejadian itu pasti akan mati dengan mengenaskan Ell. Kamu harus mencari tahu siapa saja yang melihat kejadian itu tapi kamu juga harus hati-hati karena bisa saja kamu yang akan ditargetkan terlebih dahulu.......
Dia terus berjalan menyusuri lorong-lorong jalan itu dengan cemas. Nalarnya tidak percaya tentang kisah dibalik kehidupan Ranni. Dia harusnya sadar dari dulu bahwa selamatnya Ranni dari kecelakaan itu memiliki kejanggalan. Ranni sahabatnya sudah lama meninggal dunia dan yang hidup sebagai sahabatnya sekarang adalah orang lain. Dia hanya meminjam raga itu. Sekarang dia ikut terjerat pada kutukan yang selalu di bawa oleh Ranni. Pilihannya hanya mati membawa rahasia ini atau membantu Ranni untuk menemukan kalung itu.
Ranni menyandarkan kepalanya pada kasur kamarnya. Dia menutup matanya perlahan-lahan dan menghela nafas panjang.
"Ran....!!" Aqyla memanggilnya.
"Aku kesini lagi?" dia bertanya pada Aqyla kebingungan.
"Kamu hanya perlu menutup matamu dan berkonsentrasi untuk menemui kami" Aqyla tersenyum padanya.
"Apa yang sudah terjadi?"
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengosongkan ingatanmu. Dia mengambil alih tubuhmu tadi" dia menunjuk pada Aqyla yang lain.
"Apa? Lalu apa yang terjadi?"
"Dia......"
"Aku ingin mencoba untuk mengancam Mulan agar tidak mengganggumu tapi aku salah. Dia sudah berbagi jiwa bersama penyihir itu" dia menjekaskan perbuatannya pada Ranni.
"Maksudmu? Penyihir yang mencelakai Afgar?" dia terlihat ketakutan.
Mereka mengangguk pelan.
__ADS_1
Biiiiippppp.... Biiiippppp....
Hpnya tiba-tiba bergetar, seseorang menelponya dan akibat panggilan itu dia kembali ke dunia nyata. Tapi dia tidak mengangkatnya karena panggilan itu berasal dari orang yang tidak dikenalnya. Kontaknya tidak tersimpan di Hp Ranni.
Biiiiipppp..... Biiiiippppp....
Nomor itu kembali menelponya.
Kenapa dia terus menelponku?
Dia bergumam lalu mengangkatnya.
"Hallo?"
"Ranni......, Tolooooong...." orang itu berteriak lalu sambungannya terputus.
Bulu kuduk Ranni sontak berdiri. Panggilan itu sangat misterius. Dia menelponya di malam hari dan meminta tolong untuk meminta bantuannya. Suaranya terdengar sangat asing dan sepertinya Ranni tidak mengenal orang itu.
"Mungkin salah sambung tapi..., dia tahu dari mana namaku?" Ranni mengkerutkan keningnya dan menatap layar hpnya.
Dia menelpon balik orang itu. Mungkin saja dia benar-benar membutuhkan bantuan.
Sambil menghela nafas panjang dia menempelkan hpnya pada telinganya dan menunggu jawaban dari orang itu. Tapi... Orang itu tidak menjawab. Dia mencoba membuat panggilan kembali.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan silahkan tinggalkan....... Bla... Bla.....
"Tadi masuk..., sekarang kok nggak aktif?" dia menggaruk kepalanya.
Ranni berusaha menghubungi orang itu kembali tapi tetap tidak bisa tersambung.
"Dia sepertinya tahu aku sedang sendiri di rumah. Pasti dia mau menakut-nakutiku" dia berkata sambil melemparkan hpnya ke kasur.
Ranni mengambil guling untuk dipeluk. Orang yang baru saja menelponnya mungkin hanya mau mengerjai Ranni. Dia pasti hanya sekedar iseng menebak namanya.
Dia kemudian tertidur dengan lelap.....
Lirik-lirik lagu yang sering dinyanyikan Ranni sudah tidak pernah terdengar lagi. Hidupnya sudah kembali normal, dia tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Ranni sadarlah...., bukan waktunya untuk bahagia sekarang. Kau sudah memulai bencana baru. Semua orang akan terluka karenamu.
Aaaaaaaaaaaa.......
Seorang mahasiswi berlari ketakutan di sebuah lorong. Seseorang mengejarnya dari belakang, orang itu membawa linggis di tangannya. Pakaiannya serba hitam dan sangat menyeramkan. Dia terlihat seperti hantu bayangan yang memakai gaun penyihir.
Mahasiswi malang itu terus berlari berusaha menyelamatkan diri tapi sosok itu mengejernya tanpa henti. Sampai akhirnya mahasiswi itu terjatuh karena kelelahan dan tanpa aba-aba sosok itu langsung menancapkan lingis itu ke kepalanya.
Aaaaaaaa.....
Teriakan terakhir dari mahasisiwi itu membangunkan malam yang tenang. Sosok yang kejam itu kemudian membawa mahasiswa itu ke kampus dimana dia menimba ilmu.
"Kamu terakhir duduk di kursi ini, nikmati pelajaran terakhirmu" sosok itu menaruh mayat mahasiswi itu di kursi tempat mahasiswi itu terakhir kali duduk lalu melangkah ke papan tulis dan menulis sebuah kalimat.
Kelinci kecil sudah membeku, pohon yang kesepian kini memiliki sahabat. Dunia sudah terbalik.
Dia menulis tulisan itu menggunakan spidol yang memiliki tinta berwarna hijau. Selesai menulis kalimat itu, sosok itu membawa spidol yang dia gunakan tadi dan menaruhnya di tangan mayat mahasiswi malang yang terdiam.
__ADS_1
Sirene mobil ambulance bersahut-sahutan di luar. Ranni membuka matanya dan melihat jam di dinding, suara-suara itu berhasil mengganggu tidurnya. Dia kemudian memegang dadanya yang serasa sesak seperti dia merasakan suatu kesedihan pilu.
"Mungkinkah seseorang sedang terluka dan menjerit di luar sana?" dia berbalik melihat ke arah jendela kamarnya dengan tatapan berduka.