
Di hari itu pula, Zaid sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, mengingat kondisinya yang sangat baik. Ternyata dia hanya menginginkan permintaan maaf dari putrinya yang menjadi beban pikiran hingga membuatnya kondisinya drop. Semua orang mulai bernafas dengan lega, kekhawatiran yang tadinya menyelimuti hati dan juga pikiran seketika menghilang, dengan perlahan, dan juga hubungan dari Zaid dan Rasidha kembali merekat seperti biasanya.
Di dalam kamar, dua keluarga tengah berkumpul karena kondisi Zaid yang harus bed rest selama satu hari penuh. Sekarang hanya tinggal canda tawa dari mereka, mengingat mata Suci, Azzam dan Rasidha bengkak akibat kebanyakan menangis.
"Wah, ini kali pertama aku melihat sepupuku Azzam menangis, itu terlihat sangat buruk." Cibir Ayna yang tertawa puas, seraya memotret sepupu laki-lakinya. Umur yang tidak jauh berbeda, hanya berjarak beberapa bulan saja.
"Sudah berapa kali aku peringatkan kepadamu untuk tidak memotretku," sarkas Azzam yang tidak terima menjadi bahan guyonan semua orang.
"Kamu tidak akan bisa melawanku dari kecil hingga sekarang, aku selalu menang darimu dan juga pelari yang hebat." Ayna kembali tertawa saat berhasil membuat sepupunya itu kesal, itulah yang mereka lakukan dulu sewaktu kecil
"Aku tidak ingin mengejar seorang wanita sepertimu, yang sangat aneh dan juga barbar. Aku sangat yakin, bagaimana pusingnya paman dan juga bibi mempunyai anak sepertimu."
"Biarkan itu menjadi urusanku," balas Ayna yang tidak ingin mengalah.
Aisyah, Suci, Doni, dan Zaid tertawa dengan tingkah anak-anak mereka. "Kalian jangan terus bertengkar, apa kalian ingin aku nikahkan."
"Abi, jangan katakan hal itu di saat usiaku masih lima belas tahun. Menikah dengannya? Itu tidaklah mungkin, tentu saja aku mempunyai kriteria pria idamanku yang kelak menjadi suamiku." Tolak Ayna mentah-mentah membuat Doni terkekeh.
"Wah, sepertinya Ayna tidak menginginkanmu, Azzam." Goda Zaid yang bertos ria dengan kakak iparnya.
"Emangnya siapa dirimu? Apa kamu berpikir jika aku ingin menikah denganmu? Tidak. Lebih baik aku kabur dan berpuasa sebulan penuh daripada harus menikahi gadis aneh sepertimu."
"Sudahlah, kalian itu sudah remaja. Jangan bersikap seperti anak kecil yang baru saja berusia delapan tahun. Paman Zaid baru saja sembuh, dan jangan sampai karena mendengar suara pertengkaran kalian akan membawanya kembali ke rumah sakit." Aisyah mencoba untuk menghentikan dengan menengahi perdebatan itu.
Suci menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku anak dan juga keponakannya, yang selalu saja membuat kerusuhan dengan meramaikan suasana kehangatan keluarga. Dia tersenyum ke arah suami dan juga anak sulungnya yang sudah perbaikan dengan keadaan dan kenyataan pahit. "Alhamdulillah Ibu sangat menyukai jika kalian berbaikan dengan keadaan di masa lalu, mulai sekarang ayahmu tidak perlu lagi menggunakan sorban untuk menutupi wajahnya."
__ADS_1
"Tapi apa yang terjadi? Mengapa ayah selama ini menutupi wajah tampannya dengan sorban? Apa ibu takut jika ada wanita lain yang merayu ayah?" sela Azzam yang masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi, hal itu membuat keempat orang dewasa tertawa dengan keluguan dari pria remaja.
"Mungkin saja, tidak ada yang tahan melihat pesona ayahmu ini." Jawab Zaid yang menyombongkan diri.
"Ck, bahkan kesombongan itu juga tak menghilang darimu. Ingat usiamu sekarang dan perbanyaklah membaca istighfar, jangan jadikan dirimu sebagai orang-orang jahiliah." Cetus Doni menasehati adik iparnya, sifat yang akan keluar jika mereka berkumpul.
