
Rasidha memelototi kedua matanya, dia sangat geram dengan penolakan dari pria yang sudah melukai supirnya. "Kamu itu laki-laki, jadi bersikaplah layaknya laki-laki. Kamu sendirilah yang membuat pak sopir pingsan, aku ingin kamu bertanggung jawab, kalau tidak? Akan kupatahkan tanganmu itu." Tegasnya yang mengancam.
Dengan terpaksa sang perampok mengangkat tubuh pria paruh baya yang tak lama dia lukai, mengeluh karena harga dirinya jatuh sebagai seorang perampok. "Dasar wanita aneh, minta bantuan pada seorang penjahat."
"Jangan mengeluh, itu tidak baik. Kamu sendiri yang melukai pak supir jadi harus bertanggung jawab." Sergah Rasidha yang berada di sisi mobil.
Dengan bersusah payah sang perampok berhasil meletakkan korbannya ke dalam mobil, menatap gadis di sebelah yang menjaga jarak darinya. "Aku harus pergi sebelum aku gila," batin pria itu yang berlari secepat mungkin.
"Hai, tunggu! Jangan kabur!" pekik Rasidha yang berinisiatif melepas kedua sepatunya yang sangatlah berat, dan melemparkannya tepat mengenai punggung sang perampok. Dia tersenyum saat mengetahui kemampuannya masih sama seperti dulu. "Wah, ternyata ajaran dari ayah sangatlah berguna." Monolognya yang segera menghampiri sasaran. Berjalan mendekat dan melihat perampok itu meringis kesakitan. "Maaf, aku refleks melakukannya."
"Refleks? Refleks dalam kategori apa? Kamu melukai punggungku," ringis sang perampok yang sangat kesal, ditimpa kesialan bertemu target seperti wanita yang mengenakan pakaian syar'i.
"Kenapa kamu pergi terburu-buru? Aku sudah memanggilmu, tapi kamu tetap saja berlari dengan sangat cepat." Rasidha menatap pria yang masih menutupi wajah dengan topeng, memperlihatkan raut wajahnya yang terlihat polos.
"Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?" protes perampok yang berusaha untuk berdiri, bahkan dirinya tidak bisa lari akibat rasa sakit di punggung.
"Kamu sudah melukai supirku, dan aku tidak bisa membawa mobil. Jadi, aku ingin kamu mengantarkanku ke kota." Ucap Rasidha dengan polos.
"Siapa yang percaya dengan perampok sepertiku? Dan aku juga bukan supirmu."
"Jika kamu tidak melukai supirku, aku juga tidak meminta bantuanmu. Lagi pula kamu membutuhkan uang, 'bukan? Aku akan memberikannya setelah meminta kepada ayahku."
"Astaga, apa kamu pikir aku ini polos? Dan menuruti permintaan konyol mu itu? Tidak. Aku tidak ingin masuk penjara dan tidak sudi menolongmu. Berharap untung malah buntung!" kesal sang perampok yang menangani target seperti Rasidha, benar-benar membuat otaknya hampir meledak.
Rasidha berusaha untuk sabar, tapi pria yang menurutnya miskin adab segera memberinya pelajaran agar jera. Dengan sengaja dia menendang kaki sang perampok secepat kilat, hingga korban terjerembab ke atas aspal. "Aku tidak bisa menyetir, aku janji akan memberimu uang setelah mengantarkanku ke kota. Kita tidak punya banyak waktu, pas supir butuh penanganan dokter." Titahnya dengan sorotan mata tajam terlempar ke arah pria itu.
Perampok terpaksa menyetujuinya, berjalan gontai dan masuk ke dalam mobil. Akhirnya Rasidha bisa bernafas lega, dia tidak tega dengan kondisi supirnya yang terluka. "Cepatlah sedikit, kita harus membawa pak supir." Pintanya.
__ADS_1
"Ya, sesuai perintahmu." Ucap perampok yang segera melepas topengnya, dia tidak ingin dicegah polisi dan dituduh melakukan kejahatan, walau niat awalnya seperti itu.
Pria itu merapikan rambutnya yang sedikit gondrong menggunakan jari-jari tangan, tatapan fokus ke depan. "Kamu sangat beruntung bisa melihat wajahku yang tampan ini."
