
Zaid mencoba untuk melacak keberadaan Rasidha yang belum juga dia temukan, melakukan segala upaya untuk mencari hingga ketemu. Suci terus saja berdoa demi keselamatan putrinya, tak henti-hentinya dia memasrahkan segalanya kepada sang Pencipta.
"Kenapa sampai saat ini Rasidha belum di temukan juga?" lirih Suci yang sangat mencemaskan anaknya, airmata yang terjatuh menjadi bukti kalau dirinya sangat mencintai anak angkatnya.
"Kita serahkan kepada Allah subhanallah ta'ala, aku akan terus berusaha agar Rasidha bisa ditemukan." Ucap Zaid yang memeluk istrinya dengan pelan.
"Apa sudah ditemukan siapa pelaku sebenarnya?"
"Hem, sudah. Aku hanya mempunyai satu musuh yaitu Felix, pasti dia yang menculik putri kita."
"Bagaimana kalau kita melaporkan ini pada polisi?" ujar Suci yang sudah tidak tahan lagi.
"Felix pria yang sangat berbahaya, kesalahan sedikit saja akan membuat anak kita dalam bahaya. Entah apa yang terjadi padanya, seharusnya seorang sahabat mendukung bukan malah menyimpan dendam." Zaid menghela nafas, mengingat bagaimana sahabatnya itu berubah di saat dia menikahi Suci dan memeluk agama islam. "Kamu melakukan kesalahan yang sangat besar, aku tidak akan mengampunimu kalau putriku tergores sedikit saja olehmu." Batinnya yang mengepalkan kedua tangannya, merasa dirinya sangat lemah dan tidak berdaya.
Sementara di sisi lain, ustadz Afif mencari dengan bantuan CCTV, melacak keberadaan dari calon istri yang juga belum di temukan. Dia sangat sedih saat Zaid memberitahu kabar itu, dan bertekad untuk menemukannya. Tidak ada yang tahu bagaimana dia mencarinya, hati yang begitu gelisah dan juga pikiran yang kacau. Bahkan kedua orangtuanya juga ikut mencari keberadaan Rasidha, semua keluarga di pondok pesantren juga mencoba mencari.
Kabar hilangnya Rasidha menyebar begitu cepat, seperti angin lalu yang menyeruak mengikuti kemana saja diarahkan. Pihak keluarga mencari di setiap sudut kota dan bahkan sampai ke desa, Doni selaku paman juga tak kalah resahnya dengan mencari keberadaan keponakannya yang hilang bak ditelan bumi.
Ustadz Afif melihat sebuah masjid dan menjalankan sholat, sudah kewajiban seorang muslim yang datang setelah adzan Maghrib berkumandan. Melangkahkan kakinya, mengambil wudhu dan melakukan sembahyang fardhu. Setelah selesai, tak lupa memanjatkan doa seperti biasa yang dia lakukan, tapi kali ini dia hanya ingin Rasidha ditemukan.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Rasidha menatap lurus keluar jendela. Seakan dirinya bagai burung di dalam sangkar, tidak ada pertolongan yang datang membuatnya berputus asa dengan menerima takdir apa yang akan dijalankan olehnya. "Ayah…ibu, aku sudah pasrah. Semoga kalian baik-baik saja disana, aku menyerahkan semua takdirku padaMu ya Allah." Dia sudah rela menjadi istri dari seorang pria bermata biru yang menjadi musuh dari ayah angkatnya, tetapi sudah beberapa hari ini dia tidak melihat keberadaan dari Felix.
Pintu terbuka seakan mendapatkan angin segar baginya dia segera berlari walau tubuh yang terasa sedikit lemah akibat selalu menolak makanan yang diberikan oleh pria itu, dia meragukan kehalalan dari makanan yang selalu disajikan. "Aku mohon kepadamu, tolong lepaskan aku dan kembalikan aku!" Rasidha menyatukan kedua tangannya dengan dua mata yang berbinar, berharap seorang pelayan yang selalu mengantarkan makanan berbaik hati ingin menolongnya, pola pikir yang memperkirakan hanya dua persen saja. Apalagi wanita paruh baya yang selalu mengantarkan makanan juga tidak menghiraukannya, tidak ada harapan untuk dia bisa kabur.