Zaid menunjukkan kelima jarinya sebagai tanda dia tak ingin mendengar lanjutan dari perkataan kakak iparnya. "Aku tahu kamu menantu dari kyai besar Baharuddin, simpan saja nasehatmu itu."
"Memangnya apa salahku? Aku hanya mengingatkan saja, aku menginginkan jika kita juga bertetangga di surga nanti."
"Terserah padamu saja Kakak ipar. Kenapa kamu bisa menyukai pria sepertinya?" ucap Zaid yang menatap sepasang suami-istri istri di dekatnya secara bergantian.
Aisyah tampak malu-malu, bagaimana Doni yang begitu mudah dia taklukkan saat bekerja di perusahaan milik almarhum Zufar, mantan suami Suci yang dikelola oleh suaminya. Perkenalan dari dua orang yang sangat berbeda karakter, dan bahkan saling bertolak belakang.
Kedua pria itu memperlihatkan sisi kekanakan mereka saat berkumpul, tapi tidak di hadapan semua orang layaknya pemimpin yang terlihat arogan dan juga disiplin.
"Tapi itu tidaklah mudah, saat Aisyah memberiku saray sebelum pernikahan yaitu hafal juz tiga puluh membuatku hampir gila. Untung saja Rasidha menjadi penyelamatku dan dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri." Terang Doni yang tersenyum sembari menunjuk keponakannya.
"Jangan berlebihan, Paman lah yang berusaha keras untuk mendapatkan bibi. Apa itu yang dinamakan cinta sejati?" ucap Rasidha yang belum memahami kata itu.
"Apa ada pria yang kamu sukai di pesantren?" tanya Zaid yang tak suka dan mulai menjadi begitu posesif pada putrinya.
"Aku hanya bertanya saja," sahut Rasidha, dia tahu bagaimana karakter ayahnya.
"Ayahmu memang begitu, jadi harap di maklumi sajalah." Sela Doni.
__ADS_1
"Apa Rasidha akan kembali ke pesantren atau di sini?" tanya Aisyah.
"Tentu saja, aku sangat merindukan pesantren dan akan belajar tiga bulan saja." Jawab Rasidha yang sangat bersemangat.
"Tapi sebagian besar yang kamu pelajari sudah dipelajari di Kairo, sebaiknya kamu mengambil kuliah yang lebih tinggi." Aisyah menarik perhatiannya pada sang keponakan.
"Ibu tidak melarangmu untuk belajar, tapi jangan mengulang pelajaran yang sudah kamu pahami. Belajarlah ilmu yang belum kamu pahami untuk memudahkan di masa depan, Insya Allah." Sambung Suci yang mencoba untuk mengarahkan anaknya.
"Baik Bu, aku akan belajar selama satu bulan saja dan kembali melanjutkan pendidikanku."
"Tapi, kemana Kakak akan melanjutkan studi?" sela Ayna yang sangat penasaran.
"Aku belum memikirkannya."
"Tapi, jangan mengambil universitas di luar negeri. Itu sangat merepotkan, apalagi Kakak sakit. Siapa yang akan menjaga Kakak di negeri orang?" sewot Ayna yang di setujui oleh Azzam.
"Pilih sesuai dengan keinginan hatimu, jangan sampai menyesal di kemudian hari dan memutuskan di pertengahan jalan."
"Iya Bu, aku pasti mengingat kata-kata Ibu."
Setelah memastikan semuanya aman dan tidak ada yang perlu diperhatikan, Rasidha dan keluarga pamannya segera berpamitan untuk kembali ke pesantren.
Cukup berat bagi Suci melepaskan anaknya sulungnya pergi, apalagi di saat dia mengantarkan anaknya ke bandara yang memutuskan studi di Kairo. "Kalian semua hati-hati, dan jangan lupa baca bismillah sebelum pergi."
"Iya," sahut mereka yang sudah masuk ke dalam mobil. Suci melambaikan tangannya dan segera menyeka air mata haru, sekarang dia bisa bernafas lega saat anak dan suaminya sudah saling memaafkan. "Apalagi yang aku inginkan selain ini? Semua permasalahan di masa lalu telah diselesaikan dengan sangat baik, dan aku berharap Rasidha menjadi wanita sholehah dan juga berwawasan luas."
__ADS_1