Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 27 - Di sekap


__ADS_3

Rasidha sangat terkejut dengan pernyataan Felix, ternyata kecurigaan yang di awal memang benar, kalau pria bermata biru itu adalah sahabat ayahnya saat di Palestina. "Jadi dialah orangnya?" batinnya yang hanya terdiam saja mendengarkan curhatan hati pria matang itu. 


Di sepenjang perjalanan, Rasidha selalu berdzikir dan berdoa untuk meminta perlindungan. Dia juga tidak tahu kemnaa pria itu akan membawanya pergi, melihat sekeliling lewat jendela mobil, jalanan yang mulai menjauh dari kampus. "Kemana Bapak akan membawa ku? Apa kesalahanku?" 


Felix tak bergeming, lebih fokuskan pandangannya ke depan. Hal itu malah membuat gadis berkerudung semakin penasaran, ingin sekali dia memberontak. Tapi keadaannya tidak berdaya, tangan dan kaki yang diikat. 


"Tolong lepaskan aku!" pekik Rasidha yang terus memberontak, membuat gerakan berlebihan di simpul tali bagian kaki dan juga tangannya, untuk melonggarkan ikatan yang diikat begitu erat. 


Seketika Felix menghentikan laju mobilnya, memarkirkan mobil untuk sementara waktu di pinggiran. Dia menoleh dan melempar tatapan tajam dan penuh amarah juga dendam yang membara dikala melihat gadis berkerudung itu. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan lakban berwarna silver dan menutup mulut Rasidha karena mengganggu ketentraman dan rasa damai saat mengemudi.


Rasidha menggerakkan kepalanya dan berushan agar pria itu tidak menutup mulutnya dengan lakban, tapi kekuatan dari pria itu tidak akan sanggup dia lawan. "Bagaimana caraku untuk keluar dari sini? Bagaimana caraku menghubungi ayah dan memberikan lokasiku?" itulah yang ada di pikirannya saat ini. 


Felix tersenyum miring dan kembali mengemudikan mobilnya menuju lokasi, tentu saja dudah ada Justin yang telah mempersiapkan segalanya. "Berteriaklah sepuas hatimu, akan aku hancurkan keluarga Simon." Dia tertawa jahat saat memikirkan rencana, sebenarnya dia memerintahkan adik angkatnya untuk melakukan hal ini tapi di tolak mentah-mentah, jadi dia harus turun tangan menghadapi gadis malang itu.


"Apa yang direncanakan olehnya?" Rasidha terus berusaha membuka tali yang melilit kedua tangan dan juga kedua kakinya, perlahan tapi pasti dia terus bersabar saat membuka simpul tali. Ingin sekali dia menghubungi sang ayah, tapi hal itu tidaklah mungkin karena tangan yang masih terlilit tali.


Tak butuh waktu lama, mobil berhenti di sebuah bangunan klasik tapi terlihat sangatlah mewah. Segera keluar dan membuka pintu mobil, Felix menggendong tubuh Rasidha seperti sekarung beras. Berjalan masuk ke dalam bangunan itu dengan raut wajah arogan juga dingin, seseorang menyambut kedatangan mereka dan sedikit terkejut. 


"Apa yang kamu lakukan? Turunkan dia!" titah Justin yang tidak setuju dengan perlakuan kasar dari kakak angkatnya.

__ADS_1


"Sudah berani memerintahku? Ingat, bagaimana aku memungutmu." Sahut Felix dingin dan menatap tajam adik angkatnya. Justin tak bisa melakukan apapun, gertakan itu kembali membawanya bernostalgia saat pria itu memungutnya dan sangat berjasa dalam kehidupannya yang sangat layak. 


"Minggir!" titah Felix memecahkan lamunan Justin yang segera memberinya jalan, sebenarnya dia menolak misi ini di kala melihat sikap dan sifat Rasidha yang membuatnya takjub. Gadis dari Palestina membuatnya jatuh hati semenjak hari pertama bertemu, gadis yang berhasil mengalahkannya dan bisa mempermalukan seorang penjahat sepertinya.


Justin tak punya pilihan lain, mengikuti kemana pria itu membawa Rasidha tanpa memberi ruang padanya. Dia melihat Felix memasukkam gadis malang itu ke dalam ruangan dan menahannya seperti seorang tawanan. "Apa yang kamu lakukan?"