"Makanlah makanan itu, agar kamu tidak sakit. Jangan menyiksa diri dengan melakukan perbuatan yang bodoh." Ucap wanita paruh baya yang mencoba memberi peringatan, karena di hati kecilnya merasa kasihan namun dia juga tidak bisa membantu.
Rasidha merasakan perutnya yang begitu lapar karena jarang sekali diisi makanan, dia selalu saja menolak sebagai bentuk protes. Dia melirik makanan karena jujur saja dia sudah tidak tahan lagi dengan perut yang melilit, wanita paruh baya yang mengantarkan makanan sedikit tersenyum lega.
"Kamu tenang saja, makanan itu halal karena aku sendiri yang memasaknya."
Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Rasidha, sambil menyerahkan nampan yang berisi sepiring makanan, buah dan juga air mineral.
Tak butuh waktu lama baginya hingga makanan di atas piring habis tak bersisa, mengucapkan hamdalah sebagai rasa syukur karena diberikan kenikmatan. Dia menatap wanita paruh baya yang masih duduk di sebelahnya, ingin bertanya sesuatu namun sedikit merasa ragu.
"Katakan, apa yang ingin kamu katakan!"
"Beberapa hari ini aku tidak melihat tuan Felix."
"Tentunya dia sangat sibuk sebagai pengusaha, yang aku dengar sebentar lagi kamu akan menikah dengannya."
__ADS_1
"Hem." Sahut Rasidha yang tak merasa tertarik.
"Jangan menolak apa yang dia katakan, kalau kamu ingin hidupmu tentram."
Seketika Rasidha terdiam mendengar perkataan dari wanita paruh baya itu, karena perkataan yang sama yang pernah diucapkan oleh Justin kepadanya. "Kenapa mereka mengatakan itu?" gumamnya di dalam hati, rasa penasaran yang begitu besar membuatnya ingin bertanya langsung. "Apa aku harus menerima pernikahan ini? Dan melakukan apapun keinginannya?"
"Ya, kamu harus melakukannya."
"Tapi mengapa? Apa aku tidak bisa mempertahankan hakku sendiri?" protes rashida yang tidak menyukai perkataan dari wanita paruh baya itu, tidak tahu betapa berbahayanya Felix.
"Kalau kamu ingin hidup maka harus mengikuti perkataanku, dan jangan lupakan kalau dinding ini bisa mendengar pembicaraan kita. Jangan bertanya apapun lagi dan berbicara kepadaku lagi, atau kita berdua akan terkena masalah. Rahasiakan apa yang aku ucapkan, seakan menganggapnya tidak pernah aku katakan padamu."
Wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya dan mengambil nampan yang sudah kosong, berjalan keluar dari kamar dan kembali mengunci sesuai dengan perintah. Sementara Rasidha berusaha mencerna perkataan yang menurutnya mengandung teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. "Apa maksud dari mereka? Apa Felix adalah orang yang sangat kejam? Lalu bagaimana nantinya?" monolognya.
Ditawan selama berhari-hari membuat Rasidha sangat merindukan udara segar, tidak ada yang bisa diandalkan dari manusia selain kepada sang Pencipta.
Di sisi lain Zaid menemukan mengenai informasi dari adik angkat Felix yang juga bersekolah di universitas yang sama dengan putrinya, berkat bantuan CCTV dan sistem yang sudah dia lacak.
Dia sudah tidak tahan lagi karena telah gagal menjadi seorang ayah, anak sulung yang menghilang membuat suasana rumah tampak muram. Ditambah lagi dengan istrinya yang sakit, membuat beban pikiran semakin bertambah.
__ADS_1
"Semoga saja aku bisa menemukan informasi dari pria yang bernama Justin, aku harap kalau aku tidak terlambat menyelamatkan putriku dari pria itu. Siapapun yang mencoba untuk mengacaukan dan mengusik keluargaku, maka dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal bahkan lebih dua kali lipat."