
Seseorang bertepuk tangan dengan keberhasilan Rasidha yang membidik sasaran dengan nilai yang hampir sempurna, walaupun sudah bertahun-tahun tidak berlatih, tetap saja dia mengapresiasi. "Bagus Nak, ternyata bidikanmu masih bagus dengan nilai yang hampir sempurna, sebaiknya kamu mengasah ilmu memanah dan mengikuti kompetisi."
"Kapan Ayah datang?" Rasidha segera berdiri saat melihat kedatangan Zaid.
"Tidak lama, apa kamu sudah menentukan universitas yang akan menjadi tempatmu menggali ilmu?"
"Terserah Ayah, kalau itu yang terbaik, aku hanya menurut." Pasrah Rasidha yang mempercayakan keputusan kepada orang tua angkatnya.
"Ayah menginginkan yang terbaik untukmu, dan memilih universitas kota dengan predikat yang sangat bagus. Kamu bisa fokus kuliah dan juga mengurus bisnis."
"Hem." Rasidha menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang telah digariskan untuknya.
"Apa ustadz Afif tidak menelepon mu?"
"Memangnya ada apa?"
"Ya…semacam memberikan kabar. Sebaiknya kamu telepon dia dan tanyakan kabarnya, itu akan mempererat hubungan kalian dengan cara menjaga berkomunikasi." Saran Zaid yang sangat menyukai calon menantu seperti Afif yang pastinya bisa membimbing putrinya ke jannah.
"Tidak Ayah, biarkan ustadz Afif yang lebih dulu meneleponku, aku tidak ingin mengganggunya."
"Tapi, seorang pria juga mendambakan kalau si wanitanya lebih dulu menghubungi." Ujar Zaid yang mengajari anaknya karena pengalaman saat mendekati Suci, betapa bahagianya saat itu mendapatkan telepon dari wanita yang dicintainya, sedangkan Rasidha tidak menanggapi hal itu dan hanya dibalas dengan senyuman.
Zaid sudah mengatur segalanya dari perbincangan mereka, memutuskan untuk memasukkan Rasidha di universitas ternama di kota, dia juga mengenal beberapa dosen yang mengajar yang tak lain adalah temannya dan mempercayakan segalanya.
Rasidha menyusuri pandangannya di hadapan bangunan yang akan menjadi tempat untuk menggali ilmu, mengambil jurusan sesuai dengan minatnya yang ingin menjadi dokter gigi. Menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, dilakukan sebanyak tiga kali untuk membuat dirinya lebih percaya diri sebelum melangkah masuk ke dalam gerbang, dia tak lupa membaca basmallah terlebih dulu.
__ADS_1
Banyak para mahasiswa dan juga mahasiswi dari berbagai daerah, hadir untuk menuntut ilmu di sana. Dia menjejakkan kaki dan melangkah dengan penuh tekad dan juga keyakinan, menggali ilmu mengenai gigi yang menjadi minatnya sejak lama, dapat membantu anak-anak yang selalu merasakan sakit gigi, dan juga orang lain dari semua kalangan.
"Ya Allah berikanlah keberkahan dalam menuntut ilmu di tempat ini, berikanlah keridhaan Mu dan mudahkanlah setiap kesulitan yang aku terima, Aamiin." Batin Rasidha yang berdoa dengan sepenuh hati.
Baru saja dia ingin masuk ke dalam kampus, seseorang tak sengaja menabraknya hingga dia terjatuh. Dia sangat kesal dan menengok ke arah belakang untuk melihat siapa dalangnya. "Apa kamu tidak lihat, hingga menabrakku?" protesnya yang segera berdiri sambil membersihkan bagian belakang gamisnya yang kotor.
Seorang gadis cantik dengan pakaian terbuka memperlihatkan senyuman indah di wajahnya, ditambah lagi dengan dua lesung pipi menghiasi. Dia segera membantu seorang gadis yang berpakaian tertutup. "Ups…maaf, aku terlalu terburu-buru dan juga bersemangat, tidak sengaja membuatmu terjatuh."
"Hem baiklah, aku memaafkanmu."
"Wah, kamu sangat baik sekali. Sepertinya kamu anak baru di kampus ini?"
Dengan cepat Rasidha menganggukkan. "Ya, aku mahasiswa baru seperti yang lainnya. Apa kamu juga mahasiswa baru?"
