Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 38 - Jus kadaluarsa


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Seorang gadis yang masih saja sibuk beres-beres rumah dari subuh hingga sore tiada hendi. Kini dirinya disibukkan dengan pekerjaan baru, yaitu mengikuti kemana suaminya pergi. 


"Kenapa kita harus berpindah tempat? Aku sangat lelah," keluh Rasidha yang menatap suaminya dengan tidak bersemangat. Bagaimana tidak? Dia membawa dua koper besar yang berisi semua keperluan sang suami, sementara dirinya juga menggendong tas kecil di punggung dengan empat pasang pakaian syar'i yang lengkap. 


Menaiki tangga dengan membawa beban, membuatnya lelah dan juga badan yang pegal. 


"Kenapa jalanmu sangat lambat? Cepatlah sedikit!" geram Felix yang menoleh ke bawah, berjarak dengan istrinya beberapa anak tangga. 


"Itu karena aku membawa cukup banyak beban, setidaknya bawalah satu koper ini." Ucap Rasidha yang memelas, dia sudah lelah dikala mengangkat dua koper besar melewati beberapa anak tangga. 


"Kamu itu pembantuku, jadi itu tugasmu. Jangan banyak mengeluh, lakukan saja sesuai perintah!" tekan Felix yang tanpa perasaan pergi meninggalkan istri kecilnya yang menyeret koper besar, sengaja membawa banyak keperluan hanya untuk menyulitkan Rasidha. "Kamu tidak akan bahagia, dan aku akan memastikannya." Batinnya yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu. 


Rasidha menarik nafas sedalam mungkin dan mengeluarkannya dengan perlahan, kembali mengangkat dua koper itu yang membuat kedua tangannya pegal. "Semangat untuk diriku sendiri, anggap ini latihan melatih fisik." Monolognya yang kembali bersemangat, menjalankan tugas dengan sebaiknya atau Felix akan mencari-cari kesalahannya. 


Rasidha melempar dua koper itu setelah berada di pintu kamar, apalagi emosinya naik di saat melihat Felix yang menjadi penonton sambil berbaring di atas ranjang. Dia menghela nafas sambil menggelengkan kepala, dia memang istri pria itu, tapi mengenai kejadian tadi membuat jiwa bar-bar meronta. "Sudah cukup! Ini tidaklah benar." 


"Jadi kamu ingin protes?" sahut Felix yang santai. 


"Ya, bisa dikatakan seperti itu."


"Punya nyawa berapa kamu, hah? Berani sekali menentang seorang Felix."


"Apa kamu pikir aku takut dengan ancaman kuno itu? Selalu saja kamu mengatakannya setiap kali aku memberontak. Tapi sayangnya aku tidak akan takut lagi dengan ancamanmu itu, lagipula nyawa seseorang hanya bisa di tentukan oleh Allah subhanallahu ta'ala. Apa kamu Tuhan yang bisa menentukan ajal seseorang?" ucap Rasidha yang lugas dan tidak takut, dia sudah lelah karena selama ini suaminya selalu saja bersikap tidak adil. 


"Oho, jadi sekarang tidak ada embel-embel Tuan lagi? Apakah di agama Islam seorang istri memanggil kata 'kamu'? Dasar istri durhaka!" 


"Sebelum mengatakanku, berkacalah terlebih dahulu. Selama ini aku sudah sabar dengan sikapmu yang selalu saja menindas, menghina, juga mencaci maki ku. Orang teraniaya akan menjadi ancaman kalau selalu di sakiti!" 

__ADS_1


"Hah, terserah. Siapkan aku makanan, dan setelah itu pijat bahuku!" perintah Felix. 


Rasidha tak menanggapi, dia tetap melayani suaminya sesuai dengan perintah. Sekarang hanya harga diri lah yang akan diperjuangkan, tidak akan pernah menggadaikan harga diri yang selama ini dipegang teguh.


"Ini sangat menarik." Batin Felix yang tersenyum tipis, sebenarnya dia bosan untuk memberikan pekerjaan tambahan pada gadis itu. Tapi sikapnya berubah saat melihat sebuah tantangan di depan mata, karena selama ini pula dia tidak bermain tangan. "Sudah lama aku tidak menyiksa orang, tapi mengapa aku seakan enggan mengangkat tangan pada istri kecilku itu?" lirihnya yang tampak berpikir. Tanpa dia sadari, kalau sikap kejam pada orang lain perlahan mulai menghilang dari dirinya, dia lebih tertarik dengan memberikan kerja tambahan pada Rasidha. 