"Hanya mengurungnya saja, apa ada masalah denganmu?" jawab Felix yang menyimpan kunci ruangan itu dan berlalu pergi, membiarkan Rasidha berteriak setelah membuk lakban di mulut. 


Rasidha terus berupaya untuk menyelamatkan diri dari pria yang menyekapnya, menemukan setitik cahaya saat melihat Justin yang mulai bersimpati padanya. "Siapapun yang berada di luar, tolong selamatkan aku." Pekiknya yang terus menggedor pintu. 


Justin menjadi sangat bimbang, dia ingin mengejar Felix tapi tidak tega meninggalkan Rasidha yang terkurung di sebuah ruangan membuat memutuskan keputusan. Berlari di depan pintu, dia sangat khawatir mengenai kondisi gadis itu. "Maafkan aku yang tidak bisa menolongmu sekarang, tapi aku akan berusaha untuk menyelamatkanmu." 


Mendengar penuturan Justin, bagai semilir angin yang menerpa wajahnya. "Benarkah itu?"


"Tapi apa hubunganmu dengannya?" Rasidha sangat penasaran dan ingin mendengar langsung dari dalam ruangan. 


"Aku adik angkatnya, sebenarnya hati Felix sangatlah baik dan bisa berubah kejam tergantung bagaimana kamu bisa mengendalikannya." Terang Justin yang membocorkan cara agar Rasidha bisa keluar dari tempat itu.


"Apakah aku bisa memoercayai kata-kata mu itu?" Rasidha masih curiga dengan kebaikan yang di berikan oleh Justin, padahal sebelumnya pria itu tidak menyukainya. 

__ADS_1


"Hatiku tidaklah sekeras Felix dan mudah tersentuh, apalagi saat kamu melemparkan sepatu tepat mengenai punggungku dan di saat itulah aku menyukaimu." Terang Justin yang mengungkapkan kebenaran mengenai perasaan cinta yang tumbuh tanpa dia sadari. 


"Apa ini masuk akal? Kamu menyukaiku saat melemparkan sepatu?" Rasidha menautkam kedua alisnya yang di tutupi oleh rasa penasaran. Berpikir jika dia salah mendengR ataupun salah menangkap perkataan dari pria di sebalik pintu.


"Itu tidaklah aneh, tidak perlu menjawab perasaanku sekarang. Aku tahu kamu harus memikirkannya matang-matang, bukankah itu sangatlah menarik dengan kombinasi kita berdua?" seru Justin membuat Rasidha semakin bingung dengan arah pembicaraan yang semakin tak beraturan dan bercabang. 


"Ada apa denganmu? Lupakan perasaanmu itu, dan pikirkan bagaimana caraku untuk keluar dari sini. Bolehkah aku pinjam ponselmu?" 


"Baiklah, aku akan menyerahkan ponselku di sela pintu bawah." Justin mengeluarkan ponselnya dan segera di raih oleh Rasidha, seakan gadis itu mendapatkan peluang untuk kabur, sedangkan ponsel miliknya di tahan oleh Felix. 


Rasidha sangat hafal dengan momor ponsel ayahnya, dia segera menekan nomor dan menghibunginya. Tapi, senyuman di wajah seketika memudar dikala mendengar suara operator yang mengatakan kalau pulsa nya habis. "Wajah tampan tapi sangatlah kere," umpat Rasidha yang masih terdengar keluar ruangan. 


"Eit, tunggu dulu! Aku mendengar kamu mengumpatiku, aku menyukaimu bukan berarti kamu bisa menghinaku sesuka hatimu." Protes Justin. 


"Apa kamu tidak mengisi pulsa dan data internetnya terlebih dulu? Ini sama saja aku tidak bisa menghubungi ayahku." 


"Coba kamu cek sekali lagi, aku sudah mengisinya kemarin. Eh…maksudku tiga hari yang lalu, mungkin. Hah, entahlah, aku tidak ingat." Sahut Justin yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit merasa malu tapi segera memaklumi dengan kata lupa sebagai akar masalah.


"Apa tidak ada telepon di rumah ini?" 

__ADS_1


"Tidak ada, di tempat ini tidak disediakan telepon rumah."


Seketika Rasidha merosotkan tubuhnya hingga terduduk di atas lantai, memeluk kedua kaki yang bersimpuh karena tak punya cara lain untuk kabur dari tempat itu.


__ADS_2