
Beberapa menit sebelum pembunuhan.
Biiiipppp..... Biiiipppp.... Biiiippppp....
Ranni melihat layar hpnya.
"Kontak baru lagi?" dia memasang wajah cemberut.
"Siapa Ran?" Eka melihat ke arahnya.
"Aku juga nggak tahu, semalam juga ada yang menelponku dengan kontak baru. Dia terdengar seperti ingin meminta bantuan tapi setelah aku telpon balik nomornya mati" dia menjelaskan sambil mengamati hpnya.
"Angkat saja Ra..., siapa tahu kali ini orang yang berbeda" dia merebut hp itu dari tangan Ranni.
"Tapi...." Ranni berusaha mencegahnya.
"Hallo?" dia langsung menjawab tanpa memedulikan Ranni.
"Ranni....., Tolooooonggg Akuuuu" orang itu berteriak histeris
Eka terkejut dan langsung melempar hp Ranni.
"Ada apa?" tanya Ranni khawatir.
"Dia minta tolong Ran, suaranya terdengar seperti orang kesakitan. Aku merinding..." Eka menatap Rani dengan ketakutan.
Ranni mengambil hpnya dan langsung menelpon balik.
"Hallo...?" dia terlihat sangat gugup.
Tidak ada jawaban dari seberang hanya terdengar suara-suara aneh.
"Hallo?" Ranni menyapanya kembali untuk memastikan.
Terdengar suara gesekan kursi bersamaan dengan suara desahan wanita.
Ranni memutuskan panggilan itu dengan ekspresi emosi sekaligus jijik.
"Siapa?" Eka mengamatinya.
"Kayaknya mereka para pekerja ****. Dasar Biadab!!" dia kesal dan langsung mematikan hpnya.
__ADS_1
Eka memiringkan kepalanya sambil mengingat suara yang di dengarnya tadi. Suara itu sepertinya benar-benar butuh bantuan.
----------------------------------------------------
"Kejar wanita itu!!!"
Beberapa polisi dan mahasiswa mengejar seorang wanita yang diduga telah membunuh kekasihnya.
Wanita itu berusaha melarikan diri. Dia tanpa lelah menaiki anak tangga dengan kecepatang maksimal.
"Aku tidak membunuhnya.....!!!!" dia berteriak ketakutan.
Para polisi itu terus mengejarnya tanpa henti. Hingga akhirnya wanita itu terjebak. Mereka mengepungnya di lantai terakhir gedung itu.
Pilihannya hanya mati atau tertangkap.
"Jangan mendekat....!!" dia mengancam dan berlari ke ujung gedung itu.
Orang-orang yang mengejarnya terlihat was-was. Mereka berhenti melangkah.
"Kami hanya ingin meminta keterangan darimu bukan untuk menangkapmu" seorang polisi menenangkannya sambil mendekatinya dengan hati-hati.
"JANGAN MENDEKAT!!!" dia berteriak dan melihat ke bawah.
"Kalau aku jadi kamu lebih baik mati dari pada difitnah, mereka tidak akan percaya padamu" dia berbisik sambil membelainya.
"Ini pembunuhnya, tangkap dia....!!! Jangan tangkap aku. Tadi dia yang membunuh bukan aku!!! Aku melihatnya sendiri!!! Aku korban!!!" wanita itu berteriak sambil menunujuk-nunjuk ke depannya seolah ada seseorang yang berdiri disitu.
Semua orang yang menyaksikan adegan itu kebingungan.
Siapa orang yang dimaksud wanita itu sedang disitu dia hanya berdiri sendiri.
"Cepat tangkap dia!!!! Dia bisa kabur dan menghilang tanpa jejak... TANGKAP!!!" kali ini dia berteriak sambil seolah menarik tubuh orang tak kasat mata.
"Aku sudah bilang...., aku adalah malaikat maut kurang kerjaan. Apakah kau tidak merindukan pacarmu? Katanya dia kesepian disana" dia berbisik pelan di telinganya.
"PERGIII!!!! Aku tidak akan tertipu oleh ******** sepertimu!!" dia menatap orang itu dengan penuh amarah.
