Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 48 - Kembali diculik


__ADS_3

Afif seakan tersentil mendengar perkataan dari Rasidha, dia mengatakan kalau jodoh ada di tangan Tuhan, tetapi dia seakan tidak mempercayainya. Tetesan air mata yang bahkan tak sanggup menatap wajah gadis yang dia cintai yang telah bersuami, luka yang begitu mendalam masih saja terasa dan mengenang saat pria lain telah mempersunting calon istrinya. 


"Maafkan aku yang selama ini mengejar dunia." Lirih pria yang berbaring di atas brankar, hanya terlihat tulang yang dibalut oleh kulit. 


Rasidha tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi, namun dia tetap memaksa agar pria itu bisa melanjutkan hidup dan mulai melupakannya. "Semua kehendak dan juga takdir telah ditetapkan oleh Allah, dengan mencintai dunia hanya akan membuat Mas lalai. Jangan meminta maaf padaku, tetapi kepada sang Khalik yang telah Mas duakan. Istighfarlah Mas, sebut nama-nama Allah!"


Seketika air mata Afif jatuh, dalam hal ini umur tidak bisa menentukan kedewasaan orang lain. Terbukti dengan dirinya yang ilmunya masih jauh dari gadis itu, yang tetap tabah walau ujian yang menimpanya. "Astaghfirullahaladzim…astaghfirullahaladzim…astaghfirullahaladzim." Lirihnya yang mengucapkan dengan terbata-bata. 


"Kembalikanlah kejalan Allah, lupakan hasrat untuk dunia ini, dan doakan saja yang terbaik untuk kita." 


Semua orang bisa melihat dari pintu jendela yang sebagian terbuat dari kaca tembus pandang, mereka juga mengeluarkan air mata di saat melihat keadaan Afif yang begitu lemah dan tak berdaya hanya karena cinta. Namun kedatangan dari Rasidha benar-benar menjadikan harapan baru untuk mereka, semangat dan juga bagaikan lentera yang menyinari pemuda itu agar bisa kembali ke jalan yang lurus. 


"Alhamdulillah kalau Mas mulai menyadari kesalahan ini lebih cepat, jadi aku mohon kepadamu untuk tidak melakukan hal nekat lagi. Takdir telah ditulis oleh lauhul Mahfudz, yang tidak akan bisa diubah ataupun mencoba untuk merubahnya." 


Afif mengarahkan pandangannya ke samping, dia merasa malu dengan gelar nama sebagai ustadz, namun kecintaannya kepada dunia melebihi kecintaan kepada sang khalik. "InsyaAllah. Aku akan kembali berubah menjadi lebih baik, terima kasih karena kamu telah datang berkunjung." 


"Sama-sama, sebaiknya Mas istirahat. saya pamit dulu! Assalamu'alaikum." Rasidha langsung keluar dari ruangan itu, tak ingin berlama-lama karena jujur saja dirinya sangat sedih melihat kondisi Afif yang begitu buruk. 


Afif melihat kepergian Rasidha yang menghilang di balik pintu, dia tersenyum seakan mendapatkan kembali cahayanya yang selama ini redup. "Aku akan memegang janji itu, dan tidak akan melupakannya." Ya, kini dia akan menata hidupnya kembali dengan semangat yang baru, membuka lembaran baru, dan juga hari-hari yang baru. 


Rasidha segera keluar dan menatap semua orang yang menjadikannya pusat perhatian. 


"Sepertinya kamu berhasil menanam kembali semangat Afif, terima kasih." ucap wanita paruh baya yang menyatukan kedua tangan dengan tatapan yang tulus, dia adalah ibu dari pria yang terbaru di atas tempat tidur rumah sakit. 

__ADS_1


"Jangan katakan terima kasih Umi, dalam hal ini keadaan Mas Afif disebabkan oleh ku." Rasidha menunjukkan kepala dengan rambut wajah yang sedih. 


"Tidak Nak, aku tetap mengucapkan terima kasih. Berkat ayahmu yang berhasil menemukan Afif putraku, aku sudah merasa lebih dari cukup." 


"Cukup Umi! Jangan membuat aku malu." 


Suasana begitu haru antara keluarga yang harusnya bersatu, tetapi takdir tidak menginginkan itu terjadi. Tidak ada yang bisa mereka hadapi ataupun menentang kehendak sang Pencipta selain dengan bertawakal. 


