Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 50 - Hilangnya kesucianku


__ADS_3

Keesokan harinya, Rasidha menangis mendapati dirinya yang sudah tak memakai pakaian, melihat tubuh polosnya di sebalik selimut. Masih mengingat bagaimana Felix memperlakukannya, masih terekam begitu jelas tindakan dari pria yang sudah sah menjadi suaminya telah ingkar janji, dia tidak bisa melihat wajahnya di cermin dan mulai membenci tubuhnya saat merasakan jijik. 


"Aku sudah tidak suci lagi," lirihnya yang menenggelamkan wajahnya, menangis mengeluarkan semua yang ada di dalam hati juga perasaannya. Tidak bisa dia menghadapi keluarga maupun Afif, dan sudah kalau dirinya akan melawan Rahwana dan pulang dalam keadaan masih suci. Tapi, kenyataan tak seindah harapan. 


Rasidha terus menangis, mengingat bagaimana Felix yang begitu kasar dan bahkan pakaiannya robek. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak berani untuk kembali pada ayah dan ibu." Lirihnya yang sesekali sesenggukan. 


Rasidha mendengar jelas suara gemericik air dari kamar mandi dan juga siulan seseorang yang sangat dia hafal. Felix segera keluar dari kamar mandi dan tersenyum miring saat melihat istrinya yang menangis. 


"Maaf, aku bermain sedikit kasar. Aku juga sudah memesankan pakaian baru untukmu, mandilah dan bersihkan dirimu!" ucap Felix yang tersenyum puas.


"Kamu jahat!" umat Rasidha yang ingin meluapkan kekesalannya. 


"Tentu saja, bukankah kamu juga menikmatinya? Apa yang perlu di tangisi? Kita sudah menjadi sepasang suami istri dan hubungan intim hal yang wajar, kalau kamu menolaknya? Maka sampai pagi kamu akan di laknat." Ucap Felix yang diam-diam belajar ilmu islam, namun dia belum bisa menerapkan yang lainnya. 


"Apa kamu pikir aku akan mundur dengan keputusan ku untuk bercerai?" Rasidha menantang Felix, karena sudah muak dengan sikap pria itu yang berbuat seenaknya padanya. 


"Benarkah? Aku sangat yakin kalau kamu akan segera hamil anak ku, dan kamu akan semakin sulit bercerai. Oho, aku tahu! Kamu menantikan pangeran berkuda putih untuk datang menjemput? Tapi sayangnya itu tidak akan terjadi, karena aku pastikan kamu hamil anakku. Kalau sekali percobaan gagal maka pasti aku coba lagi." 


Rasidha merasa sakit hati, mengambil vas bunga di sebelahnya dan melemparkannya pada sang suami yang telah merenggut kesuciannya. "Menjauh dariku! Aku membencimu!" pekiknya yang histeris, melemparkan apa saja di dalam jangkauan seraya menutupi tubuh mulus dengan selimut putih. 


Felix marah melihat Rasidha yang mengatakan benci padanya, bahkan sorot mata wanita itu juga menggambarkan kobaran rasa kekecewaan. Dia naik ke atas ranjang dengan memegang tangan istrinya, mencengkram erat juga membekap mulut wanita itu. "Kalau kamu mengamuk seperti ini, jangan salahkan aku kejadian semalam akan terulang kembali." 


"Aku tidak peduli, apa bedanya dengan itu? Walaupun kamu memiliki tubuhku, bukan berarti dengan hatiku. Nikmati saja tubuhku sepuas hatimu, tapi di saat kamu menjamahnya di saat itu pula kebencianku semakin bertambah." Kecam Rasidha yang menyorot Felix dengan tajam. 

__ADS_1


Pelix bisa melihat bagaimana Rasidha yang tampak berbeda, ada sedikit rasa sakit dan teriris di hati mendengar ucapan yang terlontar padanya. Dia segera beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar hotel dengan cara membanting pintu terlebih dahulu. 


Rasidha melihat kepergian Felix dan menangis melampiaskan rasa kecewa pada dirinya sendiri, dia segera beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Menghidupkan shower dan menikmati setiap tetesan air yang membasahi tubuhnya, dia kembali menangis sambil menggosok tubuh dengan kasar. "Aku benci pria itu…aku benci padanya." Pekiknya yang masih trauma bagaimana sang suami memaksa dan juga bermain kasar. Dia merasakan nyeri di bagian sensitifnya, membuatnya sangat tidak nyaman. 


