Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 25 - Ustadz Afif mulai posesif


__ADS_3

Rasidha mengagumi sosok Amayra yang begitu sempurna dalam berpakaian, khusyuk menjalankan Istiqomah dengan menjalankan sunah yang menggunakan cadar. Dia sangat tertarik dengan pakaian itu, tapi belum sanggup dalam melakukannya yang terasa masih berat. 


"Kak Amayra." 


"Iya, ini aku. Wah, ternyata pilihan adikku sangat pas dan kamu juga sangat cantik." Puji Amayra yang membuat rona pipi Rasidha merona karena tersipu malu. 


"Jangan berlebihan dalam memuji Kak, ayo kita pergi! Keluarga ku sudah menunggu," tutur Rasidha yang mempersilahkan. 


"Tentu, mari!" 


Keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir, mereka banyak bercerita mengenai rutinitas harian yang pastinya terlihat nyambung. Hobi yang sama membuat keduanya bersatu dengan sangat mudah, ditambahlagi Rasidha yang behitu tertarik memahami beberapa kata sederhana yang diucapkan oleh Amayra mempunyai makna terdalam dan sangat menyentuh hati juga kalbu. 


"Bagaimana menurutmu, Rasidha?" tanya Amayra yang kembali menanyakan mengenai hubungan wanita Palestina itu dengan adiknya.


"Aku sudah menerima mas Afif sebagai calon imamku, semoga saja kami berjodoh." Jawab Rasidha yang tidak memaksakan kehendak melainkan berserah diri mengenai keputusannya.


"Syukur Alhamdulillah, aku berdoa agar kalian berdua di takdirkan berjodoh." 


"Hem, apa yang Kakak lakukan di kota ini?" 


"Ada pekerjaan yang harus di urus, tidak bisa di wakilkan dan itu sebabnya aku berada di sini." Jawab Amayra yang hanya di balas dengan "oh" ria saja, dia paham hanya dengan sekali mendengarkan. "Afif selalu menceritakanmu padaku, sepertinya dia sangat mencintaimu. Aku mendukungnya dalam masalah ini, menikahimu adalah jalan satu-satunya yang harus di tempuh." 


Rasidha hanya menyunggingkan senyuman khasnya, dan menarik perhatian keluar jendela. "Apa aku akan berjodoh dengan mas Afif? Tapi bagaimana kalau kami tidak berjodoh? Apa mereka akan kecewa atau menjauhiku nanti?" ucapnya di dalam hati, memikirkan hubungan yang menirutnya tidaklah jelas, apalagi mereka juga sangat jarang berkomunikasi satu sama lain dan fokus dengan kegiatan masing-masing.


Rasidha membawa Amayra langsung kerumahnya, dia tahu jika wanita itu kelelahan karena perjalanan panjangnya. Setelah beberapa menit, mobil berhenti di rumah yang cukup besar. "Kita sudah sampai." Ucapnya yang bersiap-siap untuk turun, di ikuti oleh wanita yang mantap menggunakan niqab.

__ADS_1


"Ini rumahmu, Rasidha?" tanya Amayra yang menatap kagum pada bangunan mewah di hadapannya, bahkan rumahnya tidaklah semewah itu. 


"Lebih tepatnya milik orang tua ku, merekalah pemiliknya dan aku hanya penghuni saja tanoa mempunyai gelar apapun," sahut Rasidha yang tidak ingin di anggap sombong dan alasannya ialah mengatakan kebenarannya. 


"Masya Allah, tetap saja rumahmu sangat mewah." Amayra tidak menyangka jika xalon istri dari adiknya mendapatkan seorang putri kaya raya, tanpa mengetahui identitas asli.


"Ayo masuk!" ajak Rasidha yang segera mengambil alih untuk menarik koper yang berukuran sedang itu.


"Hem." Dengan cepat Amayra mengangguk dan melangkahkan kaki mengikuti kemana Rasidha membawanya. Di bagian depan saja dia sudah terpukau di tambah lagi dengan isi di dalamnya yang bahkan lebih mewah lagi, bagai masuk ke dalam istana. "Masya Allah, ini sangatlah indah dan juga menabjubkan. Rumahmu persis seperti istana, apa aku akan tersesat disini?" guraunya agar suasana sedikit mencair, sekaligus menutupi tingkahnya yang baru pertama datang. 