Tanpa wanita itu sadari seorang polisi mendekatnya sambil mengendap-endap. Dia kemudian menarik tangannya.
"Lepaskan.....!!!" wanita itu menarik tangannya kembali.
"Pilihan ada di tanganmu, mati untuk menemui kekasihmu atau hidup dibalik kurungan" dia tersenyum lalu perlahan-lahan menghilang, tubuhnya saperti terbang dibawa angin yang lembut.
__ADS_1
"Jangan bergerak!!!" polisi itu memborgol tangannya.
Wanita malang itu mengamati wajah polisi yang masih terlihat agak muda.
"Apakah kau sudah punya istri dan anak?" dia bertanya dengan tatapan kosong.
Polisi itu terkejut mendengar pertanyaannya tetapi dia tidak memedulikan pertanyaan itu.
"Mari mati bersamaku, aku hanya ingin berbagi duka pada istri dan anak mu. Suaminya telah lalai dalam bertugas" dia berbicara pelan lalu menarik tangan polisi itu untuk lompat dari gedung yang tinggi itu.
"Tiiiiddaaaaakkkk!!!!" seorang polisi berteriak melihat temannya yang jatuh bersama wanita itu.
Dia berlari dan melihat ke bawah. Tubuh sahabatnya melayang di udara dan semakin menjauhinya.
Aku memilih mati dari pada hidup dengan dendam. Semua orang hanya akan mendengarkan ucapanmu berdasarkan realita. Mereka tidak percaya pada hal mistis dan gaib. Hari ini aku membuktikan kenyataan itu. Aku menjadi saksinya, seorang yang dituduh membunuh kekasih yang sangat dicintainya. Aku bukan orang sekejam itu.
Wanita itu menutup matanya dan mengenang kisah-kisah bahagia yang pernah dia lakukan bersama pacarnya.
Aku mencintaimu dan terlalu cinta padamu. Izinkan aku mengukir darah yang sama disini. Kehampaan ini mari berbaginya bersama.
Braaaaaaaakkkkkkkkk.....
Tubuh wanita dan polisi itu melekat di permukaan tanah. Darah segar mengalir seperti banjir di musim kemarau. Tidak ada gunanya mengerang dan merintih kesakitan. Menutup mata adalah pilihan terbaik.
Umurku mungkin sampai hari ini.
Burung yang bernyanyi indah tiap hari menjumpai kesialannya. Seorang pemburu datang dan menembaknya hingga dia terjatuh bersimbah darah. Pohon kesepian tempat dia menghinggap sangat marah melihat kejadian itu tapi dia hanya bisa menyaksikan. Pemburu itu memungut ranting-rantingnya yang mengering di tanah dan membakar mayat burung itu untuk dilahapnya.
Pohon kesepian itu sangat terpukul dan bersedih atas kematian burung kecil sahabatnya. Siang dan malam di terus menangis merintih. Dia tidak bisa melepaskan kepergian teman karibnya. Air matanya yang selalu tumpah membasahi batang kekarnya perlahan-lahan membusuk. Pohon kesepian itu menemui ajalnya....
"TIIIIIIDDDDAAAAAKKKKKK!!!!" seorang polisi yang merupakan teman karib dari polisi yang di tarik wanita tadi untuk mati bersamanya merintih sambil memeluk tubuh temannya yang penuh dengan darah.
Tidak ada perpisahan yang membahagiakan, tidak ada..........
Ranni menatap adik Eka yang terbaring lemah di ranjang kamarnya yang lusuh. Eka tinggal di sebuah kos-kosan yang hanya bisa menampung 1 orang tapi dia tinggal disitu bersama adiknya yang sakit.
"Sakit apa adikmu?" dia bertanya sambil berusaha menahan air matanya.
"Dia mengidap hepatitis" Eka tertunduk sedih.
Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit?
Eka sepertinya berjuang keras menghidupi dirinya. Adiknya yang sakit membuat bebannya semakin bertambah.
__ADS_1
Takdirnya terlalu kejam.....