
Rasidha tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Dia sangat terkejut dan juga sok saat mendengar kabar dari sesosok wanita bercadar. "Apa tidak ada kabar yang didapat selama ini?" tanyanya yang begitu penasaran.
"Kami mendapatkan informasi kalau Afif membangun kembali gubuk tua yang ada di tengah hutan, beberapa orang juga menelusuri tempat yang dimaksud tapi tidak ada siapapun di sana." Jawab Amayra begitu khawatir dengan adiknya yang belum ditemukan semenjak konflik terjadi, kebesaran akan cinta pada manusia malah membuat orang itu semakin terpuruk.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Terakhir dia pergi mengatakan untuk menenangkan diri, kami menyetujuinya karena saat itu berpikir kalau Afif pergi ke Istanbul atau ke pesantren milik Abi. Tapi dugaan kami salah, karena dia tidak ditemukan hanya informasi di tengah hutan yang kami temukan. Dia pernah berkata sangat mencintaimu sewaktu kalian pertama kali bertemu. Tolong bantu aku untuk mencarinya!" Amayra menyatukan kedua tangannya dengan sorot mata yang begitu tulus, berharap kalau adiknya segera ditemukan. Keputusasaan membuatnya menjadi orang yang egois, mempunyai sedikit harapan untuk dipertemukan.
"Tapi aku juga tidak bisa keluar dari sini karena suamiku masih mengincar di luar sana." Rasidha begitu bimbang di satu sisi dia mengkhawatirkan keadaan Afif, dan di sisi lainnya dia mempunyai masalah dengan sang suami yang masih mengintainya di setiap sudut.
Amyra meneteskan air mata membasahi cadarnya dia berputus asa sambil bersimpuh di kaki gadis itu. "Bantulah aku untuk menemukannya, aku dan semua keluarga sudah putus harapan. Tetapi semenjak kedatanganmu harapanku kembali bersinar, hanya kamu yang bisa membawa Afif pulang. Maafkan aku yang bersikap egois, sungguh ini karena aku sangat mencemaskan adikku."
"Astagfirullah, apa yang Kakak lakukan? Jangan bersimpuh di kakiku, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau ini terus saja berlanjut." Rasidha memegang kedua bahu wanita bercadar itu dan mengangkatnya, sungguh memalukan baginya yang membiarkan wanita bercadar itu bersimpuh di kaki, apalagi usia mereka sangat jauh.
Permasalahan yang dihadapi tanpa menemukan titik ujung begitu banyak ujian yang diberikan oleh sang pencipta kepadanya. "Akan aku usahakan untuk mencari keberadaan mas Afif." Ucapnya yang juga tidak tahu bagaimana pucuk dan juga akar.
"Alhamdulillah, aku lega mendengarnya aku harap kamu menepati perkataanmu hanya kamu jalan satu-satunya yang aku punya. Aku pergi dulu, tidak baik berlama-lama di sini. Assalamu'alaikum." Ujar Amayra yang tersenyum, terlihat jelas dengan kerutan di bagian mata.
"Wa'alaikumsalam. "
Rasidha memahami arti dari penekanan nada yang diucapkan oleh Amayra yang seperti memaksa karena kehilangan ustadz Afif karena dirinya. "Aku akan mencoba mencarinya semoga saja Allah mempertemukan kami kembali." Lirihnya yang kembali masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap.
Zaid melakukan pengamanan yang begitu ketat di setiap sudut rumah dia sudah memikirkan jika Felix akan kembali dan membuat kekacauan dengan membawa putrinya.
__ADS_1
Doni juga membantu dalam hal pengamanan musuh yang mereka hadapi begitu berbahaya dan bisa mengancam nyawa semua orang.
"Aku sudah melakukan sebisanya dan berharap kalau pria gila itu tidak datang ke sini. Apa kamu sudah mengurus surat gugatan perceraian itu?"
"Tidak lama lagi surat itu akan keluar dan aku pastikan kalau Rasidha bercerai dengan Felix."