Cukup lama Rasidha membersihkan diri, bahkan menggosok tubuhnya dengan keras berharap bayangan Felix yang menyentuhnya hilang. Tapi itu tidak terjadi, bayangan yang menghantui bagai momok menakutkan dan dia masih tak menyangka kalau suaminya itu ingkar akan perkataannya. 


Rasidha keluar dari kamar mandi setelah berada dua jam di dalam sana, seorang wanita pelayan hotel datang dengan membawa pakaian syar'i untuknya dan meletakkannya di atas ranjang. 


"Tuan Felix meminta anda untuk turun dan makan bersamanya, Nyonya." Ucap pelayan wanita. 


"Katakan padanya aku tidak berselera makan!" cetus Rasidha yang langsung menutup pintu dan segera mengganti pakaian. Melihat baju syar'i yang ada di atas ranjang, seakan membuatnya enggan untuk menyentuh. Tapi dia tidak punya pilihan lain, tidak ada yang bisa dia pakai dan dengan terpaksa memakainya juga. 


"Apa kamu sudah menyampaikannya?" ucap seseorang yang berdiri sambil menatap luar jendela dengan tatapan lurus kedepan. 


"Sudah Tuan, tapi nyonya mengatakan tidak berselera makan." 


"Baik Tuan."


Rasidha memegang perutnya yang lapar, dan terdengar suara bel pintu yang kembali berbunyi. Dia membuka dan melihat pelayan hotel yang lain mengantarkan makanan. 


"Ini makanan untuk anda." 


"Apa itu dari suamiku?" 

__ADS_1


"Bukan, ini khusus layanan kamar." 


"Hem, baiklah." Rasidha segera mengambil makanan itu dan tidak ragu untuk memakannya. 


"Saya sudah mengantarkannya Tuan." 


"Hem, bagus. Pastikan dia aman dan nyaman di hotel ini!" ucap Alex yang berkuasa penuh pada tempat itu, karena dialah pemiliknya. 


Selesai makan, tak lupa Rasidha mengucapkan hamdalah sebagai rasa syukur di berikan kenikmatan. Dia hendak berdiri namun meringis kesakitan saat merasakan di bagian bawah terasa nyeri akibat terobosan dari suaminya. 


"Bagaimana aku bisa kabur? Berjalan saja aku kesusahan." Lirih nya, tapi tekad yang kuat untuk kabur tetap membara di hati. 


Rasidha berjalan keluar kamar hotel sambil celingukan melihat suasana sekitar yang sepi, dia segera keluar saat merasa aman. 


"Ehem." Deheman seseorang yang entah datang darimana membuat Rasidha takut dan menoleh, terlihat seorang pria tampan yang tidak dia kenal. 


Rasidha tidak peduli dengan pria itu dan hendak pergi, tapi siapa sangka kalau ternyata pria itu suruhan dari suaminya. Felix datang saat mendapatkan laporan, dia kesal sekaligus jengkel dengan sikap istrinya yang selalu saja kabur. "Dia sangat kekanak-kanakan sekali, kabur setiap kesempatan. Tapi dia lupa, siapa aku." Gumamnya di dalam hati sambil mendesis. 


Rasidha terkejut saat melihat Felix yang berada di belakangnya, mempercepat kan langkah kaki tapi tak berhasil saat beberapa orang mengepung jalannya. 


"Kamu mau kabur kemana?" Felix menghela nafas sambil menggelengkan kepala. 


"Apa mereka orang suruhanmu?" 

__ADS_1


"Tentu saja." Jawab Felix dengan santai. "Kamu ini sangat nakal, selalu saja kabur. Apa peringatan ku itu kurang?" Felix langsung menggendong tubuh mungil istrinya menuju kamar hotel. 


Rasidha terus memberontak, bukan Felix namanya kalau tidak bisa membuat istrinya itu terdiam tanpa perlawanan. "Apa kamu ingin kejadian semalam terulang kembali?" 


__ADS_2