
Perjuangan yang dilakukan oleh Doni dan Afif tak membuahkan hasil, saat mereka gagal hanya dengan pasukan yang dimiliki oleh Felix selalu bertambah, bagai mati satu tumbuh menjadi dua dan kelipatan lainnya. Mereka kewalahan dan berusaha untuk memundurkan posisi yang tidak akan menang, bisa dilihat dari segi pasukan yang kalah jauh.
"Sebaiknya kita memundurkan langkah saja!" ujar Doni yang juga memikirkan orang-orangnya yang banyak terluka.
"Tapi, Paman. Kita belum membawa Rasidha," sahut Afif yang ingin mencobanya lagi.
"Kita tidak akan bisa menyerang mereka, pasukan Felix semakin bertambah."
"Baiklah kalau keputusan itu mutlak."
Keduanya akhirnya memundurkan diri dengan perlahan, kemenangan yang didapatkan Felix yang bahkan belum ikut turun tangan.
Dengan begitu santainya makan bersama dengan gadis kecil yang telah menjadi istrinya. Menyunggingkan senyum saat melihat salah satu orang kepercayaannya datang dengan membawa berita. "Bagaimana?"
"Semuanya aman, mereka sudah mundur."
"Ck, hanya tikus kecil saja mencoba menyerangku." Sombong Felix sembari menyuapi mulutnya dengan makanan di atas piring. Dia melirik Rasidha yang hanya terdiam dan tidak berselera makan, hal ini seakan penghinaan bagi dirinya. Tak tahan melihat ekspresi seperti itu, dia menggerakkan meja dengan sangat kuat sehingga gadis kecil yang telah sah menjadi istrinya terlonjak kaget seraya menatapnya dengan tenang.
"Ini meja makan, jangan melakukan penghinaan itu dengan tidak memakan makanan yang tersedia."
"Aku tidak lapar bukan berarti menghinamu."
"Dasar gadis tak tahu tata krama, berani sekali kamu menjawabku." Geram Felix yang mencengkram dagu istrinya dengan sangat erat, namun Rasidha tetap tenang dan tidak bergeming sedikitpun. "Aku akan membuat kehidupan mu layaknya di neraka."
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan." Sahut Rasidha yang sudah kehilangan kata takut di hatinya, kali ini akan bertindak tegas dengan melawan perbuatan buruk dari suaminya.
"Gara-gara dirimu aku kehilangan selera makanku," ucapnya yang tajam seraya melepaskan cengkramannya dengan kasar, beranjak pergi dari tempat itu dengan hati yang sangat dongkol. Dia cukup bingung dengan sikap dan perkataan dari istrinya yang tampak sangat berbeda, seperti menghadapi gadis lain.
Rasidha juga beranjak dari tempat itu, dia kembali ke kamarnya dan seperti biasa melakukan aktivitas keagamaan dengan menggali beberapa ingatan dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Dia hanya memikirkan bagaimana kondisi ayahnya yang terluka cukup parah, hatinya sangat marah pada suaminya itu. "Bagaimana aku bisa bertahan dengan pria kejam sepertinya? Kenapa ini terasa sangat sulit bagiku? Sehari saja aku tidak sanggup, bagaimana dengan kehidupanku di masa mendatang?" Lirihnya seraya meneteskan air mata, sangat sedih dengan apa yang menimpanya.
Rasidha tersentak kaget saat suara pintu kamarnya dibuka dengan kasar, melihat sang pelaku yang tak lain suaminya sendiri. Dengan cepat dia menyeka air mata, tak ingin kalau dirinya terlihat rapuh yang hanya membuat pria itu semakin senang.
"Sebelum masuk jangan lupa mengetuk pintu dan mengucapkan salam."
__ADS_1
"Aku tidak peduli!"
"Apa yang Tuan inginkan?"
"Aku ingin kamu memijat bahuku!"
Rasidha merasa permintaan itu terlalu ambigu, apalagi dia tidak pernah bersentuhan dengan pria manapun. "Baiklah," sahutnya yang menyetujui mengingat statusnya yang telah berubah.
Felix langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memberikan isyarat agar istrinya duduk di sebelahnya, Rasidha sangat ragu dengan hal ini. "Kenapa kamu melamun saja disana? Aku sangat lelah dan letih, cepat pijat bahuku ini."