Lain halnya dengan Felix yang hanya tersenyum melihat bagaimana Zaid dan juga Doni berusaha ingin melawannya, tentu saja untuk mengalahkannya tidaklah mudah dia cukup berlatih banyak yang sanggup melumpuhkan dua musuh seimbang dalam sekali serangan. Dengan menyunggingkan senyuman jahat dan juga licik seraya menunggu alkohol yang sudah menjadi temannya
"Aku ingin mereka mendapatkan kejutan? Apa sudah kamu persiapkan?" Menoleh ke arah sang asisten dengan senyuman tipis.
"Tuhan tidak perlu khawatir karena saya sudah mempersiapkannya dengan sangat baik, tapi bagaimana kita bisa melewati para penjaga yang diletakkan di setiap sudut rumah itu? "
"Itu adalah tugasmu dengan menghitung berapa banyak jumlah dari para penjaga yang sudah seperti anjing, dan sekarang mereka secara diam-diam seperti yang mereka lakukan kemarin."
"Baiklah Tuan saya permisi dulu!" asisten Bryan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan, lain halnya dengan Felix yang tertawa jahat.
"Kamu mengenakan cadar?" Suci sangat terkejut dengan penampilan putrinya yang berubah berpikir kalau rasidah melakukannya sesuai dengan keinginan.
"Aku harus keluar, Bu."
"Keluar? Memangnya kau mau pergi ke mana?" Suci mengerutkan dahi menatap sang putri yang ingin berjalan dengan tergesa-gesa.
"Aku ingin menyelamatkan mas Afif."
__ADS_1
"Tidak boleh, Ibu tidak akan mengizinkan kamu bahkan ayahmu juga tak memberimu keluar dari rumah. Di luar sangat berbahaya Nak, Felix masih saja mengincarmu dan Ibu tidak ingin kalau kamu masih bertemu dengannya."
"Tapi karena akulah mas Afif pergi meninggalkan keluarganya." Keukeuhnya.
"Kepergian Afif bukan karena dirimu, melainkan keinginannya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri untuk kesalahan dari orang lain." Suci bersifat egois karena tidak ingin kehilangan sang putri untuk kedua kali.
Sebisa mungkin Suci terus berusaha agar putrinya mengikuti perkataannya, namun tekad dari gadis itu begitu kuat hingga dia tidak bisa mencegah. Rasidha berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari rumah baru satu langkah dia keluar terdengar suara bariton yang begitu tegas. Dia segera menoleh dan sedikit gemetaran, saat melihat raut wajah sang ayah yang sudah mengeluarkan ultimatum.
"Ayah, izinkan aku keluar untuk mencari mas Afif."
"Aku sangat yakin ini karena pengaruh Amayra yang datang menemuimu, bukankah kamu sudah tahu bagaimana kejamnya Felix yang bisa menemukanmu jika keluar selangkah lagi dari tempat ini." Zais juga melakukan hal yang sama demi melindungi putrinya.
****
Seorang pria terbaring diatas tempat tidur yang sempit, wajah yang pucat serta tubuh yang semakin kurus menandakan kalau dia tidak semangat lagi untuk menjalani hidup. Sepasang suami istri sangat merasa kasihan melihat seorang pria yang terwujud lemas dan tidak berdaya.
"Makanlah ini dan setelah itu minumlah obatnya!" wanita itu menyuapi sang tamu dengan begitu telaten sebagai seorang perawat handal.
"Sudah lama kamu diam saja, setidaknya katakan sesuatu!"
"Rasidha." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Afif dengan genangan air mata yang menetes, kondisi ini yang sangat lemah seperti tengkorak hidup, hanya menyisakan kulit pembalut tulang.
"Syukurlah kalau dia sudah mengucapkan satu kalimat." Sahut pria paruh baya yang tersenyum, setidaknya ada sedikit kemajuan untuk kesehatan pria itu dan kemungkinan untuk hidup."
__ADS_1
"Bener Pak, tapi aku masih merasa penasaran apakah itu istrinya?"
"Mungkin iya mungkin juga tidak. Entahlah, Bapak juga tidak tahu."