Rasidha segera menoleh sekilas, dia tidak peduli karena di dalam pikirannya hanya ada satu yaitu rumah sakit terdekat. "Jangan banyak bicara, cari rumah sakit sekitar ini."
"Aku bukan pengawal mu," ketus perampok yang berparas tampan jengah dengan sikap wanita di sebelahnya.
"Mengapa kamu merampok orang lain? Dimana hatimu yang sanggup mengancam korban menggunakan pisau lipat yang sangat tajam? Lihat dirimu, tubuhmu terlihat sangat kuat. Jangan sampai kalah dengan orang di luaran sana, tubuh yang sudah tua renta mencari nafkah dengan berkeliling menjajakan anyaman. Jika kamu ingin, aku bisa memberikanmu pekerjaan, tergantung dengan keahlianmu. Tapi, kalau kamu macam-macam? Tulangmu itu bisa aku remukkan dalam yang sangat singkat." Tutur Rasidha panjang lebar.
"Astaga, kamu sangatlah cerewet sekali."
"Aku hanya memberimu peluang dan tidak lagi bertindak kejahatan yang akan merugikan orang lain." Sahut Rasidha yang menghentikan perdebatan itu.
Sesampainya di rumah sakit, Rasidha menunggu di luar ruangan, sangat khawatir dengan kondisi supirnya.
"Tunggu dulu, aku akan meminta uang pada ayahku, dan setelah itu kamu boleh pergi sesuai dengan perkataanku."
"Sekarang aku tidak membutuhkan uangmu lagi, anggap saja kita impas." Pria itu segera berlalu pergi meninggalkan seorang gadis di rumah sakit. Di sepanjang kaki melangkah, dia hanya mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar. "Aku berharap tidak akan bertemu dengannya lagi, nasibku sungguh sial."
Rasidha menghubungi keluarganya, takut jika kedua orang tuanya khawatir dan juga cemas.
"Halo, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Dimana kamu, nak?"
"Aku ada di rumah sakit, bu."
__ADS_1
"Rumah sakit? Apa kamu terluka, sayang?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya pak supir yang terluka."
"Tapi apa yang terjadi?"
"Ada perampok di jalan, ibu tidak perlu khawatir. Ilmu beladiri yang diajarkan ayah membuatku bisa melewatinya, dan tentu saja dengan doa ibu."
"Hem, cepat pulang. Ibu menunggumu di rumah."
"Baiklah."
Menghela nafas dan mengeluarkannya dengan perlahan, Rasidha memastikan jika semua baik-baik saja dan segera pulang dari rumah sakit.
Kini dia sudah berada di depan pintu rumah dan menekan bel, seorang wanita cantik di usianya membukakan pintu sambil melemparkan senyuman tulus. Dengan cepat Rasidha memeluk wanita yang ada di hadapannya dengan erat. "Maaf Bu, aku sedikit terlambat."
"Tidak masalah, apa ada yang terluka?" Suci membolak balikkan tubuh anaknya, memeriksa apa ada yang tergores atau terluka. "Bagaimana kejadiannya?"
"Ibu…tenanglah! Aku baik-baik saja dan tidak terluka. Ada perampok yang memanfaatkan situasi, dan melukai pak supir yang sekarang sudah dipulangkan ke rumahnya.
"Ayo, masuk. Ibu membuatkan kue untukmu, ayah akan mengurus pengobatan pak supir yang terluka." Suci mempersilahkan putrinya masuk ke dalam rumah, sedangkan Zaid berada di dalam ruang kerja dan menyelidiki sang pelaku.
"Tidak akan aku biarkan seseorang mencoba untuk melukai putriku, aku akan mencarinya." Gumam Zaid yang menatap layar monitor, sangat gelisah saat mendapatkan kabar yang kurang mengenakan dari istrinya.
"Itu tidak diperlukan, mengapa Ayah berlebihan sekali." Rasidha berdiri di depan pintu dan tersenyum khasnya.
"Kamu sudah disini? Kapan?" Zaid yang hampir saja menemukan foto pemuda itu dan ingin memberikan pelajaran. Tapi Rasidha datang dan segera mencari cara untuk menghapus foto pria yang bersamanya tadi. Bagaimanapun juga, pria itu juga menolongnya tanoa meminta upah.
__ADS_1