"Aku penghuni abadi di universitas ini, kamu bisa memanggilku sesepuh." Guyon gadis itu yang membuat Rasidha terkekeh geli.
"Tidak, aku memang mahasiswa lama di sini, tetapi tidak pernah naik tingkat." Ungkap gadis itu yang begitu terbuka pada orang asing.
"Benarkah?" Rasidha tidak menyangka, jika gadis yang ada di hadapannya masih saja bertahan di universitas yang mempunyai akreditas yang bagus. Sedikit terkejut karena gadis itu masih bisa menuntut ilmu di kampus.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, kamulah orang yang kesekian kalinya memikirkan hal yang sama. Kenapa aku masih bisa bertahan di kampus ini? Itu karena posisi kedua orang tuaku pemilik dari tempat ini." Ungkapnya.
Rasidha hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, sedangkan gadis itu masih menatapnya dari atas sehingga ke bawah, mungkin merasa aneh. Mayoritas dari kampus berpakaian tanpa memakai kerudung panjang, hanya ada beberapa saja dan dia juga jarang melihatnya.
"Perkenalkan namaku Melly Nandini, biasa dipanggil Melly." Dia segera mengulurkan tangan ingin berkenalan, dia menarik sudut bibir ke atas karena menyukai gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Rasidha Humairah, kamu bisa memanggilku Rasidha." Membalas uluran tangan dari gadis di depannya.
"Biar aku tebak, apa aku temanmu yang pertama di kampus ini?" seru Melly begitu bersemangat.
"Iya, begitulah." Jawab Rasidha yang sedikit gugup, karena mempunyai teman di kampus dengan sangat cepat.
"Jurusan apa yang kamu ambil?"
"Kedokteran Gigi." Jawab Rasidha singkat.
"Itu bagus, aku di jurusan hukum. Senang bertemu denganmu, aku permisi dulu." Melly pergi meninggalkan Rasidha karena terburu-buru.
Rasidha menatap punggung teman pertamanya dan tersenyum, kembali melangkahkan kaki menuju kelas.
Begitu banyak mahasiswa baru yang juga ada yang berumur, dia hanya tersenyum di saat beberapa orang menyorot nya karena penampilannya yang begitu minoritas, menjadikannya sebagai pusat perhatian.
Seorang pria dengan kemeja putih, rambut yang disisir rapi masuk ke dalam kelas. Banyak mahasiswi di sana yang terpesona dengan pria itu, yang tak lain dosen yang mengajar di hari ini. Semua orang mengagumi ketampanan dari sang dosen, lain hal dengan Rasidha yang hanya fokus dengan apa yang dibawakan oleh pengajarnya.
"Sepertinya dosen itu bukanlah orang Indonesia, apalagi matanya yang biru," gumam Rasidha di dalam hati, yang tidak ingin terlalu banyak memikirkan dosennya itu karena tujuan utamanya adalah menyelesaikan pendidikan dengan cepat.
Karena dirinya yang menggunakan pakaian syar'i yang lengkap, hanya menyisakan bagian telapak tangan dan juga wajahnya. satu-satunya wanita berpakaian syar'i di dalam kelas itu, sontak membuat sang dosen juga melirik Rasidha secara diam-diam.
Rasidha tahu jika pria bermata biru meliriknya secara diam-diam, dia tampak risih dan berharap jika pelajaran cepat selesai. "Apa dia menatapku karena cara berpakaian ku ini?" gumamnya pelan yang mencoba melihat penampilannya dan tidak ada yang salah.
Akhirnya mata kuliah pertama telah selesai, Rasidha memutuskan untuk pergi ke kantin, mengisi perutnya yang keroncongan karena tadi pagi dia hanya meneguk air mineral saja. "Bu, nasi gorengnya satu dengan telur mata sapi setengah matang," ucapnya yang begitu tergiur melihat beberapa menu di etalase.
__ADS_1
"Siap, silahkan ambil tempat duduknya."
Rasidha memilih tempat duduk yang berada di pojok seorang diri karena tidak mengenal siapapun selain Melly, yang juga tidak terlihat di kantin itu. Kedua pupilnya membesar di saat melihat seseorang yang tiba-tiba saja duduk di hadapannya.