Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 16 - Sepakat


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Rasidah keluar dari dalam kamar yang membuat semua orang terpana. Gamis syar'i yang berwarna army melekat di tubuhnya dengan sangat indah, dipadu padankan dengan hijab berwarna senada, sangat cocok di kulitnya yang seperti putih susu. 


"Wah, ternyata Rasidha kita sangatlah cantik menggunakan gamis berwarna army. Kamu sangat hebat memilih warna pakaian nya yang cocok dengan kulitnya yang putih." Puji Aisyah yang melirik adik iparnya, pintar memilihkan warna yang menantang. 


"Tentu saja."


"Tapi masih ada yang kurang," sela Ayna yang mencari kekurangannya. 


"Manusia tidak ada yang sempurna, apa kamu tidak melihat bagaimana kakakmu itu yang terlihat sangat cantik?" ucap Aisyah yang menatap putrinya.


"Coba lihat wajah kak Rasidha yang terlihat pucat, berikan sedikit pelembab dan juga bedak agar terlihat lebih fresh. Mereka akan terkejut melihat wajah yang begitu pucat," ujar Ayna yang mengomentari penampilan kakak sepupunya.


"Kamu benar juga, tapi Ibu tidak bisa mendandaninya." Pikir Aisyah yang cengengesan, dia hanya berdandan di saat ijab qobul. Alasannya hanya satu, suaminya lebih menyukai wajah yang tidak tersentuh make up.


"Tenang saja, aku bisa." Sela Suci, dia tahu banyak mengenai make up saat menjadi pimpinan perusahaan yang harus dituntut dengan wajah yang segar dilihat. 


"Ya sudah, kamu dandani dulu Rasidha." Ujar Aisyah yang kembali ke dapur untuk menyiapkan jamuan menyambut tamu. 


Rasidha merasa risih dengan make up yang diberikan oleh sang ibu, karena tidak terbiasa membuatnya selalu menghalangi tangan Suci. "Ibu, sudahlah! Tidak perlu mendandani ku seperti boneka. Jka ustadz Afif dan keluarganya menyukaiku, tidak peduli bagaimana wajahku yang pucat." Keluhnya. 


"Sebaiknya kamu diam, Ibu menunggu-nunggu hari ini tiba. Bisa mendandani anakku di saat lamarannya tiba," keukeuh Suci yang memberikan polesan make up tipis seperti artis Korea, tidak mencolok dan bahkan terlihat fresh. "Sudah selesai." Dia tersenyum puas dengan harapan yang sesuai ekspektasi, mengagumi kecantikan anaknya yang bahkan melebihinya di masa muda. "Sekarang buka matamu!" titahnya yang diikuti oleh gadis itu yang membuka mata secara perlahan.


Rasidha sangat terkejut, jika bayangan di cermin itu adalah dirinya. Mulut yang menganga, menatap penuh kekaguman. "Apa itu aku?" ucapnya yang menunjuk bayangannya sendiri di cermin, sangat shock dengan apa yang dilihatnya begitu nyata.


"Benar, itu putrinya Ibu. Rasidha Humairah." Tutur Suci yang memeluk anak gadisnya sepersekian detik dan melepaskannya.


"Kenapa lama sekali? Keluarga dari ustadz Afif telah tiba." Ayna masuk ke dalam ruangan dan membelalakkan mata saat melihat seorang wanita yang seperti bidadari. "Apa itu kak Rasidha?" tanyanya yang menatap sang bibi, sedangkan Suci menganggukkan kepala. 

__ADS_1


"Ini aku, apa kamu tidak mengenali Kakak mu lagi?" cetus Rasidha yang berpura-pura merajuk.


"Masya Allah, sungguh indah ciptaan Allah. Kakak sangat menakjubkan, seperti bidadari." Puji Ayna yang manggut-manggut kan kepala. 


"Jangan berlebihan memujiku."


"Ayo kita keluar, semua orang sudah menunggu kak Rasida!" ajaknya.


"Baiklah." 


Suci menuntun anaknya untuk menemui keluarga besar dari ustadz Afif, berjalan dengan perlahan yang sebenarnya membuat Rasidha sangatlah gugup. "Bu, aku sangat gugup. Apa aku boleh izin ke toilet dulu?" 


"Aduh Sayang, apa di saat seperti ini kamu ingin ke toilet?"


"Entahlah, tiba-tiba perutku terasa di aduk-aduk."


"Kenapa sampai membahas sindrom?" lirih Rasidha yang membuat Suci terkekeh, karena dia hanya mengarangnya saja. 


