Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 40 - Usaha ilegal Felix


__ADS_3

Rasidha sangat malu jika harus keluar dari kamarnya, dia akan melihat situasi dan tidak ingin bertemu dengan suaminya secara langsung. "Sepertinya aman, dia pasti sudah pergi." Gumamnya sambil mengintip di sebalik tembok, berharap kalau suaminya sudah pergi. 


Setelah memastikan situasi yang menurutnya aman terkendali, berjalan keluar dari tempat persembunyiannya untuk membereskan meja makan setelah menyiapkan sarapan di subuh hari. Baru beberapa langkah saja, terdengar suara deheman seseorang yang membuat jantungnya bekerja dua kali lipat, kedua mata yang melotot dengan keringat dingin di dahi menandakan dia tahu suara siapa itu. 


"Kenapa aku merasa kalau kamu seakan menghindariku?" Felix menatap istri kecilnya dengan seksama, sekaligus bingung dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Aku menghindarimu? Tidak, hanya perasaanmu saja Tuan." Elak Rasidha yang sangat gugup, tidak berani menatap mata suaminya akibat rasa malu masih menyelimutinya. 


"Benarkah? Lalu mengapa kamu gugup?" 


"Pertanyaan apa itu? Aku hanya sedang tidak mood saja, tidak ingin diganggu sekaligus bertemu denganmu." Ujar Rasidha. "Atau kehidupanku semakin suram," ucapnya pelan yang terdengar sayup di telinga Felix. 


"Kamu mengatakan sesuatu?" 


"Apa? Aku tidak akan mengulang perkataanku."


"Bukan bagian itu, tapi kalimat di akhir." 


"Aku tidak mengatakan apapun," Rasidha tak ingin berurusan ataupun berdebat dengan suaminya, sesegera mungkin dia beranjak dari tempat itu dan berharap kalau Felix tidak mengingat kejadian kemarin yang menurutnya sangat memalukan.


"Aku tahu, kamu mencoba menghindari ku karena malu. Merah muda," bisik Felix di bagian akhir kalimat, tersenyum mengejek karena dia bisa menebak warna walau tidak bisa melihat dengan jelas, apalagi gamis istrinya itu termasuk tebal.


Sontak Rasidha menghentikan langkah kakinya, sangat terkejut dengan perkataan Felix yang bisa menebak warna pakaian bagian dalam, karena kebetulan saat itu dia tidak menggunakan celana. "Ini salahmu yang begitu ceroboh, bisa-bisanya aku lupa memakai bagian itu." Batinnya yang mengumpat.


"Merah muda." Ulang Felix sekali lagi, ingin menggoda gadis kecil yang menurutnya sangat menggemaskan di kala kedua pipi Rasidha yang bersemu merah menutupi rasa malu. 

__ADS_1


"Sudah cukup! Jangan katakan itu lagi!" tekan Rasidha yang meninggikan suaranya. 


"Kenapa? Aku biasa melihat lebih daripada itu." Goda Felix yang semakin bersemangat. 


"Apa? Kamu bahkan melihat lebih? Itu berarti gelar mu ditambah menjadi Tuan mesum." 


"Itu hal yang lumrah aku lihat. Lihat bodimu yang seperti papan triplek, tidak ada bentuk dan juga tepos depan belakang."


"Diam!" teriak Rasidha melepaskan sandalnya, melempar ke arah suaminya yang tepat sasaran. 


Felix yang keasikan menggoda istrinya malah semakin lengah dan tanpa sadar sandal jepit gadis di hadapannya mencium kening hingga meninggalkan bekas memerah dan sedikit bengkak. "Hai, kamu cari mati!" tegasnya mengejar Rasidha yang lebih dulu memasang langkah seribu. Dia mengejar istri kecilnya tanpa lelah, karena untuk pertama kalinya dia diperlakukan buruk oleh orang lain. 


"Apa anda lelah Tuan? Sebaiknya beristirahatlah atau tulang-tulang itu akan keropos nanti."


"Sial, aku memberimu kebebasan bukan berarti kamu melupakan perjanjian pranikah itu. Sepertinya aku harus menyiksa mu untuk lebih disiplin lagi dan taat pada suamimu." 


Usaha Felix membuahkan hasil, di saat dia berhasil menangkap gadis kecil yang menjadi istrinya itu. "Kena kamu sekarang, mau kabur kemana lagi hah?" ancamnya yang tertawa mengerikan, menggendong tubuh Rasidha dan membawanya ke dalam kamarnya. 


