
Rasidha mulai fokus dengan pembelajaran, karena sebentar lagi dia juga akan meninggalkan tempat itu. Sebenarnya dia tak rela untuk pergi dari pesantren yang masih mempunyai banyak kenangan di sana. Pasti merindukan makanan sederhana seperti sate yang artinya sayur terong, dan sayur tempe. Begitu banyak menu lainnya yang tak kalah lezat jika makan bersama-sama.
"Kenapa kamu melamun saja?" celetuk Elis yang masih memperhatikan Rasidha yang banyak terdiam dari biasanya, berpikir jika itu disebabkan oleh ustadz Afif yang sudah berangkat ke Istanbul. "Apa karena ustadz tampan itu?" godanya.
"Bukan, karena aku pasti sangat merindukan tempat ini nantinya." Jawab Rasidha yang meluruskan perkataan dari Elis.
"Apa maksudmu mengatakan itu?" tanya Elis yang sangat penasaran.
"Aku juga akan pergi melanjutkan studi di kota."
"Apa? Jadi kamu akan pergi lagi?" Elis begitu terkejut dan bahkan tak percaya, padahal mereka baru saja bertemu untuk sekian waktu lamanya.
"Ya, aku akan pergi dari sini. Melanjutkan studi dengan mengambil gelarku."
"Kenapa cepat sekali?" gerutu Elis.
"Karena aku tidak bisa menundanya lagi, jika kamu dan juga Neneng membutuhkan bantuanku suatu saat nanti, jangan segan-segan menghubungiku. Kalian berdua adalah teman dekatku, yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri."
"Tentu, aku hanya bisa berdoa untuk kesuksesan mu disana, jangan lupakan kami ketika kamu sudah di atas." Kini raut wajah Elis terlihat serius, mengenggam tangan gadis keturunan Palestina itu dengan sangat lembut.
"Tentu saja."
****
Rasidha membereskan semua pakaiannya yang sudah tersusun rapi di dalam koper, membawa semua barang miliknya tanpa tertinggal satupun. Tak sengaja air matanya jatuh dengan sendiri tanpa diminta, padahal dia sudah berusaha menahan bulir bening itu agar tidak terjatuh. Pandangannya menyusuri dalam ruangan yang memberikan tempat perlindungan, terlihat sederhana tetapi sangat nyaman untuk ditempati.
Kini saatnya dia meninggalkan pesantren, sesuai dengan kesepakatannya dengan sang ayah, yang hanya di beri waktu belajar selama satu bulan penuh. Cukup berat hatinya melangkah pergi, tapi keadaan lah yang memaksa untuk tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Dia mulai berpamitan kepada semua orang terutama kedua sahabatnya yang masih sama seperti dulu, walau dia merasakan kehidupan sederhana yang jauh dari lingkup kota.
"Aku pergi dulu, jaga diri kalian dan berusahalah untuk menggapai cita-cita." Ucap Rasidha yang menatap kedua temannya secara bergantian, di menangis begituoun dengan Neneng dan Elis. Momen haru yang dapat dirasakan oleh para santriwati yang mengantarkannya berada di depan gerbang pesantren.
"Insya Allah, kami akan menjaga diri baik-baik. Tetap semangat dalam menggali ilmu," tutur Neneng yang menyeka air matanya.
__ADS_1
Rasidha segera mengeluarkan Al-Qur'an kecil dan juga tasbih, memberikannya kepada kedua sahabatnya. "Elis, ambillah Al-Quran ini. Ini hadiah dan juga kenang-kenangan dariku," dia menyerahkan kitab tebal yang menjadi pedoman umat muslim dan sebagai penuntun dan menyerahkannya.
"Bukankah Al-Qur'an ini kesayanganmu?" Elis berat hati menerima pemberian dari Rasidha, dia tahu jika sahabatnya itu memberikan benda berharga.
"Benar, aku memberikannya untukmu. Jaga ini seperti pertemanan kita, semoga persahabatan awet untuk selamanya."
"Aamiin. Terima kasih!" balas Elis yang memeluk tubuh Rasidha beberapa saat, kemudian melepaskannya.
"Sama-sama, dan tasbih ini untuk Neneng. Jangan banyak mengkhayal dan lebih banyak berdzikir kepada Allah." Rasidha menyerahkan tasbih kesayangan kepada gadis di sebelah Elis.
"Aku tidak bisa menerimanya, mengapa kamu memberikan benda kesayanganmu pada kami? Aku tak pantas menerimanya, tasbih itu sangatlah berharga." Tolak Neneng yang tak sanggup.