Felix tidak mengira kalau dirinya lupa akan kekejamannya, ketertarikan saat mengerjai gadis itu membuat hari yang membosankannya berubah indah, bergerak sesuai tema dengan alur yang berbeda.


Rasidha memasak seperti biasa, dapur yang berbeda membuatnya sedikit kesulitan. Dia mencoba melihat isi kulkas yang ternyata dipenuhi minuman beralkohol, membuatnya sangat tidak tahu dan berpikir itu jus. 


"Apa ini jus?" Rasidha mengangkat dua botol minuman keras dan meletakkannya di atas meja makan, mencoba membuka tutup botol untuk mengurangi rasa penasaran. "Aromanya sangat menyengat, mungkin ini kadaluarsa." Pikirnya yang mengeluarkan semua botol minuman di kulkas dan membuangnya ke saluran cuci piring. 


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, Rasidha mengangkat keranjang yang berisi botol-botol minuman keras dan membuangnya. 


"Nah, sekarang aku harus memasak, sebelum sang singa mengaum." Monolognya seraya cekikikan, saat membayangkan raut wajah Felix yang selalu galak padanya. 


"Mungkin kebanyakan rumah, dia sampai lupa membuang jus busuk ini." Rasidha dengan polosnya mengambil beberapa minuman alkohol yang terpampang di kaca etalase yang sangat indah. "Tempatnya sangat indah, tapi mengapa dia meletakkan dan memajang begitu banyak jus kadaluarsa itu?" 


Dengan segera dia menuangkan semua minuman alkohol dan membuangnya di saluran air pembuangan cuci piring, tak lupa untuk membuang semua botolnya. 


"Sebaiknya aku kembali, sebelum dia akan mencari alasan untuk memarahi ku." 


"Rasidha…Rasidha, dimana kamu?" pekik Felix yang suaranya memenuhi seluruh ruangan. 


"Aku disini." Sahut Rasidha yang tersenyum seraya menarik kursi dan duduk. 


"Eit, siapa yang menyuruhmu untuk duduk disini?" ketus Felix.

__ADS_1


"Aku lapar."


"Kamu boleh makan, tapi sebelum itu ambilkan botol minuman yang berada di kulkas!" titah Felix. 


"Untuk apa?" tanya Rasidha yang menatap suaminya dengan polos.


"Tentu saja untuk aku minum." 


"Yakin untuk meminumnya?" tanya Rasidha yang begitu ragu, apalagi tanpa izin dia membuang jus yang menurutnya kadaluarsa. 


"Tentu saja, jangan banyak bertanya dan ambilkan untukku!" 


"Hem, ada masalah." Rasidha memperlihatkan telunjuk dan jempol tangan menandakan ada masalah sedikit. 


"Masalah apa?" 


"Semua jus yang ada di kulkas, aku telah membuangnya karena jus itu sudah berbau menyengat dan kadaluarsa." 


Seketika Felix membesarkan kedua matanya yang bahkan hampir keluar dari tempatnya. "Kamu membuang semua yang ada di kulkas?" ucapnya yang dengan cepat di anggukkan kepala oleh istri kecilnya. "Kalau begitu ambilkan yang ada di etalase di ruangan sana!" tunjuknya.


"Aku juga membuangnya." Sahut Rasidha yang sangat polos. 


Seakan waktu terhenti, itulah yang dirasakan oleh Felix saat mendengar perkataan Rasidha. Mengingat bagaimana harga alkohol yang sangat mahal dan sulit dicari, hasil kerja keras selama bertahun-tahun mengoleksi minuman alkohol membuat hatinya terasa berdenyut hebat. 


"Astaga…hasil kerja kerasku terbuang sia-sia, itu minuman alkohol langka dan juga mahal. Kenapa kamu tidak bertanya sebelum membuangnya?" geram Felix apalagi melihat ekspresi polos istrinya. 


"Maaf, karena baunya aku pikir jus itu busuk dan tidak layak di minum." 

__ADS_1


Felix hanya bisa meringis, merutuki dirinya yang mempunyai istri terlewat polos.


__ADS_2