Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 30 - Masuk islam


__ADS_3

Felix sudah membuat rencana yang begitu besar dan bahkan diaturlah mempersiapkan sebelumnya, sebuah pernikahan dengan perjanjian yang menjadi pegangan. Melakukan segala upaya karena masih tidak terima akibat sahabatnya Simon beralih agama dan menikah dengan wanita yang beragama Islam. Dulu dia memberikan restu sebagai seorang teman yang memberikan suka dan dan duka yang mereka jalani, tetapi karena sahabat seakan tidak menggapnya ada dan mengkhianati. Dendam yang membara membuatnya terpaksa melakukan ini, selama belasan tahun dirinya menyimpan dendam. 


"Teruslah berusaha untuk segalanya, Simon. Aku tidak akan membiarkanmu satu langkah di depanku, gadis kecil itu sebentar lagi akan menjadi istriku. Hah, pasti orang mengira kalau aku pedofil." Gumamnya di dalam hati seraya meneguk alkohol. Kepulan asap rokok yang menjadi candu hingga bibirnya menghitam, sudah melakukan persiapan penuh untuk menghadapi orang-orang yang mencoba menghalangi rencananya. 


Felix kembali berjalan menuju kamar yang di dalamnya terdapat Rasidha, dia tidak peduli bagaimana gadis itu berteriak ingin meminta dipulangkan. 


"Aku mohon, pulangkan aku!" pekik Rasidha dari dalam ruangan sembari menggedor pintu dengan beberapa kali. 


Felix tersenyum di saat dia mendengarkan isak tangis dari gadis itu, membukakan pintu dan melempar paper bag. "Cepat ganti pakaianmu, karena sebentar lagi kita akan menikah!" titahnya dengan raut wajah yang dingin.


Rasidha langsung melempar paper bag itu ke arah Felix dan menolak secara mentah-mentah untuk menikah dengan pria yang berbeda agama dengannya. "Jangan memaksakan pernikahan ini, karena aku hanya akan menikah dengan pria yang mempunyai Tuhan yang sama." 


"Apa yang terjadi kalau pernikahan itu terjadi?" 


"Pernikahan dianggap tidak sah, dan perjanjian itu juga tidak sah." Ujar Rasidha dengan berani. 


"Baiklah, aku akan kembali lagi nanti." Felix keluar dari kamar dan menguncinya, memikirkan perkataan dari gadis itu yang menolaknya. "Dia pikir dia itu siapa? Selama ini tidak ada wanita yang menolak pesonaku, bahkan masih terlihat tampan di usiaku sekarang." Monolognya yang memikirkan untuk menjebak gadis lugu untuk menjadi istrinya secara sah menurut hukum dan agama.


Kini Felix mencari seluruh informasi mengenai islam, bagaimana syarat sah untuk memperistri Rasidha. Pantang baginya mundur melakukan segalanya, terus maju walau harus memeluk islam. 


"Justin!" panggilnya dengan suara tinggi. 


"Iya, ada apa memanggilku?" 


"Apa kamu tahu apa itu islam?" tanya Felix yang membuat dua alis Justin mengerut, pasalnya kakak angkatnya itu tidak pernah tertarik dengan agama islam dan bahkan membencinya. 

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba menanyakan ini?" 


"Kamu tidak perlu tahu, itu urusanku. Apa syarat agar bisa memeluk islam secara sah?" tanya Felix.


Justin semakin tidak mengerti dengan pola pikir kakak angkatnya, karena setahunya Felix sangat anti dengan muslim, tapi sekarang malah berbanding terbalik. "Ada apa dengannya?" gumamnya di dalam hati. "Setahuku, kalau seseorang ingin berpindah agama harus membaca dua kalimat." 


"Dua kalimat apa?" 


"Entahlah, aku lupa bagian itu. Aku hanya membaca setengahnya saja," sahut Justin yang diam-diam mulai mempelajari apa itu islam, pengaruh dari Rasidha sangatlah kuat hingga dia begitu penasaran dengan agama Allah subhanallah ta'ala. 


"Ck, kamu tidak bisa diandalkan. Tidak aku sangka ternyata diam-diam kamu mempelajari islam." Cibir Felix yang hanya diacuhkan oleh Justin. 