Kebahagiaan itu tak bisa berjalan lama, saat seseorang datang dengan begitu arogan dan di belakangnya beberapa orang berbaju hitam menjadi penghalang. Semua orang memusatkan perhatian kepada pemimpin dari beberapa pria berbadan kekar dan juga mengenakan baju hitam, sontak Zaid dan juga Doni mengepalkan kedua tangan dan juga mengeraskan rahang dengan tatapan kemarahan yang ingin meledak. 


"Felix." Gumam Doni yang begitu membenci pria itu.


"Berani sekali kau datang ke sini dan menunjukkan wajahmu itu padaku!" Zaid langsung memasang badan dan menarik tangan Rasidha agar berlindung di balik punggungnya.


Felix menyunggingkan senyuman arogan dan juga sombong, menatap satu persatu orang yang berkumpul di sana seraya berdecap. "Wah, ternyata disini banyak orang. Salam Ayah mertua, bagaimana keadaanmu?" 


"Jangan lupakan kalau putrimu itu masih sah menjadi istriku." 


"Benarkah? Tapi status itu akan berganti." Kebetulan sekali Zaid membawa surat perceraian Rasidha, dia telah mengurus segalanya hanya tinggal tanda tangan dari kedua belah pihak. Dia menarik tangan putrinya untuk berdiri di sebelah sambil menyerahkan gugatan perceraian. "Aku ingin kamu membuat keputusan dengan benar, tidak ada paksaan dari siapapun dan ini murni demi keinginan sendiri." 


Rasidha mengambil surat gugatan perceraian, membukanya saja membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar. Memang dia menginginkan perceraian dari pria kejam itu segera terjadi, namun mengingat bagaimana dia telah menjadi istri yang sebentar lagi berganti status seorang janda. 


Zaid menatap Felix dengan penuh kebencian, mantan persahabatan itu saling melemparkan tatapan sengit. "Kamu tidak akan bisa mengganggu keluargaku lagi, karena hari ini Rasidha akan memutuskan hubunganmu!" 

__ADS_1


Rasidha sedikit merasakan tangan yang bergetar di saat penandatanganan surat perceraian, air matanya menetes dan segera menandatangani. "Aku sudah menandatanganinya, Ayah." 


"Bagus Nak, kamu membuat keputusan yang tepat."


"Ayah seperti apa kamu ini? Malah mendorong putrinya sendiri dalam lembah perceraian. Bukankah Allah sangat membenci perceraian dari sepasang suami istri? Lalu mengapa kamu melakukannya?" jawab Felix jangan begitu tenang. 


"Jangan menghindarinya lagi, aku tahu kalau kamu hanya ingin menyiksa putri ku dengan mengikatnya dalam pernikahan. Siapa yang di sini merasa kejam kau atau aku?" ucap Zaid yang memberi pria itu tantangan. "Tidak perlu berkelit, langsung saja tanda tangani perceraian ini!" 


Felix langsung mengambil surat perceraian itu dan tersenyum, memperlihatkan kepada semua orang dengan merobeknya menjadi serpihan kertas kecil. "Aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu." 


"Ayolah, apakah umurmu yang bertambah membuatmu semakin bodoh? Apa yang kamu dapatkan dengan merobek surat perceraian itu? 


Aku masih mempunyai salinannya." 


"Aku tidak akan menandatangani surat perpisahan itu, walau bagaimanapun kamu memaksaku. Untuk sekarang Rasidha masihlah istriku, jadi aku datang ke sini sebagai seorang suami ingin membawanya pulang ke rumah."


"Rumah mana yang kamu maksudkan?" 


"Apa itu perlu dijawab?" Felix kembali tersenyum miring seraya melirik beberapa anak buahnya yang mengikutinya dari tadi, tentu saja memberikan perintah penangkapan. 


Zaid dan Doni berusaha keras untuk melindungi putrinya, namun begitu banyaknya bawahan dari Felix membuat mereka cukup sulit mempertahankan posisi. 


Felix menggendong istri kecilnya ala sekarung beras di bahu tidak memikirkan sebagaimana gadis itu memberontak. 

__ADS_1


"Lepaskan putriku!" 


"Hah, sayang sekali untuk sekarang aku tidak ingin bertarung." Ungkap Felix yang menyerahkan keluarga itu kepada bawahannya, sementara dirinya membawa Rasidha pergi.


__ADS_2