"Sudahlah, jangan lupakan adab di nomor satukan." Wejangan Suci. 


"Iya, Ibuku sayang." Jawab Rasidha yang gemas dengan ibunya itu, bukan seperti ibu dan anak, melainkan mereka terlihat seperti kakak dan adik.


Sesampainya di ruangan tamu, Rasidha menyalami para penatua dan beberapa keluarga ustadz Afif dengan begitu sopan. Memilih duduk di sebelah ibunya, dan menggenggam tangan Suci hingga berkeringat. 


"Tenang saya, mereka tidak akan memakanmu, bisik Suci yang tersenyum. 


"Aku tidak akan segugup ini jika mereka menatapku seperti itu," balas Rasidha yang berbisik saat mendapatkan kesempatan. Bagaimana tidak? Semua orang langsung terdiam dan menatap wajahnya yang begitu berbeda dengan polesan make up, sangatlah cantik. 

__ADS_1


Ustadz Afif juga bungkam dan bahkan tidak berkedip saat melihat Rasidha yang sangatlah berbeda, sangat-sangat cantik dan indah dipandang mata. "Tidak berdandan saja cantik apalagi saat dia memakai make up tipis, terlihat hampir sempurna," gumamnya di dalam hati yang kagum dan juga terpesona. Dengan cepat dia beristighfar saat menyadari kesalahannya yang menatap gadis cantik itu dalam waktu yang cukup lama.


Mulailah perbincangan antara keluarga, Zaid angkat bicara jika menyangkut dengan anaknya yang dilamar oleh pemuda. Sebenarnya cukup berat jika berada di posisi seorang ayah, melepaskan sang putri kesayangan hidup bersama dengan keluarga barunya, dan pada akhirnya sang istri lah yang akan menemaninya setelah anak-anak mempunyai keluarga baru. 


Semua orang juga telah sepakat dengan pernikahan yang akan diadakan setelah ustadz Afif menyelesaikan studi, karena Rasidha juga tidak bisa menikah dalam waktu yang sangat singkat mengingat dirinya yang belum siap, sekaligus ingin menyelesaikan kuliah di Indonesia. 


"Baiklah, setahun lagi kami akan menikahkan Rasidha dengan ustadz Afif. Satu hal yang saya inginkan dari pria yang menjadi calon suami anakku, tolong jaga dia dengan sepenuh hati." Mata Zaid nampak berkaca-kaca, selama delapan belas tahun dia merawat Rasidha dalam suka dan duka.


"Insya Allah, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati dan juga membimbingnya menuju Jannah." Jawab ustadz Afif yang mengikat jandi, merasakan kedua telapak tangannya yang terasa berat dengan sebuah janji. Berharap bisa mengabulkannya atau mautlah yang lebih dulu menghampirinya, semuanya atas kehendakNya.


"Ya Allah, berikan keteguhan hati untukku agar tidak melanggar dan juga membuat keluarga termasuk ayahku merasa malu." Rasidha juga merasakan beban di bahunya, sebuah pikulan yang cukup terasa berat.


Semua orang tampak bahagia, walaupun pernikahan akan diadakan satu tahun lagi. Semuanya mulai memakan jamuan yang terhidang di hadapan mata dan mulai bersenda gurau. Ustadz Afif melirik Rasidha dan memberikan isyarat agar mengikutinya.


Rasidha menarik Ayna yang kembali, dia tidak ingin menimbulkan fitnah. 


"Apa apa Ustadz?" tanya Rasidha yang menjaga jarak satu meter dari pria itu. 


"Setelah ini kita tidak akan bertemu. Maaf jika saya lancang, tapi bolehkan aku meminta fotomu." Ucap ustadz Afif yang merendahkan suaranya, sedikit gelisah jika mendapatkan penolakan. 


"Memangnya buat apa, Ustadz?" Rasidha tidak mengerti, mengerutkan dahi yang sangat penasaran.


"Agar saya semangat untuk menyelesaikan studi lebih cepat dari targetnya."


"Baiklah."


Ustadz Afif sangat senang dan segera mengeluarkan ponselnya, memotret Rasidha yang begitu kaku di kamera. "Bisakah kamu tersenyum?" pintanya.

__ADS_1


Awalnya Rasidha tersenyum kaku, begitu banyak foto yang diambil tetapi terlihat monoton. Hingga akhirnya mendapatkan pose yang sangat pas. "Sudah cukup, foto ini sangat bagus." Tunjuk pria itu yang memperlihatkan layar ponsel ke arahnya.


__ADS_2