"Memangnya kenapa aku ingin mempelajarinya? Lagipula itu hakku. Aku mulai mengagumi orang-orang muslim yang selalu membuatku merasa tenang dan juga nyaman," ujar Justin jujur, dia sudah membentengi dirinya sebelum mendapati Felix yang pasti tidak terima dengan perkataannya. Tapi dia sangat bingung, karena kakak angkatnya itu hanya diam dan mencerna perkataannya, sungguh sikap yang baru pertama kali dia lihat.


"Apa ada hal lain agar aku bisa menjadi seorang muslim?" 


"Hem, apa suatu hari nanti kamu akan memeluk agama islam?" 


"Mungkin saja," sahut Justin yang berlalu pergi meninggalkan Felix yang masih menelan kata-katanya.


Felix terdiam untuk beberapa saat dan melangkahkan kaki keluar dari kediamannya, kini dia berjalan tak tentu arah. 


Di siang hari, dia merasa sangat lapar dan beristirahat di sebuah restoran kecil. Seperti biasa, memilih duduk menjauh dari orang-orang dan menikmati makanan tanpa ada yang mengusik. Beberapa saat kemudian, terdengar suara yang sangat merdu dilantunkan untuk memanggil orang-orang beragama muslim dalam menjalankan ibadah, tidak tahu mengapa dia merasakan sesuatu getaran yang tidak diketahui sebabnya menikmati indahnya alunan adzan yang menyejukkan hatinya.


Felix terburu-buru menyelesaikan makan siangnya dan segera membayar bill, wajah yang masih kebingungan dengan menatap seseorang yang bekerja di tempat itu. "Di mana asal suara itu?" 

__ADS_1


"Suara adzan itu berada di masjid tidak jauh dari sini, berjarak lima toko."


"Hem."


Felix yang masih kebingungan, entah mengapa dia begitu penasaran dengan suara adzan karena sebelumnya dia sangat membenci suara itu. Hatinya tergerak untuk melangkah menjauh dengan berjalan kaki menuju sebuah masjid yang sangat megah, bahkan kemegahannya itu dan juga lingkungan yang bersih sedikit membuatnya takjub. Dia berjalan menuju masuk ke dalam masjid, melihat beberapa baris laki-laki yang tengah menjalankan shalat dzuhur. 


Felix hanya berdiam diri sambil melihat sekeliling, melihat arsitektur yang sangat megah dengan ukiran berbahasa Arab yang dia sendiri tidak mengetahui artinya. menunggu hingga beberapa orang satu persatu meninggalkan masjid, melangkahkan kakinya di saat seseorang yang menjadi imam di masjid baru saja menyelesaikan sholat dan ingin pergi. 


"Saya melihat anda dari tadi memperhatikan, sebenarnya ada apa?"


"Apa anda ustadz atau seorang kyai?"


"Aku seorang ustadz, ada yang bisa dibantu?" 


"Aku ingin memeluk agama Islam, apa syarat yang harus aku penuhi?" 


"Apa itu dari hatimu atau dengan alasan yang lain?"


Seketika Felix terdiam merenungi perkataan dari sang ustadz, dia juga tidak tahu mengapa tiba-tiba berniat masuk ke dalam agama Islam padahal dia memusuhinya. "Saya ingin masuk Islam dan juga menikahi ingin menikahi gadis dari agama islam." 


"Sepertinya saya melihat kalau itu dari hati anda sendiri, mari ikuti saya!" ustadz itu mengajak pria bermata biru untuk mengikutinya dan beberapa orang yang menjadi saksi dengan penyambutan saudara baru. 


Entah mengapa tiba-tiba Felix merasakan sesuatu yang sangat berbeda melihat beberapa orang yang menjadi saksi karena dia akan memeluk Islam, namun di situ pula ya timbul rasa gemetaran di tangan dan berkeringat dingin. Pria paruh baya yang mengenakan sorban tersenyum karena hal itu sudah biasa terjadi. "Jika kamu yakin maka kita bisa mengucapkan dua kalimat syahadat."


"Saya yakin."

__ADS_1


"Baik, ikuti saya baik-baik." 


Sang ustadz membimbing Felix untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang begitu suci, setelah meminta pria itu untuk mengambil wudhu terlebih dahulu, beberapa orang saksi. Hingga akhirnya, pria bermata biru sudah resmi memeluk agama Islam dan disambut baik oleh beberapa orang yang memberikan ucapan selamat.


__ADS_2