"Beberapa koleksi milik ibuku, dan setelahnya adalah milik ayahku yang hobi membeli beberapa dekorasi unik. Ibu pernah melarang karena itu sama seperti pemborosan, dengan membeli barang-barang yang tidak berguna manfaatnya. Karena rasa keukeuh ayah, ibu terpaksa menyetujuinya." Jelas Rasidha yang panjang. 


"Dimana mereka? Aku tidak melihatnya." Ujar Amayra yang celingukan, melihat rumah mewah yang terlihat sangatlah sepi.


"Hoh, apa itu karena kamu menjemputku? Maafkan aku yang tidak tahu hal ini." Ujar Amayra yang merasa bersalah, jika saja dia tidak meminta jemput pada gadis itu, mungkin hal ini tidak akan merepotkan Rasidha. 


"Jangan menyalahkan dirimu Kak, tidak masalah. Lagipula ibu dan bibi juga tidak mempermasalahkannya, silahkan duduk dulu! Aku akan ke dapur sebentar." Rasidha menyambut kedatangan tamu dengan begitu sopan dan juga ramah tutur bahasa yang sedap didengar, dia berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minuman dan juga cemilan untuk sang tamu.


Rasidha menyiapkan minuman dan juga cemilan, namun di saat dia menyiapkan dan sibuk di dapur, terdengar telepon yang berdering dan itu panggilan video call yang dilakukan oleh ustadz Afif, calon suaminya.


"Eh, mas Afif melakukan video call?" Rasidha sangat kebingungan karena dirinya tidak terbiasa melakukan video call dengan lawan jenis, timbul kecemasan dan juga rasa panik di hatinya tetapi segera menutupi hal itu dengan mengabaikan panggilan yang pertama. "Semoga saja dia mengerti mengapa aku tidak mengangkat video call itu." gumamnya yang kembali mengantongi ponsel di dalam saku dan berjalan membawa nampan yang berisi gelas minuman dan juga cemilan untuk sang tamu, dia melangkah menuju ruangan dan mempersilahkan sang tamu untuk mencicipi hidangan sederhana darinya. 


"Silakan diminum, Kak. maaf hanya ada ini saja yang tersedia, Azzam sangat suka mengemil dan dialah yang menghabiskan stok makanan." Gurau Rasidha yang membuat Amayra tertawa, terlihat dari matanya.


"Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup."

__ADS_1


Di malam harinya, Rasidha mengantarkan tamunya untuk tidur di kamar tamu, tepat di sebelah kamarnya  Ibunya sudah membersihkan tempat itu karena tahu jika Amayra datang berkunjung selama beberapa hari. "Kakak bisa tidur di tempat ini, dan katakan apapun yang diperlukan kepadaku, aku akan mengurus segalanya."


"Baiklah, terima kasih. Aku akan menunaikan sholat Maghrib terlebih dulu, dan baru akan turun menemui paman Zaid dan juga bibi Suci." 


"Hem, sebentar lagi mereka pulang dan aku akan memberitahukannya pada Kakak." Rasidah memutuskan untuk pergi dari kamar Amayra dan berjalan menuju kamarnya untuk menunaikan panggilan sang Rabb, tentu saja menjalani kewajiban sebagai umat muslim.


Namun, baru beberapa langkah kembali terdengar ponsel yang berdering, dia segera mengecek siapa yang menghubunginya di waktu senja, tertera nama ustadz Afif yang sekarang menghubunginya. "Ada apa dengannya mengapa selalu saja menghubungiku?" gumamnya yang sedikit jengkel namun mengangkat telepon itu hanya sebentar saja.


"Assalamu'alaikum, Rasidah."


"Wa'alaikumsalam, mas."


"Mengapa kamu tidak mengangkat video call yang sengaja mematikannya?"


"Karena ada tamu yang datang ke rumah dan aku harus menghormatinya."


"Tamu? Siapa tamu itu apakah dia laki-laki? apa kamu tidak tahu jika hal itu dilarang, sebaiknya tamu itu segera pergi dari rumahmu." 


"Eh, kenapa tiba-tiba mas begitu mengaturku? lagi pula yang datang adalah Kak Amayra, apa aku harus mengusirnya?" 


"Eh, jadi Kakakku sudah tiba di sana?" 


"Hem, jika tidak ada yang dibicarakan lagi Aku tutup teleponnya karena ini sudah waktunya sholat Maghrib."


Tanpa menunggu waktu lagi, Rasidha segera memutuskan sambungan telepon karena dia mulai jengkel dengan sikap ustadz Afif yang berusaha untuk posesif padanya. "Sangat menyebalkan." 

__ADS_1


__ADS_2