"Turunkan aku!" pekik Rasidha yang berusaha dengan keras, berharap kalau suaminya berbaik hati melepaskan. 


"Diam atau aku pukul pantatmu!" kini Felix lah yang mengancam istrinya, menggendong ala sekarung beras yang menurut bebannya dalam kategori ringan. 


Ancamannya itu berhasil membuat Rasidha tak berkutik, dia hanya terdiam bagai patung. Ingin sekali melawan, tapi perkataan Felix tak pernah main-main. 


Felix tersenyum puas dengan kepatuhan dan juga bisa mengontrol gadis itu hanya dengan ancaman kecil saja. "Good girl." Pujinya seraya masuk ke dalam kamar utama dan mengunci pintu nya, menghempaskan tubuh Rasidha ke atas ranjang sembari melepaskan satu persatu kancing kemejanya. 

__ADS_1


"Ingatlah isi perjanjian itu," ucap Rasidha yang mengingatkan agar tidak menyalahi perjanjian yang telah dibuat oleh suaminya itu. 


"Persetan dengan semua itu, hari ini aku akan memberimu pelajaran yang sangat penting dan akan kamu ingat sepanjang hidupmu." Felix sebenarnya hanya berniat untuk menakut-nakuti istri kecilnya, apalagi raut wajah dari gadis itu yang baru pertama kali melihat tubuh seorang pria yang sudah bertelanjang dada. Bukan hanya itu, dia juga membuka celananya tepat di hadapan Rasidha tanpa tahu malu karena dia sudah terbiasa dengan hal ini. 


Spontan saja gadis itu menutup matanya dan berteriak, segera berbalik badan dan memarahi aksi dari suaminya yang tidak patut dipuji.  


"Kenapa harus malu? Kalau kita sudah sah di minta agama dan juga hukum  Sudah beberapa minggu berlalu, dan aku belum juga meminta hakku sebagai seorang suami, mengenai perjanjian itu aku anggap hangus mengingat pihak pertama adalah diriku yang bisa melakukan apapun. Sementara pihak kedua hanya bisa menurut tanpa membantah. Bukankah kamu paham akan agama? Mungkin hal ini tidak aku jelaskan secara rinci, menggauli seorang istri halal hukumnya." jelas Felix yang panjang kali lebar membuat Rasidha tak bisa berkutik. 


"Jika tidak ingin mempergunakan perjanjian itu, lalu untuk apa aku menandatanganinya, bukankah hal itu hanyalah sia-sia saja. Lagi pula aku belum siap untuk melakukannya," tolak Rasidha dengan halus.


"Dan ketika itu pulalah Allah akan melaknat istri durhaka sepertimu, selalu saja membantah dan tidak ingin melakukan hubungan dengan semestinya." 


Rasidha hanya terdiam dan merenungi perkataan dari Felix yang memang adanya dan hal itu malah membuatnya sedih, namun dia sangat terkejut di saat sang suami kembali memasang kemeja dan hendak pergi dari kamar, karena ada panggilan telepon yang menyelamatkannya dari hubungan suami istri yang belum bisa dia berikan.


"Alhamdulillah dia sudah pergi, hari ini aku bisa selamat darinya tapi tidak di lain waktu. apa yang harus aku lakukan? Dia memang suamiku namun aku tidak bisa memberikan haknya sebagai seorang suami, sungguh aku wanita yang penuh dosa." Lirihnya. 


"Apa? Bagaimana bisa ini terjadi?" tekan Felix yang sangat marah dengan apa yang terjadi, informasi yang diberikan oleh anak buahnya membuatnya tidak bisa tenang. 


"Maafkan kami tuan." 


"Maaf? setelah apa yang terjadi? Bagaimana mungkin kalau usahaku direbut oleh musuhku sendiri dan aku diam saja?" 


"Tolong maafkan kami, tuan."


"Baiklah, tapi aku ingin kalau pengedar obat terlarang itu jangan sampai berkhianat kepada kita atau aku akan memenggal kepala kalian!" Felix segera memutuskan sambungan telepon secara sepihak, dia sangat kesal karena usahanya dalam mensuplai obat terlarang dikacaukan oleh pihak musuh. 

__ADS_1


"Apa? Jadi, selama ini aku mau makan uang haram?" batin Rasidha yang diam-diam mendengar perkataan Felix. 


__ADS_2