"Baiklah." Rasidha perlahan menyentuh kulit suaminya dengan keraguan, tapi perlahan dia mulai terbiasa.
"Ck, apa kamu tidak tahu cara memijatku?" protes Felix.
"Maaf, aku akan mencobanya lagi."
"Ya, seharusnya begitu. Aku akan memberimu kebebasan di tempat ini, asal kamu menuruti semua perkataanku."
"Baiklah, apapun perkataanmu selagi itu baik dan tidak menyimpang."
"Ck, apa kamu tidak kepanasan memakai penutup kepala itu?"
"Jangan ceramahi aku disini, sebaiknya kamu melatih cara memijatku. Ini akan menjadi tugasmu di setiap malam, apa kamu mengerti?"
"Aku mengerti."
"Bagus, setidaknya buatlah dirimu berguna." Ucap Felix yang diam-diam menikmati pijatan dari istri kecilnya itu, hingga tidak sadar kalau dirinya sudah terlelap di atas ranjang.
Tidak bisa di pungkiri mengenai apa yang terjadi, kekalahan Doni dan Afif membuat mereka merasa tak berguna. "Aku gagal, apa memang tidak akan bisa mendapatkan keponakanku kembali?" batinnya yang sedih dengan kegagalan itu, dan bahkan keduanya mengalami luka yang untungnya tidak serius.
"Setidaknya kita sudah mencoba, Paman."
"Hem, kamu benar."
Doni segera pergi menuju rumah sakit di saat mendapat telepon mengenai kondisi Zaid yang semakin kritis, di saat seperti inilah dia paling berperan penting memberi kekuatan pada keluarga adiknya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Zaid?" tanya Doni yang menghampiri istrinya.
"Kondisinya semakin parah."
"Apa Suci tahu hal ini?" tanya Doni yang cemas dengan kondisi adik dan juga adik iparnya.
Dengan cepat Aisyah menganggukkan kepala, hal itu semakin membuat Doni merasa bersalah karena tak mampu mengatasi masalah yang terjadi. Tak lama terlihat kedatangan adiknya yang sangat lebah bersama dengan Azzam, dia segera datang membantu dan membawa ke depan ruangan Zaid di rawat.
"Biarkan aku menemui suamiku, Kak." Ucap Suci yang memohon.
"Seharusnya kamu tidak di sini, mengapa kamu nekat?"
"Aku sangat mencemaskan suamiku, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan semuanya padaku tanpa ada yang terlewatkan." Bujuk Suci yang menyatukan kedua tangannya sambil menyeka air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Zaid terluka saat bertarung dengan Felix, dan kondisinya sekarang semakin kritis. Tapi kamu tenang saja, dokter sedang menanganinya."
"Mengapa ujian selalu hadir dan mengujiku, Kak. Sudah banyak yang aku lewati selama ini, apa itu masih belum cukup?" lirih Suci yang menangis.
"Kamu wanita yang kuat dan juga tangguh." Doni mengelus pucuk kepala adiknya yang ditutupi oleh kerudung, menangis dalam pelukan Aisyah.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar setelah menangani Zaid yang semakin kritis, menemui keluarga pasien yang masih sangat khawatir.
"Bagaimana kondisi suamiku, Dok?"
"Alhamdulillah, untung saja di larikan kerumah sakit dengan cepat. Kalau sampai terlambat sedikit saja, maka nyawa pasien dalam bahaya."
"Syukur Alhamdulillah," lirih Suci tak akhirnya bisa bernafas lega, kondisi suaminya sudah melewati masa kritis hanya menunggu pemulihannya saja. Namun, beban pikiran yang menghantui dirinya menyelinap di saat memikirkan nasib putrinya yang telah menikah dengan Felix.
"Saya permisi dulu." Pamit sang dokter yang berlalu pergi.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama."
Paling tidak kecemasan dari semua orang telah berkurang, mereka memikirkan bagaimana merebut Rasidha kembali.
__ADS_1
Perlahan ustadz Afif memundurkan langkahnya, dia segera pergi dari tempat itu tanpa berpamitan. seakan tubuhnya gemetaran di kala kegagalan yang tidak berhasil membawa calon istri yang sudah sah menjadi istri orang lain.