"Aku ikhlas, ambillah."
Neneng awalnya ragu, dan mencoba untuk memberanikan diri menerima tasbih kesayangan Rasidha, dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Rasidha menghampiri keluarga pamannya yang sudah memberikannya tempat, dan bahkan hikmah dia berada di pesantren di pertemukan dengan seorang pria yang selalu di panggil ustadz Afif, calon suaminya.
Di sepanjang perjalanan, Rasidha hanya melamun dan tidak bersemangat, butuh kebesaran hati pergi dari tempat yang membuat hatinya tentram. "Bagaimana caraku membantu Elis dan Neneng? Mereka selalu saja menolak apa yang aku berikan, cukup sulit mencari teman sejati seperti mereka, tidak pernah menilai sesuatu dengan harta." Ucapnya di dalam hati sambil tersenyum.
Perjalanan menuju kota membutuhkan waktu yang lama, mengusir kejenuhan di dalam mobil dengan mendengarkan murottal Al-Qur'an. Tapi terganggu saat ponselnya berdering, dia segera melihat siapa yang menghubunginya. "Mungkin saja itu ayah atau ibu?" gumamnya yang segera mengangkat telepon, tapi tertera nama ustadz Afif yang membuat dahinya berkerut.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Apa kamu sudah sampai di rumah?"
"Belum, aku masih di perjalanan. Tapi bagaimana ustadz tahu jika aku pulang?"
"Dari ayahmu, dia mengatakannya padaku."
"Hem."
__ADS_1
"Kemana kamu akan melanjutkan studi?"
"Kemungkinan aku melanjutkan studi di kota, ini waktuku untuk di membantu ayah dan ibu dalam mengelola bisnisnya."
"Itu bagus, jaga dirimu baik-baik."
"Tentu saja, ustadz juga."
Baru saja Rasidha menutup telepon, tiba-tiba mobil yang dibawakan oleh pak supir berhenti di tengah jalan. Dia sedikit terkejut seraya menoleh ke samping. "Apa yang terjadi Pak?"
"Tidak tahu Non, tiba-tiba mobilnya berhenti. Bapak akan periksa dulu!" pria paruh baya melepaskam sabuk pengaman, membuka pintu dan keluar dari mobil.
Rasidha fokus ke layar ponselnya sambil mendengarkan murottal Al-Qur'an, namun dia sangat terkejut saat sebuah pisau mengarah ke arahnya. Dia melirik pisau lipat yang sangat runcing, bagian atas bergerigi sangatlah menyakitkan jika tertusuk senjata tajam itu. "Ada apa ini?" tanyanya dengan raut wajah yang dingin, menyusuri pandangan dan melihat pak supir sudah terbaring pingsan di jalanan.
"Serahkan semua uang dan benda berhargamu!" ancam seorang pria yang bertopeng.
Rasidha memberikan tasbih di tangan pria itu. "Itu benda berharga milikku, uang? Aku bahkan tidak punya sepeserpun." Jawabnya dengan santai tanpa rasa takut.
Perampok itu sangat geram dan menyerang seorang gadis di dalam mobil, tentu saja mengancam menggunakan senjata tajam.
Rasidha mencoba membela dirinya dari perampok yang menurutnya begitu nekat menodongkan pisau, dengan begitu gesit dan licah menangkis setiap serangan dari pria yang tak di kenalnya. Dengan cepat dia memukul bagian titik sensitif dari pria itu, hingga pisau di tangan sang pelaku terlepas dan di ambil alih olehnya yang berhasil memutar balikkan keadaan.
"Jangan mendekat atau aku akan menusukkan pisau ini di perutmu," ancam Rasidha.
Pria itu mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk penyerahan diri, dia sedikit terkejut dengan kemampuan ilmu beladiri yang di miliki oleh gadis di sebelahnya.
"Sudah aku bilang tidak punya uang, tapi tidak percaya. Apa yang kamu lakukan dengan supirku?"
"Hah, tidak aku sangka bisa kalah dari wanita seperti mu."
"Tapi itulah kenyataannya, kamu sudah melukai supirku. Aku tidak bisa mengangkat tubuh pak supir, cepat bantu aku untuk membawanya masuk ke dalam mobil!" titah Rasidha yang mengancam pria di sebelahnya.
"Apa kamu ini gila? Mana ada perampok yang membantu targetnya?" ucap pria yang masih mengenakan topeng, di satu sisi dia mengagumi skill Rasidha, tapi di sisi lain jengah dengan kepolosan gadis itu.
__ADS_1